← Tetangga Sebelah Jam 3 Pagi

Chapter Thirty Three

Gantian Aku yang Memperjuangkan

POV: Alena


Aku menelepon Raka jam sebelas malam, dan ia mengangkat di dering pertama.

“Mbak Alena? Ada apa? Dimas kenapa?”

“Dia nggak apa-apa. Maaf, aku nelepon malem-malem—”

“Nggak, nggak, santai.” Terdengar bunyi ia duduk. “Cuma biasanya kalau nomor Mbak yang masuk itu buat ngajakin makan-makan. Kalau jam sebelas malem, saya langsung mikir yang aneh-aneh.”

Aku menghela napas. “Sebenernya dia... lagi berat.”

Hening di seberang. Lalu, dengan nada yang berubah total—dari ramah jadi sesuatu yang lebih tua:

“Akhirnya,” kata Raka.

“Akhirnya?”

“Empat tahun, Mbak. Empat tahun saya nunggu orang itu buka mulut.” Aku mendengar ia menyalakan sesuatu, mungkin kompor, mungkin rokok. “Saya kira dia bakal bawa itu sampai mati. Serius. Saya udah pasrah.”

“Kamu tahu?”

“Tahu ada. Isinya nggak.” Raka tertawa pendek, tanpa humor. “Mbak tahu nggak, waktu pemakaman, dia yang ngatur semuanya. Semua. Tenda, konsumsi, tamu, administrasi rumah sakit. Nggak ada satu pun yang salah. Orang-orang bilang ‘wah Dimas kuat ya’.” Jeda. “Saya yang nginep di rumahnya seminggu, Mbak. Dan tiap malem dia duduk di ruang tengah sampai subuh mandangin dinding. Nggak nangis. Cuma mandangin. Terus jam lima dia bangun, masak bubur bayi, kayak nggak ada apa-apa.”

Aku menutup mata.

“Terus saya tanya, ‘Lo nggak apa-apa?’ Dia jawab apa coba?”

“Apa?”

“‘Hm.’” Raka mendengus. “Empat tahun jawabannya ‘hm’.”


Aku menceritakan semuanya. Bukan detail yang menjadi milik Dimas—itu bukan hakku—tapi bentuk umumnya: bahwa ia menjauh, bahwa alasannya bukan aku, bahwa ia akhirnya bicara, dan bahwa aku sekarang berdiri di depan sesuatu yang tidak bisa kubereskan dengan kata-kata.

“Dia nggak butuh dibujuk, Mas Raka. Dia nggak butuh diyakinin pakai kalimat. Dia butuh—” aku mencari, “—dia butuh sesuatu yang bisa dia pegang. Orang itu percayanya sama benda, bukan sama omongan.”

“Betul banget,” kata Raka. “Dia percaya sama yang bisa diukur.”

“Nah. Makanya aku telepon.” Kutarik napas. “Aku mau bikin sesuatu. Dari kayu.”

Hening panjang.

“Mbak,” kata Raka hati-hati, “Dimas itu pengrajin. Dia bisa bikin apa pun yang Mbak mau dalam dua jam.”

“Justru itu.” Kuremas ujung selimutku. “Selama delapan bulan, dia yang bikin semuanya buat aku. Rak, bracket, gorden, engsel, kotak kunci, radio. Semua. Dan aku—aku cuma nempelin kertas kuning.”

“Kertas kuning itu—”

“Aku tahu kertas kuning itu penting. Dia nyimpen semuanya, aku tahu.” Suaraku bergetar. “Tapi Mas Raka, orang itu lagi takut kehilangan. Dan yang bikin dia takut adalah dia ngerasa semua bergantung sama dia—dia yang harus jagain, dia yang harus ngukur, dia yang harus mastiin. Kalau aku ngasih dia kata-kata lagi, itu cuma nambah barang yang harus dia percayai.”

Kutarik napas.

“Aku mau ngasih dia bukti bahwa aku juga bisa ngerjain sesuatu buat dia. Bahwa ini nggak satu arah. Bahwa kalau dia capek megang semuanya sendirian, ada tangan lain yang—” suaraku putus, “—yang mungkin jelek, mungkin nggak lurus, tapi ada.”

Hening lagi di seberang. Lama.

“Mbak Alena.”

