Chapter Thirty Two
Aku Takut Bahagia
POV: Alena
Dara pernah bilang, di tahun ketiga kami berteman, bahwa masalah terbesarku bukan cerewet.
“Masalahmu,” katanya waktu itu, “kamu terlalu cepat menyimpulkan bahwa diam itu jawaban.”
Aku tersinggung selama dua hari. Lalu aku mengakui dia benar.
Jadi ketika Dimas mulai menjauh, aku tahu persis apa yang sedang terjadi pada diriku sendiri: aku sedang membiarkan diam menjadi jawaban.
Dan aku menolak.
Ini yang kucatat selama dua minggu itu, karena aku memang tipe yang mencatat—bukan di kertas, di kepala, dalam bentuk daftar seperti rekam medis:
Hari 1-3: Lembur meningkat. Bisa dijelaskan: pesanan naik setelah artikel.
Hari 4: “Nggak usah nunggu, aku lama.” Pertama kali dalam delapan bulan aku diminta tidak menunggu.
Hari 6: Sabtu dibatalkan. Alasan: pesanan mendesak. (Verifikasi: workshop-nya lampu mati jam sembilan malam itu. Aku lihat dari jendela.)
Hari 8: Tidak diantar ke pagar. Pertama kali.
Hari 9, 10, 11: Tidak diantar ke pagar.
Hari 12: Kirana bertanya kenapa Ayah tidak pernah ke mana-mana lagi.
Hari 14: Aku membawa brosur renovasi. Dan mendapat kalimat “kita baru delapan bulan” dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Aku pulang malam itu, menutup pintu rumahku, berdiri di ruang tengah yang sudah dua bulan tidak kupakai selain untuk mengambil baju—dan melakukan hal yang paling ingin kulakukan seumur hidupku: menyimpulkan.
Dia berubah pikiran. Dia sadar ini terlalu cepat. Dia nggak mau rumahnya diobrak-abrik orang. Dia menyesal ngasih kunci.
Otakku menyusun sepuluh kesimpulan dalam empat menit, semuanya rapi, semuanya masuk akal, semuanya menyakitkan.
Dan lalu—karena aku sudah sepuluh tahun bekerja dengan anak-anak, dan anak-anak mengajarkan satu hal yang tidak diajarkan buku mana pun—aku berhenti.
Anak yang tiba-tiba menolak dipegang giginya bukan anak yang membencimu. Anak itu takut sesuatu, dan tidak punya kata-katanya, dan satu-satunya cara ia bisa menyampaikan adalah dengan mundur.
Aku sudah melihat pola itu sebulan lalu.
Di anak enam tahun.
Di rumah yang sama.
Aku duduk di lantai ruang tenganku sendiri dan tertawa—tawa yang buruk, tawa jam sebelas malam—karena baru menyadari bahwa aku hampir saja mengulangi kesalahan yang sudah pernah kami perbaiki bersama-sama.
Malam itu aku tidak tidur juga. Lampu kamarku menyala sampai jam empat.
Jam sebelas aku menelepon Dara, karena ada keputusan yang tidak boleh diambil sendirian jam sebelas malam.
“Dar. Aku mau nanya sesuatu, dan aku mau kamu jawab sebagai dokter, bukan sebagai temen.”
“Wah, serius amat.” Bunyi ia duduk. “Tembak.”
“Kalau ada pasien yang mundur—yang tiba-tiba nolak semua, padahal sebelumnya kooperatif banget—kamu ngapain?”
“Tergantung. Dia mundur karena sakit, atau mundur karena takut?”
“Takut.”
“Kalau takut, jangan dikejar.” Jawabannya cepat, otomatis, dari sepuluh tahun praktik. “Kalau dikejar dia makin nutup. Tapi jangan ditinggal juga—kalau ditinggal, dia belajar bahwa takut itu bikin orang pergi, terus lain kali dia takutnya makin parah.”
“Terus?”
“Ya duduk aja di deket dia. Jangan minta apa-apa. Sampai dia yang bergerak duluan.” Jeda. “Len. Ini bukan soal pasien, kan.”
“Bukan.”
“Dimas?”
“Iya.”
Hening di seberang. Lalu Dara berkata, dengan suara yang lebih lembut dari yang pernah kudengar darinya:
“Len, boleh aku nambahin satu hal? Bukan sebagai dokter.”
“Boleh.”
“Yang paling susah dari duduk di deket orang yang lagi takut,” katanya, “itu nahan diri buat nggak ngambil kesimpulan bahwa dia takut sama kamu. Padahal biasanya nggak. Biasanya dia takut sama hal lain, dan kamu kebetulan berdiri paling deket.”
Aku menutup telepon dan menatap langit-langit kamarku sampai jam empat.
Dan pagi harinya, aku menyusun rencana.
Rencananya sederhana dan tidak sopan: aku tidak akan bertanya lewat pintu.
Aku akan masuk.
Hari Sabtu. Kirana kutitipkan ke Uti sejak pagi—dengan konspirasi penuh dari Sekar, yang ketika kutelepon dan kujelaskan situasinya cuma berkata, “Ambil seharian, Mbak. Kalau perlu semalem.”
