← Chapters Ch. 35 / 40

Chapter Thirty Five

Kamu Jawabannya

POV: Alena


Undangan itu menggantung selama tiga bulan.

“Nanti kapan-kapan kamu ke rumah Ibu, ya. Sendirian.”

Tiga bulan aku tidak pergi. Alasannya selalu tersedia dan selalu masuk akal: praktik penuh, Kirana ada acara sekolah, akhir pekan ini Dimas ke Jakarta. Alasan-alasan yang semuanya benar dan tidak satu pun jujur.

Yang jujur: aku takut pada pertanyaan yang belum kujawab.

Minta maafnya buat apa?

Tiga bulan pertanyaan itu tinggal di kepalaku seperti pasien yang tidak datang kontrol—kau tahu ia masih di luar sana, kau tahu masalahnya tidak selesai sendiri, dan setiap hari yang lewat membuat kunjungan berikutnya makin berat.

Yang akhirnya mendorongku bukan keberanian.

Yang mendorongku adalah Dimas, yang suatu Kamis malam meletakkan ponselnya di meja makan dan berkata: “Bu Ratna nanya lagi. Ini yang ketujuh.”

“Yang ketujuh?”

“Beliau nggak pernah nanya dua kali soal apa pun.” Ia mengambil piring kotor. “Kalau udah tujuh, artinya penting.”


Aku datang hari Sabtu sore, sendirian, membawa buah dan kue yang dua-duanya salah karena Bu Ratna tidak makan manis dan buahnya ternyata sudah ada sekeranjang di meja.

“Aduh, repot-repot. Sini.” Ia mengambil bawaanku dan meletakkannya di dapur seperti orang yang tidak butuh apa-apa dan tetap senang diberi.

Rumahnya kecil dan bersih. Lantai keramik lama yang dilap sampai mengilap, kursi kayu berukir yang dudukannya sudah diganti busa baru, dan bau kayu manis dari dapur.

Dan foto-foto.

Di dinding ruang tamu, tersusun rapi: foto pernikahan, foto keluarga, foto dua anak perempuan berseragam merah putih dengan tas di punggung. Yang lebih tinggi menggandeng yang lebih pendek.

Aku berdiri di depan foto itu terlalu lama.

“Itu Laras kelas lima, Sekar kelas dua,” kata Bu Ratna dari belakangku, membawa nampan. “Laras itu kalau jalan pasti gandeng adiknya. Bukan disuruh. Dari kecil emang gitu.”

“...Mirip Kirana.”

“Ya iya. Turunan.” Ia meletakkan nampan. “Sini, duduk. Ibu masak dari jam sepuluh.”


Ia memasak lima jenis.

Lima. Untuk dua orang.

“Bu, ini kebanyakan—”

“Ibu nggak tahu kamu suka apa,” katanya, sambil menyendok nasi ke piringku tanpa bertanya. “Jadi Ibu bikin semuanya. Nanti sisanya kamu bawa pulang. Buat Dimas sama Kirana.”

Aku makan sambil ditanyai—pola yang sama seperti kunjungannya dulu: kliniknya bagaimana, orang tuaku sehat, kapan terakhir cek darah, kenapa masih kurus padahal katanya sudah bisa masak.

Dan aku menjawab semuanya sambil menunggu.

Karena aku tahu ia sedang berputar. Sekar sudah memperingatkanku: ibu saya ngomongnya suka muter dulu sebelum sampai ke intinya.

Yang tidak kuduga: butuh dua jam.

Dua jam berisi cerita tentang harga cabai, tentang lututnya yang tidak bisa diajak kompromi, tentang tetangganya yang anaknya kuliah di Jogja. Dua jam di mana aku beberapa kali mengira ini memang cuma makan siang, dan tidak ada apa-apa, dan aku sudah salah paham selama tiga bulan.

Lalu piring dibereskan, teh dituang, dan Bu Ratna duduk di kursi berukir itu, dan berkata:

“Nak Alena.”

“Iya, Bu.”

“Waktu itu Ibu nanya, minta maafnya buat apa.”

Tanganku dingin seketika.

“Sudah ketemu jawabannya?”