“Iya?”

“Besok saya ke sana,” kata Raka. “Sabtu. Bawa perkakas saya sendiri. Jangan pakai punya dia, nanti ketahuan barangnya pindah—orang itu hafal posisi setiap obengnya, saya nggak bohong.”

“Kamu nggak usah repot—”

“Mbak,” katanya, dan suaranya serak, “izinkan saya repot. Empat tahun saya cuma bisa nelepon dia tiap minggu nanyain udah makan apa belum. Ini pertama kalinya ada yang ngasih saya kerjaan yang bener.”


Kami mengerjakannya di garasi rumahku.

Rumah yang selama dua bulan terakhir cuma kupakai untuk mengambil baju, akhirnya punya fungsi: markas rahasia.

Raka datang Sabtu pagi membawa kotak perkakas dan satu potong kayu jati—“sisa proyek kantor, jangan tanya”—dan menghabiskan sepuluh menit pertama tertawa melihat caraku memegang gergaji.

“Mbak, itu bukan cara megang gergaji. Itu cara megang raket.”

“Aku dokter gigi. Alatku kecil-kecil.”

“Ini juga kecil, cuma lebih jujur.” Ia membetulkan posisi tanganku. “Nah. Tarik pas mundur, dorongnya santai. Jangan dipaksa. Kayu itu kayak orang, Mbak—kalau dipaksa dia patah, kalau dibujuk dia nurut.”

“Kamu belajar itu dari Dimas?”

“Dari bapaknya Dimas,” kata Raka. “Saya sering ke bengkelnya waktu kuliah. Bau dempul. Bapaknya diem terus, kayak anaknya.” Ia mengukur papan. “Bedanya, bapaknya kalau sayang kelihatan. Dimas kalau sayang disembunyiin di laci.”


Percobaan pertama hancur di sambungan.

Aku mencoba meniru sambungan ekor burung—yang di kotak buatan Dimas terlihat seperti dua sisir yang mengunci sempurna—dan hasilnya adalah dua potong kayu dengan gigi-gigi tidak simetris yang tidak mau bertemu sama sekali.

“Ini gagal ya.”

“Ini gagal,” Raka setuju. “Tapi gagalnya normal. Saya juga gagal tujuh belas kali dulu.”

Percobaan kedua: sambungannya masuk, tapi salah satu sisinya retak saat dipukul.

Percobaan ketiga: badannya jadi. Tutup gesernya seret—harus didorong dengan dua ibu jari sambil menahan napas.

“Diamplas lagi alurnya, Mbak.”

Kuamplas.

Masih seret.

“Amplas lagi.”

Kuamplas.

Yang tidak diperhitungkan dalam rencana ini: menyembunyikan proyek dari dua orang yang tinggal sembilan meter dari garasiku.

Dimas, untungnya, sedang dalam fase menjauh—ironi paling pahit dalam sejarah pacaran: keterasingan yang menyakitkanku juga yang membuat operasi ini mungkin. Ia lembur tiap malam dan tidak bertanya ke mana aku pergi.

Kirana lain soal.

Sabtu sore, saat Raka sudah pulang dan aku sedang mengamplas ronde ketiga di garasi dengan pintu setengah terbuka, terdengar suara dari halaman:

“BUNDAAA?”

Aku menyembunyikan kotak itu di bawah keset dalam dua detik—tempat persembunyian terburuk sedunia—dan berdiri menghadap pintu dengan tangan penuh serbuk kayu.

“Iya, sayang?”

Kirana masuk. Berhenti. Hidungnya bergerak.

“Kok bau workshop?”

“Bunda... beres-beres garasi.”

“Beres-beres kok pakai amplas?” Ia menunjuk amplas di tanganku dengan telunjuk penuh tuduhan.

Aku, dokter gigi anak dengan sepuluh tahun pengalaman menghadapi anak-anak, kalah telak dalam empat detik oleh satu anak berumur enam tahun.

“Kirana bisa jaga rahasia nggak?”

Matanya membesar. “BISA.”

“Serius? Yang beneran?”

“Kirana pernah jaga rahasia satu bulan,” katanya, tersinggung. “Waktu Ayah bikin radio, Kirana nggak bilang-bilang.”

Kuangkat keset itu.

