Chapter Six
Motor di Gang Sempit
POV: Dimas
Jumat malam, hujan baru saja selesai membasahi kompleks, dan sistem barter kami mengalami gangguan teknis: gas habis.
Tepat ketika air untuk merebus mi—menu darurat pilihan Kirana, yang menurutnya “sekali-sekali makan nggak sehat itu menyehatkan hati”—baru setengah panas, api kompor mengecil, meliuk sekali seperti pamit, lalu mati.
Menu mi malam itu sendiri hasil pemungutan suara yang demokrasinya patut dipertanyakan: Kirana mengusulkan mi, Alena mendukung dengan alasan “aku pengen liat kamu masak sesuatu yang levelnya manusiawi”, dan aku kalah dua lawan satu di meja makanku sendiri, di rumahku sendiri, dalam sidang yang berlangsung empat puluh detik.
“Yah. Apinya pensiun.”
“Tabungnya yang pensiun.” Aku mengecek regulator, menggoyang tabung. Kosong melompong. Tabung cadangan di workshop juga kosong—sudah dua minggu aku lupa menukarnya, karena dua minggu terakhir kepalaku penuh oleh hal-hal yang bukan tabung gas.
Dari kursi makan, tamu tetap kami mengangkat wajah dari ponselnya. “Warung Bu Yayuk masih buka. Aku lihat lampunya nyala tadi pas pulang.”
“Sama beli kecap!” Kirana mengangkat jari. “Kecap kita tinggal dikit. Sop tanpa kecap itu—”
“—belum selesai sekolah,” aku dan Alena menyelesaikannya bersamaan.
Hening sebentar. Kirana memandangi kami bergantian dengan ekspresi ilmuwan yang eksperimennya menunjukkan hasil menggembirakan.
“Ayo berangkat,” kataku cepat, sebelum ilmuwan itu sempat mencatat di jurnalnya.
Maka berangkatlah kami bertiga ke warung ujung kompleks: aku memanggul tabung kosong di bahu, Kirana melompat-lompat menghindari genangan dengan tingkat keberhasilan enam puluh persen, dan Alena berjalan di sisi lain Kirana sambil sesekali menariknya dari genangan yang gagal dihindari.
Orang yang berpapasan dengan kami malam itu—dua ibu-ibu pulang pengajian, satu bapak menggendong anak—semuanya melakukan hal yang sama: menyapa, lalu matanya bergerak cepat menghitung formasi kami, lalu tersenyum dengan jenis senyum yang membuatku ingin memasang pengumuman di pos satpam.
“Mereka mikir kita keluarga,” kata Alena pelan, setelah pasangan pengajian itu lewat sambil berbisik-bisik.
“Hm.”
“Kamu nggak keberatan?”
Pertanyaan itu dilempar ringan, seperti melempar kerikil ke kolam. Tapi aku mendengar bunyi jatuhnya sampai dasar.
“Kirana, jangan injak yang itu,” kataku, alih-alih menjawab, karena putriku sedang mengincar genangan seukuran bak mandi.
“Dasar kamus ‘hm’,” gumam Alena.
“Kamusnya kebuka di halaman berapa emangnya?”
“Halaman ‘nggak keberatan tapi gengsi ngaku’.”
Aku menoleh padanya. Ia menatap lurus ke depan, sok tenang, tapi sudut bibirnya naik dan lampu jalan menyorotnya persis di garis rahang, dan aku memutuskan malam ini gang kompleks terlalu terang untuk kesehatan jantung siapa pun.
“Halamannya salah,” kataku.
“Oh ya? Terus halaman berapa?”
“Belum terbit.”
Belanja di warung berjalan lima belas menit lebih lama dari perlu, karena Bu Yayuk melayani kami sambil menjalankan wawancara terselubung dengan teknik yang patut diteliti akademisi.
