Chapter Twelve
Sayang, Ambilin Obeng
POV: Alena
Ada satu hal yang tidak dipersiapkan oleh buku panduan mana pun tentang berpacaran dengan laki-laki pendiam: kau akan mengira sudah memetakan seluruh wilayahnya, lalu ia membuka satu pintu yang tidak ada di peta, dan kau tersesat di rumah yang kau kira sudah kau hafal.
Pintu itu terbuka di hari Minggu, minggu kedua kami resmi, di workshop.
Dua minggu pertama pacaran dengan Dimas, untuk yang penasaran, berjalan seperti ini: hampir tidak ada yang berubah, dan justru itu yang paling manis. Makan malam tetap jam tujuh, kepang tetap setengah tujuh, dua cangkir tetap di undakan. Yang berubah cuma hal-hal kecil yang tidak akan lolos audit siapa pun kecuali kami: pamitnya sekarang pakai kecup kening, gandengannya tidak butuh alasan motor ngebut, dan kalau aku pulang larut, lampu terasnya bukan cuma menyala—orangnya ikut menunggu di kursi teras, pura-pura membaca berita, dengan ponsel yang layarnya sudah mati dari kapan-kapan.
“Kamu nungguin.”
“Duduk doang.”
“Jam sebelas malem. Di teras. Ngadep gerbang.”
“Terasnya milik umum,” katanya, dan masuk ke rumah dengan telinga yang membantah kalimatnya sendiri.
Jadi aku pikir aku sudah memetakan semuanya: Dimas versi pacar adalah Dimas versi tetangga, ditambah akses kecup kening. Bisa diprediksi. Aman.
Lalu hari Minggu itu datang.
Sejak jadian, workshop bukan lagi wilayah terlarang bagiku. Dulu aku hanya sampai ambang pintunya—mengantar kopi, memanggil makan, mencuri pandang. Sekarang aku punya kursi sendiri di pojok: kursi kayu tua yang ia perbaiki dudukannya khusus, diletakkan di sudut yang katanya “aman dari serpihan, kena cahaya bagus, dan—” ia tidak menyelesaikan kalimat ketiganya waktu itu, tapi aku duduk di kursi itu dan menemukan sendiri: dari sudut ini, tukang kerjanya kelihatan utuh dari segala arah.
Kalimat ketiganya jelas bukan kebetulan. Orang ini tidak pernah meletakkan apa pun secara kebetulan.
Minggu itu aku di kursiku, membaca jurnal kedokteran gigi yang sudah tiga kali kubaca paragraf yang sama—salahkan pemandangan—sementara Dimas merakit lemari kecil pesanan, dan Kirana di halaman menggelar sekolah khusus untuk Mimi dan dua boneka lain dengan kurikulum yang terdengar lebih ketat dari kurikulum nasional.
“Len.”
“Hm?” Aku sudah ketularan kamusnya. Penyakit menular memang harusnya jadi keahlianku.
Ia sedang setengah tiarap, menahan rangka pintu lemari dengan bahu, satu tangan memegang engsel di posisinya, dan tangan satunya terulur ke belakang, ke arah meja perkakas, tanpa menoleh:
“Sayang, ambilin obeng. Yang plus. Ujung merah.”
Ada fenomena medis bernama sinkop—kehilangan kesadaran sesaat karena aliran darah ke otak berkurang mendadak. Aku tidak sinkop. Aku hanya mengalami versi ringannya, yang belum ada di literatur, yang gejalanya: seluruh sistem berhenti lima detik, jurnal merosot dari pangkuan, dan dunia menyempit jadi satu kata yang barusan diucapkan dengan sangat, sangat biasa oleh orang yang tidak pernah mengucapkan apa pun dengan biasa.
Sayang.
Bukan “Len”. Bukan “Alena”. Sayang—dilempar sambil lalu, di sela engsel dan rangka pintu, dengan intonasi yang sama seperti menyebut cuaca, seolah kata itu sudah bertahun-tahun tinggal di mulutnya dan baru hari ini pindah keluar.
“Len. Obeng.”
Sistemku menyala kembali. Aku bangkit, berjalan ke meja perkakas dengan langkah yang kuharap terlihat normal, mengambil benda dengan gagang merah, dan menyerahkannya ke tangan yang menunggu itu.
Dimas melirik benda di tangannya. Lalu melirikku.
“Ini tang.”
“Hah?”
“Aku minta obeng. Ini tang.” Ia mengangkat benda itu ke cahaya, memeriksanya seperti barang bukti. “Gagangnya emang merah, itu doang benernya.”
“Oh.” Kuambil kembali tangnya. Kembali ke meja. Menatap deretan perkakas yang mendadak semuanya terlihat sama, karena otakku masih sibuk memutar ulang satu kata dan belum bisa diajak mengenali bentuk. “Obeng. Plus. Merah. Ini.”
“Itu minus.”