Kirana memandangi kotak jelek di bawahnya. Lama. Lalu ia mengangkat wajah dengan ekspresi yang tidak bisa kuterjemahkan.

“Ini buat Ayah?”

“Iya.”

“Bunda yang bikin?”

“Iya. Jelek ya?”

Dan Kirana—yang selama sepuluh bulan ini tidak pernah sekali pun berbohong tentang kualitas apa pun, termasuk kepang, termasuk rawon—memiringkan kepala, memeriksanya, lalu berkata:

“Jelek.”

“Iya.”

“Tapi Ayah pasti suka.” Ia menurunkan keset itu kembali, hati-hati, menutupinya lagi. “Ayah kalau dikasih barang buatan orang, dia lihat lamaaa banget dulu. Yang lain nggak lihat lama, cuma bilang makasih.” Ia menepuk keset itu sekali. “Bunda lanjutin. Kirana bakal ngalihin perhatian Ayah.”

“Ngalihin gimana?”

“Kirana bakal minta dibikinin sesuatu,” katanya, sudah berjalan keluar dengan langkah agen rahasia. “Yang susah. Yang lama.”

Malam itu Dimas menghabiskan tiga jam membuat rumah-rumahan boneka atas permintaan mendadak putrinya, dan tidak sekali pun menoleh ke arah rumahku.

Jam empat sore keesokan harinya, tutup itu meluncur.

Jari telunjukku lecet. Kuku ibu jariku patah satu—aku, yang seumur hidup menjaga tangan karena tanganku adalah alat kerjaku, membiarkan kukuku patah dan hanya berpikir nanti dipotong.

Tidak semulus punya Dimas. Masih ada bunyi srek di sepertiga jalan. Tapi meluncur, dan menutup, dan tidak jatuh saat kotaknya kubalik.

Aku duduk di lantai garasi rumahku sendiri, di antara serutan kayu, dan menangis sambil memegang kotak jelek itu.

Raka pura-pura sibuk membereskan perkakasnya selama empat menit penuh.

“Jelek banget ya,” kataku akhirnya, menyeka muka dengan lengan.

Ia mengambil kotak itu dari tanganku. Memeriksanya dari segala sisi—dengan serius, dengan cara yang sama seperti Dimas memeriksa barang.

“Sambungannya nggak rata,” katanya. “Sudut kanan atas meleset satu setengah mili. Alurnya kasar. Finishing-nya cuma minyak, nggak dipoles.”

“Iya, aku tahu—”

“Dan orang itu bakal nyimpen ini sampai mati, Mbak.”

Kuangkat wajahku.

“Saya kenal dia dua belas tahun.” Raka mengembalikan kotak itu ke tanganku. “Dia bisa lihat semua cacatnya dalam tiga detik. Dan dia bakal ngitung berapa jam yang dibutuhin orang yang nggak bisa apa-apa buat sampai ke hasil ini.” Ia berdiri, menepuk celananya. “Dia bakal ngitung, Mbak. Dia selalu ngitung. Itu bahasanya.”


Aku mengisinya malam itu, di kamarku, sendirian.

Sehelai kain lap bersih. Dan di atasnya, kunci rumahku.

Kunci yang dulu kuberikan padanya secara sembarangan di pagar, empat bulan lalu, dengan kalimat “biar adil” dan tawa. Waktu itu itu cuma kunci.

Sekarang aku membuat satu duplikat lagi—duplikat kedua, khusus—dan meletakkannya di ruang kecil berlapis kain itu, dan menggeser tutupnya sampai berbunyi srek-tak.

Bunyinya tidak semerdu punya Dimas.

Tidak apa-apa.


Aku menyerahkannya hari Minggu pagi, di teras, setelah kepang.

Kirana—yang dikembalikan Sekar Minggu pagi dan langsung membaca situasi rumah dengan radar biasanya—entah bagaimana memutuskan untuk mengumumkan bahwa ia ingin menonton kartun di dalam. Yang lama. Satu jam.

Sejarah mengulang dirinya dengan sopan.

Ketika pintu tertutup, kukeluarkan kotak itu dari tas dan kuletakkan di undakan, di antara dua cangkir.

Dimas menatapnya.

