Chapter Eight
Demam
POV: Dimas
Aku tahu ada yang salah dari hal paling sepele: jam tujuh lewat sepuluh, kursi ketiga di meja makanku masih kosong.
Alena tidak pernah telat makan malam. Ia bisa telat segala hal lain—pernah datang jam tujuh lewat dengan setengah berlari sambil menenteng sepatu karena “pasien terakhir dramanya panjang”—tapi tidak pernah tanpa kabar. Malam ini: tidak ada langkah di halaman, tidak ada bunyi gerendel, tidak ada pesan.
“Tante mana?” Kirana sudah bertanya tiga kali, dan sup ayamnya mulai kehilangan asap.
“Mungkin lembur.” Kucek ponsel lagi. Pesanku satu jam lalu—“Menu malam ini sup. Jam tujuh.”—masih bercentang satu.
Centang satu. Alena, yang ponselnya menempel di tangan seperti organ tambahan, centang satu selama satu jam.
Jam setengah delapan, aku menyerah pada perasaan tidak enak yang sejak tadi duduk di tengkuk. “Kirana. Habisin supnya. Ayah mau nengok sebelah.”
“Kirana ikut.”
“Habisin dulu.”
“Kirana bawa supnya buat Tante aja sekalian—”
“Kirana.” Ia menangkap nada itu—nada yang jarang kupakai—dan langsung duduk manis, meski matanya mengikutiku sampai pintu.
Rumah sebelah gelap. Bukan gelap kosong—mobilnya ada di carport. Gelap yang lain: gelap rumah yang penghuninya ada di dalam tapi tidak menyalakan apa-apa.
Aku mengetuk pintu depan. Sekali. Dua kali. Menekan bel.
Hening.
“Alena.”
Hening.
Kuputari rumah lewat sisi pagar kami, ke pintu belakang dapurnya. Terkunci. Tapi dari jendela dapur, lewat celah gorden yang tidak rapat, aku bisa melihat ke dalam ruang tengah yang remang oleh sisa cahaya jalan: ada tas kerja tergeletak di lantai dekat sofa. Bukan diletakkan. Tergeletak, isinya setengah tumpah. Dan di sofa, sesuatu yang bentuknya—
Tanganku sudah menggedor jendela sebelum otakku merampungkan kalimat. “ALENA.”
Bentuk di sofa itu bergerak. Sedikit. Satu tangan terangkat lemah, seperti mau menjawab, lalu jatuh lagi.
Yang kuingat berikutnya berlangsung cepat dan tanpa urutan yang jelas: kunci serep yang pernah ia titipkan “buat jaga-jaga kalau aku ketinggalan kunci” kusambar dari laci dapurku—Kirana mengekor sampai pagar dan kusuruh tunggu di teras dengan tugas resmi “jagain dua rumah”—pintu depan rumah Alena terbuka—saklar—terang.
Ia meringkuk di sofa, masih setengah berseragam klinik, blazer putihnya cuma lepas sebelah lengan, seperti tumbang di tengah gerakan membukanya. Wajahnya pucat dengan rona merah tidak wajar di pipi. Ketika kusentuh dahinya, telapak tanganku langsung tahu sebelum termometer mana pun bicara: panas. Panas yang serius.
“Alena. Hei.”
Matanya membuka separuh. Butuh dua detik untuk fokus, dan ketika berhasil, hal pertama yang keluar dari mulutnya, serak dan pelan, adalah:
“...Kamu masuk pakai apa.”
“Kunci serep.”
“Itu buat... kalau aku ketinggalan kunci...”
“Kamu ketinggalan kesadaran. Masih satu rumpun.” Kuraih lengan blazer yang setengah lepas itu, membantunya keluar dari sana. “Dari jam berapa begini?”
“Tadi... siang mulai nggak enak. Pasien penuh. Kukira... masuk angin.” Ia mencoba duduk, gagal di percobaan pertama, dan harga dirinya cukup sehat untuk mencoba lagi—gagal lagi—sebelum akhirnya membiarkan tanganku menahan punggungnya. “Nyampe rumah... niatnya rebahan bentar.”
“Bentar-mu dua jam. Udah makan?”
Jeda.