“INI—” kuperiksa ujungnya. Minus. “—kamu naruh obengnya di mana sih, kok susah—”
“Di tempat yang sama sejak kamu duduk di kursi itu tiga minggu.” Ia bangkit dari posisi tiarapnya, menyandarkan rangka pintu ke lemari, dan berjalan ke arahku dengan langkah santai yang membawa firasat buruk. Ia berdiri di sebelahku, mengambil obeng yang benar dari deretan itu—baris kedua, paling depan, tempat paling kelihatan—lalu menoleh padaku dengan wajah datar yang sudut matanya, sudut matanya, berkilat.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Tanganmu megang tang tadi kayak megang hasil rontgen.”
“Aku cuma—” jangan ngaku, jangan ngaku, “—kaget. Dikit.”
“Kaget kenapa?”
“Nggak. Bukan. Lupain.”
“Len.” Ia memutar obeng di jarinya sekali, gerakan kecil yang tidak adil bagi siapa pun yang menonton. “Aku manggil kamu apa tadi?”
Jadi dia sadar. Tentu saja dia sadar. Orang ini menghitung semuanya; mana mungkin kata sebesar itu lolos dari mulutnya tanpa melewati bea cukai.
“...Kamu manggil aku sayang,” kataku pada deretan perkakas.
“Terus kamu bawain aku tang.”
“Itu korelasi, bukan sebab-akibat—”
“Lima detik,” lanjutnya, kejam, datar, tak terhentikan. “Kamu diem lima detik. Jurnalmu jatuh. Aku denger bunyinya.”
“KAMU NGGAK USAH NGITUNG—”
“Kamu yang ngajarin. Tiga detik di gorden itu, katamu, kamu itung.”
Aku membuka mulut. Menutupnya. Tidak ada pengacara di dunia ini yang bisa membelaku dari barang bukti yang kubocorkan sendiri di masa lalu. Dimas menatapku semenit—atau sedetik yang rasanya semenit—lalu kembali ke lemarinya, berlutut, memasang sekrup pertama, dan berkata pada engselnya, ringan, final, seperti menetapkan pasal baru:
“Ya udah. Kupake terus.”
“Apanya?”
“Panggilannya. Efeknya bagus.”
“EFEKNYA BAGUS—Dimas, aku bukan eksperimen—”
“Sayang,” katanya, tanpa menoleh, tanpa jeda, tanpa ampun, “tolong kopi. Yang tadi udah dingin.”
Lima detik.
Jurnal itu—yang baru saja kupungut—merosot lagi.
Dari halaman, tanpa mengangkat kepala dari sekolah bonekanya, Kirana berseru: “TANTE, JATOH LAGI BUKUNYA?”
“NGGAK PAPA,” seruku balik, dengan suara dua oktaf lebih tinggi dari anggaran, dan berjalan ke dapur sambil mendengar—untuk pertama kalinya sejak mengenalnya—Dimas tertawa. Bukan senyum bocor. Bukan bahu bergetar. Tertawa betulan, pendek, rendah, buruk sekali dalam usahanya untuk disamarkan jadi batuk.
Suara itu mengejarku sampai dapur dan menetap di suatu tempat di bawah tulang rusuk, di sebelah tempat kalimat yang nangkep aku dulu menempel, di rak yang sama dengan tiga detik dan karet merah dan semua barang yang tidak boleh hilang.
Ia menepati ancamannya dengan disiplin yang mengerikan.
“Sayang, gerbangnya udah kukunci.” — pagar, malam, disaksikan Pak Harun yang langsung mencatat.
“Sayang, jangan lupa payung.” — teras, pagi, disaksikan delapan ibu-ibu senam yang langsung kehilangan formasi barisannya.
“Sayang, sini. Kacamatamu di kulkas. Lagi.” — dapurku, sambil menyerahkan kacamata baca yang memang, entah bagaimana, selalu berakhir di tempat-tempat ajaib.
Puncak kekejamannya terjadi hari Rabu, di wilayah hukumku sendiri.
Ban mobilku kempes di parkiran klinik—paku, di jalur keluar, nasib. Aku menelepon Dimas lebih karena refleks daripada kebutuhan; ada bengkel dua ratus meter dari klinik. Tapi refleks itu sudah punya jalurnya sendiri, dan dua puluh menit kemudian ia datang dengan motor, dongkrak, dan kunci roda, langsung bekerja di parkiran tanpa banyak upacara.
Masalahnya: jam lima sore adalah jam pulang pasien terakhir. Lobi dan teras klinik sedang berisi stok lengkap—dua bapak pengantar (termasuk Pak Hendra, si tiket seminar), tiga ibu, staf-stafku yang mendadak semua ada urusan di dekat jendela.
Dimas mengganti ban itu dalam tujuh menit, tanpa menyadari sedang jadi tontonan, atau menyadari dan tidak peduli—dengan dia, dua-duanya mungkin. Selesai, ia mengelap tangan dengan lap dari jok motornya, mengecek tekanan ban sekali lagi, lalu menyerahkan kunci mobilku yang tadi ia pinjam.
“Ban serepmu tipis. Besok kuganti sekalian.” Lalu, sambil memasang helm, dengan volume normal yang di teras sesunyi itu setara pengumuman resmi: “Udah ya, Sayang. Aku jemput Kirana dulu. Nyetirnya pelan-pelan.”