Jam sepuluh pagi aku masuk ke workshop membawa dua cangkir kopi.
Dimas mendongak dari meja kerjanya. Wajahnya kelabu—dua minggu kurang tidur tidak bisa disembunyikan bahkan oleh orang yang wajahnya profesional datar.
“Kirana mana?”
“Di Uti. Sampai besok.”
“Kok—”
“Aku yang nganter.” Kuletakkan kopi. “Dan aku nggak akan pulang sampai kita ngomong.”
Ia meletakkan pahatnya.
“Alena, aku lagi—”
“Kerja. Iya. Aku tahu.” Kutarik kursi pojokku, kursi yang dibuatkan untukku, dan kududukkan diriku menghadapnya. “Kerja aja. Aku nggak ngelarang. Aku cuma nggak pergi.”
Dan aku duduk di situ.
Diam.
Dua jam.
Ini teknik yang kupelajari dari pasien bernama Gilang, tujuh tahun, yang di klinik lain harus diikat.
Kau tidak bisa memaksa mulut terbuka. Semakin kau minta, semakin rapat. Yang bisa kau lakukan cuma satu: duduk di dekatnya, jangan pergi, jangan menuntut, dan buktikan lewat waktu bahwa kau tidak akan menyerah dan tidak akan menyakiti.
Anak-anak butuh sebelas menit.
Laki-laki tiga puluh dua tahun butuh dua jam empat puluh menit.
Dua jam empat puluh menit di mana ia berusaha bekerja dan gagal, mengambil pahat dan meletakkannya kembali, mengukur papan yang sama tiga kali, dan sekali—sekali—berhenti dengan kedua tangan di meja dan bahu yang turun, sebelum menegakkan badan lagi dan melanjutkan.
Aku tidak bicara sekali pun.
Jam satu lewat dua puluh, ia meletakkan penggarisnya, dan berkata pada meja kerjanya:
“Aku nggak tahu mulainya dari mana.”
Kuletakkan cangkirku.
“Dari yang paling gampang.”
“Nggak ada yang gampang.”
“Kalau gitu dari yang paling susah.”
Ia menutup matanya.
Lalu ia berbalik, bersandar ke meja kerja, dan menatap lantai berserutan itu, dan mulai bicara dengan suara yang begitu pelan sampai aku harus menahan napas untuk mendengarnya.
“Waktu kamu flu.”
“Iya.”
“Aku nggak bisa kerja seharian.” Ia menggosok wajahnya. “Bukan khawatir biasa. Aku berdiri di sini empat puluh menit nggak megang apa-apa. Aku jemput Kirana lebih awal empat puluh menit karena nggak sanggup di rumah sendirian.”
Aku diam.
“Malamnya aku berdiri di pagar sejam. Kunci rumahmu di sakuku. Aku nggak nyeberang.”
“Kenapa nggak nyeberang?”
Dan di situ suaranya patah untuk pertama kalinya.
“Karena kalau aku nyeberang, aku bakal ngitungin napasmu sampai pagi.” Ia mengangkat wajah, dan matanya merah. “Kayak dulu.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Alena, aku—” ia menarik napas yang tersendat, “—empat tahun lalu aku nggak lengah. Itu yang orang nggak ngerti. Semua orang bilang ‘yang sabar ya’, ‘udah takdir’, dan aku iyain terus. Tapi yang nggak pernah kubilang: aku ngerjain semuanya dengan bener. Kontrolnya nggak pernah telat. Obatnya nggak pernah kelewat. Aku catet semuanya, jamnya, dosisnya, keluhannya. Aku ukur semua yang bisa diukur.”
Ia menggeleng.
“Dan tetep aja.”
Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai sakit, karena kalau aku bicara sekarang ia akan berhenti.
“Terus empat tahun aku hidup begini.” Ia mengangkat tangan, menunjuk sekeliling: workshop, rumah, jadwal. “Semua terukur. Bangun jam lima, masak, antar, kerja, jemput, masak, tidur. Nggak ada ruang buat mikir. Nggak ada ruang buat ngerasa. Dan itu—” ia tertawa satu kali, buruk, “—dan itu berhasil, Alena. Empat tahun berhasil. Sampai kamu dateng.”
“Sampai aku datang,” ulangku pelan.
“Sampai kamu datang, dan sekarang hidupku—” ia berhenti. Rahangnya bergerak. “Sekarang hidupku bagus lagi. Anakku ketawa lagi. Rumahku ada suaranya. Aku bangun pagi karena pengen, bukan karena harus.” Ia menatapku. “Dan itu yang bikin aku nggak bisa tidur.”
“Kenapa?”
Dan akhirnya, akhirnya, kalimat itu keluar:
“Karena terakhir kali hidupku sebagus ini, aku kehilangan semuanya dalam enam bulan.”
Ia menekan mata dengan pangkal telapak tangan.
