← Chapters Ch. 30 / 40

Chapter Thirty

Sebulan Bolak-Balik

POV: Dimas


Selasa pertama, jam lima pagi, dua orang mengantarku ke pagar.

Kirana masih memakai piyama, rambut belum disisir, dan matanya setengah terbuka karena jam segini bahkan ayam belum sepakat untuk bangun. Alena memegangi bahunya dari belakang, sudah berpakaian rapi—ia menginap semalam untuk memastikan aku tidak diam-diam membatalkan segalanya di menit terakhir, dan aku tidak akan menyangkalnya karena tuduhan itu benar.

“Ayah.”

“Hm.”

“Absen.” Kirana mengangkat tangannya, jari-jari terbuka. “Satu: dompet.”

Kutepuk saku belakang. “Ada.”

“Dua: HP.”

“Ada.”

“Tiga: charger. Ini yang paling sering lupa.”

“Ada.”

“Empat—” ia menurunkan tangan, dan suaranya berubah, “—empat, pulang Kamis.”

Kujongkokkan badanku sampai mataku sejajar matanya.

“Kamis,” kataku. “Sore. Sebelum makan malam.”

“Janji jari kelingking.”

Kami mengaitkan kelingking. Itu prosedur baru; sebelum bulan ini kami tidak pernah membutuhkannya.

Lalu ia memelukku, cepat sekali, lalu mundur dan berkata dengan gaya orang dewasa yang sedang menutup rapat: “Ya udah. Sana. Nanti telat.”

Aku berdiri dan menghadap Alena.

“Kalau ada apa-apa—”

“Aku telepon.”

“Nomor Bu Ratna—”

“Ada di kulkas. Sama nomor sekolah, nomor dokter anaknya Kirana, nomor Pak Harun, dan nomor tukang gas.” Ia melipat tangan. “Kamu tulis semuanya semalem pakai spidol permanen di kertas segede kalender, Dimas. Aku nggak akan kehilangan.”

“Kalau lampu bintangnya mati—”

“Baterainya di laci kedua meja belajar. Yang bulat besar.”

“Kalau—”

“Dimas.” Ia melangkah maju, memegang kedua sisi wajahku, dan mencium bibirku di depan pagar, jam lima pagi, dengan anak enam tahun yang langsung berseru “IH” di belakangnya dan sama sekali tidak menutup mata.

“Berangkat,” katanya. “Kami baik-baik aja.”


Aku tidak baik-baik saja.

Bukan Jakarta-nya. Jakarta cuma kota; studionya bagus, timnya profesional, dan direktur kreatifnya perempuan berumur lima puluhan yang bicara tentang serat kayu dengan cara yang membuatku merasa akhirnya bertemu sesama penduduk asli.

Kerjanya menyenangkan. Itu masalahnya. Kerjanya menyenangkan, dan aku benci bahwa aku menikmatinya, karena setiap kali aku menikmatinya, ada suara kecil di kepalaku yang berkata: anakmu di rumah dan kamu di sini sedang senang.

Hari pertama aku tidur di apartemen sewaan yang disediakan mereka. Kamar bersih, kasur bagus, sunyi total.

Aku terbangun jam tiga pagi karena sunyi.

Empat tahun aku tidur dengan telinga separuh terjaga: mendengarkan napas anak di kamar sebelah, bunyi ia berputar di kasur, batuk kecilnya. Delapan bulan terakhir ditambah satu lagi: bunyi keran di rumah sembilan meter dari situ, jam sebelas malam, tanda seseorang pulang dengan selamat.

Di apartemen itu tidak ada apa-apa. Cuma dengung AC.

Aku duduk di tepi kasur sampai jam empat, lalu menyerah dan membuka laptop, dan bekerja sampai subuh.


Ritual video call dimulai malam pertama, jam delapan, dan berlangsung setiap malam selama empat minggu tanpa satu pun bolong.