Dan aku—yang sudah memutar pertanyaan itu tiga bulan di kepala, yang menyusun jawabannya di mobil tadi, yang punya tiga versi yang semuanya rapi dan sopan—membuka mulut dan mendapati semua versi itu hilang.

Yang keluar adalah yang sebenarnya.

“Karena saya ngerasa nyuri, Bu.”

Bu Ratna tidak bergerak.

“Saya nggak ngerjain apa-apa,” kataku, dan suaraku sudah bergetar di kalimat kedua. “Saya cuma pindah rumah. Saya nggak ada di sana waktu susahnya. Saya nggak nemenin Mas Dimas empat tahun itu. Saya nggak begadang waktu Kirana bayi. Saya nggak—” kutarik napas yang tersendat, “—saya nggak ada waktu Ibu kehilangan anak Ibu.”

Kutunduk.

“Terus saya datang delapan bulan lalu, dan sekarang saya duduk di kursi makan yang dulu kursi Mbak Laras. Saya masak pakai buku resepnya. Saya dipanggil Bunda sama anaknya. Saya tidur di rumahnya.” Air mataku jatuh ke celanaku. “Semua yang dia bangun bertahun-tahun, saya tinggal masuk dan pakai. Dan yang paling nggak enak, Bu—”

“Apa?”

“Saya bahagia.” Suaraku pecah. “Saya bahagia banget. Tiap hari. Dan tiap kali saya bahagia, saya inget bahwa saya bisa bahagia karena ada orang yang meninggal. Kalau Mbak Laras masih ada, saya nggak ada di sana. Nggak ada satu pun bagian dari hidup saya sekarang yang bisa terjadi kalau dia masih hidup.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Jadi minta maafnya buat itu, Bu. Buat berdiri di tempat yang bukan tempat saya. Buat seneng di atas kehilangan orang lain.”


Ruangan itu hening lama sekali.

Dan lalu terdengar bunyi kursi berukir bergeser, dan bunyi tongkat, dan Bu Ratna berdiri.

Aku mengangkat wajah, panik. “Bu, maaf, saya nggak bermaksud—”

“Sebentar.” Ia sudah berjalan ke arah lemari kayu di sudut ruangan. “Ibu ambil sesuatu dulu.”

Lemari itu dibuka. Ada bunyi kunci kecil, bunyi laci ditarik.

Ia kembali membawa sebuah kotak kayu—kotak lama, catnya sudah terkelupas di sudut-sudutnya—dan meletakkannya di meja di antara kami.

Lalu ia duduk kembali, dan menghela napas panjang, dan berkata:

“Nak Alena. Ibu mau cerita satu hal. Ibu belum pernah cerita ini ke siapa-siapa. Sekar nggak tahu. Dimas nggak tahu.”

Aku menegakkan duduk.

“Dua bulan sebelum Laras pergi,” katanya, “Ibu nginep di rumah mereka. Bantuin. Waktu itu dia udah nggak bisa bangun lama-lama.”

Tangan tuanya bergerak di atas kotak itu.

“Suatu malam Dimas keluar beli obat. Kirana tidur. Tinggal Ibu sama Laras di kamar.” Ia menarik napas. “Terus Laras bilang, ‘Bu, aku mau minta tolong satu hal, tapi Ibu jangan nangis.’”

Aku menggenggam ujung bajuku.

“Dia bilang gini.” Suara Bu Ratna mulai bergetar tapi ia meneruskan. “‘Bu, nanti kalau aku udah nggak ada, Dimas pasti nggak akan cari siapa-siapa. Aku kenal dia. Dia bakal kerja terus, ngurus Kirana terus, sampai dia lupa dia juga manusia.’”

Napasku berhenti.

“‘Jadi nanti kalau ada yang datang,’ kata Laras, ‘kalau ada perempuan yang datang dan dia baik sama Kirana—Ibu jangan halangin. Ibu tolong restuin. Karena orang-orang lain pasti pada ngomong yang enggak-enggak, dan Dimas itu nggak bakal berani kalau nggak ada yang bilangin dia boleh.’”

Kotak itu didorong sedikit ke arahku.

“Terus dia bilang,” Bu Ratna menyeka matanya dengan ujung kerudungnya, “‘Bu, aku nggak minta dia sedih lama-lama. Aku minta dia jangan sendirian. Beda, Bu. Beda banget.’”

