Chapter Twenty
Gendong
POV: Dimas
Bulan ketujuh, klinik Alena diserang epidemi.
Bukan epidemi penyakit—epidemi jadwal. Libur sekolah tiba, dan ternyata libur sekolah adalah musim panen bagi dokter gigi anak: seluruh orang tua se-kota serentak menyadari bahwa anaknya punya gigi, dan bahwa gigi itu sudah setahun tidak diperiksa, dan bahwa sekaranglah waktunya karena “nggak ganggu sekolah”.
Selama dua minggu, perempuan itu pulang jam delapan malam. Lalu setengah sembilan. Lalu, hari Rabu itu, jam sembilan lewat.
Aku tahu persis jamnya karena aku menunggu. Bukan menunggu yang dramatis—menunggu yang berbentuk: makanan disisihkan di panci dengan api kecil, lampu teras menyala, pintu depan tidak dikunci, dan aku duduk di ruang tengah mengerjakan gambar teknik pesanan sambil telinga kupasang ke arah pagar.
Kirana, yang jam tidurnya tidak bisa dinegosiasikan, mengembangkan protokolnya sendiri untuk situasi ini. Setiap malam sebelum tidur, ia akan menaruh sesuatu di kursi Alena: hari Senin selembar gambar, hari Selasa satu permen dari jatah mingguannya, hari Rabu—malam itu—selembar kertas dengan tulisan besar-besar yang ejaannya masih berjuang, ditempel di sandaran kursi.
“Itu apa?”
“Surat. Kayak yang Tante tempel ke Ayah.” Ia memanjat ke kursinya sendiri untuk memasang lakban dengan presisi yang meleset. “Biar Tante tahu Kirana nungguin. Kirana nggak bisa melek sampai jam sembilan, jadi suratnya yang nungguin.”
Aku membaca surat itu setelah anaknya tidur: “TANTE MAAF KIRANA UDA BOBO. BESOK PAGI KEPANG LAGI YA. MIMI JUGA NUNGGU.”
Kufoto. Kukirim ke Alena. Balasannya datang dua menit kemudian berupa satu baris—“aku di parkiran, nangis dikit, nggak usah dibahas”—dan aku tidak membahasnya, tapi malam itu porsi yang kusisihkan di panci kutambah.
Rabu itu ia datang jam sembilan lewat dua belas menit, masuk lewat pintu depan yang tidak dikunci—sudah tidak pakai ketuk sejak bulan ketiga—dan berdiri di ruang tengahku dengan tas kerja masih di bahu.
Wajahnya kelabu. Kantung matanya bukan gaya bahasa.
“Kirana udah tidur?”
“Jam delapan. Dia titip pesan: ‘Tante disuruh makan, jangan cuma minum kopi, itu perintah medis, ada dasar hukumnya (Kirana)’.”
Ia tertawa—versi lelah dari tawanya, seperempat tenaga—dan menjatuhkan tas ke lantai, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan karena ia tipe yang menggantung tas di tempatnya.
“Duduk,” kataku. “Makan.”
“Bentar. Lima menit. Kakiku—” ia jatuh ke sofa dengan bunyi orang yang tubuhnya sudah menyerah dua jam lalu dan sisanya cuma formalitas, “—lima menit.”
“Hm.”
“Aku serius, lima menit doang. Habis itu aku makan, terus pulang, terus tidur.” Kepalanya jatuh ke sandaran. Matanya sudah tertutup di tengah kalimat. “Hari ini dua puluh tiga pasien, Dimas. Dua puluh tiga. Satu nangis dari lobi sampai lobi lagi. Satu muntah di sepatuku. Satu nge-gigit—”
“Sekarang berapa menit?”
“...Empat setengah.”
Ia tidur di menit kelima. Tepat waktu, seperti janjinya, kalau kau tidak rewel soal definisi.
Aku membiarkannya empat puluh menit.