Formatnya baku setelah malam ketiga:

Delapan menit pertama: laporan Kirana. Disampaikan sambil ia berbaring tengkurap di kasur dengan dagu di bantal dan kamera terlalu dekat sampai yang terlihat cuma satu mata dan sebagian hidung. Isi laporan: kejadian sekolah, perkembangan gigi, sengketa dengan Rara (ada, hampir tiap minggu, selalu selesai dalam dua hari), dan penilaian masakan.

“Bunda hari ini masak ayam kecap. Delapan setengah. Kurangnya soalnya kecapnya kebanyakan.”

“Bunda-nya denger nggak?”

“Denger,” kata suara dari luar bingkai. “Bunda-nya juga setuju, kok. Kecapnya emang kebanyakan.”

Sepuluh menit kedua: laporan Alena. Ini bagian yang paling kutunggu dan tidak akan pernah kuakui. Ia bercerita sambil melakukan sesuatu—melipat baju, mencuci gelas—dan ponselnya disandarkan miring sehingga aku melihat dapurku sendiri dari sudut yang tidak pernah kulihat seumur hidup.

Rumahku dari kejauhan, dihuni orang lain, sedang berfungsi tanpa aku.

Itu seharusnya membuatku merasa tidak diperlukan. Anehnya yang kurasakan sebaliknya.

Dua menit terakhir: penutupan. Kirana selalu memberi salam pada layar dengan telapak tangan menempel ke kamera—“tos jarak jauh”—dan aku menempelkan telapak tanganku ke layarku, dan setiap kali aku melakukannya aku merasa bodoh dan tetap melakukannya dua puluh delapan malam berturut-turut.


Paket pertama datang di hari keempat.

Kurir mengantarkannya ke studio. Kotak kardus kecil, ringan, dengan alamat pengirim ditulis tangan.

Isinya: dua puluh satu lembar sticky note.

Dua puluh satu, satu untuk setiap hari aku akan berada di Jakarta selama sebulan ini, masing-masing ditempel di kertas HVS terpisah dan diberi nomor, dengan instruksi di lembar teratas:

“Satu per hari. JANGAN dibaca sekaligus. Aku tahu kamu orangnya nggak sabaran walaupun mukanya sabar. — A.”

Aku membaca tiga sekaligus di hari pertama, karena aku memang tidak sabaran, dan merasa bersalah, dan kembali ke jadwal satu per hari setelahnya.

Nomor 5: “Kirana ngigau tadi malam. Katanya ‘jangan diambil, itu punya Kirana’. Aku nggak tahu apa yang diambil. Tapi dia senyum habis itu, jadi kayaknya menang.”

Nomor 9: “Hari ini aku pakai bajumu buat tidur. Yang flanel biru. Nggak usah komentar. Nggak akan kubalikin.”

Nomor 14: “Aku baru sadar rumahku nggak kutinggalin selama 2 minggu. Cuma buat ambil baju. Aku bayar listrik rumah yang nggak ada orangnya. Ini keuangan yang buruk dan aku nggak peduli.”

Nomor 17: “Kadang aku berdiri di depan Pojok Mama pas Kirana udah tidur. Nggak ngapa-ngapain. Cuma berdiri. Kayaknya aku lagi ngobrol tapi nggak ada kata-katanya. Kamu ngerti nggak sih maksudku? Kamu pasti ngerti.”

Nomor 21, yang kubaca di kamar apartemen pada malam terakhir sebelum minggu terakhir: “Besok kamu pulang buat terakhir kalinya sebagai orang yang bolak-balik. Aku nggak tahu kenapa aku sedih. Harusnya seneng, kan? Nanti kalau ketemu aku ceritain. Atau nggak usah. Nanti kita lihat.”

Kusimpan semuanya di kantong depan tasku, dan pulang setiap Kamis dengan dua puluh satu lembar kertas kuning yang beratnya tidak masuk akal.


Yang tidak kuceritakan pada siapa pun—tidak pada Alena, tidak pada Raka yang menelepon dua kali seminggu untuk menertawakanku—adalah apa yang terjadi di dalam kepalaku pada minggu ketiga.