“Alena.”
“...Pagi. Roti.”
Aku menarik napas panjang, panjang sekali, supaya yang keluar dari mulutku berikutnya tetap berbentuk kalimat dan bukan ceramah berjilid. “Oke. Urutannya: termometer, makan, obat. Jangan protes.”
“Nggak akan protes.” Matanya sudah setengah tertutup lagi, tapi sudut bibirnya sempat naik. “Nggak ada... tenaga buat protes. Nikmatin aja selagi bisa.”
Bahkan tumbang pun masih sempat begitu. Aku menyerah dalam diam, menyelimutinya sampai dagu dengan selimut yang kuambil dari kamarnya—kamar yang rapi dengan satu pengecualian: mangkuk kecil di meja rias berisi karet rambut merah yang kukenal, dan aku memutuskan untuk tidak memproses temuan itu sekarang, tidak sanggup, satu darurat satu waktu—lalu kembali ke rumah untuk mengambil logistik.
Kirana menyambutku di teras dengan wajah petugas jaga yang minta laporan. “Tante kenapa?”
“Demam. Kayak Kirana waktu itu.”
“Tiga sembilan koma dua?”
“Belum tahu. Ayah mau ngukur.”
Kirana berpikir sebentar, lalu berlari masuk dan kembali membawa Mimi. “Bawa. Waktu itu Mimi yang nyembuhin Kirana.” Ia menyodorkannya dengan wajah serius seorang apoteker menyerahkan obat keras. “Tapi besok balikin.”
Termometer bilang 38,9.
Aku menghabiskan satu jam berikutnya menjalankan protokol yang empat tahun terakhir kuhafal di luar kepala, hanya kali ini pasiennya bukan dua puluh kilo melainkan seorang dokter dewasa yang kooperatifnya cuma sedikit di atas Kirana: bubur dari beras yang untungnya ada di dapur perawan itu (satu-satunya bahan makanan selain roti dan tujuh jenis saus), kompres hangat, parasetamol dari kotak obatnya sendiri yang isinya lebih lengkap dari apotek—“aku tenaga medis,” gumamnya diprotes, “obatku lengkap, yang nggak ada cuma... niat masaknya”—dan air putih yang harus kutagih tegukannya seperti menagih cicilan.
Ia makan setengah mangkuk bubur dengan mata setengah terpejam, sempat berkomentar “buburmu enak, nyebelin banget” dengan sisa tenaganya, lalu tidur betulan di sofa yang menolak ia tinggalkan karena “kamar jauh”—jaraknya sembilan meter.
Jam sebelas, demamnya turun ke 38,1.
Sekitar jam setengah dua belas, terjadi insiden yang tidak akan pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada yang bersangkutan.
Aku sedang mengganti kompres di dahinya ketika ia menggeliat sedikit, masih tidur, alisnya bertaut seperti sedang berdebat dengan seseorang di dalam mimpinya. Lalu, dengan suara serak setengah sadar yang jelas tidak melewati satu pun pos pemeriksaan:
“...Jangan pulang dulu.”
Tanganku berhenti di atas dahinya.
“Aku nggak pulang,” jawabku pelan, setelah memastikan suaraku sendiri bisa dipercaya. “Kompres dulu.”
“Hm,” gumamnya—dia, memakai kamusku, bahkan dalam demam—dan wajahnya melunak, alisnya melepas debatnya, dan ia tenggelam lagi ke tidur yang lebih dalam dengan sebelah tangan bergerak pelan mencari sesuatu di udara sebelum jatuh melorot dari tepi sofa.
Aku duduk kembali ke lantai dan memandangi langit-langit rumah orang selama beberapa menit, menata ulang isi dada yang barusan diacak-acak tiga kata oleh orang yang bahkan tidak sadar mengucapkannya.
Jangan pulang dulu.
Empat tahun tidak ada yang mengatakan itu padaku. Empat tahun aku yang selalu jadi rumah tempat orang lain pulang—Kirana, pesanan-pesanan, hidup yang ringkas itu. Tidak ada yang pernah memintaku tinggal.
Kupegang tangan yang melorot itu. Supaya tidak jatuh. Murni supaya tidak jatuh.
