Chapter Thirty One
Terakhir Kali Aku Sebahagia Ini
POV: Dimas
Pemicunya flu.
Bukan apa-apa. Flu biasa, jenis yang menyerang separuh kompleks setiap pergantian musim, yang di kliniknya sendiri diobati dengan istirahat dan air putih dan disebut sebagai “self-limiting disease” oleh orangnya sendiri dengan nada meremehkan.
Alena mulai bersin hari Senin. Selasa suaranya berubah. Rabu pagi ia datang ke teras untuk kepang harian dengan hidung merah dan suara yang keluar dua oktaf lebih rendah.
“Pagi, Bu Asisten,” katanya pada Kirana, dan bunyinya seperti katak.
Kirana tertawa terbahak-bahak. Alena tertawa juga, lalu batuk, lalu tertawa lagi.
Dan aku berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir di tangan, dan sesuatu di dadaku mengencang seperti tali yang ditarik dari kedua ujung.
“Kamu istirahat aja hari ini,” kataku.
“Ini flu, Dimas.”
“Praktikmu bisa diundur.”
“Sepuluh pasien. Dua di antaranya perawatan lanjutan yang kalau ditunda infeksinya jalan terus.” Ia mengikat ujung kepang Kirana. “Aku minum obat, pakai masker, selesai.”
“Tetep aja—”
“Sayang.” Ia menoleh, dan senyumnya masih senyum yang sama. “Aku dokter. Kalau aku nggak boleh kerja karena flu, klinik seluruh Indonesia tutup.”
Ia berangkat.
Dan aku menghabiskan hari itu dengan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan pada siapa pun.
Aku tidak bisa bekerja.
Aku masuk workshop jam delapan seperti biasa. Menyalakan lampu, membuka gambar kerja, mengambil papan yang harus diserut hari itu.
Dan berdiri di depan meja kerja selama empat puluh menit tanpa menyentuh apa pun.
Kepalaku sibuk. Bukan sibuk dengan pikiran—sibuk dengan sesuatu yang lebih rendah dari pikiran, semacam kebisingan latar yang tidak punya bentuk kalimat. Setiap kali aku mencoba fokus ke sambungan, kebisingan itu naik.
Jam sepuluh aku mengirim pesan.
Aku: Gimana? Alena: masih idup Alena: pasien ke-4. anak yg tadi malem giginya patah jatuh dr kasur Aku: Makan siang jangan lupa. Alena: siap pak
Jam dua belas.
Aku: Udah makan? Alena: udah. dara beliin bubur Alena: kamu kenapa sih hari ini Aku: Nggak apa-apa.
Jam dua.
Aku: Demam nggak? Alena: enggak Alena: dimas Alena: kamu ngukur suhu badanku dari jarak 3 km ya
Jam empat, aku berhenti berpura-pura bekerja, mengunci workshop, dan menjemput Kirana dari les gambar lebih awal empat puluh menit sampai gurunya bertanya apa ada keperluan mendadak.
Tidak ada keperluan mendadak.
Aku cuma tidak sanggup berada di rumah sendirian.
Malam itu Alena tidak datang makan malam.
Ia mengirim pesan jam setengah tujuh: “aku langsung tidur ya. badan remuk. nggak papa kan? besok pasti udah mendingan”
Kubalas: “Hm. Istirahat.”
Lalu aku menaruh ponsel, memasak untuk dua orang untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dan menghabiskan makan malam itu dengan Kirana yang bertanya empat kali kenapa Bunda tidak datang dan apakah Bunda sakit parah dan apakah harus dijenguk.
“Cuma flu.”
“Kirana mau jenguk.”
“Nanti nular.”
“Kirana kuat.”
“Besok pagi kalau udah mendingan.”
Kirana menerima itu, dan makan malamnya selesai, dan jam delapan ia tidur.
Dan jam sembilan aku berdiri di pagar.
Sembilan meter. Lampu rumahnya menyala di ruang tengah tapi kamarnya gelap—artinya ia tidur di sofa lagi, kebiasaan buruk yang sudah puluhan kali kutegur.
Aku berdiri di pagar itu selama—entah. Lama.
Kunci rumahnya ada di sakuku. Selalu ada di sakuku sejak empat bulan lalu.
Yang wajar dilakukan orang yang pacarnya flu: menyeberang, mengecek, membawakan makanan, memastikan ia tidak tidur di sofa dengan AC menyala.
Yang kulakukan: berdiri di pagar sampai jam sepuluh, lalu masuk ke rumah sendiri, dan tidak menyeberang sama sekali.
Karena aku tahu apa yang akan terjadi kalau aku menyeberang.
Aku akan masuk, dan melihatnya tidur di sofa dengan hidung merah dan napas yang bunyi, dan aku akan menempelkan punggung tanganku di dahinya seperti empat tahun lalu aku menempelkan punggung tanganku di dahi orang lain di ruangan yang bau disinfektan, dan aku akan menghitung suhunya dan menghitung napasnya dan menghitung semua hal yang bisa dihitung sampai pagi.
