← Tetangga Sebelah Jam 3 Pagi

Chapter Sixteen

Giliran Alena Cemburu

POV: Alena


Karma itu ada, bekerja cepat, dan punya selera humor.

Seminggu setelah insiden serbet—yang masih kubawa-bawa di setiap kesempatan, sesuai hakku sebagai pemegang arsip—karma mengetuk pintu workshop Kayu Rana dalam wujud seorang klien baru bernama Mbak Karin.

Aku mengetahui keberadaannya secara bertahap, seperti mengetahui keberadaan penyakit: mula-mula gejala kecil yang bisa diabaikan, lalu pola, lalu diagnosis yang menolak dibantah.

Gejala pertama, Senin. Aku pulang praktik lebih awal dan mendapati sebuah mobil asing di depan rumah sebelah—city car merah, rapi, dengan gantungan kaca berbentuk kucing. Di workshop, lewat pintu yang terbuka seperti biasa, Dimas sedang menunjukkan contoh-contoh kayu kepada seorang perempuan.

Perempuan yang, mari kita objektif secara klinis: cantik. Tiga puluhan awal, potongan bob rapi, blazer santai, jenis cantik yang terkurasi—cantik yang tahu lighting. Ia memegangi sampel kayu sambil sesekali mengangkat wajah menatap Dimas dengan durasi yang, menurut pengukuranku dari pagar, melebihi kebutuhan konsultasi material.

“Klien baru,” lapor Dimas malamnya, tanpa ditanya, karena dia memang selalu lapor. “Mbak Karin. Pesen satu set meja rias sama lemari. Proyek gede. Dua bulan.”

“Oh. Bagus dong.” Aku menyendok sup. “Orangnya gimana?”

“Tahu yang dia mau. Enak kerjanya.”

Enak kerjanya. Kucatat frasa itu dan menyimpannya di tempat yang salah.

Gejala kedua, Rabu. Mobil merah itu datang lagi. Untuk klien biasa, konsultasi kedua dilakukan lewat telepon—aku tahu ini karena aku hafal ritme workshop itu melebihi ritme klinikku sendiri. Mbak Karin datang langsung. Membawa kue. Membawa kue. Kotak kue dari toko yang antrinya mengular itu, diserahkan dengan kalimat yang terdengar sampai pagar: “Kemarin lihat di story-nya Kayu Rana suka ngopi, ini cocok banget buat temen ngopi, Mas Dimas.”

Mas Dimas.

Mas.

Itu kosakataku. Aku yang riset. Aku yang menemukan celahnya. Aku yang membuat garis pensilnya miring.

Malam harinya—dan ini bagian yang paling tidak akan pernah kuakui di bawah interogasi mana pun—aku menemukan akun media sosial Mbak Karin dalam waktu sebelas menit, bermodalkan plat mobil, tag lokasi toko kue itu, dan keterampilan investigasi yang seharusnya disumbangkan ke kepolisian. Profilnya terbuka: desainer interior. Sering memposting proyek. Estetik. Follower-nya banyak. Dan tiga hari lalu, di story tersorot berjudul “WIP”, ada foto sudut workshop yang kukenal melebihi sudut rumahku sendiri, dengan keterangan: “nemu pengrajin lokal yang standarnya edan. proyek impian dimulai ✨”

Pengrajin lokal yang standarnya edan itu pacarku.

Kututup ponsel. Kubuka lagi. Kututup lagi. Aku, perempuan dewasa dengan gelar profesi, menghabiskan empat puluh menit malam itu berdebat dengan diri sendiri tentang etika memata-matai klien pacar, kalah debat, dan membuka ponselnya sekali lagi hanya untuk memastikan tidak ada story baru.

Tidak ada. Bagus. Bukan berarti apa-apa. Tutup.

Gejala ketiga, Jumat, dan di sinilah pola resmi menjadi diagnosis: konsultasi ketiga (KETIGA) dalam satu minggu, kali ini membahas “revisi ukuran” yang menurut pemahaman awamku bisa diselesaikan lewat tiga baris chat. Dari kursi terasku—aku sedang membaca jurnal di teras sendiri, halaman yang sama, empat puluh menit—terdengar tawa Mbak Karin yang berdenting-denting seperti lonceng angin, ditingkahi suara rendah Dimas yang menjelaskan sesuatu tentang serat kayu, dan sekali—SEKALI—tawa pendek Dimas.

