Chapter Fifteen
Cemburu Perdana
POV: Dimas
Aku bukan orang yang cemburuan.
Kalimat itu kupegang teguh selama tiga puluh dua tahun hidupku, dan aku punya bukti pendukung: masa pacaran dengan Laras dulu berjalan tanpa satu pun episode cemburu—sebagian karena Laras tipe yang blak-blakan sampai tidak menyisakan ruang curiga, sebagian karena aku memang tidak punya bakatnya. Cemburu itu butuh imajinasi liar. Imajinasiku terlatih untuk sambungan kayu.
Kalimat itu runtuh pada suatu Sabtu sore, oleh seorang laki-laki bernama Bima.
Kemunculannya tanpa pengumuman. Aku sedang di halaman membetulkan rantai sepeda Kirana ketika sebuah SUV putih berhenti di depan rumah sebelah, dan turunlah seorang laki-laki seumuranku—rapi, jam tangan bagus, senyum yang gampang—membawa paper bag, membuka pagar rumah Alena tanpa memencet bel, dan mengetuk pintunya dengan ketukan berirama. Ketukan orang yang hafal.
Pintu terbuka. Dan Alena—Alena-ku, yang sedang piyama-an hari Sabtu—menjerit senang.
“BIMA?!”
“Surprise, Len! Gue lewat kota ini, inget lo pindah sini—”
“Ya ampun, MASUK, masuk—ih nggak berubah banget muka lo—”
Pintu tertutup. Bersama mereka berdua di dalamnya.
Aku berdiri di halaman, memegang rantai sepeda yang berlumur oli, memandangi pintu tertutup itu, dan merasakan sesuatu yang asing bergerak di dadaku—sesuatu yang panas, tidak enak, dan sama sekali tidak sesuai standar keselamatan kerja.
“Ayah.” Kirana muncul di sebelahku, mengikuti arah pandanganku. “Itu siapa?”
“Nggak tahu.”
“Kok mukanya Ayah gitu?”
“Gitu gimana?”
“Kayak waktu Kirana naruh stiker di hasil kerjaan Ayah yang mau dikirim.”
Aku memaksa wajahku kembali ke setelan pabrik dan menunduk ke rantai sepeda. “Rantainya udah. Coba dites.”
Kirana tidak mengetes rantainya. Kirana berdiri di situ, memandangi rumah sebelah, lalu memandangiku, lalu rumah sebelah lagi, dengan otak enam tahunnya yang berputar kencang dan terlihat jelas putarannya.
“Kirana intipin ya?”
“Nggak boleh.”
“Kirana nanya langsung aja?”
“Nggak—” aku berhenti. Menimbang. Membenci diriku karena menimbang. “...Nggak boleh.”
“Yang ketiga kalinya biasanya boleh,” kata Kirana penuh harap.
“Nggak ada yang ketiga. Main sana.”
Satu jam berlalu. Aku mengerjakan hal-hal di halaman yang tidak butuh dikerjakan: mengencangkan baut pagar yang kencang, menyapu daun yang tiga lembar, mengecek kotak pos yang kosong. Dari rumah sebelah, sesekali, terdengar tawa. Tawa Alena—yang biasa. Dan tawa laki-laki—yang tidak biasa. Dua tawa itu bersahutan dengan kompak orang-orang yang punya lapisan sejarah, punya lelucon internal, punya masa lalu yang aku tidak ada di dalamnya.
Otakku, yang biasanya bisa diandalkan, mulai memproduksi hal-hal yang tidak diminta. Satu kelompok tutorial tiga tahun. Tiga tahun itu lama. Tiga tahun itu ratusan pagi, ribuan obrolan, entah berapa banyak momen yang orang sebut “hampir”. Laki-laki itu mengetuk pintunya dengan ketukan hafalan. Laki-laki itu dipeluk sambil dipukul-pukul—dan aku tahu dari arsip pribadiku bahwa Alena hanya memukul orang yang ia sayang; aku sendiri korban tetapnya. Laki-laki itu rapi, lancar bicara, jam tangannya bagus, dan hampir pasti tidak pernah dalam hidupnya menjawab pertanyaan dengan “hm”.