“Tabungnya satu, Nak Dimas? Tumben telat nukernya. Biasanya Nak Dimas itu paling tertib se-kompleks. Tanggal satu bayar iuran, tanggal lima tuker gas. Ibu sampai hafal.”
“Lagi banyak kerjaan, Bu.”
“Ooo, banyak kerjaan.” Bu Yayuk menimbang gula sambil melirik ke arah Alena yang sedang membantu Kirana di rak jajanan. “Banyak pikiran kali, Nak Dimas. Beda loh itu. Kalau banyak kerjaan, badannya yang capek. Kalau banyak pikiran—” ia mengetuk pelipisnya sendiri dengan sendok takar, “—yang lupa-lupa gini nih.”
“Kecapnya sekalian, Bu.”
“Nak Alena udah betah di sini?” Volume Bu Yayuk naik, melewati kepalaku, menembak sasaran berikutnya. “Betaaah ya pasti, wong ada yang bikin betah—maksud Ibu, kompleksnya aman. Satpamnya sigap. Tetangganya juga sigap-sigap.”
“Betah banget, Bu,” jawab Alena manis. “Terutama satpamnya.”
Bu Yayuk terkekeh puas seperti barusan memenangkan sesuatu, dan Kirana menghabiskan sisa waktu di depan rak jajanan menimbang keputusan seolah memilih investasi jangka panjang.
Pulangnya, formasi berubah: tabung gas penuh di bahu kananku, kantong belanja di tangan Alena, dan Kirana di antara kami memegang es lilin hasil lobi tingkat tinggi (“Kalau Kirana nggak dibeliin, Kirana ceritain ke Bu Yayuk kejadian gorden”—putriku, enam tahun, sudah paham konsep pemerasan).
Gang menuju rumah kami menyempit di satu titik, terhimpit tembok pagar dua rumah, hanya cukup untuk satu motor dan satu setengah pejalan kaki. Lampu jalannya mati sejak bulan lalu—sudah kulaporkan ke pengurus RT, ditanggapi dengan “siap, dianggarkan,” yang dalam kamus pengurus RT artinya “sampai jumpa tahun depan”.
Kami baru sepertiga jalan di leher gang itu ketika aku mendengarnya: raungan motor dari arah depan, kencang, terlalu kencang, dengan lampu yang baru muncul di tikungan—dan langsung menyilaukan.
Tubuhku, seperti biasa, bergerak sebelum rapat internal selesai.
Tangan kiriku menyambar Kirana, mengangkatnya sekaligus memutarnya ke sisi dalam, merapat ke tembok. Tangan kananku—yang seharusnya sibuk dengan tabung gas, tabung gas yang entah bagaimana sudah berpindah turun bersandar tembok tanpa kuingat menurunkannya—menangkap lengan Alena dan menariknya.
Ke arahku.
Motor itu lewat dengan raungan dan tempias air genangan, membawa dua remaja tanpa helm yang meneriakkan sesuatu yang untungnya tidak terdengar jelas, lalu lenyap di ujung gang bersama gemanya.
Sunyi kembali.
Dan dalam sunyi itu, inventaris situasi masuk satu per satu, terlambat, seperti laporan yang menumpuk:
Kirana, aman, di lengan kiriku, masih memegang es lilinnya dengan prioritas yang mengagumkan.
Alena, aman, di—
Di dadaku.
Tertarik penuh, menempel, tangan kanannya mencengkeram kausku di bagian dada, wajahnya sejajar tulang selangkaku, dan tanganku—tangan kananku melingkar di punggungnya, menahannya di sana, lengkap, rapat, seperti sudah tahu jalannya.
Tidak ada yang bergerak.
Motor sudah jauh. Bahaya sudah lewat. Secara teknis, seluruh alasan formasi ini sudah kedaluwarsa tiga detik yang lalu. Tapi tangannya masih mencengkeram kausku, dan tanganku masih di punggungnya, dan aku bisa merasakan napasnya yang cepat menembus kain, dan yang paling gawat—yang benar-benar gawat—adalah aku baru sadar posisi kepalanya persis di depan dadaku yang sebelah kiri.