Tawa. Pendek. Yang butuh tiga bulan kudapatkan dulu.

Jurnal kututup.


Sekarang, sebelum melanjutkan, pembelaan resmiku: aku bukan orang yang cemburuan. Aku perempuan dewasa, profesional, punya karier sendiri, dan pacarku adalah manusia paling setia-terstruktur yang pernah kutemui—orang yang melaporkan keberadaan klien tanpa diminta dan menganggap “story Kayu Rana” murni etalase produk.

Masalahnya bukan kepercayaan. Kepercayaanku utuh.

Masalahnya... masalahnya tidak bisa dijelaskan dengan kerangka rasional, jadi tubuhku memilih kerangka lain: operasi logistik.

Jumat sore itu, aku mengantar kopi ke workshop.

“Kebetulan bikin kelebihan,” kataku, meletakkan nampan berisi DUA cangkir—dua, karena aku sopan—di meja yang bebas serpihan. “Silakan, Mbak. Kebetulan lewat.”

“Wah, makasih!” Mbak Karin tersenyum ramah. Ramah betulan, yang entah kenapa memperburuk segalanya. “Ini yang katanya dokter gigi itu ya? Pantesan. Cantiknya kayak bukan orang sini.”

“Orang sini kok,” jawabku, dengan senyum yang kuambil dari stok senyum resepsionis.

Dimas menatapku dari balik meja kerjanya. Aku menatapnya balik. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu di sudut matanya—sesuatu yang menyipit sepersekian mili—yang belum bisa kuterjemahkan dan tidak sempat kuurus.

Sabtu, aku mengantar kopi lagi. “Kebetulan beans-nya baru dateng, harus segera dihabisin.” (Beans itu kubeli Jumat malam, darurat, di toko kopi yang hampir tutup.)

Senin depannya, teh dan pisang goreng. “Kebetulan Bu Yayuk kasih pisang sesisir, nggak mungkin kumakan sendiri.” (Pisangnya kubeli. Dari Bu Yayuk. Yang menatapku saat membayar dengan tatapan yang menandakan laporan intelijen sedang diperbarui.)

Rabu: kopi, kue lumpur, dan—titik terendah operasi ini—aku berganti baju dulu sebelum mengantar. Dari baju rumah ke baju yang “kebetulan mau keluar”. Aku, drg. Alena Paramitha, dua puluh delapan tahun, berdiri di depan lemari selama sepuluh menit memilih baju untuk MENGANTAR KOPI SEJAUH SEMBILAN METER.

Satu-satunya pihak yang berkomentar terbuka sepanjang minggu itu, tentu saja, adalah kepala arsip. Selasa sore, saat aku lewat pagar membawa nampan pengiriman ketiga, Kirana—yang sedang menggambar di teras—mengangkat kepala dan menyampaikan observasinya dengan volume standar anak-anak, yaitu terdengar sampai workshop:

“Tante sekarang rajiiin banget nganter-nganter. Kayak kurir.”

“Tante emang baik.”

“Iya. Tapi baiknya naik pas ada Tante Karin doang.” Ia kembali menggambar, santai, mematikan, seperti seluruh keluarga itu. “Nggak papa. Kirana nggak akan bilang-bilang.”

“Bilang apa? Nggak ada yang perlu dibilang.”

“Nah itu,” kata Kirana, “yang Kirana nggak akan bilang-bilang.”

Aku mengantarkan kopi hari itu dengan langkah orang yang baru diperas untuk kedua kalinya oleh anak yang sama, dan mencatat untuk membelikannya jajan lebih banyak minggu ini. Bukan suap. Retainer fee.

Di titik itulah, sambil menatap cermin, aku akhirnya membacakan diagnosis untuk pasienku sendiri:

“Kamu cemburu sama klien.”