Dan aku tidak akan berhenti.
Itu yang kutakutkan. Bukan flu-nya.
Aku takut pada apa yang akan kulakukan pada diriku sendiri kalau aku membiarkan diriku mulai.
Kamis, ia sembuh. Kamis, semuanya kembali normal.
Kecuali aku.
Ini yang terjadi selama dua minggu berikutnya, dan aku menyusunnya di sini dengan urutan yang rapi karena baru bisa melihatnya dengan urutan yang rapi setelah semuanya selesai. Waktu itu aku tidak melihat apa-apa. Waktu itu setiap langkahnya terasa masuk akal.
Satu. Aku mulai bekerja lebih malam.
Alasannya sah: pesanan menumpuk setelah artikel itu, dan kontrak Jakarta punya tenggat. Tapi kalau jujur—dan aku sedang jujur sekarang—jam kerja malam itu bukan soal pesanan. Workshop adalah satu-satunya tempat di mana kepalaku diam. Kayu tidak menuntut apa-apa. Kayu tidak bisa sakit.
Alena datang ke kursi pojoknya dua malam pertama. Malam ketiga aku bilang, “Nggak usah nunggu, aku lama.” Malam keempat ia tidak datang.
Aku menyadari itu dan tidak melakukan apa-apa.
Dua. Aku mulai membatalkan hal-hal kecil.
Sabtu kami biasanya keluar bertiga. Sabtu itu aku bilang ada pesanan mendesak. Minggu berikutnya, aku bilang capek.
Kirana yang protes duluan. “Ayah kok nggak pernah ke mana-mana lagi.”
“Ayah lagi banyak kerjaan.”
“Bunda bilang juga gitu.”
Kata-kata itu masuk ke telingaku dan aku memilih untuk tidak memprosesnya.
Tiga. Aku berhenti mengantar Alena ke pagar.
Ini yang paling kecil dan paling besar sekaligus. Delapan bulan, setiap malam, aku mengantarnya sembilan meter sampai pagar, dan kami berdiri di sana lima menit membicarakan hal-hal tidak penting sebelum ia masuk.
Minggu itu aku mulai berkata “hati-hati” dari dalam rumah.
Sekali. Lalu dua kali. Lalu jadi kebiasaan.
Dan di malam keempat, saat aku mengucapkannya dari meja makan tanpa berdiri, sebuah suara kecil berkata dari kursi sebelah:
“Ayah nggak nganter Bunda?”
Alena, yang sudah di ambang pintu, menoleh.
“Nggak papa, sayang. Deket kok.”
“Tapi biasanya Ayah anter.” Kirana menoleh padaku dengan kening berkerut. “Kenapa sekarang nggak?”
“Ayah capek,” kataku.
Dan Kirana menatapku dengan tatapan yang membuatku menunduk ke piring—tatapan anak yang sedang membandingkan hari ini dengan arsipnya dan menemukan ketidakcocokan yang belum bisa ia namai.
Ia tidak bertanya lagi malam itu.
Tapi besok paginya, saat aku mengantarnya ke jemputan, ia berhenti di gerbang dan bertanya tanpa menoleh:
“Ayah lagi marah sama Bunda?”
“Nggak.”
“Bunda lagi marah sama Ayah?”
“Nggak, Kirana.”
“Terus kenapa rumahnya jadi sepi?”
Bus jemputan datang. Ia naik. Melambai dari jendela seperti biasa.
Dan aku berdiri di gerbang kompleks jam tujuh pagi dengan pertanyaan anak enam tahun yang tidak bisa kujawab, dan pulang ke rumah yang—ia benar—memang jadi sepi.
Empat. Dan yang terakhir, yang membuat semuanya jebol.
Kamis malam, minggu kedua.
Alena datang membawa sesuatu—brosur, cetakan, entah apa—dan meletakkannya di meja makan setelah Kirana tidur, dengan wajah orang yang sudah menyiapkan ini selama beberapa hari.
“Aku nemu sesuatu. Nggak usah dijawab sekarang, cuma mau nunjukin.”
Kubuka. Brosur perumahan? Bukan. Cetakan dari internet: renovasi rumah, denah, contoh-contoh.
“Ini apa?”
“Ini—” ia menarik kursi, duduk, dan ada semangat di suaranya yang membuat dadaku dingin sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Aku ngobrol sama tukang yang benerin genteng Bu Yayuk kemarin. Dia bilang tembok pembatas kayak punya kita itu gampang dibongkar kalau bukan struktural. Terus aku mikir—” ia membuka satu halaman, “—kalau pagarnya dibongkar, dua halaman kita jadi satu. Bisa bikin satu meja makan panjang di tengah. Terus rumahku yang kosong itu bisa jadi—”
“Alena.”
Ia berhenti.
“Kenapa?”
