← Chapters Ch. 10 / 40

Chapter Ten

Kunci

POV: Dimas


Ada yang perlu diluruskan soal kata “besok” yang kuucapkan di lobi klinik itu, sebelum kata itu terlanjur dicatat sejarah sebagai keraguan.

Aku tidak ragu. Sedetik pun tidak.

Ketika bibirnya mendarat di bibirku—miring, nekat, sedetak lebih cepat dari kemampuan sarafku memproses—jawabannya sudah selesai bahkan sebelum ia mendarat kembali ke tumitnya. Jawabannya sudah selesai sejak lama. Mungkin sejak subuh sisa demam itu. Mungkin sejak tiga detik di depan gorden. Mungkin sejak gedoran jam tiga pagi, kalau aku mau jujur sejujur-jujurnya, dan malam ini aku sedang jujur sejujur-jujurnya.

Tapi ada perbedaan antara punya jawaban dan menyerahkan jawaban.

Alena menyatakan perasaannya dengan seluruh keberaniannya, di lobi kliniknya sendiri, dengan suara bergetar yang ia paksa tetap tegak. Perempuan itu menyeberangi jembatan duluan sambil membawa seluruh risikonya: aku duda, aku bawa anak, aku bisa saja mundur dengan seribu alasan yang semuanya terdengar bijaksana.

Pernyataan sebesar itu tidak boleh dijawab sambil kehujanan, terburu-buru, di sela jam jemput les gambar. Pernyataan sebesar itu harus dijawab dengan sesuatu yang setimpal—dan bahasaku bukan kata-kata. Tidak pernah. Kata-kataku pendek-pendek dan sering salah alamat. Bahasaku yang paling fasih butuh gergaji, amplas, dan waktu.

Maka malam itu, setelah Kirana tidur, aku masuk workshop dan menyalakan lampu.


Kayu yang kupilih sudah lama menunggu gilirannya: sepotong jati Belanda sisa proyek dua tahun lalu, terlalu kecil untuk furniture, terlalu bagus untuk dibuang. Kusimpan di rak “nanti”—rak berisi potongan-potongan yang belum tahu mau jadi apa. Malam ini ia tahu.

Kotak kecil. Sambungan ekor burung di keempat sudutnya, tanpa paku, tanpa sekrup—sambungan yang kalau dikerjakan benar akan mengunci dirinya sendiri dan bertahan lebih lama dari pembuatnya. Tutup geser dengan alur yang harus pas selicin napas. Dan di dalamnya, satu ruang kecil berlapis kain, cukup untuk satu benda.

Aku bekerja dengan tenang yang aneh. Biasanya pesanan dikejar tenggat; malam ini tidak ada tenggat, hanya standar—dan standarnya: harus jujur. Setiap sambungan harus rapat karena aku berniat rapat. Setiap permukaan harus halus karena aku tidak sedang menyembunyikan cacat apa pun. Kalau kotak ini diperiksa lima puluh tahun lagi oleh siapa pun, ia harus tetap bercerita hal yang sama.

Jam dua, badan kotak selesai. Jam tiga, tutupnya meluncur sempurna di percobaan kesembilan.

Jam tiga lewat sepuluh, aku duduk di kursi workshop dengan kotak itu di tangan, dan mengizinkan diriku melakukan hal yang empat tahun ini kulakukan hanya pada tanggal-tanggal tertentu: berbicara pada orang yang tidak ada.

Foto kami bertiga—aku, Laras, Kirana umur delapan bulan—ada di ruang tengah, bukan di workshop. Tapi Laras tidak pernah butuh foto untuk hadir di ruangan ini. Workshop ini dibangun dari sisa uang muka rumah yang ia relakan; kursi pertama yang kujual, ia yang memotret dan memasang iklannya sambil menyusui.

“Ras,” kataku pada gergaji-gergaji yang tergantung rapi. “Anakmu udah bisa kepang ekor ikan. Bukan aku yang ngajarin.”

Gergaji-gergaji itu diam, sebagaimana biasanya.