Perempuan di cermin membantah dengan seluruh kerangka rasionalnya.

“Kamu,” ulangku, kejam, “cemburu. Sama. Klien. Dan strategimu kopi.”

Konsultasi dengan sejawat memperburuk prognosis. Dara mendengarkan seluruh kronologinya di sela makan siang dengan mata yang makin lama makin lebar oleh kebahagiaan, dan pada akhir laporan ia meletakkan sendok, menyilangkan tangan, dan menyampaikan second opinion-nya:

“Len. Kamu sadar nggak kamu jadi apa sekarang?”

“Jangan.”

“Kamu jadi bapak-bapak scaling.” Ia mengangkat jari, menghitung dosa-dosaku: “Dateng ke tempat orang kerja tanpa keperluan medis. Bawa-bawa makanan. Nyari-nyari alasan. GANTI BAJU DULU. Bedanya bapak-bapak itu modalnya sisa keberanian, kamu modalnya beans dua ratus ribu.”

“Beda. Aku pacarnya resmi.”

“Justru itu yang bikin lucu! Kamu udah MENANG, Alena! Kamu satu-satunya peserta yang udah dikasih piala, kunci rumah, sama restu kompleks—terus kamu masih ikut lomba lari sama peserta yang bahkan nggak tahu ada lomba!” Ia menyeka air mata tawanya dengan tisu. “Ya ampun. Kalau si kayu tahu, dia bisa hidup dari ini setahun.”

“Dia nggak akan tahu.”

“Len. Dia ngitung semua. Kamu sendiri yang cerita.”

“Dia nggak akan tahu,” ulangku, dengan keyakinan orang yang menutup mata di rel kereta.


Yang tidak kuperhitungkan: aku pacaran dengan orang yang menghitung semuanya.

Rabu sore itu, setelah Mbak Karin pulang (dengan kue lumpurku di tangannya, dibungkuskan oleh Dimas, “buat di jalan, Mbak”—pengkhianatan yang kucatat), aku sedang membereskan nampan ketika Dimas berkata, tanpa mendongak dari papan yang sedang ia tandai:

“Minggu ini kamu ke workshop sebelas kali.”

“Masa? Nggak ngitung.”

“Aku ngitung.” Pensil tukang itu terus bergerak. “Empat bulan sebelumnya, rata-rata tiga kali seminggu. Minggu ini sebelas. Naik tiga ratus enam puluh persen. Semua di jam konsultasi klien yang sama.”

“Kebetulan—”

“Beans yang katamu ‘baru dateng’—” ia membalik papan, masih tidak menatapku, suaranya datar sedatar meja kerjanya, “—plastiknya masih ada stiker harga toko sebelah bioskop. Kamu beli Jumat malem. Tokonya tutup jam sembilan. Struknya kelihatan di kantong belanjamu.”

Aku berdiri memegang nampan, terperangkap dalam TKP yang kubangun sendiri.

“Terus pisang Bu Yayuk,” lanjut mesin hitung itu, tenang, tanpa ampun, “Bu Yayuk nggak pernah ngasih pisang gratis ke siapa pun seumur hidupnya. Bu Yayuk jualan. Itu prinsip. Aku empat tahun di sini.”

“...Oke.” Nampan kuletakkan. Menyerah itu harus punya postur. “Oke. Interogasinya selesai? Ada lagi barang buktinya?”

Dan baru di situ ia mengangkat wajah dari papannya—dan sudut matanya yang menyipit sepersekian mili itu, yang seminggu ini gagal kuterjemahkan, akhirnya terbaca jelas dari jarak ini: dia sudah tahu dari hari pertama. Dan dia menikmatinya. Seminggu penuh.

“Kamu—” aku menudingnya, “—kamu SADAR dari awal. Kamu tahu aku kenapa-kenapa dan kamu DIEMIN.”

“Aku nggak diemin. Aku amatin.”

“Itu lebih buruk!”