Motor itu pergi.
Teras klinik hening.
Pak Hendra menatap ban baruku dengan tatapan orang yang menyaksikan lamaran. Salah satu ibu berbisik “sayang katanya” pada ibu di sebelahnya, yang menjawab “denger, bu, saya denger” tanpa mengalihkan pandangan. Dan Dara—Dara keluar dari pintu klinik sambil bertepuk tangan pelan, satu-satu, seperti kritikus yang akhirnya menemukan pertunjukan yang layak.
“Nggak ada satu pun,” katanya khidmat, “yang bisa kulakuin buat nyaingin itu. Nggak ada. Aku pulang.”
Dan efeknya—sialan—tidak berkurang. Detik kelima belas, keempat puluh, kesembilan puluh: setiap kali kata itu mendarat dengan intonasi daftar belanja itu, sistemku tetap tersendat sepersekian detik, seperti lampu yang berkedip setiap kali ada yang menyalakan mesin besar di rumah sebelah. Dara bilang lama-lama juga kebal. Dara salah. Dara belum pernah dipanggil “sayang” oleh orang yang pelit kata; ia tidak paham nilai tukarnya. Orang yang mengobral kata, sayang-nya receh. Orang ini—yang “hm”-nya saja bertingkat-tingkat artinya—kalau menyebut sayang, kata itu datang dengan seluruh berat badannya.
Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku dokter; aku percaya pada balas dendam berbasis riset.
Percobaan pertama gagal total. “Dimas sayang” — terlalu panjang, terdengar seperti menu paket, dan yang bersangkutan cuma menjawab “hm” tanpa gangguan sistem apa pun. Percobaan kedua lebih memalukan: “Beb” — kata itu bahkan tidak selesai keluar dari mulutku; di tengah jalan aku sendiri yang merinding, dan Dimas menoleh dengan alis yang bertanya kamu barusan mau muntah?, dan eksperimen dihentikan demi keselamatan bersama. Percobaan ketiga, “Pak Dimas” versi menggoda, malah membangkitkan memori masa perkenalan dan berakhir dengan kami berdebat soal definisi tukang kayu lagi.
“Nyerah aja,” saran Dara, yang kujadikan konsultan proyek. “Dia pegang senjata nuklir, kamu lempar-lempar kerikil.”
Aku hampir setuju—sampai risetku menemukan celahnya di hari Kamis, di workshop lagi, saat ia sedang mengukur papan dengan pensil tukang terselip di telinga.
“Mas.”
Pensil itu berhenti.
Bukan “Dimas”. Bukan “kamu”. Mas—satu suku kata, dilempar sambil lalu, sambil aku pura-pura sibuk membaca jurnal yang sama untuk kali keempat.
“...Hm?”
“Nggak. Cuma manggil.” Kubalik halaman yang tidak kubaca. “Nyoba aja. Efeknya gimana.”
Hening yang panjang. Aku menghitung—tentu saja aku menghitung, ini sudah cabang olahraga resmi kami—dan di detik ketujuh ia berdeham, membetulkan letak pensil di telinganya yang tidak perlu dibetulkan, dan kembali mengukur papan yang sama.
Dari posisi dudukku, aku bisa melihatnya dengan sempurna: garis pensil barunya miring.
Miring sekali.
“Efeknya bagus,” kataku pada jurnalku.
“Diem,” kata Dimas pada papannya.
Dari halaman, Kirana—yang murid-murid bonekanya sudah lama ditelantarkan demi menonton kami—menyimpulkan dengan suara penuh pada Mimi:
“Mi, catet. Ayah kalah.”
Perang itu tidak pernah dideklarasikan selesai. Ia hanya berubah bentuk, seperti semua hal di antara kami: dari senjata jadi bahasa.
Sebulan kemudian, “sayang” dan “Mas” sudah kehilangan status amunisinya dan menetap jadi kosakata harian—tapi dengan aturan tak tertulis yang kami berdua patuhi tanpa pernah membahasnya: dia memakai “sayang” untuk hal-hal remeh (obeng, payung, kunci gerbang) dan menyimpan “Alena” untuk kalimat-kalimat yang penting. Aku sebaliknya: “Mas” untuk sehari-hari, dan nama lengkapnya hanya keluar kalau aku serius—atau kesal, yang menurutnya “beda tipis, intonasinya doang”.
Sistem itu bekerja dengan satu efek samping yang tidak pernah hilang: di malam-malam tertentu, di workshop, ketika ia sedang fokus pada sambungan yang sulit dan aku di kursi pojokku dengan jurnal yang tidak kubaca, ia akan bergumam tanpa sadar—“sayang, tolong pegangin ujungnya”—dan aku akan berdiri, memegangi ujung papan itu, dan menghitung dalam hati sudah keberapa ratus kali kata itu diucapkan.
Masih tersendat. Setiap kali. Sepersekian detik.
Kuputuskan untuk tidak melapor. Ada kerusakan-kerusakan tertentu yang tidak perlu diperbaiki.
[Bersambung ke Bab 13 — “Kencan Pertama (Bertiga)”]