Chapter Thirty Eight
Lamaran di Bawah Lampu Kuning
POV: Dimas
Rundown-nya disusun oleh anak tujuh tahun dan aku tidak diberi hak suara.
“Nomor satu,” kata Kirana, di meja makan, dengan buku gambar terbuka dan spidol di tangan—alat yang di rumah ini sudah resmi menjadi lambang kekuasaan. “Bunda dipancing ke workshop. Yang mancing Kirana.”
“Kenapa kamu?”
“Soalnya kalau Ayah yang manggil, Bunda curiga. Ayah nggak pernah manggil Bunda ke workshop, Bunda dateng sendiri.” Ia menulis. “1. PANCING.”
Aku tidak punya bantahan. Anak ini benar.
“Nomor dua. Lampunya cuma yang kuning di tengah. Yang lain matiin.”
“Kenapa?”
“Bagus.” Ia mengangkat bahu. “Kirana pernah lihat di film.”
“2. LAMPU KUNING.”
“Nomor tiga. Radionya nyalain.”
Aku berhenti. “Radionya?”
“Yang Ayah bikin. Yang buat dansa.” Kirana menatapku dengan tatapan orang yang jengkel harus menjelaskan hal sesederhana ini. “Kirana ngintip juga waktu itu, Yah.”
“...Kamu ngintip semuanya?”
“Kirana tinggal di rumah ini.”
“3. RADIO.”
“Nomor empat. Kirana pegang kotak. Kirana kasih ke Ayah pas Ayah bilang—” ia menoleh, “—Ayah nanti bilang apa?”
Dan aku, yang selama enam minggu menyusun kalimat itu di kepala setiap malam sambil mengamplas, membuka mulut dan tidak menemukan satu pun kata.
“Belum tahu.”
Kirana meletakkan spidolnya.
“YAH.”
“Nanti keluar sendiri.”
“Nggak bisa gitu! Nanti Ayah blank!” Ia menepuk meja. “Ayah kalau grogi jadi ‘hm’ doang. Nanti Bunda dilamar pakai ‘hm’.”
“Nggak akan.”
“BISA BANGET.”
Alena, dari arah dapur—yang sepanjang perdebatan ini sedang mencuci piring dan sepenuhnya bisa mendengar kami membahas rundown-nya sendiri—berteriak: “Kalian ngomongin apa sih dari tadi?”
“NGGAK ADA APA-APA,” teriak kami berdua. Serempak. Kompak dengan cara yang paling merugikan diri sendiri.
Penyakit lama.
Cincinnya kukerjakan enam minggu.
Bukan cincinnya—cincinnya kubeli, karena aku tukang kayu, bukan pandai emas, dan aku sudah cukup tahu diri untuk tidak mencoba melebur logam demi romantisme. Aku ke toko emas empat kali (yang ternyata terlihat oleh Bu Siti dan hampir menghancurkan seluruh operasi, diselamatkan oleh anak tujuh tahun dengan alasan jam tangan kakek).
Yang kukerjakan enam minggu adalah dudukannya.
Kotak. Lagi. Ketiga kalinya aku membuat kotak untuk perempuan ini, dan yang ini paling kecil dari semuanya: sepuluh kali enam sentimeter, tinggi empat.
Bahannya bukan jati.
Bahannya sisa potongan dari empat belas bingkai Pojok Mama.
Kupilih itu dengan sengaja, dan aku tidak tahu apakah akan menjelaskannya nanti atau membiarkannya jadi hal yang cuma kutahu sendiri. Kayu yang sama dengan yang membingkai Laras di dinding ruang tengah. Bukan simbol yang perlu diumumkan. Cukup ada.
Tutupnya bertatah—ini yang memakan empat dari enam minggu itu.