“Aku takut bahagia lagi, Alena.” Suaranya hancur total sekarang. “Aku denger sendiri betapa bodohnya itu. Tapi tiap kali aku ngerasa bahagia sama kamu—dan itu tiap hari, tiap hari, dari pagi sampai malem—ada bagian di badanku yang langsung siaga. Kayak badanku inget sesuatu yang kepalaku pengen lupain. Kayak—” ia mencari, “—kayak bahagia itu alarm.”
“Terus kamu ngapain?”
“Aku ngurangin.” Ia menatap lantai. “Nggak sadar. Sumpah, waktu ngelakuinnya aku nggak sadar. Lembur lebih malem. Nggak nganter kamu ke pagar. Batalin Sabtu.” Napasnya putus. “Aku ngurangin bahagianya, biar kalau nanti hilang, jatuhnya nggak setinggi itu.”
Dan di situ aku berdiri.
Bukan karena marah. Karena ada batas berapa lama seseorang bisa duduk sementara orang yang ia cintai menjelaskan bagaimana ia mencoba mencintainya lebih sedikit demi bertahan hidup.
“Dimas.”
“Terus tadi malem,” ia belum selesai, kata-katanya keluar sekarang seperti bendungan yang jebol, “tadi malem kamu bawa kertas-kertas itu. Denah. Pagar dibongkar. Dan aku lihat kertas itu, dan tahu apa yang ada di kepalaku?”
“Apa?”
“Aku pengen banget.” Ia mengangkat wajah, dan air matanya jatuh, dan laki-laki itu bahkan tidak menyekanya. “Aku pengen banget sampai aku takut sama diriku sendiri. Aku udah gambar itu di kepalaku sejak malem aku gendong kamu nyeberang halaman. Meja panjang. Pagar dibongkar. Semuanya. Aku udah gambar, Alena, tinggal dipindahin ke kertas.”
“Terus kenapa kamu bilang ‘kita baru delapan bulan’?”
“KARENA AKU NGGAK MAU KEHILANGAN LAGI.”
Ia berteriak.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—sepuluh bulan, delapan bulan bersama, malam demam, malam motor, semua—laki-laki itu berteriak.
Dan setelah teriakan itu, workshop jadi sunyi total, dan Dimas berdiri di sana dengan bahu naik-turun dan tangan gemetar, menatapku dengan wajah orang yang baru saja menjatuhkan sesuatu yang dipegangnya sangat lama.
“Aku nggak akan selamat kalau kejadian lagi,” katanya, pelan sekali sekarang. “Yang pertama aku selamat karena ada bayi umur dua tahun yang harus makan. Aku nggak punya pilihan. Sekarang—” ia menggeleng, “—sekarang kalau kamu hilang, Alena, aku nggak tahu apa yang tersisa buat maksa aku bangun.”
Aku tidak menjawab.
Ada saat-saat di mana kata-kata adalah pilihan terburuk, dan aku sudah cukup lama bekerja dengan orang yang ketakutan untuk mengenali saat itu ketika ia datang.
Yang kulakukan: aku menyeberangi ruangan itu, dan memeluknya.
Bukan pelukan yang menenangkan. Pelukan yang menahan. Kedua lenganku melingkari punggungnya dan kutekan wajahku ke dadanya dan aku tidak mengucapkan satu kata pun.
Dimas kaku selama tiga detik.
Lalu ia runtuh.
Lututnya tidak jatuh—badannya yang jatuh, ke arahku, dan tangannya mencengkeram punggung bajuku, dan wajahnya masuk ke ceruk leherku, dan laki-laki setinggi itu, seberat itu, sekuat itu, membungkuk untuk bisa muat di pelukan seseorang yang lebih kecil darinya.
Ia tidak menangis. Belum. Itu nanti, dua hari kemudian, dan itu cerita lain.
Yang ia lakukan malam itu cuma satu: memegangku, dan bernapas, dan sesekali tubuhnya bergetar sekali seperti orang yang menahan sesuatu dengan seluruh tenaganya.
Kami berdiri begitu sangat lama. Cukup lama sampai kakiku pegal dan aku tidak peduli.
Lampu workshop kuning di atas kami. Serutan kayu di lantai. Radio buatan tangan diam di meja.
Dan ketika akhirnya ia berbicara, suaranya keluar teredam di leherku, dan yang ia katakan cuma tiga kata:
“Maaf. Aku takut.”
Kueratkan pelukanku.
“Aku tahu,” kataku. “Makasih udah bilang.”
Dan itu saja. Itu satu-satunya kalimat yang kuucapkan sepanjang sore itu.
Jawaban yang sebenarnya belum kususun. Jawaban yang sebenarnya butuh dua hari, satu buku tutorial, tiga potong kayu yang rusak, dan bantuan seorang laki-laki bernama Raka yang menerima teleponku jam sebelas malam dengan pertanyaan pertama: “Mbak Alena? Ada apa? Dimas kenapa?”
Tapi itu bab berikutnya.
Malam itu, aku cuma memeluknya.
[Bersambung ke Bab 33 — “Gantian Aku yang Memperjuangkan”]