Lalu ia mengangkatnya—dua tangan; ia juga selalu dua tangan, aku baru sadar—dan aku melihat matanya bekerja: sudut kanan atas, alur, permukaan, sambungan.

Tiga detik. Persis seperti kata Raka.

“Ini kamu yang bikin.”

“Iya.”

“Sendiri?”

“Dibantu Raka. Tapi yang motong, yang nyambung, yang ngamplas—aku.” Kuangkat tanganku, memperlihatkan telunjuk yang diplester dan kuku yang patah. “Ini bukti.”

Ia menatap tanganku. Sesuatu bergerak di rahangnya.

“Buka,” kataku.

Ia menggeser tutupnya. Bunyi srek di sepertiga jalan itu terdengar jelas di teras yang sunyi—cacat yang tidak bisa kuperbaiki, cacat yang kubiarkan.

Di dalamnya: kunci.

Dimas menatap kunci itu lama sekali.

“Ini kunci rumahmu.”

“Aku tahu kamu udah punya satu.” Suaraku bergetar dan kubiarkan. “Yang itu kukasih sambil ketawa. Empat bulan lalu, di pagar, karena aku pikir lucu—kamu ngasih kunci, aku ngasih kunci, adil.”

Kutarik napas.

“Yang ini beda.”

Ia mengangkat wajah.

“Waktu kamu ngasih aku kotak,” kataku, “kamu bilang itu hasil pemeriksaan. Kamu bilang kamu udah mastiin bisa sayang aku seumur hidup, bukan setengah jalan.”

“Iya.”

“Nah. Ini jawabanku. Telat delapan bulan, tapi ini jawabannya.” Kutunjuk kotak di tangannya. “Kamu takut kehilangan. Aku nggak bisa janji nggak akan kejadian apa-apa, Dimas—aku dokter, aku tahu persis nggak ada yang bisa janji gitu, dan kalau aku janji kamu nggak akan percaya, dan kamu bener nggak percaya.”

Suaraku pecah di tengah.

“Tapi ada satu hal yang bisa kujanjiin. Aku nggak ke mana-mana. Sengaja, maksudnya. Sepanjang aku punya pilihan, aku milih di sini. Tiap hari. Tiap pagi.” Kuseka mataku. “Kamu boleh takut, Dimas. Kamu boleh takut seumur hidup, aku nggak akan pernah nyuruh kamu berhenti takut. Aku cuma minta satu hal.”

“Apa?”

“Takutnya sambil pegangan tangan aku.”

Ia tidak bergerak.

“Jangan mundur sendirian lagi,” kataku. “Itu aja. Kalau kamu takut, tarik aku lebih deket, jangan didorong jauh. Kalau kamu nggak bisa tidur, bangunin aku. Kalau kamu berdiri di pagar jam sebelas malem karena takut nyeberang—” suaraku hancur total, “—nyeberang aja, Dimas. Pintunya nggak pernah kukunci. Kuncinya bahkan udah kukasih dua sekarang.”


Dimas menutup kotak itu.

Membukanya lagi.

Menutupnya lagi.

Dan aku menyadari, dengan hati yang remuk, bahwa ia sedang melakukan hal yang selalu ia lakukan ketika tidak sanggup bicara: ia sedang memeriksa benda. Menggeser tutup itu maju-mundur, mendengarkan bunyi srek yang cacat itu berulang-ulang, memberi tangannya pekerjaan supaya sisa dirinya punya waktu.

Lalu ia berkata, sangat pelan, tanpa mengangkat wajah:

“Alurnya seret di sepertiga.”

“Iya. Maaf. Aku udah ngamplas empat kali—”

“Jangan diperbaiki.”

Ia mengangkat wajah.

Dan matanya penuh.

“Jangan pernah diperbaiki,” katanya lagi. “Aku mau bunyinya tetep gitu.”

Lalu ia menarikku—satu tangan, cepat, seperti dulu di gang saat motor lewat—dan memelukku begitu erat sampai kotak itu terjepit di antara dada kami, dan di teras rumahnya, jam delapan pagi hari Minggu, dengan rute senam pagi yang mulai lewat di depan pagar dan tidak satu pun dari kami peduli, laki-laki itu akhirnya menangis.


[Bersambung ke Bab 34 — “Laki-Laki Boleh Nangis”]