← Chapters Ch. 26 / 40

Chapter Twenty Six

Bunda

POV: Dimas


Perjanjian itu diajukan pada hari Minggu, jam sepuluh pagi, di meja makan, oleh pihak yang paling kecil dan paling siap.

Kami sedang sarapan—sarapan pertama sejak seminggu yang meja makannya kembali ke formasi asli, tiga kursi, tidak ada kursi ujung—ketika Kirana meletakkan sendoknya, turun dari kursi, dan kembali membawa buku gambar serta kotak spidolnya.

“Ayah. Tante. Kirana mau ngomong.”

Alena meletakkan cangkirnya. Aku meletakkan sendokku. Di rumah ini kami sudah belajar, dengan cara yang mahal, untuk berhenti bergerak setiap kali anak itu ingin bicara.

Kirana membuka buku gambarnya ke halaman kosong, meletakkan spidol hitam di sebelahnya, dan duduk dengan punggung tegak.

“Kirana mau bikin peraturan.”

“Peraturan,” ulangku.

“Kayak perjanjian.” Ia melirik Alena. “Kata Kakek, kalau ada dua orang mau kerja sama, harus ada perjanjian. Biar nggak ada yang lupa.”

“Kakek bilang gitu?”

“Waktu Kirana minta uang jajan tambahan pas di rumah Kakek. Kakek bilang harus ada perjanjian tertulis.” Ia mengibaskan tangan. “Kirana kalah waktu itu. Tapi ilmunya kepake.”

Alena menutup mulutnya dengan punggung tangan dan berpura-pura batuk.

“Oke,” kataku. “Sebut peraturannya.”

Kirana mengangkat satu jari.

“Nomor satu. Tante Alena boleh sayang sama Ayah.”

Ia menulis di kertas—huruf besar-besar, beberapa terbalik, memakan setengah halaman: “TANTE BOLE SAYANG AYAH.”

“Nomor dua.” Jari kedua naik. “Ayah boleh sayang Tante Alena.”

“AYAH BOLE SAYANG TANTE.”

“Nomor tiga.” Ia berhenti. Menarik napas. Dan jari ketiga naik pelan-pelan, seperti bendera yang penting. “Kirana nomor satu.”

Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi Alena lebih cepat—dan yang ia lakukan bukan menjawab. Ia mengangkat tangan.

“Boleh Tante ngasih usul buat nomor tiga?”

Kirana menyipit, waspada seperti negosiator berpengalaman. “Usul apa?”

“Nomor tiga-nya diganti.” Alena mencondongkan badan. “Bukan ‘Kirana nomor satu’. Tapi: ‘Kirana nomor satunya Ayah, dan Kirana juga nomor satunya Tante.’

Hening.

“...Kok bisa dua?”

“Karena Tante juga punya daftar sendiri,” kata Alena. “Dan di daftar Tante, Kirana juga nomor satu. Sejak lama. Sejak sebelum Tante pacaran sama Ayah.”

“Sejak kapan?”

“Sejak Kirana kasih Tante gambar bulu mata dua belas helai.”

Kirana menatapnya. Lalu ia menunduk ke buku gambarnya dan mulai menulis dengan tekanan spidol yang membuat kertasnya hampir robek:

“KIRANA NOMOR SATU AYAH. KIRANA NOMOR SATU TANTE JUGA.”

“Nomor empat,” lanjutnya, suaranya sudah lebih ringan. “Pojok Mama nggak boleh diturunin. Selamanya. Walaupun pindah rumah.”

“POJOK MAMA JANGAN DITURUNIN.”

“Nomor lima.” Ia melirikku. “Ayah harus cerita soal Mama minimal seminggu sekali. Ceritanya harus baru. Nggak boleh diulang-ulang.”

Kerongkonganku menyempit. “...Deal.”

“AYAH HARUS CERITA MAMA TIAP MINGGU.”

“Nomor enam.” Kirana meletakkan spidolnya. “Kalau ada yang takut, harus bilang. Nggak boleh disimpen sendiri sampai teriak-teriak.”

Ruangan itu hening lagi, dan kali ini heningnya berat.

“Itu buat Kirana,” katanya, “sama buat Ayah sama Tante juga. Semuanya. Sama rata.”

Alena mengulurkan tangan melewati meja dan menggenggam tangan kecil itu.

