Chapter Twenty Two
Kata Bu Yayuk
POV: Kirana
Aku pengen bilang dulu sebelum cerita: ini bukan salah Bu Yayuk.
Aku sudah dipikirin lama-lama dan aku sudah tanya sama Mimi juga. Bu Yayuk itu nggak jahat. Bu Yayuk suka ngasih permen kalau aku beli telur. Bu Yayuk yang paling keras tepuk tangannya waktu arisan tumpeng.
Bu Yayuk cuma ngomong. Orang dewasa itu suka ngomong. Mereka pikir kalau anak kecil lagi main, anak kecil nggak dengar.
Padahal anak kecil itu selalu dengar.
Itu yang orang dewasa nggak ngerti sampai sekarang.
Kejadiannya hari Rabu, dua minggu setelah Hari Ibu.
Aku lagi di warung Bu Yayuk. Ayah nyuruh beli kecap—kecapnya habis lagi, di rumahku kecap itu selalu habis—terus aku dikasih uang terus dibilangin “kembaliannya buat kamu” yang artinya aku boleh beli jajan.
Nah, milih jajan itu lama. Aku selalu lama. Ini bukan main-main, ini keputusan.
Jadi aku jongkok di depan rak jajanan, di pojok, di belakang tumpukan kardus mi instan yang tinggi. Dari situ orang nggak lihat aku. Aku cuma lagi milih. Aku nggak lagi sembunyi. Ini penting.
Terus ada Bu Siti datang. Sama Bu Ningsih. Ibu-ibu.
Mereka ngobrol di depan, di deket kasir, sambil nunggu Bu Yayuk nimbang gula.
Awalnya ngomongin harga cabai. Terus ngomongin arisan. Terus ngomongin sinetron.
Terus.
“Eh, ngomong-ngomong,” kata Bu Siti, “yang blok C itu udah sampai mana ya? Yang duda sama dokter itu.”
Aku berhenti milih jajan.
“Ya udah pasti lanjut lah,” kata Bu Yayuk. Suaranya yang paling kenceng, selalu. “Wong tiap hari makan bareng, nganter-jemput, kemarin digendong itu loh Bu, MasyaAllah. Ibu kasih setahun lagi ada undangan.”
“Cocok sih ya. Enak dilihatnya.”
“Enak banget. Kasihan itu, empat tahun sendirian ngurus anak.”
Aku senyum di belakang kardus. Aku suka kalau orang bilang Ayah sama Tante cocok. Aku kan yang paling duluan tahu.
Terus Bu Ningsih ngomong.
“Iya sih, seneng ya. Tapi ya gitu, Bu...”
Terus dia diem sebentar. Terus dia ngomong lebih pelan. Tapi tetep kedengeran. Warung Bu Yayuk itu kecil.
“...kasihan yang anaknya.”
Kupingku jadi panas.
“Kasihan gimana?” tanya Bu Siti.
“Ya biasanya kan gitu. Sekarang aja masih disayang-sayang, namanya juga belum resmi. Nanti kalau udah nikah, apalagi kalau udah punya anak sendiri—ya beda, Bu. Namanya juga bukan darah daging.”
“Ah, Bu Ningsih ini negatif banget.”
“Bukan negatif, Bu, saya cuma lihat kenyataan. Sepupu saya juga gitu. Anak yang pertama itu lama-lama kayak... ya nggak disiksa sih. Cuma nggak jadi nomor satu lagi. Kan kasihan. Namanya juga anak kecil, dia nggak ngerti.”
Terus—dan ini bagian yang paling—
“Sama ibunya juga kasihan,” kata Bu Ningsih. “Almarhumah, maksud saya. Nanti lama-lama nggak ada yang inget. Rumahnya ganti orang, fotonya ya lama-lama diturunin. Namanya juga hidup jalan terus. Kasihan, orang udah nggak ada, dilupain.”
“Ya jangan gitu ngomongnya, Bu.”
“Lah saya doain baik-baik loh ini. Saya cuma bilang, kasihan.”
Terus Bu Yayuk bilang, “Wis, wis, jangan digosipin yang jelek-jelek. Ini gulanya dua kilo ya.”
Terus mereka ngomongin gula.
Terus mereka pulang.
Terus Bu Yayuk manggil, “Kirana! Kecapnya nggak diambil, Nduk?”
Aku berdiri. Aku ambil kecap. Aku bayar. Aku bilang makasih karena Ayah selalu bilang harus bilang makasih.
Bu Yayuk kasih permen kayak biasa.
“Loh, kok mukanya gitu? Sakit?”
“Nggak,” kataku. “Nggak papa.”
Terus aku pulang.
Jalan dari warung ke rumah itu biasanya empat menit. Aku pernah ngitung pakai jari.
Hari itu kayaknya lebih lama. Kayaknya satu jam. Aku jalan pelan-pelan sambil mikir, dan kepalaku penuh banget sampai sakit.