Yang isinya sedang tidak bisa diajak kerja sama.
Jantungku menggedor seperti orang menggedor pintu jam tiga pagi. Kencang, panik, tanpa sopan santun. Dan dengan jarak sedekat ini, mustahil ia tidak mendengar. Mustahil. Ini bukan detak yang bisa dijelaskan sebagai “efek kaget motor”—kaget motor tidak bertahan sepuluh detik dan terus naik temponya.
Alena mengangkat wajah pelan-pelan.
Matanya menabrak mataku. Dan di keremangan gang tanpa lampu itu aku bisa melihat dengan jelas: ia dengar. Ia tahu. Dan detik berikutnya, seperti tertular, kurasakan jantungnya balas menggedor di tempat lengannya menempel di rusukku—dua gedoran panik yang saling bersahutan seperti dua rumah yang alarm asapnya bunyi bersamaan.
“...Motornya,” kata Alena, suaranya aneh, “udah lewat.”
“Hm.”
“Kamu bisa...”
“Hm.”
Tidak ada yang melepaskan.
“Kok lama pelukannya?”
Suara itu datang dari bawah, dari ketinggian satu meter dua senti, dari pemilik es lilin yang sedang mengamati kami dengan kepala dimiringkan dan mata detektif yang berkilat.
Kami terlepas seperti dua magnet yang dibalik kutubnya. Alena mendadak sangat sibuk merapikan kantong belanja yang isinya tidak berantakan. Aku mendadak sangat sibuk memanggul tabung gas dengan teknik yang benar sesuai standar keselamatan kerja.
“Itu bukan pelukan,” kata Alena. “Itu evakuasi.”
“Evakuasi itu apa?”
“Nyelametin orang dari bahaya.”
Kirana menjilat es lilinnya, menimbang terminologi baru itu, lalu mengangguk. “Bahayanya udah lewat dari tadi tapi.”
“Evakuasinya,” kataku, mengangkat tabung ke bahu dan mulai berjalan cepat, “ada prosedurnya. Nggak boleh buru-buru.”
“Prosedur itu apa?”
“Aturan.”
“Aturannya siapa yang bikin?”
“Jalan, Kirana. Es lilinnya keburu jadi es tidur.”
Sisa malam itu berjalan normal di permukaan: mi rebus jadi, kecap baru dibuka, Kirana bercerita panjang tentang teori barunya bahwa es lilin rasa sirsak sebenarnya rasa “putih manis” karena tidak ada buah yang rasanya seperti itu.
Normal, kecuali kosakata barunya.
“Ayah, minta kecap. Tolong evakuasi kecapnya ke sini.”
Sendok Alena berhenti di udara.
“Mienya Kirana kepanjangan. Tolong di-evakuasi pake gunting.”
“Kirana,” kataku.
“Mimi jatuh dari kursi!” Ia memungut bonekanya dari lantai dan memeluknya lama, sangat lama, sambil memandang kami berdua dari atas kepala Mimi dengan mata bulat penuh makna. “Nggak boleh buru-buru. Ada prosedurnya.”
Alena tersedak kuah mi dan harus ditepuk-tepuk punggungnya oleh pelaku utama, yang menjalankan tugasnya sambil menatap putrinya dengan pandangan yang kuharap menyampaikan kalimat kamu menang, tapi Ayah tidak akan mengakuinya secara lisan.
Kirana membalas dengan menjilat es sisa yang sudah jadi air, puas, seperti jenderal kecil yang wilayah kekuasaannya bertambah satu kata.
Alena pulang jam sembilan seperti biasa, pamit di pagar seperti biasa—kecuali malam ini kami berdua berdiri di pagar itu dua menit lebih lama dari biasa, membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan sangat serius, karena tidak ada yang mau jadi yang pertama bilang “ya udah, masuk gih”—dan aku mengunci pintu seperti biasa.