“Deal,” katanya. “Itu peraturan paling bagus di seluruh perjanjian ini.”

“KALO TAKUT HARUS BILANG.”

Lalu Kirana menyodorkan spidol.

“Tanda tangan.”

Kami bertiga menandatangani halaman itu: aku dengan tanda tangan biasa, Alena dengan tanda tangan dokternya yang tidak terbaca, dan Kirana dengan namanya sendiri huruf per huruf plus gambar bintang kecil di sebelahnya.

“Sekarang sah,” umumnya.

“Ditempel di mana?” tanya Alena.

Kirana sudah berdiri dan berjalan ke kulkas, menggeser dua gambar lama untuk memberi ruang di tengah—ruang yang, aku baru sadar, sudah ia kosongkan berbulan-bulan lalu dan tidak pernah ia isi.

“Di sini,” katanya. “Biar tiap hari kelihatan.”


Minggu itu berjalan seperti tanggul yang jebol ke arah yang benar.

Kepang kembali jam setengah tujuh—dan hari Senin, Kirana meminta model kepang yang paling susah “biar Tante lama”. Kursi ujung ditinggalkan. Rawon percobaan keenam dimasak Selasa malam dan dihabiskan dua mangkuk oleh juri yang paling galak di rumah ini, dengan komentar akhir: “sembilan. Kurangnya satu karena Kirana pengen nambah tapi udah habis.”

Dan setiap malam sebelum tidur, sesuai pasal lima, aku bercerita.

Cerita tentang Mama-nya yang tidak bisa membedakan kunyit dan jahe. Cerita tentang Mama-nya yang menangis nonton iklan asuransi. Cerita tentang malam ia lahir, dan bagaimana ibunya—yang baru saja melewati dua belas jam yang tidak akan pernah kuceritakan detailnya—menatap wajahnya lalu berkata, dengan suara habis: “Dim, lihat. Cahayanya beneran keluar.”

Kirana meminta cerita itu diulang tiga malam berturut-turut, meskipun pasal lima melarang pengulangan.

“Ini pengecualian,” katanya. “Yang bikin peraturan boleh bikin pengecualian.”


Malam Jumat, seminggu setelah perjanjian, Alena menginap lagi.

Bukan karena mati lampu kali ini. Karena hujan deras dan besok Sabtu dan Kirana meminta—memaksa, tepatnya, dengan argumen berlapis yang melibatkan pasal-pasal—supaya “Tante bobo di sini lagi kayak waktu itu”.

Formasinya sama: Kirana dan Alena di kamar berbintang empat puluh tujuh, aku di ujung lorong.

Jam sembilan lewat, aku lewat depan kamar itu untuk mengecek jendela, dan pintunya terbuka setengah, dan lampu tidurnya menyala redup.

Aku berhenti.

Di dalam, Alena duduk bersandar di kepala kasur dengan buku cerita di pangkuan, dan Kirana meringkuk di sebelahnya, kepalanya di lengan Alena, matanya sudah tinggal seperempat terbuka.

“...terus rubahnya bilang, kamu harus pulang, karena rumah itu bukan tempat, tapi orang,” Alena membacakan, suaranya pelan.

“Hm,” gumam Kirana.

“Terus?”

“Terus rubahnya pulang.” Kirana menguap lebar. “Udah, Tante. Kirana ngantuk.”

“Oke.” Buku ditutup. “Selamat tidur, sayang.”

Alena menarik selimut sampai bahu anak itu, membetulkan Mimi ke posisi pelukan yang benar—sudah hafal—lalu bergeser hendak turun dari kasur.

Dan tangan kecil itu keluar dari selimut dan menangkap ujung bajunya.

“Bunda.”

Suaranya kecil, serak, setengah tenggelam di bantal, keluar dari mulut anak yang sembilan puluh persen sudah tidur.

Dunia berhenti berputar di lorong itu.

Aku melihat Alena membeku. Benar-benar membeku—punggungnya kaku, tangannya berhenti di udara di atas selimut, dan tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang bergerak selama tiga detik penuh.

“...Ya, sayang,” katanya akhirnya. Suaranya nyaris tidak ada.

“Besok kepangnya yang susah lagi ya.”

“Iya.”

“Yang ada pitanya.”

“Iya.”

“Janji?”

“Janji.”