Jam dua belas, 37,8, dan napasnya mulai panjang-panjang.
Aku duduk di lantai, bersandar di kaki sofa, dengan niat awal “tunggu sampai turun di bawah 37,5 baru pulang”. Kirana sudah kupindahkan tidur di rumah sejak jam sembilan—ia menyerah pada kantuk setelah negosiasi alot yang berakhir dengan perjanjian tertulis (digambar) bahwa Mimi ditinggal sebagai perwakilan resmi.
Mimi kini duduk di lengan sofa, mengawasi kami berdua dengan satu telinganya.
Jam satu, angka di termometer 37,4. Misi selesai. Waktunya pulang.
Aku menatap wajah yang akhirnya tidur nyenyak itu—rona demamnya mulai pudar, bibirnya sedikit terbuka, sebelah tangannya melorot dari sofa dengan jari-jari yang tadi sore masih membersihkan gigi anak orang—dan memutuskan: lima menit lagi. Memastikan saja. Demam suka balik jam-jam segini.
Itu kebohongan pertama.
Kebohongan kedua: sepuluh menit lagi.
Yang ketiga tidak sempat disusun, karena aku tertidur di lantai, bersandar kaki sofa, di rumah orang, dengan tangan yang entah sejak kapan memegangi tangan yang melorot itu—supaya tidak jatuh, tentu, murni supaya tidak jatuh.
Aku terbangun karena dua hal sekaligus: leherku protes resmi atas posisi tidur ilegal, dan ada pergerakan di sofa.
Subuh. Cahaya abu-abu. Dan Alena sudah setengah duduk, memandangi sesuatu yang tersampir di tubuhnya dengan ekspresi orang yang menemukan barang bukti.
Jaketku.
Aku tidak ingat memakaikannya. Ralat—aku ingat. Jam dua, ia menggigil sedikit, selimutnya melorot, dan jaket itu ada di jangkauan tangan, dan keputusannya tidak melewati rapat.
“Kamu nginep,” katanya. Suaranya masih serak, tapi matanya sudah jernih. Terlalu jernih untuk kenyamananku.
“Nggak nginep. Ketiduran. Beda pasal.”
“Di lantai.”
“Lantaimu bersih.”
“Sambil—” ia mengangkat tangan kanannya, yang baru saja terlepas dari sesuatu, dan aku menyadari dengan horor yang datang terlambat bahwa tanganku semalaman tidak pernah pindah, “—megangin tangan aku?”
“Biar nggak jatuh.”
“Tanganku?”
“Hm.”
“Dari sofa setinggi empat puluh senti.”
“Cedera bisa terjadi di ketinggian berapa pun. Kamu tim medis. Masa aku yang ngajarin.”
Ia menatapku. Lama. Rambutnya berantakan sisa demam, wajahnya masih pucat, jaketku kebesaran di bahunya—dan ia tetap, dengan cara yang tidak masuk akal dan sedikit menyebalkan, menjadi pemandangan terbaik yang pernah disajikan jam lima subuh kepadaku.
“Dimas.”
“Hm.”
“Makasih.” Bukan nada bercanda. Nada yang lain. “Kamu... selalu dateng. Tiap aku kenapa-kenapa. Jatuh, kebakaran, demam. Kamu selalu—”
“Kamu juga,” potongku, karena kalimat itu berbahaya kalau diteruskan sampai selesai. “Jam tiga pagi. Gedoran. Kita impas dari awal.”
“Itu sekali. Kamu udah berapa kali?”
“Nggak ngitung.”
“Bohong. Kamu ngitung semua. Kamu tipe yang ngitung.”
Ia benar. Aku menghitung semuanya. Aku bisa menyebutkan tanggal ia jatuh dari kardus, menu makan malam pertama, warna karet yang dipakai kepang miring itu—yang sekarang duduk di mangkuk kecil di meja riasnya, informasi yang tidak seharusnya kupunya dan tidak bisa kukembalikan.