Aku mikirin ini:
Satu. “Nanti kalau udah nikah, dia nggak jadi nomor satu lagi.”
Nomor satu itu aku. Aku selalu nomor satu Ayah. Sejak dulu. Kalau Ayah kerja, aku nomor satu. Kalau Ayah capek, aku tetep nomor satu. Kalau Ayah ada acara, Ayah nggak pergi kalau aku sakit.
Terus kalau nanti aku nomor dua?
Nomor dua itu... nomor dua itu kayak apa rasanya?
Dua. “Kalau punya anak sendiri.”
Aku belum pernah mikirin ini sama sekali. Sama sekali belum pernah.
Kalau Tante Alena punya bayi.
Bayi itu ada di dalam perut ibunya. Aku tahu, aku sudah lihat di buku Kakek yang orangnya dikupas.
Berarti bayinya Tante Alena itu dari perut Tante.
Aku bukan dari perut Tante.
Aku dari perut Mama.
Terus kalau bayinya lahir, dia punya ibu yang bisa dipeluk. Yang bisa datang ke Hari Ibu. Yang ada.
Terus aku.
Tiga. Dan ini yang paling bikin dadaku sakit.
“Fotonya lama-lama diturunin.”
“Kasihan, orang udah nggak ada, dilupain.”
Foto Mama ada di ruang tengah. Di dinding. Sama foto-foto lain yang dipasang di bingkai kayu buatan Ayah.
Terus aku inget sesuatu yang bikin perutku dingin:
Bulan lalu Ayah beliin rak baru buat ruang tengah, terus foto-fotonya digeser. Digeser aja, cuma digeser. Tapi berarti foto itu bisa digeser.
Kalau bisa digeser, berarti bisa diturunin.
Aku berhenti jalan di depan pagar rumah.
Aku ngerasa kayak orang yang baru dikasih tahu ada lubang di lantai kamarnya, dan sekarang dia harus jalan di kamar itu terus.
Sebenernya aku mau tanya.
Aku sempat mau tanya ke Ayah malam itu, waktu dia lagi benerin sepedaku. Aku sudah berdiri di sebelahnya. Mulutku sudah kebuka.
Tapi terus aku mikir: kalau aku tanya “Ayah, nanti foto Mama diturunin nggak?”, nanti Ayah kaget. Terus Ayah tanya “siapa yang bilang gitu?”. Terus aku harus cerita soal Bu Ningsih, terus nanti Ayah marah sama ibu-ibu, terus nanti ibu-ibu tahu aku yang ngadu, terus semua orang jadi ribut.
Dan yang paling nggak enak: nanti Ayah mukanya jadi muka itu.
Muka yang Ayah pasang kalau ada orang nanya soal Mama. Muka yang kelihatan biasa tapi matanya nggak ikut biasa. Aku benci muka itu. Aku sudah lihat berkali-kali sejak kecil dan setiap kali aku lihat, aku kayak ditusuk pelan.
Jadi aku tutup mulutku lagi.
Aku bilang, “Sepedanya udah bisa?”
Terus Ayah bilang, “Udah. Coba.”
Terus aku naik sepeda muter-muter halaman sampai capek, dan Ayah nonton dari teras, dan semuanya kelihatan bagus dari luar.
Dari luar aja.
Malam itu makan malam biasa. Kecuali aku.
“Kirana nggak makan?”
“Kenyang.”
“Belum ada tiga suap,” kata Ayah.
“Kenyang.”
Terus Tante Alena bilang, “Sakit, sayang? Sini Tante cek—”
Dan dia ulurin tangannya mau pegang dahiku.
Dan aku mundur.
Aku nggak mikir. Badanku yang mundur duluan.
Terus semuanya jadi diam. Sendok Ayah berhenti. Tangan Tante masih di udara terus turun pelan-pelan.
Aku lihat muka Tante berubah. Cuma sebentar. Terus dia senyum lagi.
“Oke,” katanya. “Nggak papa. Kalau nggak enak badan bilang ya.”
Aku turun dari kursi. Aku bilang, “Kirana ngantuk,” terus aku ke kamar.
Aku denger Ayah manggil sekali. Aku pura-pura nggak denger.
Di kamar aku ambil kotak biskuit dari bawah kasur.
Isinya: foto Mama gendong aku, kartu Hari Ibu yang jelek, gelang manik-manik yang katanya dulu punya Mama, sama kancing baju yang aku nggak inget dari mana tapi aku simpan.
Aku lihatin fotonya lama.
Mama di foto itu ketawa. Rambutnya panjang. Aku di foto itu cuma kayak roti pakai topi.
Aku nggak inget Mama.