Selasa malam, jam sebelas, di apartemen itu.

Video call sudah selesai. Kirana sudah tidur. Semuanya baik. Proyeknya berjalan lancar, lini pertama hampir selesai, dan direktur kreatif itu bahkan sudah menyinggung kemungkinan kontrak tahunan.

Dan aku duduk di tepi kasur di kamar sewaan, memegangi ponselku, dan tiba-tiba tidak bisa bernapas.

Bukan kiasan. Dadaku menyempit, tanganku dingin, dan selama mungkin empat menit aku duduk di sana dengan jantung yang berdetak seperti orang yang baru lari, sementara di kepalaku berputar satu pikiran yang datang entah dari mana:

Bagaimana kalau ada yang terjadi dan aku tidak di sana.

Kepalaku memutar kemungkinannya dengan detail yang tidak kuminta. Kirana. Alena. Jalan raya. Rumah. Api. Angka-angka jarak: enam ratus kilometer, satu jam penerbangan ditambah dua jam total kalau lancar, tapi tengah malam tidak ada penerbangan, jadi delapan jam darat, jadi kalau ada sesuatu jam sebelas malam aku baru sampai jam tujuh pagi—

Empat tahun lalu aku ada di rumah sakit itu. Aku ada di sana. Aku memegang tangannya. Aku sudah melakukan segala hal yang benar, semua prosedur, semua jadwal kontrol, semua obat tepat waktu.

Dan tetap saja.

Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada diriku sendiri kalau bisa dihindari: bahwa yang paling menghancurkan bukan kehilangannya. Yang paling menghancurkan adalah menyadari bahwa aku sudah melakukan semuanya dengan benar, dan itu tidak cukup, dan tidak ada satu pun ukuran di dunia ini yang bisa menjamin apa pun.

Aku menghabiskan empat tahun membangun sistem yang rapi supaya tidak perlu mengingat itu. Bangun pagi, masak, antar, kerja, jemput, masak, tidurkan, kerja lagi. Terukur. Terkendali.

Dan delapan bulan terakhir, sistem itu diisi oleh seseorang yang membuat semuanya jauh lebih baik dan—inilah bagian yang membuatku tidak bisa bernapas malam itu—jauh lebih banyak yang bisa hilang.

Aku menelepon Alena jam setengah dua belas.

Ia mengangkat di dering kedua, suaranya serak. “Dimas? Kenapa?”

“Nggak papa.”

“Jam setengah dua belas ‘nggak papa’?”

“Aku cuma—” kutekan pangkal hidung. “Kamu di rumah?”

“Di rumahmu. Kirana di sebelahku. Napasnya bunyi kayak biasa.” Jeda. “Kamu mau denger?”

Dan perempuan itu, tanpa bertanya lebih jauh, mendekatkan ponselnya ke arah anak yang sedang tidur, dan selama tiga puluh detik penuh aku mendengarkan napas putriku lewat sambungan telepon dari jarak enam ratus kilometer.

“Udah?” bisiknya.

“Udah.”

“Dimas.”

“Hm.”

“Pasal enam.”

Aku menutup mata. “Aku tahu.”

“Kamu nggak harus cerita sekarang. Tapi kamu harus cerita.”

“Kalau aku pulang,” kataku. “Nanti. Kalau proyeknya selesai.”

Hening di seberang.

“Oke,” katanya akhirnya. “Aku pegang janjinya.”


Kamis terakhir. Minggu keempat. Proyek selesai—lini pertama diserahkan, kontraknya ditandatangani, direktur kreatif itu memelukku di studio dan berkata “sampai ketemu tahun depan” dengan nada yang bukan basa-basi.

Aku naik penerbangan sore.

Rencananya kupesan taksi bandara. Aku sudah mengirim pesan: “Mendarat 17.40. Jangan jemput, macet. Aku naik taksi.”

Balasannya: “Oke.”