Ini konyol. Alena boleh punya tamu. Alena punya tiga puluh tahun hidup sebelum aku; wajar isinya ada orang. Aku bukan orang yang cemburuan. Aku sudah tiga puluh dua tahun bukan orang yang cemburuan.
Aku menyapu daun keempat dengan tenaga yang cukup untuk menyapu aspal.
Jam kelima belas menit—bukan berarti aku menghitung—pintu rumah sebelah terbuka dan mereka keluar berdua. Bima berjalan santai ke pagar, dan di pagar—di pagar—ia berhenti tepat di titik tempat aku biasa pamit pada Alena setiap malam, bersandar di situ dengan nyamannya, melanjutkan cerita yang membuat Alena tertawa sambil memukul udara.
Tubuhku bergerak sebelum rapat internal selesai. Penyakit lama.
Tahu-tahu aku sudah di pagar pembatas halaman kami, dengan alasan yang disambar seadanya dari jemuran—literal, aku membawa serbet dari jemuran—dan berdeham dengan volume yang membuat dua kepala itu menoleh.
“Len.” Suaraku keluar lebih datar dari datar yang biasa. “Serbetmu kebawa jemuranku.”
Alena menatap serbet di tanganku. Serbet itu, kami berdua tahu persis, adalah serbetku sendiri.
“...Makasih?” Ia menerima serbet itu dengan gerakan lambat orang yang sedang menyusun puzzle. Lalu, karena sopan santun menuntut: “Oh iya—Bima, ini Dimas. Dimas, Bima, temen kuliahku dulu. Satu kelompok tutorial tiga tahun.”
“Oh, ini dia orangnya!” Bima menyalamiku dengan genggaman erat dan senyum lebar yang menyebalkannya justru karena tulus. “Gue denger dari grup—eh sori, maksudnya denger-denger. Wah. Akhirnya ketemu. Kayu Rana kan? Gue pernah lihat kerjaan lo di rumah kolega, meja kerjanya. Gila sih itu. Halusnya kayak—”
“Hm,” kataku.
“...Kayak beli jadi tapi mahal,” Bima menyelesaikan, sedikit kehilangan tempo.
“Bima mampir doang,” kata Alena, matanya mulai bergerak antara aku dan Bima dengan kecepatan yang menandakan puzzle-nya hampir jadi. “Dia lagi road trip. Bawa oleh-oleh dari Bandung.”
“Road trip sendirian?”
Pertanyaan itu keluar dari mulutku sebelum disensor, dengan intonasi yang—aku mendengarnya sendiri dan tidak bisa menariknya—intonasi petugas imigrasi.
“Sendirian, nih ceritanya panjang—” Bima nyengir, dan hendak memulai cerita panjang itu, di pagarku, di titik pamitku, dengan santainya orang yang tidak tahu sedang berdiri di mana.
Dan di titik itulah, tiga puluh dua tahun reputasiku tamat.
“Len,” kataku, masih datar, selalu datar, tapi isinya sudah bukan urusan serbet, “sejak kapan pagar rumahmu kubuka buat orang lain?”
Hening.
Bima mengerjap. Alena menoleh padaku pelan-pelan—sangat pelan—dan di wajahnya berlangsung pergantian musim yang lengkap: bingung, paham, tidak percaya, dan akhirnya, mekar dengan kurang ajarnya, senang. Senang sekali. Senangnya orang yang menemukan harta karun di tempat yang sudah dianggap habis dipetakan.
“Pagar rumahku,” katanya, manis mematikan, “kamu buka?”
“Gerendelnya aku yang minyakin bulan lalu. Secara teknis, wilayah pemeliharaanku.”
“Oh, wilayah pemeliharaan.”
“Hm.”
“Dimas.” Senyumnya makin lebar. “Kamu cemburu.”
“Aku ngambil serbet.”
“Serbetmu sendiri.”