“Kamu yang bilang,” ia meletakkan pensil, dan sekarang seluruh perhatiannya padaku, yang mendadak terasa seperti disorot lampu sorot workshop, “bagian favoritmu itu waktu aku bawa serbet nyebrang pagar. Katamu: karena akhirnya kelihatan manusianya.” Ia mengangkat bahu, gerakan kecil yang tahu persis sedang menang. “Aku juga baru dapet bagian favoritku. Masa langsung kuhentiin.”

“Bagian favorit—Dimas, aku SEMINGGU tersiksa—”

“Sebelas kopi,” katanya. “Kubandingin ya. Kopi buatanmu bulan lalu: pahit, kadang kemanisan, sekali ada ampasnya soalnya kamu marah-marah sambil nuang. Kopi minggu ini?” Ia mengangkat cangkir dari nampan yang belum sempat kubawa—cangkir tadi sore, yang masih setengah—dan menyesapnya dengan khidmat yang teatrikal. “Beda. Rapi. Takarannya pas. Ada usahanya.”

“Karena aku pengen—” aku menutup mulut. Terlambat. Selalu terlambat.

“Pengen menang,” ia menyelesaikan. “Dari klien. Yang mesen lemari.”

“DIA BAWA KUE. DIA MANGGIL KAMU MAS. ITU KOSAKATAKU—”

“Alena.” Dan di sini nadanya berubah—masih datar, tapi datar yang berbeda, datar yang dipakai untuk kalimat-kalimat penting, dan ia berdiri, memutari meja kerja, berhenti tepat di depanku dengan cangkir masih di tangan. “Mbak Karin klien. Dua bulan lagi lemarinya jadi, dia bayar, selesai. Kamu—” ia mengangkat cangkir itu sedikit, seperti bersulang untuk sesuatu, “—kamu yang bikin kopinya.”

“Itu... kalimat apa maksudnya.”

“Yang bikin kopinya cemberut,” kata Dimas, menyesap sekali lagi, dan senyum yang bocor itu akhirnya jebol betulan, “kopinya jadi manis.”

Hening.

“Itu gombalan,” kataku. “Kamu barusan nggombal.”

“Itu observasi.”

“DIMAS ARYASATYA BARUSAN NGGOMBAL—”

“Observasi teknis,” ia berkeras, sudah berbalik kembali ke papannya, tapi telinganya—telinga itu, alat pendeteksi kebohongan paling jujur di rumah ini—sudah merah sampai ke batas rambut. “Korelasi antara suasana hati pembuat sama hasil seduhan. Ada risetnya.”

“Sebutin risetnya.”

“Terbatas. Internal.”

Aku memandangi punggungnya, telinga merahnya, garis pensilnya yang—kucek dari sini—miring lagi, dan seluruh siksaan seminggu ini mendadak terasa seperti kurs yang lunas terbayar.

“Buat kejelasan aja,” kataku, mengangkat nampan, pamit dengan kepala tegak, “operasi kopinya lanjut. Bukan karena cemburu. Karena sekarang udah terlanjur beli beans mahal.”

“Hm,” kata Dimas.

Dan “hm” itu—kamus edisi terbaru, halaman paling baru—kuterjemahkan tanpa kesulitan sedikit pun:

Bagus. Jangan berhenti.


Epilog kecil, dua bulan kemudian, layak dicatat: lemari dan meja rias Mbak Karin selesai tepat waktu, hasilnya membuatnya memotret dari dua belas sudut, dan saat serah terima ia datang membawa—kue lagi—beserta seorang laki-laki tinggi yang ia perkenalkan sebagai tunangannya, yang ingin memesan rak buku untuk rumah baru mereka.

“Oh iya, Mbak Alena,” katanya sebelum pulang, cerah, tanpa dosa, “makasih ya kopi-kopinya kemarin-kemarin. Enak banget. Mas Dimas beruntung deh—eh, ngomong-ngomong, boleh minta kontak toko beans-nya?”

Kuberikan kontaknya dengan senyum termanis yang kupunya.

Toko sebelah bioskop itu kini punya dua pelanggan tetap. Dara bilang itu perkembangan yang sehat. Dara tidak perlu tahu detail sejarahnya.


[Bersambung ke Bab 17 — “Nginep (Sopan)”]