← Chapters Ch. 40 / 40

Chapter Forty

Epilog: Jam Tiga Pagi (Lagi)

POV: Dimas


Setahun kemudian, aku terbangun jam tiga pagi karena gedoran.

Bukan di pintu depan.

Di pintu kamar.

BRAK BRAK BRAK.

Aku bangkit dengan refleks yang sudah delapan tahun terlatih—kaki di lantai sebelum otak menyala—dan di sebelahku Alena juga sudah setengah duduk, rambut berantakan, dan kami berdua sampai di pintu bersamaan.

Kubuka.

Kirana berdiri di lorong dengan piyama dinosaurus, rambut singa, dan wajah yang tidak menunjukkan tanda-tanda darurat medis apa pun.

“Kirana,” kataku. “Ini jam tiga pagi.”

“Iya.”

“Kamu gedor pintu.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan anak delapan tahun itu—delapan, ulang tahunnya bulan lalu, kuenya bentuk pesawat karena “kelinci itu udah zaman Kirana kecil”—mengangkat tangannya, dan di telapak tangannya ada sesuatu yang kecil dan putih.

“TANGGAL,” katanya. “Yang terakhir. Yang paling belakang bawah. Yang udah goyang setahun.”

Alena mengeluarkan bunyi seperti orang yang jiwanya keluar sebentar.

“Kirana. Sayang.” Ia bersandar ke kusen pintu. “Kamu gedor pintu kamar orang tuamu jam tiga pagi buat gigi.”

“INI GIGI TERAKHIR, BUNDA.”

“Besok pagi juga masih gigi—”

“Nggak bisa. Nanti peri giginya keburu lewat.” Ia menyodorkan telapak tangannya. “Kirana harus taruh di bawah bantal SEKARANG. Sama Bunda harus lihat dulu, soalnya Bunda dokter gigi, nanti kalau ada yang salah gimana.”

Alena menutup wajahnya dengan tangan, dan aku bisa melihat bahunya bergetar, dan aku tidak yakin apakah itu tawa atau tangis, dan setelah tiga tahun bersamanya kesimpulanku tetap sama: dua-duanya, biasanya.

Jadi kami menyalakan lampu ruang tengah jam tiga pagi.

Dan Alena—dokter gigi anak, spesialis, yang praktiknya sekarang cuma tiga hari seminggu di klinik dan dua hari di ruang praktik kecil di sayap kanan rumah ini—memeriksa gusi putrinya dengan senter ponsel di ruang tengah, sambil duduk di lantai, dengan perut yang sudah tujuh bulan dan membuat gerakan membungkuk jadi proyek teknik tersendiri.

“Bersih. Nggak ada sisa akar.” Ia mematikan senternya. “Selamat, sayang. Gigi susumu resmi habis.”

“Berarti Kirana udah gede?”

“Berarti kamu udah gede.”

Kirana memandangi gigi kecil di telapak tangannya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.

“...Kirana agak sedih.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu.” Ia mengangkat bahu—gerakan itu, gerakan yang jelas ia curi dariku dan sudah kuterima sebagai kerugian permanen. “Kayak ada yang selesai.”

Dan Alena menariknya duduk di pangkuannya—atau sisa pangkuan yang masih tersedia—dan berkata:

“Emang ada yang selesai. Nggak apa-apa sedih. Yang selesai itu boleh disedihin walaupun yang gantiin bagus.”

Kirana menyandarkan kepalanya.

“Kayak Mama?”

“Kayak Mama.”

Dan anak itu mengangguk, dan mereka duduk begitu di lantai ruang tengah jam tiga lewat sepuluh pagi, di depan dinding berisi—sekarang—delapan belas bingkai, karena Kirana menemukan empat foto lagi di rumah Uti tahun lalu dan bersikeras rak diperpanjang lagi.


Kubuatkan cokelat panas.

Tiga cangkir. Yang satu setengah, karena “Bunda lagi hamil nggak boleh kebanyakan gula” menurut peraturan yang dibuat sendiri oleh dokter gigi yang bersangkutan dan dilanggar sendiri juga oleh yang bersangkutan setiap malam Minggu.

Kami membawanya keluar, ke halaman.

Halaman yang menyatu itu, dengan meja panjang enam kursi di tengahnya, di bawah langit jam tiga pagi yang belum berpikir untuk terang.

Kirana duduk di kursinya, memegang gigi di satu tangan dan cangkir di tangan lain, dan mengumumkan bahwa ia tidak akan tidur lagi karena “sudah kepalang bangun”.

Ia tertidur dua belas menit kemudian, kepala di lipatan lengan, di atas meja.


“Dimas.”

“Hm.”

Alena memegang cangkirnya dengan dua tangan, seperti selalu, dan memandangi halaman.

“Kamu sadar nggak ini persis kayak malam pertama kita ketemu?”

“Hm.”