Selama empat puluh menit itu aku melanjutkan gambar teknikku di meja, sesekali mengangkat wajah untuk memastikan ia belum melorot, sekali berdiri untuk memindahkan gelas dari jangkauan sikunya. Lampu ruang tengah kumatikan sebagian, sisakan yang paling redup.
Perempuan itu tidur dengan mulut sedikit terbuka, tangan kanan masih setengah menggenggam entah apa, dan sebelah kaki menekuk di sofa dengan sepatu yang masih terpasang—kulepas, satu per satu, dengan operasi tingkat kesulitan sedang.
Ini kesempatanku untuk berpikir jernih, dan aku memakainya untuk hal yang sudah beberapa minggu ini muncul di kepala tanpa diundang:
Rumahnya sembilan meter dari sini. Setiap malam ia menyeberang sembilan meter itu, masuk ke rumah yang lampunya baru dinyalakan jam sembilan malam, kulkasnya berisi tiga jenis saus, dan tidak ada siapa-siapa untuk melaporkan pasien yang muntah di sepatunya. Setiap pagi ia menyeberang balik.
Sembilan meter, dua kali sehari, tujuh bulan.
Perhitungan yang tidak masuk akal untuk pekerjaan yang hasilnya sama saja.
Kutepis pikiran itu—terlalu cepat, terlalu banyak yang harus dipertimbangkan, ada anak enam tahun di rumah ini yang keputusannya bukan hanya milikku—dan kembali ke gambar teknikku dengan disiplin orang yang menutup laci.
Jam sepuluh, aku menyerah pada kenyataan bahwa ia tidak akan bangun.
Membangunkannya bukan pilihan. Aku pernah sekali, bulan lalu, dan hasilnya adalah manusia setengah sadar yang menabrak kusen pintu lalu meminta maaf pada kusen itu.
Menidurkannya di kamar Kirana? Kasurnya sudah dihuni satu anak yang tidurnya berotasi.
Di kamarku? Ada garis yang belum kami seberangi, dan aku tidak akan menyeberanginya diam-diam saat orangnya tidak sadar.
Jadi tinggal satu opsi: mengantarnya pulang. Sembilan meter.
Kuambil kunci rumahnya dari kantong tas—kunci yang ia berikan padaku empat bulan lalu di pagar dengan kalimat “biar adil”—kunci rumahku sendiri, jaket, dan kusampirkan tas kerjanya di bahu.
Lalu kuangkat dia.
Satu lengan di bawah lutut, satu di punggung. Ia bergumam sesuatu yang tidak berbentuk kata, tangannya naik dan mendarat di dadaku—refleks lama, kaus yang sama, tempat yang sama—dan kepalanya jatuh ke ceruk bahuku dengan kepasrahan orang yang tubuhnya sudah memutuskan bahwa ini tempat yang benar.
Kubuka pintu dengan siku. Kuturuni tiga anak tangga teras. Kuseberangi halaman.
Dan di situlah aku melakukan kesalahan taktis terbesar bulan itu: aku lupa jam sepuluh malam Rabu adalah jadwal ronda.
Pos ronda kompleks Griya Anggrek malam itu, menurut catatan resmi yang kemudian dibacakan Pak Harun di berbagai kesempatan selama berbulan-bulan, sedang menjalankan patroli rutin dengan personel lengkap: Pak Harun sendiri, dua bapak warga blok B, dan—karena warung tutup jam sembilan dan Bu Yayuk menganggap ronda sebagai acara sosial—Bu Yayuk, membawa termos.
Kelimanya kebetulan melintas di depan blok C tepat saat aku menuruni anak tangga terakhir.
Aku mendengar langkah mereka berhenti. Serempak. Seperti satu orang.
Aku tidak menoleh. Menoleh berarti mengakui. Aku terus berjalan menyeberangi halaman dengan kecepatan konstan dan wajah orang yang sedang membawa karung beras.