Inlay. Kayu terang di atas kayu gelap, dipotong sepersepuluh milimeter, dipasang satu per satu. Aku gagal tiga kali; yang pertama seratnya pecah, yang kedua sambungannya kelihatan garis lemnya, yang ketiga—yang ketiga sudah jadi dan bagus dan kubuang karena aku salah mengeja.
Aku mengukir huruf N di posisi yang salah, dan seluruh permukaan harus dibongkar, dan Raka menertawakanku lewat telepon selama sebelas menit.
Yang keempat jadi.
Di tutupnya, dalam huruf kecil yang halus, tertatah:
A · D · K
Tiga huruf. Ditata dalam segitiga.
Dan di bagian dalam tutup, di sisi yang cuma terlihat kalau kotaknya dibuka, kuukir satu baris lagi dengan pahat paling kecil yang kupunya:
ruangnya nambah
Hari-H: Sabtu, tanggal sembilan.
Bulan ke-sebelas.
Aku tidak memberitahu siapa pun soal tanggalnya kecuali Kirana. Bukan karena rahasia—karena kalau kujelaskan kenapa harus tanggal sembilan, aku harus mengakui bahwa aku menghitung, dan aku ingin menyimpan pengakuan itu untuk nanti.
Jam tujuh malam. Kirana menjalankan pasal satu.
“BUNDAAA! Sini! Ada yang jatuh di workshop!”
“Jatuh apa?”
“POKOKNYA SINI!”
Aku berdiri di workshop dengan lampu kuning satu-satunya menyala, radio menyala di frekuensi lagu lama, dan kotak sepuluh kali enam sentimeter di saku celanaku, dan tangan yang tidak bisa kusuruh berhenti gemetar.
Enam minggu menyusun kalimat. Enam minggu.
Dan berdiri di situ, mendengar langkah kaki mendekat, aku tidak ingat satu pun.
Pintu terbuka.
Alena masuk sambil membawa lap piring—selalu lap piring, orang ini selalu sedang mengerjakan sesuatu—dan berhenti dua langkah di dalam.
Ia melihat lampu. Radio. Aku.
Dan lap piring itu jatuh dari tangannya.
“Dimas.”
“Hm.”
Ia menutup mulutnya dengan tangan.
Di belakangnya, Kirana masuk dan menutup pintu, lalu berdiri di samping dengan kedua tangan menggenggam sesuatu di depan dada, punggung tegak, wajah paling serius sedunia. Ia memakai baju terbaiknya. Ia menyisir rambutnya sendiri—hasilnya berantakan dan tidak ada yang berani memperbaikinya.
“Kirana bagian paling penting,” katanya pada Alena, menjelaskan posisinya tanpa diminta.
Alena mengeluarkan bunyi yang setengah tawa setengah isak.
Dan aku—
Aku membuka mulut.
Dan yang keluar bukan satu pun dari kalimat yang kususun enam minggu.
“Sebelas bulan lalu kamu gedor pintuku jam tiga pagi.”
Alena menutup mulutnya lebih rapat.
“Aku lagi panik. Anakku demam tiga sembilan dua. Rumahku berantakan, aku belum tidur, dan aku udah empat tahun ngerjain semuanya sendirian sampai lupa itu berat.” Suaraku serak dari kalimat kedua dan aku membiarkannya. “Terus ada orang gedor pintu buat marah-marah, dan lima menit kemudian orang itu udah duduk di kasur anakku sambil bilang ‘buka mulutnya kayak singa’.”
Ia tertawa. Air matanya sudah jatuh.
“Aku nggak jatuh cinta malam itu,” kataku. “Aku mau jujur. Malam itu aku cuma lega. Tapi ada sesuatu yang mulai malam itu dan aku nggak sadar, dan sekarang kalau aku lihat ke belakang, semuanya kelihatan: kamu terus yang dateng. Tiap kali aku nggak sanggup, kamu dateng. Aku nggak pernah manggil.”
Kurogoh sakuku.