Kami saling menatap dalam cahaya abu-abu subuh itu, dan jarak di antara kami—aku di lantai, ia di tepi sofa, wajah kami sejajar karena posisi itu—tiba-tiba menjadi topik yang paling nyaring di ruangan. Sofa berderit pelan ketika ia condong sedikit. Aku tidak mundur. Napasnya masih hangat sisa demam. Mataku, pengkhianat, turun sekali ke bibirnya, dan matanya menangkap pengkhianatan itu, dan ia tidak mundur juga, dan jarak itu tinggal—
Ponselnya menjerit.
Alarm. Jam lima. Nada dering ceria dengan volume penuh, bergetar heboh di atas meja, layar menyala menampilkan label yang bisa kubaca dari sini: “BANGUN. PASIEN NUNGGU. JANGAN SNOOZE.”
Kami terpental ke posisi masing-masing seperti dua remaja kepergok. Alena menyambar ponsel dan mematikannya dengan kekerasan yang tidak perlu. Aku berdiri, membereskan termometer, gelas, bungkus obat, dengan efisiensi orang yang butuh alasan berdiri.
“Hari ini,” kataku pada barang-barang yang kubereskan, “nggak ada pasien. Kamu izin.”
“Aku baik—”
“Alena.” Aku menoleh. “Tiga tujuh koma empat itu baru gencatan senjata, bukan damai. Izin. Praktikmu satu hari nggak akan bubar. Sup kuanter jam satu.”
Ia membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu, dengan gerakan kecil yang menghancurkan seluruh sisa pertahananku pagi itu, ia menarik jaketku lebih rapat ke tubuhnya—bukan melepasnya, merapatkannya—dan mengangguk.
“Jaketnya,” katanya, “kusandera dulu. Sampai supnya dateng.”
“Hm,” kataku, dan pulang lewat pagar dengan gerendel berkarat itu, membawa termometer, mangkuk kosong, dan kesadaran yang tidak bisa dimasukkan kantong:
Tadi itu tinggal lima senti.
Dan yang menghentikannya alarm. Bukan aku. Bukan dia.
Kami berdua sudah tidak punya rem. Tinggal menunggu siapa yang lebih dulu mengaku bahwa remnya sudah blong dari kapan-kapan.
Jam tujuh, utusan resmi datang menjemput perwakilannya.
Kirana masuk lewat pintu depan yang sengaja tidak kukunci saat mengantar sup—sudah mandi, sudah seragam, kepangnya hasil karyaku yang pagi ini untungnya lulus standar minimum—dan berjalan langsung ke sofa tempat Mimi berjaga semalaman.
“Mimi udah kerja bagus,” ia memeriksa bonekanya, membenarkan telinga tunggalnya, lalu menoleh ke Alena yang masih berbalut selimut dan jaket sitaan. “Tante udah nggak panas?”
“Udah turun banget. Berkat Mimi.”
“Berkat Mimi,” Kirana mengangguk, menerima pengakuan itu sebagai hal yang memang seharusnya, “sama berkat Ayah dikit.”
“Ayah dikit,” Alena setuju, matanya melirikku di ambang dapur dengan kilat jahil yang membuktikan pasien ini sudah betul-betul membaik.
“Ayah semalem nggak pulang-pulang,” lanjut Kirana pada Alena, dengan intonasi melapor cuaca. “Kirana bangun mau pipis jam berapa gitu, rumah sepi. Kirana intip dari jendela, lampu rumah Tante nyala. Terus Kirana tidur lagi. Kirana nggak takut,” ia menambahkan cepat, “soalnya Kirana tahu Ayah di mana. Kalau tahu di mana, nggak papa.”
Kalimat polos itu mendarat di ruangan dan diam di sana, lebih berat dari yang disadari pengucapnya, yang sudah sibuk menyisir rambut Mimi dengan jarinya.
Kalau tahu di mana, nggak papa.
Alena menatapku dari sofa. Aku menatapnya dari ambang dapur. Dan kami sama-sama tidak mengatakan apa yang sama-sama kami pikirkan: bahwa anak enam tahun ini, dengan satu kalimat sambil lalu, baru saja merumuskan definisi keluarga yang lebih akurat dari kamus mana pun.
“Sekolah,” kataku akhirnya, serak. “Jemputannya lima menit lagi.”
[Bersambung ke Bab 9 — “Engsel Pintu dan Keberanian”]