Aku menangis dengan mulut tertutup dua tangan.

“Empat tahun Ibu nunggu, Nak Alena.” Suara Bu Ratna serak sekarang. “Empat tahun. Tiap tahun Ibu lihat menantu Ibu makin rapi, makin teratur, makin nggak ada yang salah—dan makin nggak ada orangnya. Kayak rumah yang dirawat bagus tapi lampunya nggak pernah dinyalain.”

Ia menatapku lurus.

“Terus tahun ini dia telepon Ibu. Bilang, ‘Bu, saya mau cerita, ada tetangga baru.’ Suaranya—” ia berhenti, tersenyum di tengah air matanya, “—suaranya beda. Ibu langsung tahu. Ibu tutup telepon terus Ibu duduk di kursi ini, dan Ibu bilang ke anak Ibu: ‘Ras, datang orangnya. Lama banget.’”


“Sekarang,” katanya, “Ibu jawab pertanyaan kamu.”

Ia mencondongkan badan dan mengambil tanganku dengan dua tangannya yang tua dan hangat dan kasar.

“Kamu bilang kamu nyuri tempat.”

“Bu—”

“Dengerin dulu.” Genggamannya mengencang. “Nak, tempat itu nggak ada yang punya. Yang ada itu tempat kosong, dan tempat kosong itu nggak jadi milik siapa-siapa cuma karena dulu ada yang duduk di situ.”

Aku menggigit bibirku.

“Dan kamu bilang kamu seneng di atas kehilangan orang lain.” Bu Ratna menggeleng pelan. “Nak Alena, dengerin Ibu baik-baik, karena ini Ibu yang ngomong, dan Ibu ibunya Laras, jadi Ibu berhak ngomong ini.”

Ia menekan tanganku.

“Anak saya nitip dua orang itu.”

Tenggorokanku terbakar.

“Dia nitip lewat Ibu, empat tahun lalu, sambil bilang ‘jangan halangin’. Dan Ibu tunggu empat tahun nggak ada yang datang.” Matanya penuh. “Terus kamu datang. Kamu bikinin dinding penuh fotonya. Kamu masak resep yang dia nggak selesai. Kamu ajarin cucu Ibu bahwa mamanya boleh diomongin, bukan disimpan di kardus.”

“Bu—”

“Kamu bukan penggantinya, Nak.”

Ia berhenti. Menatapku. Dan mengucapkannya dengan sangat jelas, sangat pelan, seperti orang menyerahkan sesuatu yang berat ke tangan orang lain:

“Kamu jawabannya.”


Aku menangis di ruang tamu itu selama—aku tidak tahu. Lama. Dengan cara paling tidak sopan: bahu berguncang, hidung berair, tangan dipegangi seorang ibu enam puluhan yang lututnya sakit tapi tidak melepaskan.

“Nangis aja,” katanya. “Ibu juga nangis kok. Nggak apa-apa, kursi ini udah biasa.”

Ketika akhirnya reda, ia membuka kotak kayu itu.

Isinya sedikit: sebuah kebaya terlipat rapi—warna gading, bordirnya halus, jelas tua—dan sebuah bros bunga dari perak yang sudah menghitam di sela-selanya.

“Ini kebaya Ibu waktu nikah,” katanya. “Dipakai lagi sama Laras waktu dia nikah. Ibu simpan sejak itu.”

Tanganku menutup mulut lagi.

“Bu, saya nggak bisa—”

“Ibu belum selesai ngomong.” Ia mengeluarkan bros itu, memutarnya di jarinya. “Ibu nggak nyuruh kamu pakai kebayanya. Itu nggak adil, dan lagian ukurannya beda—Laras itu lebih berisi dari kamu, kamu terlalu kurus.” Ia meliriku. “Ibu udah bilang berkali-kali soal itu, ya.”

“...Iya, Bu.”

“Nah. Yang Ibu kasih ini.” Ia meletakkan bros perak itu di telapak tanganku dan menutup jari-jariku di atasnya. “Bros ini dipakai tiga orang. Ibu Ibu, terus Ibu, terus Laras. Semuanya di hari yang sama—hari nikah.”

Aku menatap benda kecil itu di tanganku.

“Bu, ini... ini harusnya buat Sekar.”

