← Chapters Ch. 27 / 40

Chapter Twenty Seven

Kunjungan Bu Ratna

POV: Alena


Aku sudah tahu tentang Bu Ratna sejak bulan kedua.

Namanya muncul secara alami dalam obrolan rumah itu, seperti nama tempat: “nanti Kirana nginep di Uti”, “ini kue dari Uti”, “Uti nelepon nanyain giginya Kirana”. Ia neneknya Kirana dari pihak Laras. Ia tinggal empat puluh menit dari kompleks kami. Ia menelepon setiap Rabu malam dan hari raya ia datang membawa opor yang, menurut Kirana, “nomor duanya masakan Ayah, tapi opornya nomor satu, khusus opor Uti menang”.

Yang tidak pernah terjadi selama tujuh bulan: kami bertemu.

Bukan dihindari. Cuma tidak terjadi. Kunjungan Kirana ke rumah Uti selalu diantar Dimas, akhir pekan, saat aku praktik. Bu Ratna sendiri jarang datang karena lututnya.

Jadi saat Dimas berkata di suatu Selasa malam, sambil menutup wadah bekal Kirana, “Sabtu Bu Ratna mau ke sini. Sama Sekar,” aku menjatuhkan sendok ke lantai dapur.

“Sabtu ini?”

“Sabtu ini.”

“Sabtu tiga hari lagi?”

“Sabtu biasanya emang tiga hari lagi kalau hari Selasa.” Ia memungut sendokku, membilasnya, mengembalikannya. “Dia mau ketemu kamu.”

“Dia... mau ketemu aku.”

“Hm.”

“Dimas.” Kupegang lengannya. “Kamu ngomongnya kayak bilang tukang gas mau dateng.”

Ia menoleh, dan aku melihat di matanya bahwa ia tidak setenang itu—tidak setenang itu sama sekali—hanya saja empat tahun terakhir mengajarinya menyimpan getaran di tempat yang tidak kelihatan.

“Aku juga deg-degan,” katanya. “Tapi kalau kita berdua panik, nanti Kirana ikut panik.”

“Terus aku harus apa?”

“Nggak usah apa-apa.” Ia menutup wadah bekal itu, mengunci empat sisinya satu per satu. “Beliau bukan orang yang perlu disiapin, Alena. Beliau orang yang perlu ditemuin.”

Aku tetap panik selama tiga hari.


Aku menyiapkan tiga skenario.

Skenario pertama: dingin sopan. Ini yang paling kutakuti dan paling kuanggap wajar. Aku sudah menyusun sikapku—hormat, jarak, banyak diam, jangan sekali pun bertindak seperti tuan rumah di rumah itu. Aku bahkan berlatih di mobil: “Selamat siang, Bu. Saya Alena.” Bukan “Bunda-nya Kirana”. Bukan “pacarnya Dimas”. Cuma nama.

Skenario kedua: penolakan halus. Kalimat-kalimat seperti “masih baru ya” atau “Dimas memang butuh yang bantu urus Kirana”. Aku sudah menyiapkan senyumku untuk itu.

Skenario ketiga: dites. Ditanya-tanya. Diukur.

Yang tidak kusiapkan sama sekali—yang bahkan tidak masuk daftar—adalah apa yang benar-benar terjadi.


Sabtu jam sepuluh, mobil itu datang. Sekar yang menyetir: perempuan dua puluh tujuh tahun, rambut pendek, kacamata bulat, yang keluar dari mobil sambil berteriak “KIRANAAA” dan langsung diterjang keponakannya.

Lalu pintu penumpang terbuka, dan Bu Ratna turun.

Enam puluhan. Kecil. Rambut disanggul rapi, kebaya encim sederhana, dan tongkat yang jelas ia benci karena ia berjalan seolah tongkat itu cuma aksesori. Dan wajahnya—

Wajahnya adalah wajah di empat belas bingkai di ruang tengah itu, tiga puluh tahun kemudian.