“Selamat malam, Pak Dimas,” kata suara Pak Harun, dari kegelapan, dengan nada resmi yang sudah bergetar di ujungnya.
“Malam, Pak.”
“Aman?”
“Aman, Pak.”
Hening tiga langkah.
“Bu Dokter... aman?”
“Ketiduran, Pak. Habis dua puluh tiga pasien.”
“Ooo.” Suara Pak Harun naik satu oktaf melawan kehendaknya. “Dua puluh tiga. Banyak sekali. Wajar. Wajar sekali.”
Dari kelompok itu terdengar bunyi seseorang menyikut seseorang. Lalu suara Bu Yayuk, yang tidak pernah dalam sejarahnya berhasil berbisik:
“Difoto, Bu! Difoto!”
“NGGAK SOPAN, BU YAYUK—”
“YA MAKANYA CEPETAN—”
Aku sampai di pagar. Membukanya dengan lutut—gerendel itu, gerendel yang kuminyaki sendiri, membuka tanpa suara, satu-satunya pihak yang berpihak padaku malam itu. Menyeberang. Naik teras rumahnya. Membuka pintu dengan tangan yang entah bagaimana masih sanggup memutar kunci sambil menahan enam puluh kilogram manusia tidur.
Sebelum masuk, entah kenapa, aku berhenti dan menoleh.
Lima orang berdiri di gang, membeku dalam formasi yang berbeda-beda: Pak Harun dengan senter menghadap tanah dan tangan kanan di dada seperti sedang menyaksikan upacara bendera; dua bapak blok B dengan pentungan menggantung lupa fungsinya; satu bapak lagi entah kenapa sudah melepas topinya; dan Bu Yayuk, dengan ponsel terangkat, jelas-jelas sudah selesai memotret.
“Malam, semuanya,” kataku.
“MALAM, PAK DIMAS,” jawab lima orang itu, serempak, dengan volume yang cukup untuk membangunkan blok C seandainya blok C tidak sedang menonton dari balik gorden masing-masing.
Aku masuk dan menutup pintu dengan kaki.
Kubaringkan ia di kasurnya, kulepas jepit rambutnya (satu, di bagian belakang, yang selalu ia lupa), kuselimuti sampai dagu. Kuletakkan tas kerjanya di kursi, kunci di meja nakas, dan segelas air di sebelah kunci.
Ia bergumam sesuatu saat aku hendak berdiri. Kudekatkan telinga.
“...pasien terakhir...” gumamnya, “...giginya... nggak papa... aku pegangin...”
Bahkan dalam tidurnya, ia sedang memegangi tangan anak orang.
Kurapikan rambut dari wajahnya, kucium keningnya—lama, karena tidak ada yang menonton di dalam sini—dan berdiri.
Di meja nakasnya, di sebelah lampu tidur, ada mangkuk kecil. Isinya: satu karet rambut merah yang kukenal, satu kotak jati sambungan ekor burung, dan—ini baru—satu sticky note kuning yang sudah difoto, dicetak ulang di kertas bagus, dan dibingkai kecil.
Tulisannya tulisanku. Empat kata. Satu-satunya note yang pernah kutulis untuknya, ditinggalkan di meja dapurnya bulan lalu saat ia tidur siang sehabis jaga: “Makan siangnya di kulkas.”
Aku berdiri di kamar itu memandangi mangkuk barang-barang yang tidak boleh hilang, dan sesuatu di dadaku mengalami hal yang tidak ada namanya dalam bahasa Indonesia.
Empat kata. Tentang makan siang di kulkas. Dibingkai.
Kumatikan lampu, kukunci pintunya dari luar dengan kunci yang kubawa pulang, dan menyeberang balik ke rumahku—melewati lima orang yang masih berdiri di posisi yang sama, yang serempak berpura-pura sedang memeriksa tiang listrik.
