← Chapters Ch. 34 / 40

Chapter Thirty Four

Laki-Laki Boleh Nangis

POV: Dimas


Terakhir kali aku menangis, tanggalnya bisa kusebutkan.

Bukan karena aku mengingatnya dengan sengaja. Karena aku menghitung semuanya, dan angka-angka itu tinggal di kepalaku tanpa membayar sewa.

Empat tahun dua bulan enam belas hari lalu. Di kamar mandi rumah sakit, jam empat pagi, dua jam setelah semuanya selesai, dengan keran menyala kencang supaya tidak ada yang dengar, selama—kalau harus jujur—mungkin tiga menit.

Tiga menit.

Lalu aku mencuci muka, keluar, menandatangani berkas, menelepon Bu Ratna, menelepon Raka, dan mengurus segalanya.

Dan sejak itu tidak pernah lagi.

Bukan karena kuat. Aku ingin meluruskan ini, karena selama empat tahun terlalu banyak orang menyebutku kuat dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar.

Aku tidak menangis karena aku tidak berani mulai.

Ada rasa takut spesifik yang cuma dipahami orang yang pernah memegang sesuatu yang terlalu berat: ketakutan bahwa kalau kau melepaskan satu jari saja, semuanya akan jatuh sekaligus dan menimpamu. Air mata itu satu jari. Kalau kubiarkan tiga menit jadi empat, aku tidak tahu di mana berhentinya, dan di rumah itu ada bayi dua tahun yang harus dibuatkan bubur jam lima pagi.

Jadi kugenggam.

Empat tahun dua bulan enam belas hari.


Yang membuatnya jebol bukan pelukan, dan bukan kalimatnya.

Yang membuatnya jebol adalah bunyi srek itu.


Kotak di tanganku cacat di tujuh tempat. Aku menghitungnya dalam tiga detik pertama, karena aku tidak bisa tidak menghitung: sudut kanan atas meleset satu setengah mili, sambungan ekor burung tidak simetris, satu gigi terlalu tebal sehingga kayunya sempat retak dan ditambal dengan lem, permukaan diamplas sampai 240 tapi tidak dilanjutkan ke 400, minyaknya dioles dua lapis padahal butuh tiga, alur tutupnya kasar, dan tutup itu seret di sepertiga jalan.

Tujuh cacat.

Dan lalu otakku—otak yang sama, otak yang rusak oleh dua belas tahun pekerjaan ini—melakukan hal berikutnya secara otomatis, seperti selalu:

Menghitung mundur.

Sambungan ekor burung, dikerjakan orang yang tidak pernah memegang pahat: minimal tiga percobaan. Tiga percobaan artinya tiga potong kayu, artinya dua kali gagal, artinya dua kali harus mulai dari nol. Alur tutup yang bisa meluncur meski kasar: minimal empat kali amplas ulang, masing-masing empat puluh menit. Badan kotak: enam jam kalau dibimbing. Total, untuk orang yang tangannya seumur hidup memegang alat sepanjang dua belas sentimeter—

Dua belas jam. Minimal.

Dua belas jam. Untuk sebuah kotak yang bisa kubuat dalam tiga jam dengan hasil sepuluh kali lebih baik.

Dan lalu aku menoleh dan melihat tangannya.

Telunjuk diplester. Kuku ibu jari patah.

Tangan seorang dokter gigi anak. Tangan yang menghasilkan uang dari ketelitian sepersepuluh milimeter, yang setiap malam dirawat dengan krim, yang kalau tergores kertas saja langsung dicari plester karena “sarung tangan nggak nyaman kalau ada luka”.

Ia merusak alat kerjanya untuk membuatkanku kotak jelek.

Dan aku sedang berdiri di teras memegang bukti bahwa selama dua minggu terakhir aku menjauh dari orang yang, selama dua minggu itu juga, sedang menghancurkan tangannya di garasi demi memberitahuku bahwa ia tidak akan pergi.

“Alurnya seret di sepertiga,” kataku, karena itu satu-satunya kalimat yang bisa keluar.