“Aku bikin kamu tiga kotak,” kataku. “Yang pertama isinya kunci rumahku, karena waktu itu yang bisa kukasih cuma akses. Yang kedua radio, karena kamu pernah cerita soal dapur ibumu dan aku nggak bisa nggak nyimpen cerita-ceritamu.”
Kuangkat kotak ketiga itu, dan tidak membukanya, dan menyerahkannya ke tangan kecil di sebelahku.
Kirana menerimanya dengan dua tangan. Khidmat. Seperti perawat menyerahkan instrumen operasi, seperti asisten senior menyerahkan sekrup satu per satu, seperti anak yang tahu persis apa yang sedang ia pegang.
“Yang ketiga,” kataku, “kotaknya nggak penting. Isinya juga bisa dibeli di mana aja.”
Alena menggeleng-geleng, menangis, tidak bisa bicara.
“Yang penting siapa yang megang.”
Dan Kirana melangkah maju.
Anak itu berdiri di depan Bunda-nya, mengangkat kotak itu dengan dua tangan setinggi dada, dan mengucapkan kalimatnya sendiri—kalimat yang tidak ada di rundown mana pun, yang tidak pernah ia latih di depanku, yang jelas ia susun sendiri entah kapan:
“Bunda. Kirana yang minta.”
Alena jatuh berlutut di lantai workshop itu.
“Kirana yang minta,” ulang Kirana, suaranya mulai bergetar, “soalnya Kirana udah punya Ayah, terus Kirana punya Mama di dinding, terus Kirana punya Bunda tapi Bunda-nya masih tinggal di sebelah.” Ia menyodorkan kotak itu. “Kirana pengen semuanya di satu rumah.”
Aku berlutut juga.
Kubuka kotak itu di tangan putriku.
“Alena,” kataku.
Ia mengangkat wajah.
“Kamu mau nikah sama kami?”
Ia tidak menjawab dengan kata.
Ia menarik dua-duanya sekaligus—aku dan Kirana—dan memeluk kami di lantai workshop yang berserakan serutan kayu, dan menangis dengan suara yang sepenuhnya tidak sopan dan sepenuhnya benar, dan berkata “iya” berkali-kali di antara tangisnya sampai jumlahnya kehilangan makna.
Kirana masih memegang kotak itu di tengah-tengah, terjepit, dan tidak melepaskannya sedetik pun, karena ia bagian paling penting dan ia tahu tugasnya.
Cincin itu kupasangkan di jarinya dengan tangan yang gemetar sampai butuh dua percobaan.
Muat.
Ukurannya kudapat dari cincin yang ia lepas setiap kali mencuci piring dan ia letakkan di tempat yang sama setiap hari di dapur rumahku, yang kuukur diam-diam dengan jangka sorong dua bulan lalu, karena aku mengukur semua yang bisa diukur.
“Kamu ngukur cincinku?” bisiknya, melihat jarinya.
“Hm.”
“Kapan?”
“Dua bulan lalu.”
“DUA BULAN—”
Dan lalu ia melihat bagian dalam tutup kotak itu.
ruangnya nambah
Dan seluruh kalimatnya hilang, dan ia menariku lagi, dan aku menciumnya di lantai workshop di bawah lampu kuning dengan radio memutar lagu tahun enam puluhan dan seorang anak tujuh tahun berkata “IH” dengan volume penuh tepat di sebelah telinga kami.
Yang tidak kami perhitungkan: workshop punya jendela.
Yang juga tidak kami perhitungkan: kompleks Griya Anggrek punya intelijen.
Kami baru menyadarinya ketika terdengar bunyi dari luar.
Bukan bunyi kecil. Bunyi tepuk tangan.
Dari luar. Dari halaman.
Alena membeku. Aku menoleh ke jendela.
Dan di balik kaca jendela workshop—jendela yang tidak bergorden karena aku tidak pernah merasa perlu memasang gorden di ruangan kerja—berjajar wajah-wajah.