“Orangnya... kamu pasti udah tau orangnya. Anakmu lapor semua ke semua orang.” Aku memutar kotak di tanganku. Alurnya berbunyi halus. “Aku cuma mau bilang. Aku nggak lagi nyari pengganti kamu. Nggak ada yang dicopot buat dipasang yang baru. Bukan begitu cara kerjanya.”

Kucari kalimatnya sebentar. Ketemu di tempat yang tidak kusangka: di sistem sambungan yang barusan kukerjakan sendiri.

“Rumah yang bagus itu nggak nolak ditambah ruangan, Ras. Asal fondasinya bener.” Kuletakkan kotak itu di meja. “Fondasinya kamu yang bikin. Ruang barunya... izinin aku bangun.”

Angin lewat di ventilasi workshop, menggoyang serutan kayu di lantai. Bukan jawaban. Tapi empat tahun berbicara pada orang yang tidak ada mengajariku satu hal: yang penting bukan jawabannya. Yang penting kalimatnya selesai diucapkan.

Jam empat kurang, aku mengambil sesuatu dari laci kunci di dapur, membungkusnya dengan kain lap bersih, memasukkannya ke ruang kecil berlapis kain itu, dan menggeser tutupnya sampai berbunyi tak pelan.

Lalu aku tidur tiga jam, dan bangun sebagai orang yang akan menjawab.


Sabtu. Ritual pagi berjalan dengan kejanggalan yang bisa diukur pakai penggaris.

Alena datang jam setengah tujuh seperti biasa—tapi rambutnya sudah rapi dari rumah, gerakannya kaku seperti orang yang semalaman melatih cara berjalan santai, dan ia menyapa Kirana dengan antusiasme sebelas persen di atas normal. Aku menyeduh dua cangkir seperti biasa—tapi menurut laporan saksi mata di undakan bawah, “kopinya Ayah dari tadi diaduk terus padahal nggak ada gulanya”.

Kepang selesai. Kirana bercermin, puas, lalu kembali ke teras dan berdiri di antara kami yang sedang sibuk tidak saling menatap. Matanya bergerak dari wajahku ke wajah Alena ke kotak yang menyembul dari saku belakangku—aku pikir sudah tersembunyi; radar anak ini tidak mengenal kata tersembunyi—lalu kembali ke wajahku, dan sesuatu diputuskan di balik mata bulat itu.

“Kirana mau nonton kartun di dalem,” umumnya, tanpa ada yang bertanya. “Yang lama. Satu jam.”

“Tumben,” kata Alena.

“Kartunnya bagus.” Kirana sudah melangkah ke pintu, lalu berhenti, menoleh, dan menambahkan dengan tekanan yang tidak bisa disalahartikan: “SATU JAM. Nggak keluar-keluar. Sumpah.”

Ia masuk. Pintu ditutup dari dalam dengan kesopanan yang mencurigakan.

Tinggal kami berdua di teras, dua cangkir, dan satu pagi yang tahu diri untuk tidak berisik.

“Jadi,” kata Alena pada cangkir tehnya. “Ini udah besok.”

“Hm.”

“Kamu bilang jawabannya besok. Ini besok. Aku cuma mastiin kita sepakat soal definisi.” Ia mengangkat dagu, memasang wajah beraninya—wajah yang sama dengan di lobi kemarin—tapi tangannya memeluk cangkir itu seperti pelampung. “Soalnya kalau besok-mu itu ‘besok’ versi pengurus RT, aku mau tahu dari sekarang biar bisa marah dengan efisien.”

Aku masuk ke dalam sebentar—ia mengawasi punggungku dengan panik kecil yang bisa kurasakan menembus tembok—dan kembali membawa kotak itu.

Kuletakkan di undakan, di antara kami, di tempat yang tiga minggu ini jadi wilayah dua cangkir.

“Buat kamu.”

Alena menatap kotak itu. Jati Belanda, sambungan ekor burung, tutup geser. Ia mengangkatnya dengan dua tangan—orang ini selalu memegang buatan tanganku dengan dua tangan, sejak rantang pertama, dan ia tidak tahu berapa mahal kebiasaan kecil itu di mata pembuatnya—lalu menggeser tutupnya.