Dan aku menatap kertas-kertas itu—kertas yang ia kumpulkan diam-diam, yang ia bawa ke rumahku dengan wajah berseri, yang isinya adalah persis rumah yang sudah kugambar di kepalaku sendiri sejak malam gendongan itu—
—dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Kita baru delapan bulan.”
Wajahnya berubah.
“Aku nggak lagi ngajak nikah, Dimas. Aku cuma—”
“Aku tahu.”
“—aku cuma ngobrolin pagar.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa nadamu kayak gitu?”
Dan aku tidak punya jawabannya. Tidak ada satu pun kalimat di kepalaku yang bisa menjelaskan kenapa melihat kertas berisi denah rumah bersama membuatku ingin berdiri dan keluar dari ruangan.
Jadi kukatakan hal terburuk yang bisa dikatakan siapa pun dalam situasi itu.
“Nggak papa. Aku cuma capek.”
Alena menatapku lama sekali.
Lalu ia mengumpulkan kertas-kertasnya. Pelan. Rapi. Diketuk-ketukkan ke meja supaya rata, seperti orang membereskan berkas rapat.
“Oke,” katanya.
“Alena—”
“Nggak, nggak papa.” Ia berdiri. “Kamu capek. Aku juga capek. Aku pulang, ya.”
Ia berjalan ke pintu.
Aku duduk di kursiku dan tidak mengantarnya sampai pagar, untuk kesembilan kalinya dalam dua minggu.
Aku tidak tidur malam itu.
Jam satu pagi aku turun ke ruang tengah dan berdiri di depan Pojok Mama, di depan empat belas bingkai yang dipasang oleh perempuan yang barusan kuusir pulang dengan kalimat “aku cuma capek”.
Laras menatapku dari empat belas sudut sekaligus.
Aku duduk di lantai, bersandar ke sofa, menghadap dinding itu.
“Ras,” kataku. “Aku lagi kacau.”
Diam, tentu saja.
“Aku ngerusak sesuatu dan aku tahu aku ngerusaknya sambil ngerusak.”
Kupandangi foto tengah—foto yang dipilih Kirana, Laras menggendong bayi di teras yang sama dengan teras di luar sana.
Dan pikiran yang selama dua minggu ini kutolak untuk dipikirkan sampai selesai, akhirnya kubiarkan selesai.
Empat tahun lalu, hidupku baik.
Bukan baik-baik saja. Baik. Kami punya rumah yang kurancang sendiri. Kami punya bayi yang sehat. Aku punya karier yang naik. Laras punya pekerjaan yang ia suka. Kami sedang membicarakan anak kedua.
Tidak ada satu pun tanda. Tidak ada firasat. Tidak ada malam di mana aku memandangi langit-langit dan merasa ada yang akan terjadi.
Sabtu sore ia mengeluh pegal. Senin ia periksa. Rabu ada hasil. Dan enam bulan setelah itu aku berdiri di ruangan bau disinfektan memegangi tangan yang makin lama makin ringan.
Enam bulan. Dari “pegal” sampai selesai.
Dan yang paling tidak bisa kuterima—yang butuh empat tahun untuk berani kuucapkan, dan malam itu akhirnya kuucapkan keras-keras di ruang tengah kepada dinding berisi foto:
“Aku bahagia banget waktu itu, Ras.”
Suaraku pecah di kata terakhir.
“Aku bahagia banget, dan aku nggak sadar itu bagian terakhirnya.”
Aku menunduk, menekan mata dengan pangkal telapak tangan.
“Sekarang aku bahagia lagi.”
Dan di situ semuanya jatuh ke tempatnya, dengan bunyi klik yang mengerikan seperti sambungan yang akhirnya masuk:
Aku tidak takut Alena sakit.
Aku takut karena aku bahagia.
Karena terakhir kali aku sebahagia ini, aku sedang berdiri persis di bibir jurang tanpa tahu jurangnya ada, dan sekarang setiap kali aku merasa sebaik itu lagi, seluruh tubuhku bersiap-siap untuk jatuh.
Delapan bulan terakhir aku dibangunkan setiap pagi oleh seseorang yang mengepang rambut anakku di teras. Aku punya laci berisi kertas kuning. Aku punya anak yang memanggil “Bunda” dan dinding penuh foto istriku yang dipasang oleh perempuan yang mencintaiku.
Hidupku baik lagi.
Dan bagian dari diriku yang belum pulih dari empat tahun lalu membaca “baik” sebagai peringatan.
Jam tiga pagi, dari jendela dapur, kulihat lampu kamar di rumah sembilan meter itu masih menyala.
Sama seperti malam gang motor itu, dulu sekali, ketika aku pertama kali mengizinkan diriku memikirkan pikiran terlarang sampai selesai.
Kali ini aku tahu persis apa yang harus kulakukan: menyeberang, mengetuk, dan menceritakan semuanya.
Pasal enam. Kalau takut harus bilang.
Aku berdiri di jendela dapur itu sampai jam empat, sampai lampunya mati.
Dan tidak menyeberang.
[Bersambung ke Bab 32 — “Aku Takut Bahagia”]