Perempuan itu berbohong, tentu saja.


Bandara sore hari penuh sesak. Aku keluar dari pintu kedatangan dengan satu ransel dan satu koper kabin, mencari papan penunjuk taksi, memindai kerumunan penjemput dengan kertas nama—

Dan mendengar suara yang bisa kukenali dari jarak satu kilometer di tengah badai.

“AYAAAAAH!”

Kirana berlari menembus kerumunan dengan kecepatan yang membuat dua orang harus mengelak. Rambutnya dikepang dengan pita. Ia menabrak kakiku dan memanjat naik seperti kera sebelum aku sempat meletakkan ransel.

“AYAH PULANG! BENERAN! JANJI JARI KELINGKINGNYA JADI!”

Kuangkat dia dengan satu lengan, dan koper kabinku jatuh ke lantai dan digelindingkan sendiri oleh nasib ke arah kaki orang lain, dan aku sama sekali tidak peduli.

Lalu aku mengangkat wajah.

Alena berdiri sepuluh langkah di belakangnya. Berhenti. Napasnya juga habis—ia jelas ikut berlari dan kalah cepat.

Dan ia menatapku, dan aku menatapnya, di tengah kerumunan bandara dengan pengumuman keberangkatan yang menggema di langit-langit.

Empat minggu. Dua belas malam terpisah. Dua puluh satu lembar kertas kuning.

Ia menyeberangi sepuluh langkah itu dan menabrakku—dan aku menangkapnya dengan lengan yang satunya, dengan seorang anak masih di lengan yang lain, dan berdiri di tengah aula kedatangan memeluk dua orang sekaligus sementara orang-orang di sekitar kami melambat dan menoleh dan tersenyum dengan senyum yang dilemparkan orang asing kepada orang asing lain di bandara.

“Kamu bilang jangan jemput,” kataku di rambutnya.

“Aku bilang ‘oke’,” jawabnya di dadaku. “‘Oke’ itu bukan ‘iya’.”

“Itu manipulasi bahasa.”

“Itu profesi hukum. Papaku hampir jadi pengacara sebelum jadi dokter.” Ia mendongak. Matanya basah dan ia tidak berusaha menutupinya. “Selamat pulang.”

Dan aku mencium perempuan itu di tengah aula kedatangan, dengan putriku di lengan sebelah yang langsung berseru “IH, DI TEMPAT UMUM” dengan volume penuh sehingga tiga rombongan penjemput menoleh serentak—

—dan seseorang di dekat kami, entah siapa, bertepuk tangan.


Di mobil, dalam perjalanan pulang, Kirana tertidur di jok belakang sebelum tol pertama.

Alena menyetir. Aku memandangi jalan.

“Proyeknya gimana?” tanyanya.

“Selesai. Mereka mau lanjut tahun depan.”

“Wah.” Ia melirikku. “Kamu mau?”

“Mau.” Kujawab tanpa jeda, dan kaget sendiri betapa mudahnya. “Tapi negosiasi ulang. Bolak-baliknya kurangi. Sebulan sekali maksimal.”

“Kenapa?”

Kupandangi kaca spion, ke jok belakang, ke anak yang tidur dengan kepala miring dan mulut terbuka.

Lalu ke perempuan yang sedang menyetir mobilnya sendiri sambil membawa pulang keluargaku.

“Karena aku nggak suka jauh,” kataku.

Alena tidak menjawab. Tapi tangannya lepas dari tuas persneling dan mencari tanganku, dan menemukannya, dan tidak melepaskannya sampai tol berikutnya.

Malam itu aku tidur di kamarku sendiri, dengan bunyi napas anak di kamar sebelah dan bunyi keran dari rumah sembilan meter di seberang, dan untuk pertama kalinya dalam empat minggu aku tidur tanpa terbangun jam tiga.

Dan besoknya, semuanya mulai runtuh.


[Bersambung ke Bab 31 — “Terakhir Kali Aku Sebahagia Ini”]