Aku berdiri di teras rumah Dimas dengan tangan dingin dan seluruh naskah skenarioku hilang dari kepala.

Bu Ratna berjalan mendekat. Berhenti di depanku. Menatapku dari bawah ke atas dengan cara yang membuatku ingin menunduk.

“Selamat siang, Bu,” kataku. “Saya Alena.”

Dan Bu Ratna—tanpa satu kata pun—meletakkan tongkatnya bersandar ke pagar, mengangkat kedua tangannya, dan memegang wajahku.

Dua telapak tangan tua yang hangat dan kasar di kedua pipiku.

“Ya ampun,” katanya. “Cantiknya.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Kirana bilang cantik, Ibu pikir ya namanya anak-anak, semua orang cantik.” Ia menepuk pipiku dua kali. “Ternyata bener. Ibu jadi malu, tadi Ibu ngomel di mobil gara-gara macet.”

“Bu—”

“Udah makan? Ibu bawa opor. Sama semur. Sama lapis legit, tapi itu buat dibawa pulang ke rumah kamu, jangan dimakan di sini.”

“Ibu, saya—” tenggorokanku tersumbat total, “—saya nggak nyiapin apa-apa—”

“Loh, ya jangan nyiapin apa-apa. Ibu yang tamu.” Ia mengambil tongkatnya lagi. “Sudah, masuk. Lutut Ibu nggak suka berdiri lama.”

Dan ia berjalan masuk ke rumah menantunya seperti orang yang tahu persis di mana semua barang diletakkan, sementara aku berdiri di teras dengan pipi yang masih terasa hangat bekas telapak tangannya, dan Sekar berhenti di sebelahku sambil menggendong Kirana.

“Mbak Alena kaget ya?” bisiknya, nyengir.

“...Sedikit.”

“Semua orang kaget. Ibu saya emang gitu.” Sekar mengedip. “Yang sabar ya, Mbak. Ini baru menit pertama.”


Sekar benar.

Selama tiga jam berikutnya, aku mengalami sesuatu yang seharusnya menyenangkan dan justru membuatku makin lama makin sulit bernapas.

Bu Ratna baik.

Bukan baik sopan. Baik yang aktif, yang mendesak, yang tidak menyisakan ruang untuk jarak.

Ia menyuruhku duduk di sebelahnya di sofa dan tidak melepaskan tanganku selama dua puluh menit sambil bertanya-tanya: aku anak keberapa, orang tuaku di mana, kliniknya ramai tidak, capek tidak berdiri seharian, sudah cek kesehatan belum karena “perempuan kerja itu suka lupa badannya sendiri”.

Ia menyuruhku makan dua kali. Ia menuangkan opor ke piringku tanpa bertanya. Ia melihat tanganku dan berkomentar bahwa aku kurus, dan Dimas dari kursi seberang berkata “hm” dengan nada yang jelas berarti dari dulu aku juga bilang gitu, dan mereka berdua kompak untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam hal mengomentari berat badanku.

Ia bertanya tentang Kirana—bukan basa-basi, tapi hal-hal spesifik: apa masih suka menahan pipis kalau lagi asyik main, apa masih takut suara blender, apa giginya yang goyang sudah tanggal. Dan setiap kali aku menjawab dengan detail, wajahnya melunak satu tingkat.

Lalu, di jam ketiga, ia berdiri.

“Ibu mau lihat ruang tengah.”

Seluruh ruangan membeku.

Karena Bu Ratna belum melihatnya. Karena Pojok Mama baru berdiri tiga minggu. Karena tidak ada satu pun dari kami yang sempat memikirkan bagaimana menjelaskan kepada seorang ibu bahwa dinding di rumah menantunya sekarang dipenuhi foto putrinya yang sudah meninggal, dipasang atas prakarsa perempuan yang sekarang tinggal di rumah sebelah.

“Bu—” Dimas bangkit.

“UTI, SINI!” Kirana sudah menarik tangan neneknya. “Kirana mau nunjukin sesuatu! Ini penting! Ini rahasia tapi udah nggak rahasia!”