“Iya. Maaf. Aku udah ngamplas empat kali—”

“Jangan diperbaiki.”

Kugeser tutup itu sekali lagi. Srek—tak.

Bunyi cacat itu. Bunyi dua belas jam. Bunyi kuku yang patah.

“Jangan pernah diperbaiki,” kataku. “Aku mau bunyinya tetep gitu.”

Lalu aku menariknya, dan memeluknya, dan sesuatu di dadaku—sesuatu yang sudah kugenggam selama empat tahun dua bulan enam belas hari dengan seluruh tenagaku—terlepas.


Aku tidak akan menuliskan bagaimana bentuknya.

Ada hal-hal yang meskipun terjadi pada dirimu sendiri, tetap tidak sopan untuk dilaporkan dengan detail.

Yang bisa kukatakan: aku menangis di teras rumahku sendiri, jam delapan pagi hari Minggu, sambil berdiri, memegangi seorang perempuan yang lebih kecil dariku dengan cara yang pasti menyakitinya. Tidak ada suara di lima menit pertama. Setelah itu ada.

Aku menangis untuk Laras. Untuk enam bulan itu. Untuk semua kontrol yang tidak pernah kulewatkan dan semua catatan yang kutulis rapi dan tidak berguna. Untuk kamar mandi rumah sakit dan keran yang kunyalakan kencang. Untuk empat tahun bangun jam lima. Untuk bayi yang harus dibuatkan bubur sehingga ayahnya tidak punya izin untuk hancur.

Dan untuk hal yang paling tidak kusangka, yang datang belakangan dan membuat semuanya lebih parah:

Aku menangis karena aku bahagia.

Karena aku sedang berdiri di teras rumahku memegang kotak buatan tangan yang cacat di tujuh tempat, dan itu artinya hidupku sudah tersambung kembali ke seseorang, dan sambungan itu—seperti semua sambungan—suatu hari akan diuji.

Dan aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura tidak menginginkannya.

Alena tidak berkata apa-apa selama itu. Sekali pun tidak. Tangannya bergerak naik-turun di punggungku, pelan, seperti orang menenangkan anak, dan ketika bajunya basah ia tetap tidak bergerak.

Baru setelah reda, ia bicara. Empat kata.

“Kamu udah lama nahannya.”

“Hm,” kataku. Dan itu bukan “hm” biasa; itu “hm” yang keluar karena tenggorokanku tidak bisa membentuk apa pun yang lain.


Pintu berderit.

Kami berdua menoleh.

Kirana berdiri di ambang pintu dengan remot TV masih di tangan. Kartunnya jelas sudah selesai atau ditinggal—yang mana pun, ia sudah berdiri di situ entah sejak kapan.

Dan matanya besar.

Aku berbalik cepat, menyeka wajahku dengan lengan, dan menyusun kalimat “Ayah nggak apa-apa” dalam sepersekian detik—

—dan kalimat itu berhenti di tenggorokanku.

Karena aku ingat pasal enam. Karena aku ingat anak ini menangis tanpa suara di kamarnya selama berhari-hari supaya ayahnya tidak sedih. Karena selama enam tahun aku mengajarinya, tanpa satu kata pun, bahwa orang dewasa tidak menangis dan karena itu kesedihan harus diurus sendirian di balik pintu.

Kalau aku bilang “Ayah nggak apa-apa” sekarang, aku mengajarkan pelajaran itu untuk kesekian kalinya.

Jadi kujongkokkan badanku, dan kubiarkan wajahku apa adanya, dan kukatakan yang sebenarnya:

“Ayah lagi nangis.”

Kirana mendekat pelan-pelan. Berhenti di depanku. Mengamati wajahku dengan tatapan pemeriksa.

“Ayah kenapa?”

“Ayah sedih. Sedihnya udah lama, tapi baru keluar sekarang.”

“Sedih soal Mama?”

“Iya. Sebagian.”

“Sebagiannya lagi apa?”