“Serbet,” kataku dengan seluruh martabat yang tersisa, “nggak mengenal kepemilikan tunggal.”
Bima, yang menyaksikan pertukaran itu bolak-balik seperti penonton badminton—dari keluarga mana pun anak enam tahun itu mewarisi gayanya, ternyata semua orang memang begitu—akhirnya tertawa lepas dan mengangkat kedua tangannya.
“Oke, oke, gue paham situasinya. Bro—” ia menepuk bahuku, dan aku membiarkannya karena menepis bahu tamu itu melanggar bab tersendiri dalam sopan santun, “—santai. Justru gue ke sini tuh mau ngasih ini.” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop merah tua dengan huruf timbul.
Undangan.
“Gue nikah bulan depan. Sama Sinta—Len, lo inget Sinta kan, adik tingkat kita—nah ini road trip terakhir gue sebagai bujangan, sekalian nganter undangan ke temen-temen lama satu-satu. Biar kerasa, gitu. Zaman sekarang undangan cuma di-share PDF doang kan sedih.”
Alena memekik, merebut undangan itu, memeluk Bima dengan pelukan selamat yang penuh pukulan (“SINTA?! DARI KAPAN? KOK GUE NGGAK TAHU—”), dan selama tiga menit penuh aku berdiri di pagar memegang gerendel yang kuminyaki sendiri, mengunyah kenyataan bahwa aku baru saja mengeluarkan kalimat teritorial paling memalukan dalam sejarah hidupku kepada seorang laki-laki yang datang untuk membagikan undangan pernikahannya.
“Dateng ya,” kata Bima sebelum pamit, pada kami berdua. “Berdua. Eh, bertiga—gue denger ada bos kecil.” Ia menyalamiku lagi, dan kali ini menunduk sedikit, suaranya turun: “Bro. Nggak usah sungkan. Tadi itu—” ia menahan senyum, gagal, “—tadi itu keren kok. ‘Pagar rumahmu kubuka’. Gue catet buat materi standup di bachelor party.”
“Jangan,” kataku.
“Gue catet,” kata Bima, dan pergi dengan SUV putihnya, meninggalkan oleh-oleh Bandung, satu undangan merah tua, dan reputasiku yang berserakan di pagar.
Malam itu, setelah makan malam, setelah Kirana tidur, kami berdua di pagar untuk ritual pamit—dan Alena, yang sepanjang makan malam sudah menahan diri dengan usaha yang kasat mata, akhirnya melepaskan tawanya di angsuran pertama:
“Wilayah pemeliharaan.”
“Udah.”
“Serbet nggak mengenal kepemilikan tunggal—”
“Udah.”
“Nggak akan pernah udah. Ini masuk arsip permanen.” Ia menghitung dengan jarinya. “Dan itu belum termasuk lampiran arsipnya. Kirana lapor lengkap tadi pas makan, kamu di dapur ambil kerupuk.”
Aku menutup mata sebentar. “Lapor apa.”
“Bahwa sepanjang Om Bima di rumahku, Ayah: satu, ngencengin baut pagar yang—kutipan langsung—‘udah kenceng dari lahir’. Dua, nyapu halaman yang daunnya ‘cuma empat, Kirana itungin’. Tiga, ngecek kotak pos KOSONG dua kali. Empat—ini favoritku—” ia menarik napas demi menjaga kestabilan, “—berdiri di depan jemuran mandangin serbet ‘lamaaa banget, kayak serbetnya mau diajak ngomong’.”
“Anak itu,” kataku, “kubesarkan dengan kasih sayang.”
“Dia juga lapor kamu nyuruh dia nggak boleh ngintip. DUA KALI ditolak. Dia bilang, ‘padahal Kirana mau bantuin, Ayah kan kelihatan kepengen banget tahu’.”
Empat daun. Aku disaksikan, dihitung, dan diarsipkan oleh anak enam tahun sambil ia pura-pura main sepeda. Rumah ini tidak punya ruang tanpa kamera.