Yang tidak normal dimulai setelahnya.
Jam sebelas, aku masih di workshop, mengamplas sandaran kursi yang sudah halus sejak jam sepuluh. Amplas nomor 400 bergerak di atas kayu yang tidak butuh apa-apa lagi, bolak-balik, karena tanganku butuh pekerjaan dan kepalaku menolak diajak tidur.
Empat tahun aku menjalankan hidup dengan prinsip sederhana: jangan mulai apa pun yang kalau hilang akan menghancurkan Kirana untuk kedua kalinya. Anak itu sudah kehilangan satu orang sebelum sempat mengingat wajahnya. Aku tidak akan memasukkan orang ke rumah ini untuk memberi Kirana sesuatu yang bisa dicabut lagi.
Prinsip yang bagus. Kokoh. Sudah kupaku rapi selama empat tahun.
Masalahnya: malam ini, di gang itu, saat lampu motor menyilaukan dan tubuhku memutuskan lebih cepat dari kepalaku—tangan kiriku menyelamatkan Kirana, dan tangan kananku, tanpa ragu sedetik pun, tanpa rapat, tanpa prosedur, tahu persis siapa yang harus ditarik ke dalam.
Tubuh tidak bisa berbohong. Tubuh sudah memasukkan orang itu ke daftar yang dilindungi. Sudah lama, mungkin. Tinggal kepalanya saja yang masih pura-pura mengisi formulir.
Kuletakkan amplas. Kumatikan lampu workshop.
Dan dari jendela dapur, saat mengambil air minum, aku melihatnya: di rumah sebelah, jendela kamar yang biasanya gelap jam segini, lampunya masih menyala.
Jam sebelas lewat empat puluh.
Lampu itu masih menyala saat aku selesai minum. Masih menyala saat aku mengecek kunci pintu. Masih menyala saat aku, entah kenapa, kembali ke jendela dapur untuk memastikan sesuatu yang tidak perlu dipastikan.
Ada dua orang yang tidak bisa tidur malam ini, terpisah satu pagar yang gerendelnya sudah lama berkarat.
Sebelum naik, aku mampir ke kamar Kirana—kebiasaan empat tahun, mengecek selimut, mematikan lampu bintang kalau ia lupa. Putriku tidur telentang dengan pose bintang laut, Mimi terdampar di bantal sebelah, dan di lantai dekat kasurnya ada kertas gambar baru: tiga orang lagi. Kali ini yang tinggi dan yang berambut panjang digambar berdempetan, dan di antara mereka ada coretan zigzag merah besar.
Aku memungutnya, memiringkan kepala.
Zigzag itu, setelah kuamati, adalah motor.
Di bawahnya, dengan ejaan yang berjuang: “AYAH MENYELAMATKAN TANTE DARI MOTOR JAHAT. PELUKANNYA LAMA.”
Kuletakkan gambar itu kembali. Kuselimuti pelukisnya, yang bahkan dalam tidurnya tersenyum seperti kartel informasi yang sahamnya baru naik.
Besok gambar itu pasti sudah menempel di kulkas, sejajar dengan gambar rumah berjendela bulat itu. Arsip anak ini makin lengkap, makin berbahaya, dan makin—
—makin benar, sebetulnya. Itu masalahnya. Arsipnya tidak pernah salah.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku membiarkan diriku memikirkan pikiran terlarang itu sampai selesai, tanpa memotongnya di tengah:
Kalau begini terus, aku tidak akan sanggup cuma jadi tetangga.
Kupikirkan sekali lagi, pelan-pelan, memeriksa apakah ada bagian yang ingin kutarik.
Tidak ada.
“Hm,” kataku pada gelas kosong, dan naik ke kamar dengan langkah orang yang tahu hidupnya baru saja pindah halaman.
[Bersambung ke Bab 7 — “Kepang Tiga”]