Kupandangi anak ini—yang selama enam tahun kubesarkan dengan seluruh yang kupunya dan yang ternyata masih lebih pintar dariku dalam hal-hal tertentu—dan menjawab jujur.

“Sebagiannya lagi karena Ayah seneng. Sama Bunda. Sama kamu.” Kuseka mataku. “Kadang kalau orang kelamaan nahan sedih terus tiba-tiba seneng, keluarnya barengan. Nggak beraturan.”

Kirana mempertimbangkan itu.

Lalu ia mengangguk, dan mengucapkan sesuatu yang membuat perempuan di belakangku menutup mulut dengan tangan:

“Iya, Kirana ngerti. Kayak waktu Kirana dipeluk Bunda pas Hari Ibu. Kirana kepenuhan terus mata Kirana panas. Padahal seneng.”

“Iya,” kataku, serak. “Persis kayak gitu.”

“Ayah nggak papa kok nangis.” Ia mengangkat tangannya dan menyeka pipiku dengan telapak tangan kecil yang lengket entah kena apa. “Kirana juga nangis kok kemarin-kemarin. Kata Bunda semua orang boleh nangis. Bunda juga nangis waktu Kirana panggil Bunda.”

Alena mengeluarkan bunyi kecil di belakangku.

“Terus,” lanjut Kirana, tenang, sambil memeriksa hasil sekaan tangannya di pipiku, “sekarang gimana? Udah selesai nangisnya?”

“Udah.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Ya udah.” Ia mundur selangkah, menepuk tangannya seperti orang menyelesaikan pekerjaan, dan mengumumkan agenda berikutnya: “Kalau gitu, hari ini jalan-jalan ya. Udah tiga Sabtu nggak ke mana-mana.”

Aku tertawa. Suaraku pecah di tengah tawa itu dan aku tertawa lagi.

“Ini hari Minggu.”

“Sama aja. Minggu itu Sabtu kedua.”


Sore itu kami pergi. Bertiga. Ke tempat yang bahkan tidak istimewa—danau buatan di pinggir kota, tempat orang memberi makan ikan dari jembatan kayu—dan Kirana menghabiskan dua jam melempari ikan dengan pelet sambil menyusun teori tentang ikan mana yang paling rakus.

Alena berdiri di sebelahku di pagar jembatan.

“Kamu udah bilang ke Raka belum?”

“Belum.”

“Bilang.”

“Nanti.”

“Dimas.” Ia menyenggol lenganku. “Orang itu Sabtu kemarin nyetir dua jam ke garasi rumahku buat ngajarin aku megang gergaji, terus pulangnya nggak mau kukasih uang bensin. Bilang.”


Aku menelepon Raka malam itu, jam sepuluh, dari workshop.

Ia mengangkat dengan gaya biasanya. “Wih. Tumben yang nelepon situ. Biasanya gue yang harus ngemis.”

“Ka.”

“Iya?”

Dan aku berdiri di workshop-ku sendiri, memandangi laci kedua dan laci ketiga dan kotak cacat yang sekarang berdiri di rak paling atas, dan tidak tahu harus mulai dari mana.

“Makasih,” kataku akhirnya. “Buat Sabtu kemarin.”

“Ah, itu—”

“Sama buat empat tahun.”

Hening di seberang.

“Dim—”

“Gue tahu lo nelepon tiap minggu,” kataku. “Dua ratus delapan kali kalau dihitung dari pemakaman, kurang-lebih. Dan tiap kali lo nanya ‘lo nggak apa-apa’, gue jawab ‘hm’.”

“...Iya.”

“Gue nggak apa-apa waktu itu.”

“Gue tahu.”

“Sekarang juga belum sepenuhnya.”

“Gue tahu.”

Kutarik napas.

“Tapi Ka, gue mau bilang satu hal, terus lo boleh ketawain gue seumur hidup.”

“Sebut.”

Kupandangi lampu kuning di atas kepalaku, dan serutan kayu di lantai, dan pintu workshop yang di baliknya ada rumah dengan dinding berisi empat belas bingkai dan seorang anak yang tidur dengan empat puluh tujuh bintang.