Ini yang paling nggak enak dan aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa, termasuk Ayah: aku nggak inget Mama sama sekali. Aku cuma inget dari foto. Aku nggak tahu suaranya gimana. Aku nggak tahu tangannya kayak apa. Kalau orang tanya “kangen Mama nggak?”, aku bingung jawabnya, karena kangen itu kan kalau kamu inget. Aku nggak punya yang diinget.
Yang aku punya cuma kotak biskuit ini.
Sama foto di dinding.
Dan sekarang kata ibu-ibu, foto di dinding itu bisa diturunin.
Terus kalau foto di dinding diturunin, terus aku nggak inget apa-apa, terus—
Terus Mama ke mana?
Kalau nggak ada yang inget, orangnya jadi apa?
Aku duduk di lantai kamarku lama banget sampai kakiku semutan.
Terus aku ambil keputusan lagi. Kayak waktu Hari Ibu.
Cuma keputusan yang ini beda rasanya. Yang Hari Ibu itu bikin perutku geli. Yang ini bikin perutku sakit.
Aku keluar kamar pelan-pelan. Ayah lagi cuci piring di dapur, keran nyala kenceng, dan aku denger dia nyanyi pelan—yang katanya nggak pernah dia lakuin kalau ada orang.
Aku ke ruang tengah.
Foto Mama ada di rak kedua. Bingkai kayu. Aku harus naik kursi buat ambil.
Aku ambil.
Aku bawa ke kamar.
Aku masukin ke laci baju, di bawah tumpukan piyama, yang paling bawah.
Terus aku tutup lacinya.
Terus aku duduk di kasur.
Dan aku nangis.
Nangis yang nggak bunyi. Yang bahunya goyang tapi mulutnya ditutup pakai tangan. Aku sudah bisa nangis kayak gitu dari lama, karena kalau nangisnya bunyi, Ayah datang, terus muka Ayah jadi sedih, terus aku jadi lebih sedih lagi karena bikin Ayah sedih.
Jadi lebih baik nangisnya yang nggak bunyi.
“Maaf ya, Ma,” bisikku ke laci. “Kirana simpen dulu. Biar nggak ada yang nurunin.”
Terus aku ngomong lagi, lebih pelan lagi, dan ini bagian yang bikin aku ngerasa jadi anak jahat:
“Kirana masih sayang Mama kok. Beneran. Kirana cuma... Kirana juga sayang sama Tante Alena.”
Terus aku diem.
“Boleh nggak?”
Nggak ada yang jawab.
Kamarku sepi. Bintang empat puluh tujuh nyala redup di langit-langit.
Dan aku tidur sambil peluk Mimi, dan besok paginya waktu Tante Alena datang jam setengah tujuh dan bilang “pagi, Bu Asisten, sini kepangnya,” aku bilang:
“Nggak usah. Kirana bisa sendiri.”
Terus aku lihat mukanya lagi. Yang berubah sebentar terus disenyumin lagi.
Dan aku benci banget sama diriku sendiri.
Tapi aku tetep nggak mau dikepang.
Ini yang orang dewasa juga nggak ngerti:
Aku tahu aku jahat.
Aku tahu waktu aku bilang “nggak usah”, Tante-nya sedih. Aku lihat sendiri. Aku bukan nggak lihat.
Dan waktu aku duduk di kursi ujung pas makan malam, aku pengen banget duduk di kursiku yang biasa. Kursi ujung itu jauh dan nggak enak dan piringnya kena sinar lampu yang silau.
Dan waktu Tante bawa rawon dan aku bilang “Kirana mau masakan Ayah aja”—itu bohong. Aku mau rawon itu. Baunya enak banget. Aku sampai nggak bisa tidur malamnya karena laper.
Tapi kalau aku terima kepangnya, terus aku duduk di kursiku, terus aku makan rawonnya...
...terus aku jadi tambah sayang.
Dan kalau aku tambah sayang sama Tante, nanti Mama-nya gimana.
Aku cuma anak satu. Aku nggak bisa sayang dua-duanya sekaligus.
Kayak kalau kamu punya satu permen terus ada dua temen. Nggak bisa dibagi. Nanti ada yang nggak kebagian.
Jadi lebih baik permennya nggak dibuka sama sekali.
Itu yang aku pikir waktu itu.
Aku baru tahu belakangan kalau aku salah. Salah banget. Dan yang ngasih tahu aku bukan Ayah, bukan Tante—tapi itu cerita besok-besok.
Yang penting sekarang: waktu itu aku sungguh-sungguh mikir gitu, dan aku sungguh-sungguh sedih, dan nggak ada satu orang pun di rumah itu yang tahu kenapa.
Termasuk aku sendiri, sebenernya.
Aku cuma tahu dadaku sakit dan aku pengen semuanya balik kayak dulu tapi juga nggak boleh balik kayak dulu.
Anak umur enam itu susah.
Nggak ada yang percaya kalau aku bilang gitu.
[Bersambung ke Bab 23 — “Tante Mau Hapus Mama?”]