“Jam tiga pagi. Ada anak. Ada cokelat panas.” Ia menoleh. “Bedanya cuma aku nggak marah-marah.”

“Bedanya,” kataku, “kamu nggak perlu pulang.”

Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Di seberang halaman, sayap kanan rumah ini—bekas rumahnya—gelap. Kamar-kamarnya berfungsi sekarang: ruang praktik kecil, ruang belajar Kirana dengan satu dinding papan tulis yang sudah penuh coretan sampai ke langit-langit, kamar tamu lantai dasar tanpa undakan yang Bu Ratna tempati satu minggu setiap bulan dan mengeluh terus soal AC-nya sambil menolak pulang.

Dan satu kamar lagi, di ujung, yang tujuh bulan ini dicat ulang dan dipasangi rak dan satu boks kayu yang kukerjakan selama lima minggu dengan sambungan ekor burung di keempat sudutnya.

Boks itu belum ada penghuninya.

Empat puluh delapan hari lagi, kata perhitungan terakhir. Aku menghitung. Tentu saja aku menghitung.

Cara Kirana mengetahuinya, tujuh bulan lalu, layak dicatat sebagai bagian dari sejarah keluarga ini.

Kami menyiapkan pengumuman yang matang: makan malam khusus, penjelasan bertahap, ruang untuk bertanya, kalimat-kalimat yang sudah kami latih berdua tentang bahwa dia tetap nomor satu dan tidak ada yang berubah.

Kami tidak pernah sampai ke kalimat pertama.

Kirana masuk dapur saat Alena sedang mual di wastafel untuk hari kelima berturut-turut, berhenti, mengamati, lalu berkata:

“Bunda hamil ya?”

Alena tersedak air.

“Kirana—”

“Kirana udah tahu dari minggu lalu. Bunda muntah tiap pagi terus nggak sakit. Terus Bunda beli tes di apotek waktu Kirana nunggu di mobil, terus kantongnya Bunda umpetin di bawah jok.” Ia mengambil gelas dari rak. “Kirana kan duduk di belakang. Kelihatan.”

Aku bersandar ke kulkas dan menyerah pada keluarga ini.

“Kamu marah nggak?” tanya Alena, hati-hati.

Dan Kirana—yang setahun setengah lalu menyembunyikan foto ibunya di laci karena takut nomor satunya diambil—menatap Bunda-nya dengan wajah bingung yang tulus.

“Kenapa marah?”

“Nanti ada bayi. Nanti Bunda sama Ayah sibuk.”

“Iya, terus?”

“Terus... kamu nggak takut nggak jadi nomor satu?”

Kirana meletakkan gelasnya. Dan menjawab dengan nada anak yang sedang menjelaskan hal paling jelas sedunia kepada dua orang dewasa yang lambat:

“Bunda. Kamarnya kan nambah.”

Alena duduk di lantai dapur dan menangis, dan aku harus keluar ke workshop selama enam menit.

“Kok pada nangis sih,” kata Kirana ke ruangan kosong. “Kirana kan cuma jawab.”


“Kamu takut nggak?” tanya Alena, pelan.

Pertanyaan itu tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Kami sudah lama tidak butuh penjelasan lebih lanjut untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

“Takut.”

“Aku juga.”

“Tiap hari,” kataku. “Kadang tengah malam aku bangun terus ngecek napasmu.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum ke cangkirnya. “Aku sering bangun. Aku pura-pura tidur.”

“Kenapa pura-pura?”

“Soalnya kalau aku bangun, kamu bakal berhenti terus balik tidur. Padahal kamu butuh ngecek.” Ia mengangkat bahu. “Ya udah, kubiarin. Ngecek itu bahasamu.”

Aku menatap perempuan ini—yang tiga tahun lalu menggedor pintuku untuk perang, yang sekarang duduk di halaman rumah kami jam tiga pagi dengan anak kami tidur di meja dan anak berikutnya empat puluh delapan hari lagi—dan merasakan hal yang dulu membuatku ingin lari.

Bahagia yang terlalu besar. Yang terasa seperti alarm.

Bedanya sekarang: aku tahu namanya. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan dengannya.

Kugenggam tangannya di atas meja.

“Takutnya sambil pegangan tangan,” kataku.

“Nah,” katanya. “Kamu inget.”

“Aku inget semuanya.”


Kirana bergerak dalam tidurnya, dan gigi itu jatuh dari tangannya dan menggelinding di meja, dan Alena menangkapnya sebelum jatuh ke rumput.

Ia memandangi benda kecil itu di telapak tangannya.

“Aku simpen di kotak kaca aja ya,” katanya. “Di Pojok Mama.”

“Gigi?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak,” kataku. “Nggak apa-apa.”

Ia menoleh padaku, curiga. “Kamu ketawa.”

“Nggak.”

“Kamu ketawa dalem, Dimas. Aku hafal.”