Kunci.

Satu kunci rumah, kuningan, masih mengilap bekas duplikat baru, terbaring di ceruk kain itu.

Alena mengangkat wajah. “Ini...”

“Kunci rumahku.”

“Aku tahu ini kunci—maksudku—” ia menatap kunci itu, lalu aku, lalu kunci itu lagi, dan aku bisa melihat otak dokternya bekerja dan gagal di soal yang sama berkali-kali, “—Dimas, aku nembak kamu, terus jawabanmu akses masuk properti?”

Nah. Bagian ini yang kusiapkan semalaman, dan tetap saja kata-katanya harus dirakit ulang sekarang, di tempat, dengan tangan gemetar yang kusembunyikan di saku.

“Kamu bilang aku lambat,” mulaiku.

“Aku bilang gitu karena—”

“Bener kok. Dari sudut pandangmu, lambat.” Kutarik napas. “Tapi aku bukan lambat, Alena. Aku mastiin.”

Ia diam. Cangkirnya diletakkan. Aku diberi lantai sepenuhnya, dan lantai itu terasa seperti panggung dengan lampu sorot, tapi kalimat-kalimat ini sudah antre tiga bulan dan mereka menolak mundur lagi.

“Aku bukan cuma bawa diri sendiri. Aku bawa Kirana. Anak itu udah kehilangan satu orang sebelum sempet hafal wajahnya—dan dia nggak boleh, nggak akan, kualami-in kehilangan yang kedua gara-gara ayahnya gegabah.” Suaraku tetap datar; hanya itu cara yang kutahu supaya isinya sampai utuh. “Jadi tiap kali aku pengen maju—dan aku pengen maju dari lama, lebih lama dari yang kamu kira—aku nahan dulu. Aku periksa dulu. Kayak meriksa sambungan sebelum dibebanin: ini kuat nggak. Ini seumur hidup nggak. Karena kalau cuma setengah jalan, mendingan nggak usah mulai.”

“Dimas—”

“Kuncinya,” aku menunjuk kotak di tangannya, “bukan akses properti. Itu hasil pemeriksaannya. Rumah itu isinya semua yang aku punya: anakku, kerjaanku, hidupku yang udah kususun rapi empat tahun. Selama ini nggak ada yang kukasih jalan masuk. Kamu—” dan di sini, tepat di sini, suara datarku akhirnya retak sedikit, “—kamu udah di dalem dari kapan-kapan, Alena. Kuncinya cuma nyusul. Biar resmi.”

Matanya mulai berkaca. Ia menggigit bibir, keras, menahan.

“Jadi jawabannya,” katanya, suara naik-turun, “jawabannya apa? Aku butuh denger kalimatnya. Kalimat lengkap. Subjek predikat objek. Aku orang medis, aku nggak nerima diagnosis lewat kode—”

“Aku sayang kamu.”

Kalimat itu keluar lebih mudah dari yang kubayangkan selama empat tahun membayangkan tidak akan pernah mengucapkannya lagi pada siapa pun.

“Aku mastiin dulu aku bisa sayang kamu seumur hidup, bukan setengah jalan. Udah kuperiksa. Berkali-kali. Hasilnya sama terus.” Aku mengangkat bahu, gestur paling bodoh yang mungkin dilakukan orang di momen seperti ini, tapi bahuku bergerak sendiri. “Aku sayang kamu, Alena.”

Air matanya jatuh—satu, cepat, langsung dihapus punggung tangan—dan detik berikutnya ia tertawa, tawa basah yang berantakan, sambil memeluk kotak itu ke dadanya persis seperti dulu memeluk panci.

“Kamu,” katanya, “baru aja bikin aku nangis pakai analogi sambungan kayu.”

“Ekor burung. Sambungannya ada namanya.”

“Aku nggak peduli namanya—”

“Sambungan paling kuat. Makin ditarik makin ngunci. Kupilih bukan asal—”

Dimas.

“Hm.”