“Gue udah nggak nunggak hidup lagi,” kataku.

Hening panjang di seberang sana.

Panjang sekali.

Lalu terdengar bunyi—bunyi yang butuh dua detik untuk kukenali, karena laki-laki itu jelas sedang mencoba menyembunyikannya dan gagal total.

“Sialan lo,” kata Raka, suaranya berantakan. “Gue lagi di depan istri gue.”

“Sori.”

“Nggak. Nggak apa-apa.” Ia berdeham beberapa kali. “Dim.”

“Hm.”

“Empat tahun gue nunggu lo ngomong gitu.”

“Gue tahu.”

“Dan lo ngomongnya lewat telepon. Jam sepuluh malem. Habis itu pasti lo tutup terus balik kerja.”

Kulirik papan di meja kerjaku.

“...Iya.”

“Ya udah sana kerja,” kata Raka, tertawa dan menyeka sesuatu secara bersamaan. “Tapi Dim—”

“Hm?”

“Nikahin dia.”

Aku tidak menjawab.

Bukan karena tidak tahu jawabannya.

Karena di laci meja kerjaku, di bawah tumpukan kertas kuning bertanggal, sudah ada selembar gambar teknik yang kumulai tiga malam lalu, jam dua pagi, ketika tidak bisa tidur—denah dua rumah dengan tembok pembatas yang dihapus dengan penghapus, dan satu meja panjang di tengah halaman yang menyatu.

Aku belum siap mengatakannya keras-keras.

Tapi kertasnya sudah ada.


Setelah telepon itu, aku tidak kembali bekerja.

Itu perubahan yang mungkin terdengar kecil, tapi bagi orang yang selama empat tahun memakai pekerjaan sebagai obat tidur, itu perubahan besar: aku mematikan lampu workshop jam setengah sebelas, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak Kirana umur dua.

Aku masuk rumah. Mengecek Kirana—tidur telentang, pose bintang laut, Mimi terdampar. Kubetulkan selimutnya.

Lalu aku berdiri di ruang tengah, di depan Pojok Mama, di bawah lampu yang tidak kunyalakan.

“Ras,” kataku.

Empat belas wajah menatapku dari dinding.

“Aku nangis tadi pagi.”

Diam. Selalu diam. Empat tahun aku bicara ke ruangan ini dan tidak sekali pun ada yang menjawab, dan malam itu aku menyadari sesuatu yang seharusnya jelas sejak dulu: aku tidak pernah butuh jawabannya. Aku cuma butuh mengucapkannya.

“Bukan cuma buat kamu. Ada bagian yang buat aku sendiri.” Kupandangi foto tengah. “Aku baru sadar aku belum pernah nangisin diriku sendiri, Ras. Empat tahun. Aku nangisin kamu tiga menit di kamar mandi rumah sakit terus aku ngurusin semuanya. Yang buat aku sendiri belum pernah.”

Angin lewat di ventilasi.

“Sekarang udah.”

Kusentuh bingkai yang paling tengah—yang dipilih Kirana, yang ada bayinya—dan membetulkan letaknya yang sebenarnya sudah lurus.

“Dia bikinin aku kotak,” kataku. “Jelek banget. Cacat di tujuh tempat. Kukunya sampe patah.”

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun berbicara pada dinding, aku tersenyum saat melakukannya.

“Kamu pasti suka sama dia,” kataku. “Itu yang paling nggak adil dari semua ini. Kalian pasti akrab. Kalian berdua bakal ngomongin aku di belakang.”

Kumatikan lampu teras. Kukunci pintu.

Dan naik ke kamar, dan tidur delapan jam penuh—tanpa terbangun jam tiga, tanpa bermimpi apa pun yang bisa kuingat.

Pertama kali dalam empat tahun dua bulan delapan belas hari.

Aku menghitungnya, tentu saja.

Tapi itu terakhir kalinya aku menghitung angka yang itu.


[Bersambung ke Bab 35 — “Kamu Jawabannya”]