Ia menyeret Bu Ratna ke ruang tengah, berdiri di depan dinding itu, dan mengumumkan dengan kedua tangan terentang seperti pemandu museum:

“Ini Pojok Mama.”

Bu Ratna berhenti.

Aku berdiri di belakang, di ambang pintu, dan tanganku mencari tangan Dimas tanpa kusadari.

Empat belas bingkai. Rak kayu kecil. Kotak kaca berisi kartu Hari Ibu. Gelang manik-manik. Botol parfum yang tinggal seperempat. Buku catatan bersampul kain. Buku resep terbuka di halaman rawon. Dan di sudut, gambar spidol: rumah dengan pagar terbuka, empat orang, salah satunya digambar dengan sinar matahari di sekelilingnya.

Bu Ratna tidak bergerak selama—aku tidak tahu. Lama.

Lalu tongkatnya berbunyi jatuh ke lantai.

Ia melangkah maju, mengangkat tangan, dan menyentuh kaca bingkai yang paling tengah: foto Laras menggendong bayi berpipi tembam di sebuah teras yang sama dengan teras rumah ini.

“Ini...” suaranya keluar seperti kertas robek. “Ini foto Ibu yang motret.”

Sekar sudah menyeberang ruangan untuk memegangi ibunya. Kirana berdiri di sebelah, tiba-tiba panik, menoleh ke arahku dengan mata yang bertanya Kirana salah ya?

Aku menggeleng cepat.

“Ini juga,” Bu Ratna berpindah ke bingkai lain, jarinya gemetar di kaca, “ini pas dia lulus. Ini pas dia—ya ampun, ini pas dia SMP, ini dari mana—”

“Dari album yang di kardus, Bu,” kata Dimas pelan.

“Kardus?”

“Yang di atas lemari.”

Bu Ratna menoleh menatap menantunya. Dan sesuatu terjadi di wajahnya—sesuatu yang lebih rumit dari kesedihan, sesuatu yang mengandung pengertian yang lama sekali disimpan.

“Empat tahun di atas lemari,” katanya.

Dimas tidak menjawab.

“Ibu tahu,” kata Bu Ratna. “Ibu tahu kok, Nak. Ibu juga nyimpen barangnya di lemari. Ibu juga nggak sanggup.” Ia mengusap kaca itu dengan ibu jarinya, sekali. “Sekarang siapa yang keluarin?”

Ruangan hening.

Dan Kirana—yang tidak pernah membaca ruangan karena ia terlalu jujur untuk itu—menjawab dengan suara jelas:

“Bunda Alena.”

Bu Ratna berbalik.

Menatapku.

Dan aku, yang selama tiga jam ini sudah menahan sesuatu yang makin lama makin berat di dada, akhirnya jebol di tempat yang paling salah.

“Bu, maaf—” suaraku pecah, “—Bu, maaf, saya nggak bermaksud—”

Aku menutup mulut dengan tangan dan berbalik keluar.


Aku berdiri di teras belakang, di sebelah workshop, menghadap jemuran, menangis dengan cara paling tidak elegan yang pernah kulakukan di rumah orang.

Sekar datang lima menit kemudian membawa segelas air.

“Nih, Mbak.”

“Maaf ya,” kataku, mengambilnya. “Maaf. Saya malu banget.”

“Nggak usah minta maaf.” Ia bersandar di dinding di sebelahku. “Boleh saya tebak kenapa?”

Aku tidak menjawab.

“Mbak Alena mikir, ‘aku ini siapa’.” Sekar melipat tangan. “‘Aku ngerawat foto anak orang. Aku dipanggil Bunda sama cucu orang. Aku duduk di kursi yang dulu kursi Mbak Laras. Terus ibunya baik banget sama aku, dan itu malah bikin makin nggak enak, karena kalau dia jahat kan enak, saya bisa marah.’”

Aku menoleh padanya dengan mata yang pasti kelihatan sangat bodoh.

“Bener nggak?”