“Tapi boleh jujur nggak?” Tawanya mengendap, bersandar di pagar, di titik itu, titiknya, mendongak menatapku dengan mata yang masih basah sisa tawa.
“Hm.”
“Aku seneng.”
“Karena aku memalukan diri sendiri?”
“Karena kamu manusia.” Nadanya turun, tawanya mengendap jadi sesuatu yang lebih tenang. “Kamu tuh selalu... terkendali. Semua diukur dulu, dihitung dulu, aman dulu. Aku kadang mikir, ini orang punya bagian yang nggak disetel nggak sih. Terus tadi sore kamu nyebrang bawa serbet dengan muka mau perang.” Ia menyodok dadaku dengan telunjuk. “Itu bagian favoritku sejauh ini. Dari semuanya. Dan saingannya berat, loh. Ada kotak kunci.”
“Serbet ngalahin kotak kunci.”
“Serbet ngalahin kotak kunci,” ia mengonfirmasi, khidmat.
Aku memandangi perempuan ini—yang menemukan bagian terburukku hari ini dan memutuskan menjadikannya favorit—dan merasakan sisa panas yang tidak enak tadi sore itu akhirnya larut, diganti sesuatu yang lain yang butuh disalurkan sekarang juga.
Jadi kusalurkan: kutangkup wajahnya dan kucium ia di pagar itu, di titik itu, lebih lama dari kecupan pamit standar, cukup lama sampai tangannya yang di dadaku meremas kemejaku, cukup lama untuk dicatat siapa pun yang kebetulan berpatroli—dan berdasarkan bunyi sesuatu yang jatuh di kejauhan disusul langkah tergesa, memang tercatat.
“Itu,” kata Alena setelahnya, napasnya pendek, “dalam rangka apa?”
“Penandaan wilayah pemeliharaan.”
“Ya Tuhan.” Ia membenamkan wajah di dadaku, bahunya bergetar. “Aku pacaran sama satpam pagar.”
“Pak Harun pasti bangga.”
Dari kejauhan, dari arah pos, samar terdengar bunyi bolpoin diklik.
Kesalahan terakhirku minggu itu: menceritakan kejadiannya pada Raka.
Raka adalah sahabatku sejak kuliah arsitektur—satu-satunya orang dari hidup lamaku yang menolak dihapus dari daftar, yang empat tahun ini meneleponku tiap minggu dengan disiplin militer untuk memastikan “lo masih makan nasi apa udah makan serbuk kayu doang”. Jumat malam ia menelepon sesuai jadwal, bertanya kabar sesuai jadwal, dan aku—entah kesambet apa, mungkin efek samping kelegaan—menceritakan insiden serbet itu. Lengkap.
Hening di seberang selama empat detik.
Lalu tawa yang membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.
“SEJAK KAPAN PAGAR RUMAHMU—” ia tidak sanggup menyelesaikan, mengambil napas, mencoba lagi, gagal lagi. “Dim. DIM. Dua belas tahun gue kenal lo. Lo nolak rebutan cewek pas ospek, lo kalem pas skripsi lo dicontek, lo—terus sekarang lo perang dingin sama SERBET?”
“Bukan perang—”
“Gue harus ketemu cewek ini,” kata Raka, tawanya mereda jadi sesuatu yang lebih hangat. “Serius. Orang yang bisa bikin lo korslet begitu, gue harus salaman. Empat tahun gue nungguin lo korslet, Dim. Empat tahun lo lempeng terus. Gue sampe khawatir.”
“Aku baik-baik aja empat tahun ini.”
“Lo berfungsi empat tahun ini,” koreksi Raka, dan kalimat itu menetap lebih lama dari tawanya. “Beda. Nanti kapan-kapan kita bahas bedanya. Sekarang balik dulu sana ke wilayah pemeliharaan lo.”
Ia menutup telepon masih sambil tertawa, dan aku duduk di workshop memandangi sticky note kuning di dinding, memikirkan kata berfungsi, dan memutuskan Raka boleh datang kapan saja.
[Bersambung ke Bab 16 — “Giliran Alena Cemburu”]