“Mmh.” Kirana berputar, memeluk Mimi lebih erat, dan napasnya berubah panjang-panjang dalam sepuluh detik berikutnya.

Alena duduk di tepi kasur itu tanpa bergerak sedikit pun.

Lalu ia menunduk. Bahunya naik sekali. Turun. Naik lagi.

Aku masuk—tidak sempat berpikir, kakiku yang bergerak—dan ia mengangkat wajah melihatku dan langsung berdiri dan menabrak dadaku, dan aku menangkapnya seperti selalu, dan ia menangis di sana dengan mulut ditutup telapak tangannya sendiri supaya tidak ada suara yang membangunkan siapa pun.

Kubawa dia keluar. Kututup pintu kamar itu pelan-pelan sampai bunyi klik-nya nyaris tidak ada.

Di lorong, ia akhirnya melepaskan suaranya—tangisan yang tertahan tujuh hari, mungkin tujuh bulan, mungkin lebih—dan aku memeluknya di sana, di antara dua pintu kamar, dengan lampu lorong yang tidak kunyalakan.

“Dia manggil aku—” napasnya putus, “—Dimas, dia manggil aku—”

“Aku denger.”

“Aku nggak minta. Sumpah aku nggak pernah minta. Aku nggak pernah sekali pun—”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan udah siap kalau seumur hidup dia manggil aku Tante. Aku beneran udah siap, aku udah bilang ke diriku sendiri berkali-kali, nggak apa-apa Alena, nama itu nggak penting, yang penting—” ia menggeleng di dadaku, “—dan sekarang dia bilang gitu aja, sambil setengah tidur, kayak itu hal biasa—”

“Buat dia emang biasa,” kataku ke rambutnya. “Itu yang bikin susah, kan.”

Ia terisak lebih keras.

Aku memegangi kepalanya dan menatap pintu kamar yang tertutup itu—kamar dengan empat puluh tujuh bintang di langit-langitnya, tempat seorang anak enam tahun barusan menyelesaikan sesuatu yang tidak sanggup diselesaikan dua orang dewasa selama tujuh bulan—dan aku sendiri harus menelan berkali-kali supaya bisa terus berdiri tegak.

Ketika tangisnya mereda, kami duduk di lantai lorong, bersandar di dinding, bahu bertemu bahu, seperti dua orang yang baru selesai mengangkat sesuatu yang berat.

“Besok gimana?” bisiknya. “Kalau besok dia bangun terus manggil Tante lagi?”

“Ya berarti Tante.”

“Terus aku harus gimana?”

“Nggak gimana-gimana.” Kuremas tangannya. “Dia yang nentuin, Alena. Dari awal dia yang nentuin. Kamu tinggal ada di situ pas dia butuh, kayak yang kamu lakuin tujuh bulan terakhir.”

Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Aku takut ini kebetulan,” katanya pelan. “Aku takut dia ngigau doang.”

“Hm.”

“Itu ‘hm’ yang mana?”

Kupikirkan sebentar.

“Yang artinya: orang ngigau itu nyebut yang paling dalam.”


Besok paginya, jam setengah tujuh, aku menyeduh dua cangkir seperti biasa dan meletakkannya di undakan.

Alena datang dengan wajah yang jelas kurang tidur dan jelas berusaha terlihat biasa saja. Kirana keluar setelahnya, membawa sisir dan pita—pita yang kemarin dijanjikan—dan duduk di undakan bawah.

Aku menahan napas. Alena, kutahu tanpa melihat, juga.

“Tante,” kata Kirana.

Bahu Alena turun sedikit. Cuma sedikit. Ia tersenyum dan mengambil sisir itu.

“Ya, Bu Asisten.”

“Kirana boleh nanya nggak.”

“Boleh.”

Kirana memutar badan menghadapnya, memegang pita itu dengan dua tangan, dan bertanya dengan nada yang sangat biasa—nada anak menanyakan menu makan siang:

“Kalau Kirana panggil Tante ‘Bunda’, Tante keberatan nggak?”

Sisir itu jatuh ke undakan.

“Soalnya,” lanjut Kirana, cepat, seperti sudah menyiapkan pembelaannya, “‘Mama’ itu udah ada yang punya. Kirana nggak mau nuker. Tapi ‘Tante’ itu... ‘Tante’ itu buat orang yang cuma dateng sekali-sekali. Tante Sekar itu tante. Tante Dara itu tante.” Ia menunduk ke pita di tangannya. “Tante Alena bukan yang sekali-sekali.”