“...Kok kamu tahu?”

“Karena saya juga gitu selama dua tahun.” Sekar mengangkat bahu. “Saya adiknya, Mbak. Waktu Mbak Laras meninggal, saya yang bantuin Mas Dimas berbulan-bulan. Nyuapin Kirana, nyuci, nginep. Terus keluarga besar mulai nyeletuk, ‘Sekar aja yang gantiin’—”

Air di gelasku hampir tumpah.

“—dan saya sempet mikir itu masuk akal,” lanjut Sekar, tenang. “Bukan karena saya suka sama Mas Dimas. Astaga, jangan sampai. Dia itu kayak kakak yang paling nggak seru. Tapi karena waktu itu saya pikir cara menjaga kakak saya adalah dengan menjadi kakak saya.” Ia menoleh padaku. “Dua tahun saya kayak gitu, Mbak. Sampai akhirnya saya sadar: yang saya lakuin itu bukan ngejaga Mbak Laras. Itu nggak ngasih izin siapa pun buat hidup, termasuk diri saya sendiri.”

Aku menghapus mataku dengan pergelangan tangan.

“Terus sekarang?”

“Sekarang saya punya pacar, kerja di Semarang, dan saya seneng banget waktu denger Mas Dimas akhirnya punya orang.” Sekar nyengir. “Dan waktu Kirana video call bilang ‘Tante Sekar, di rumah ada Pojok Mama, Bunda yang bikin’—saya nangis di kamar kos, Mbak. Saya nangis lama banget. Karena selama empat tahun saya nggak berani minta itu ke Mas Dimas. Nggak berani. Takut nyakitin.”

Ia menepuk bahuku.

“Mbak Alena ngerjain hal yang keluarga kami sendiri nggak berani ngerjain. Jadi tolong berhenti nanya ‘aku ini siapa’.”

Dari dalam rumah, terdengar suara Bu Ratna memanggil.

“Nak Alena? Nak Alena mana?”

Sekar mendorong punggungku pelan.

“Sana. Ibu saya mau ngomong. Dan Mbak—” ia menahanku sebentar, suaranya berubah, “—apa pun yang beliau bilang nanti, tolong dengerin sampai selesai. Ibu saya itu ngomongnya suka muter dulu sebelum sampai ke intinya.”


Bu Ratna duduk di sofa dengan piring lapis legit di pangkuannya. Tongkatnya sudah kembali ke tangannya. Matanya masih merah tapi wajahnya sudah tenang.

Ia menepuk tempat di sebelahnya.

Aku duduk.

“Nak Alena.”

“Iya, Bu.”

“Kamu tadi minta maaf.” Ia menatap lurus ke dinding, ke empat belas bingkai itu. “Boleh Ibu tahu, minta maafnya buat apa?”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

“Nggak usah dijawab sekarang,” katanya, dan ia menepuk tanganku. “Pikirin dulu. Ibu juga mau mikir dulu. Ibu orangnya lambat, nggak bisa ngomong hal penting kalau lagi rame begini.”

Ia menyuap lapis legitnya.

“Nanti kapan-kapan kamu ke rumah Ibu, ya. Sendirian. Nggak usah bawa Dimas, dia berisik—” ia melirik menantunya yang sedang duduk di seberang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi, “—diamnya berisik.”

“...Baik, Bu.”

“Ibu masakin. Kamu kurus.”

Dan begitulah kunjungan itu berakhir: dengan sebuah undangan yang terasa seperti panggilan, sebuah pertanyaan yang tidak kujawab, dan sebuah kalimat yang menempel di kepalaku selama berminggu-minggu setelahnya, sampai malam ketika akhirnya aku duduk di ruang tamu rumah Bu Ratna dan mendengar kelanjutannya.

Minta maafnya buat apa?

Aku tidak punya jawabannya waktu itu.

Aku baru punya, jauh kemudian, dan jawabannya bukan dari mulutku.


[Bersambung ke Bab 28 — “Slow Dance di Workshop”]