Dan aku memang tertawa—dalam, tanpa suara, cara satu-satunya yang kupunya—karena membayangkan Pojok Mama itu sepuluh tahun lagi: empat belas bingkai jadi delapan belas jadi entah berapa, kotak kaca berisi kartu Hari Ibu yang tidak terkirim, gerendel pagar berkarat, buku catatan kehamilan bersampul kain, buku resep yang percobaan keenamnya diberi nilai sembilan, dan sekarang sebuah gigi susu.

Museum paling aneh sedunia.

Kurator: seorang anak yang dulu takut ibunya dilupakan.

“Simpen,” kataku. “Tapi tulis tanggalnya di belakang kartunya. Nanti lupa.”

“Kamu yang tulis. Tulisanku jelek.”

“Tulisanmu bagus.”

“Tulisanku tulisan dokter, Dimas.”

“Tulisanmu,” kataku, “ada seratus tiga puluh lima lembar di laciku. Aku hafal semua cara kamu nulis huruf ‘g’.”

Ia diam.

Lalu ia meletakkan cangkirnya, dan menyandarkan kepalanya lagi ke bahuku, dan aku merasakan bahunya basah sedikit dan tidak berkomentar apa-apa.


Langit mulai encer jam setengah lima.

Aku menggendong Kirana—delapan tahun, terlalu besar untuk digendong, tetap kugendong, dan aku akan terus melakukannya sampai punggungku menolak—ke kamarnya, membaringkannya, meletakkan gigi itu di bawah bantalnya karena tugas ada tugas.

Alena berdiri di ambang pintu memandangi kami.

“Peri giginya berapa sekarang?”

“Sepuluh ribu.”

“Naik?”

“Inflasi.”

Ia tertawa, dan menutup pintu pelan-pelan sampai bunyi klik-nya nyaris tidak ada.

Kami berjalan kembali ke kamar lewat lorong yang menghubungkan dua rumah yang sudah bukan dua rumah, melewati ruang tengah tempat delapan belas wajah menatap dari dinding, melewati meja panjang di halaman yang cangkir-cangkirnya besok pagi akan dikeluhkan oleh salah satu dari kami karena ditinggal semalaman.

Di pintu kamar, Alena berhenti.

“Dimas.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

Dan ia berpikir sebentar—benar-benar berpikir, seperti mencari kata yang cukup—lalu menyerah dan mengangkat bahu.

“Buat nggak ngunci pagar.”

Aku menatapnya.

“Pagarnya udah nggak ada, Alena.”

“Ya makanya,” katanya, dan masuk ke kamar.


Aku berdiri sendirian di lorong itu sebentar.

Tiga tahun lalu, di jam yang sama persis, aku berdiri di ruangan yang sama dalam keadaan yang sangat berbeda: panik, sendirian, dengan bayi berumur empat tahun yang demamnya tidak turun-turun, dan hidup yang sudah kususun begitu rapi sehingga tidak ada ruang tersisa untuk apa pun—termasuk untuk diriku sendiri.

Lalu ada yang menggedor pintu.

Aku tidak percaya pada takdir. Aku percaya pada ukuran, sambungan, dan pekerjaan yang dikerjakan dengan benar.

Tapi kadang, jam setengah lima pagi, berdiri di lorong rumah yang kurancang sendiri dua belas tahun lalu untuk seorang perempuan yang memintaku membuat pagarnya rendah karena pagar tinggi itu tidak sopan—

—kadang aku berpikir bahwa mungkin ada hal-hal yang sudah diukur oleh orang lain, jauh sebelum kita tahu ukurannya untuk apa.

Kumatikan lampu lorong.

Dan masuk ke kamar, ke rumah kami, ke sisa hidup yang tidak bisa kuhitung dan sudah berhenti kucoba.


Catatan terakhir, untuk kelengkapan arsip:

Empat puluh delapan hari kemudian, jam tiga pagi—jam yang di rumah ini rupanya punya kebiasaan buruk—seorang anak laki-laki lahir dengan berat 3,1 kilogram dan suara yang, menurut kakak perempuannya, “lebih kenceng dari alarm asap Bunda dulu”.

Namanya dipilih Kirana, setelah proses seleksi tiga minggu yang melibatkan daftar tertulis, pencoretan, dan satu sesi konsultasi dengan Mimi.

Ia menamainya dari kata yang artinya rumah.

Waktu ditanya kenapa, ia menjawab—sambil menggendong adiknya dengan dua tangan, di kursi, dengan bantal di bawah siku sesuai instruksi keselamatan yang ia patuhi dengan sangat serius:

“Soalnya dia lahirnya pas rumahnya udah jadi. Kalau dulu kan belum ada.”

Meja panjang di halaman itu sekarang terisi lima kursi.

Yang keenam masih kosong.

Kirana bilang itu buat Mama, kalau-kalau mampir.

Tidak ada yang membantahnya.


TAMAT


Griya Anggrek, blok C-11 dan C-12. Sekarang cuma disebut: rumah pojok yang halamannya luas.