“Waktu di klinik. Kamu bilang barter kita imbang, aku nggak tahu aja kursmu.” Ia mengangkat kotak itu sedikit. “Ini kursnya?”

“Bukan.” Aku menatapnya. “Kurs itu gini: kamu ngasih aku alasan nyalain lampu teras tiap malem. Aku ngasih kamu engsel sama rak bumbu. Dari awal aku yang untung, Alena. Jauh.”

Ia menatapku dengan mata yang sudah kalah sejak tadi itu, lalu menyerah total: “Sini.”

Dan kali ini akulah yang menyeberang.

Kalau kecupan di lobi klinik itu miliknya—nekat, cepat, setengah mendarat—maka yang ini milikku, dan aku mengerjakannya seperti mengerjakan segala sesuatu: tanpa buru-buru, dengan seluruh perhatian, satu tangan naik menangkup rahangnya dan satu lagi di pinggangnya yang pernah kutangkap dari gravitasi. Ia berjinjit lagi—kebiasaan yang sepertinya akan menua bersama kami—dan tangannya mencengkeram kausku di tempat yang sama seperti malam motor itu, dan pagi kompleks yang biasa berisik entah kenapa memilih hening, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun kepala saya tidak menghitung apa-apa. Tidak detik. Tidak risiko. Tidak apa-apa.

Ketika kami terpisah, ia butuh sepersekian detik untuk membuka mata, dan sedetik lagi untuk menemukan keseimbangannya—tangannya mencari lenganku, menemukan, berpegangan.

“Oke,” bisiknya, “lututku barusan minta izin pensiun.”

“Ditolak. Masih banyak jadwal.”

“Jadwal apa—”

“TANTE JANGAN LUPA NARIK NAPAS!”

Kami menoleh serempak. Di jendela ruang tengah, gorden tersibak selebar satu kepala anak dan satu kepala boneka kelinci. Sudah berapa lama—tidak ada yang tahu. Kartun di televisi terdengar berjalan tanpa penonton.

“Kirana,” kataku. “Katanya nonton.”

“Iklan,” jawabnya, tanpa dosa, tanpa berkedip. Lalu, kepada Alena: “Tante nggak papa? Muka Tante merah banget. Kayak waktu demam.”

“Tante nggak papa,” jawab Alena, dengan muka yang makin membantah kalimatnya sendiri.

“Ooo.” Kepala di jendela itu mengangguk. Lalu, dengan volume penuh yang sampai ke seberang gang, ke rute senam pagi, ke pos Pak Harun, ke mana-mana: “BERARTI SEKARANG TANTE SAMA AYAH UDAH JADI SATU TIM YA?!”

Di kejauhan, samar tapi tak terbantahkan, terdengar bunyi bel sepeda Bu Yayuk berbelok arah.

Alena membenamkan wajahnya di bahuku, bergetar oleh tawa. Aku menghela napas panjang, melingkarkan lengan di punggungnya—resmi sekarang, tidak perlu motor ngebut, tidak perlu alasan—dan menjawab pertanyaan putriku dengan kalimat terpendek dan terbenar yang kupunya:

“Iya. Satu tim.”

“YES.” Kepalan tangan kecil muncul di jendela. “MIMI, KITA MENANG.”


Malam itu, setelah semuanya—setelah makan malam pertama kami sebagai satu tim yang menunya sengaja dibuat Kirana memilih “yang spesial: nugget dinosaurus TAPI sausnya dua”—aku menemukan sesuatu terselip di pintu workshop.

Sticky note. Kuning. Tulisan dokter yang indah tapi terburu-buru:

“Kuncinya udah kucoba. Bisa kebuka. Berarti sah ya. Nggak ada tukar tambah. — A.”

Dan di bawahnya, lebih kecil, seperti ditulis setelah menimbang lama:

“P.S. Aku juga sayang kamu. Dari sebelum kamu selesai mastiin.”

Kutempel sticky note itu di dinding dalam workshop, di sebelah rak “nanti” yang malam ini resmi berganti nama, meskipun namanya hanya kuganti dalam hati:

Rak “sekarang”.


[Bersambung ke Bab 11 — “Rahasia Umum”]