“Sekar udah Ibu kasih yang lain. Dan Sekar yang bilang ke Ibu bulan lalu: ‘Bu, brosnya buat Mbak Alena aja.’” Bu Ratna tersenyum. “Anak Ibu yang satu itu ngomongnya lebih cepet dari ibunya.”

Aku menggenggam bros itu, dan menangis lagi, dan Bu Ratna menepuk-nepuk tanganku dengan sabar seperti orang yang sudah menghitung berapa banyak air mata yang akan tumpah sore itu dan menyiapkan waktunya.

“Bu.”

“Hm?”

“Mas Dimas belum ngajak nikah.”

“Ibu tahu.”

“Terus ini—”

“Nak Alena.” Bu Ratna menepuk tanganku sekali lagi, dan matanya berkilat dengan sesuatu yang sangat mirip Kirana. “Laki-laki itu kalau ngerjain sesuatu suka lama karena maunya sempurna. Ibu kenal dia dua belas tahun. Waktu mau ngelamar Laras, dia bikin cincinnya sendiri, gagal tiga kali, telat empat bulan.”

Aku mengangkat wajah.

“Jadi kalau dia lagi diem-diem di bengkelnya malem-malem,” katanya, berdiri dan mengambil tongkatnya, “kamu jangan tanya-tanya. Biarin aja.”

“...Ibu tahu sesuatu?”

“Ibu nggak tahu apa-apa.” Ia berjalan ke dapur. “Ibu mau bungkusin makanan buat dibawa pulang. Yang semurnya banyakin ya, Kirana suka.”


Aku pulang membawa lima rantang, satu bros perak, dan satu kalimat yang akan kubawa seumur hidup.

Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku duduk diam sepuluh menit.

Lalu kukeluarkan ponselku dan mengetik pesan yang tidak akan pernah bisa kukirim.

Untuk: Mbak Laras

“Makasih. Aku janji jaga mereka. Nanti kalau ketemu, aku ceritain semuanya.”

Kuhapus.

Kuketik lagi. Kuhapus lagi.

Akhirnya kubuka aplikasi catatan, dan kuketik di sana, dan kusimpan.

Lalu aku menyetir pulang ke rumah yang lampu terasnya sudah menyala—selalu menyala—dengan dua orang di dalamnya yang sedang menunggu makan malam.


Sekar menelepon malam itu, jam sepuluh.

“Gimana, Mbak?”

“Kamu tahu Ibu mau ngasih apa, kan.”

“Tahu.” Suaranya hati-hati. “Marah?”

“Sekar.” Aku duduk di tepi kasur, memegang bros perak itu di telapak tangan. “Kenapa kamu kasih ke aku?”

Hening di seberang.

“Mbak Alena tahu nggak,” katanya akhirnya, “waktu Mbak Laras nikah, saya yang masangin bros itu. Saya kelas tiga SMA. Tangan saya gemetar, hampir jatuh.”

Aku menutup mata.

“Terus dia bilang ke saya di depan cermin: ‘Sekar, nanti kalau kamu nikah, aku yang masangin ya.’” Sekar tertawa, basah. “Terus dia nggak keburu.”

“Sekar—”

“Nggak, dengerin dulu.” Ia menarik napas. “Jadi buat saya, bros itu bukan buat dipakai nikah. Bros itu tugas. Tugasnya: dipasangin sama orang yang sayang sama kita.”

Aku menggenggam benda kecil itu lebih erat.

“Dan waktu Ibu cerita mau ngasih ke Mbak, saya langsung bilang iya. Bukan karena saya nggak mau.” Suaranya bergetar. “Karena saya mau lihat siapa yang bakal masangin ke Mbak nanti.”

“...Siapa?”

“Ya saya, Mbak,” katanya, dan tertawa di tengah tangisnya. “Masa saya kasih ke orang lain. Saya udah pesen tempat dari sekarang. Jangan dikasih ke perias.”

Aku menutup telepon dan menangis untuk ketiga kalinya hari itu, dan mencatat dalam hati bahwa keluarga ini punya kebiasaan buruk menyerahkan hal-hal besar dengan nada seolah sedang membicarakan kecap.


[Bersambung ke Bab 36 — “Konspirasi Kecil-Kecilan”]