Paginya, seperti yang bisa diprediksi siapa pun yang tinggal di kompleks ini lebih dari sebulan, ceritanya sudah berangkat lebih dulu dari orangnya.
Jam tujuh, saat kepang harian, Alena datang ke teras dengan wajah orang yang sudah membaca sesuatu.
“Dimas.”
“Hm.”
“Grup kompleks.”
“Hm.”
“Ada foto.” Ia mengangkat ponselnya. Foto itu—harus kuakui—diambil dengan komposisi yang mengejutkan bagus untuk kondisi gelap dan tangan gemetar: siluet dua orang menyeberangi halaman dengan latar lampu teras, judulnya dari Bu Yayuk: “MASYA ALLAH BLOK C. IBU2 SEKALIAN, SUAMI KALIAN GIMANA? 🥲”
“Dua ratus empat puluh tiga pesan,” lanjut Alena. “Semalem. Dari jam sepuluh sampai jam satu pagi. Aku baca semua di toilet klinik tadi.”
“Isinya apa?”
“Awalnya normal. Terus ibu-ibu mulai bandingin sama suami masing-masing. Terus bapak-bapak masuk buat membela diri. Terus—” ia menutup mata sebentar, “—terus Pak RT ikut komentar. Pak RT, Dimas. Dia bilang, kutipan: ‘Warga C-12 memang teladan. Mohon kepada warga lain tidak menjadikan ini standar baru, kami sudah tua.’”
Kirana, dari undakan bawah, mengangkat tangan dengan tenang. “Kirana juga udah dengerin. Tadi pas jalan ke jemputan, Om satpam bilang ke Kirana: ‘Ayahmu itu, Dek, laki-laki sejati.’”
“Terus kamu jawab apa?”
“Kirana jawab: ‘Iya, tapi kepangnya jelek.’”
Aku menyelesaikan ikatan kepang di tangan tanpa berkomentar, karena membela diri di rumah ini tidak pernah menghasilkan apa-apa.
Alena duduk di undakan atas—tempatnya—dan menerima cangkir teh dari tangan yang menyodorkannya tanpa diminta. Untuk beberapa saat kami cuma duduk begitu: pagi, dua cangkir, satu anak yang sedang memeriksa hasil kepangnya di pantulan jendela.
“Makasih, ya,” katanya akhirnya, pelan, ke arah cangkirnya. “Semalem. Aku bangun-bangun udah di kasur sendiri, selimutan, ada air di nakas. Jepitku dilepas.” Ia menoleh. “Kamu bahkan ngunciin pintuku dari luar.”
“Kalau nggak dikunci, kamu tidur sendirian sama pintu kebuka.”
“Aku nggak bilang kamu salah. Aku bilang makasih.” Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku, di teras, di depan gang, jam tujuh pagi, di depan rute senam yang mulai lewat—dan tidak satu pun dari kami bergerak untuk memperbaiki posisi itu.
“Sembilan meter,” gumamku.
“Hah?”
“Rumahmu. Sembilan meter dari sini.”
“Iya. Kenapa?”
Kubuka mulut. Lalu kututup lagi.
Belum, kataku pada diriku sendiri. Bukan sekarang. Ada satu orang lagi yang harus setuju, dan orang itu umurnya enam tahun, dan keputusannya lebih penting dari keputusanku.
“Nggak,” kataku. “Cuma ngitung.”
“Kamu emang selalu ngitung,” katanya, mata terpejam di bahuku, dan tidak mengejar lebih jauh.
Di undakan bawah, Kirana selesai memeriksa kepangnya dan berbalik menghadap kami—dua orang dewasa yang duduk berhimpitan di undakan teras dengan dua cangkir dan satu pagi—dan menatap kami agak lama.
Tidak berkomentar.
Cuma tersenyum, sendirian, seperti seseorang yang sedang memeriksa arsipnya dan menemukan semuanya berjalan sesuai rencana.
[Bersambung ke Bab 21 — “Hari Ibu di Sekolah”]