Alena menutup mulutnya dengan tangan.

“Jadi Kirana nyari nama yang belum ada yang punya,” kata Kirana. “Kirana mikirnya dari kemarin-kemarin. Bunda kayaknya cocok.”

Ia mendongak.

“Boleh nggak?”

Dan Alena—yang sepanjang tujuh bulan ini selalu punya kalimat, yang bisa menaklukkan anak paling galak sedunia dalam sebelas menit, yang berani menembak duluan di lobi kliniknya sendiri—cuma sanggup mengangguk. Berkali-kali. Tanpa suara.

“Oke,” kata Kirana, puas, dan memutar badannya kembali menghadap halaman. “Sekarang kepang. Yang susah. Yang ada pitanya.”

Alena memungut sisir itu dari undakan dengan tangan yang gemetar hebat, dan mulai bekerja.

Dan aku berdiri di ambang pintu dengan cangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi, menonton dua orang di undakan terasku itu, dan tidak berusaha sedikit pun menghapus apa pun yang jatuh dari mataku.

Di halaman, rute senam pagi lewat.

Delapan ibu-ibu berjalan pelan sekali di depan pagar kami, seperti biasa, siap memotret apa pun.

Tidak satu pun dari kami peduli.


Ada satu kejadian lagi hari itu yang layak dicatat, dan aku baru mengetahuinya sore harinya dari sumber yang sangat bisa dipercaya, yaitu pelakunya sendiri.

Siang itu Kirana kusuruh membeli kecap ke warung Bu Yayuk. Kecap, lagi. Di rumah ini kecap memang menyimpan peran struktural.

Di warung, ternyata, sedang ada Bu Ningsih.

Menurut laporan Kirana—yang disampaikan di meja makan dengan mulut penuh, tanpa merasa sedang menyampaikan sesuatu yang luar biasa—kejadiannya begini:

“Terus Bu Ningsih nanya, ‘Kirana sama siapa?’ Terus Kirana bilang, ‘Sendiri, disuruh Bunda.’ Terus Bu Ningsih bilang, ‘Bunda siapa?’ Terus Kirana bilang, ‘Bunda Alena, yang rumahnya sebelah.’”

Sendok Alena berhenti di udara.

“Terus?” tanyaku, hati-hati.

“Terus Bu Ningsih diem. Terus mukanya gitu.” Kirana memperagakan sebuah ekspresi yang tidak bisa kudeskripsikan tapi bisa kupahami sepenuhnya. “Terus dia bilang, ‘Oh, udah dipanggil Bunda ya sekarang.’ Terus Kirana bilang: ‘Iya. Kirana sendiri yang nyuruh. Bukan Bunda yang minta.’”

Alena menutup wajahnya dengan tangan.

“Terus Kirana bilang lagi,” lanjut Kirana, menyendok nasi dengan tenang, “‘Mama Kirana tetep Mama. Fotonya banyak sekarang, ada empat belas, Bu Ningsih mau lihat nggak? Di ruang tengah. Nggak diturunin, malah ditambahin.’”

Aku meletakkan sendokku.

“Kamu bilang gitu?”

“Iya. Kenapa? Kan bener.”

“Terus Bu Ningsih jawab apa?”

“Nggak jawab apa-apa. Dia beli gula terus pulang.” Kirana mengangkat bahu—gerakan yang, dengan horor, kusadari adalah gerakanku sendiri. “Tapi Bu Yayuk ketawa kenceng banget terus ngasih Kirana permen dua.”

Di seberang meja, Alena menunduk ke piringnya dengan bahu bergetar, dan aku tidak bisa memastikan apakah itu tawa atau tangis, dan kesimpulanku setelah tujuh bulan bersamanya: dua-duanya, biasanya.

“Kirana,” kataku.

“Iya?”

“Habis makan, Ayah cerita satu lagi soal Mama. Yang belum pernah.”

“Yang mana?”

“Yang waktu Mama debat sama tukang parkir di pasar selama dua puluh menit soal ongkos seribu rupiah. Dan menang.”

Kirana meletakkan sendoknya. “Mama menang?”

“Mama selalu menang,” kataku. “Kamu juga kayaknya.”


[Bersambung ke Bab 27 — “Kunjungan Bu Ratna”]