Bu Yayuk di paling depan, dengan ponsel terangkat.
Pak Harun, topi di dada.
Bu Siti. Bu Ningsih. Pak RT dan istrinya. Delapan ibu-ibu rute senam pagi. Tukang genteng keponakan Bu Yayuk. Dan di barisan belakang—Raka, dengan istrinya, dan Sekar, yang jelas menyetir dari Semarang, dan Bu Ratna, duduk di kursi plastik yang jelas dibawakan seseorang khusus untuknya.
Halaman rumahku penuh orang.
Aku berdiri, membuka pintu workshop, dan menghadapi kompleks.
“Sejak kapan?”
“Dari jam tujuh kurang, Pak Dimas,” kata Pak Harun, hormat setengah resmi. “Kami menunggu di pos dulu, lalu bergerak.”
“Siapa yang kasih tahu?”
Semua kepala menoleh ke satu arah.
Pak Harun berdeham dan membuka jurnalnya.
“Mohon maaf, Pak. Tanggal dua puluh empat bulan lalu, pukul lima sore, tercatat Bapak masuk toko emas untuk keempat kalinya.” Ia mengangkat wajah dari jurnal, wibawa penuh. “Ade Kirana bilang itu jam tangan kakeknya. Tapi Pak, saya dua puluh tiga tahun jadi satpam. Orang yang benerin jam tangan itu masuk dua menit. Bapak masuk empat puluh menit dan keluar sambil senyum.”
Di sebelahku, Kirana menepuk dahinya dengan telapak tangan.
“Kirana udah usaha,” gumamnya.
“Kamu udah bagus,” kataku.
Bu Yayuk maju, menerobos barisan, dan langsung memeluk Alena yang masih setengah menangis. “Ibu udah bilang! Setahun lalu Ibu udah bilang di warung! Bu Siti saksinya!”
“Bener, Bu Yayuk bilang setahun lalu,” konfirmasi Bu Siti.
“Ibu ngasih setahun, ternyata pas!”
“Sebelas bulan, Bu,” kata Alena, tertawa di dalam pelukan.
“Ya sebelas bulan itu setahun kurang dikit, sama aja!”
Dan di tengah kekacauan itu, di antara ibu-ibu yang berebut menyalami dan Raka yang menepuk punggungku sambil berkata “akhirnya, sialan” dengan mata basah, aku melihat satu hal yang membuatku harus berhenti bergerak sebentar:
Bu Ratna, di kursi plastiknya, memegangi tangan Alena.
Dan Alena berlutut di depan kursi itu—berlutut, di halaman, dengan gaun rumah dan cincin baru—dan Bu Ratna memegang wajahnya dengan dua telapak tangan seperti hari pertama mereka bertemu.
Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya.
Tapi aku melihat Alena mengangguk berkali-kali, dan aku melihat Bu Ratna menepuk pipinya dua kali, dan itu cukup.
Malam itu, jam sebelas, setelah kompleks bubar dan Kirana tidur dan halaman kembali sepi, kami duduk di undakan teras dengan dua cangkir.
Alena memandangi cincin di jarinya di bawah lampu teras.
“Dimas.”
“Hm.”
“Kenapa tanggal sembilan?”
Kuminum kopiku.
“Kamu tahu kenapa.”
“Aku mau denger kamu bilang.”
Kuletakkan cangkirku.
“Sebelas bulan lalu, tanggal sembilan, seseorang narik lengan bajuku di lobi kliniknya,” kataku. “Terus dia bilang aku lambat.”
“Terus?”
“Terus dia bener.” Kunoleh padanya. “Tapi aku udah nggak lambat lagi sekarang.”
Alena menyandarkan kepalanya ke bahuku, dan kami duduk di undakan itu—undakan tiga, yang jangan diubah—sampai kopinya dingin.
[Bersambung ke Bab 39 — “Pagar Dibongkar”]