← Chapters Ch. 13 / 40

Chapter Thirteen

Kencan Pertama (Bertiga)

POV: Dimas


Rencana awalnya berdua.

Aku sudah menyusunnya dengan teliti khas orang yang empat tahun tidak pernah merencanakan malam untuk dirinya sendiri: restoran yang menunya pernah disebut Alena sambil lalu tiga minggu lalu (ia lupa pernah menyebutnya; aku tidak), reservasi jam tujuh, dan Kirana menginap di rumah Bu Ratna—neneknya sudah lama menagih jatah cucu, jadwalnya tinggal dicocokkan.

Rencana itu bertahan sampai Jumat sore, ketika aku menjemput Kirana dari sekolah dan ia naik ke boncengan dengan wajah yang salah.

Anak ini punya dua mode diam: diam kenyang-puas, dan diam yang isinya penuh. Sepanjang jalan pulang, punggungku bisa merasakan mode yang kedua.

“Kenapa?” tanyaku di lampu merah.

“Nggak papa.”

“Kirana.”

“...Nanti aja di rumah. Ini urusan penting. Nggak bisa di motor.”

Di rumah, setelah ganti baju dan minum—ia menunda dengan prosedur lengkap, tanda urusannya benar-benar penting—Kirana duduk di kursi makannya, menegakkan punggung, dan membuka sidang:

“Ayah sama Tante besok mau pergi berdua ya. Kirana dititipin ke Uti.”

Intelijen anak ini tidak pernah bocor dari pihak kami; pasti dari Uti sendiri, yang saking senangnya ditelepon langsung menyusun menu sayur asem kesukaan cucunya dan menyiarkannya via video call kemarin. Catatan: perbaiki jalur komunikasi keluarga.

“Iya,” kataku. Kami tidak berbohong pada Kirana. Itu aturan lama, dari zaman pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya: jawaban boleh disederhanakan, tidak boleh dipalsukan. “Besok malam Ayah ngajak Tante makan. Berdua. Kirana sama Uti, masak sayur asem, tidur di kasur Uti yang katamu paling empuk sedunia.”

“Kirana tahu.” Ia mengangguk, tetap tegak. “Kirana nggak marah. Uti-nya juga udah masak. Nggak enak kalau batal.”

“Terus yang bikin mukamu begitu apa?”

Kirana memandangi meja. Jari kecilnya menggambar lingkaran di taplak. Ketika akhirnya bicara, suaranya pelan, dan setiap katanya kedengaran sudah dipikirkan lama di boncengan tadi:

“Kalau Ayah sama Tante udah biasa pergi berdua... terus lama-lama... perginya berdua terus, nggak?”

Ah.

Aku menarik kursi, duduk supaya mataku sejajar matanya. Ini wilayah yang kupelajari empat tahun tanpa buku panduan: pertanyaan anak yang kalimatnya kecil tapi akarnya sampai ke bawah rumah.

“Kirana takut ditinggal?”

“Nggak takut.” Dagunya naik sedikit—gerakan yang ia warisi entah dari siapa, karena aku juga melakukannya saat berbohong. Lalu dagu itu turun lagi. “...Dikit.”

“Yang ditakutin yang mana? Ayah pergi sama Tante, atau Kirana-nya nggak diajak?”

Ia berpikir. Sungguh-sungguh berpikir; keningnya sampai berkerut. Ini juga aturan lama: pertanyaannya harus presisi, karena jawaban anak itu jujur tapi alamatnya suka salah.

“Yang kedua,” katanya akhirnya. “Kalau Ayah pergi sama Tante, Kirana seneng. Sumpah. Kirana kan ketuanya tim ini.” Keningnya masih berkerut. “Tapi tadi Rara bilang di sekolah, kakaknya Rara bilang, kalau orang pacaran itu anaknya suka nggak diajak-ajak. Katanya namanya obat nyamuk. Kirana nggak mau jadi obat nyamuk. Obat nyamuk itu dibakar, Yah.”

Aku menahan wajahku tetap serius dengan seluruh disiplin yang kupunya. “Yang bilang Kirana obat nyamuk siapa?”

“Belum ada. Kirana antisipasi.”

Antisipasi. Enam tahun. Kosakata anak ini tumbuh lebih cepat dari kakinya.

“Gini,” kataku. “Besok Ayah tetep pergi berdua sama Tante. Sekali-sekali orang dewasa emang butuh ngobrol berdua—sama kayak Kirana kalau lagi main rahasia sama Rara, kan nggak mau ditemenin Ayah.”

“Ih. Iya. Nggak lucu kalau ada Ayah.”

“Nah. Sama.” Kutunggu sampai ia selesai mengangguk. “Tapi kencan yang pertama—yang paling pertama, yang bersejarah—itu harusnya formasi lengkap. Satu tim. Dan besok itu bukan yang pertama.”

Kirana mengerjap. “Terus yang pertama kapan?”

“Malam ini.” Aku melirik jam. Setengah lima. Masih sempat. “Pasar malam alun-alun. Buka sampai jam sepuluh. Ayah, Kirana, Tante. Bertiga.”

Butuh dua detik untuk berita itu mendarat, dan ketika mendarat, ia meledak: Kirana melompat turun dari kursi, berlari memutari meja makan satu putaran penuh tanpa alasan taktis apa pun, lalu berhenti mendadak dengan wajah panik.

“KIRANA BELUM MANDI. TANTE UDAH DIKASIH TAU BELUM? BAJU YANG BAGUS YANG MANA—”

Ia sudah lenyap ke kamarnya sebelum kalimatnya selesai. Aku mengeluarkan ponsel.

Aku: Rencana berubah. Malam ini pasar malam. Bertiga. Besok tetep jalan yang berdua. Aku: Kirana nggak mau jadi obat nyamuk. Ceritanya panjang. Alena: obat nyamuk??? Alena: oke aku nggak akan nanya dulu. jam berapa? Aku: Jam 6. Makan di sana. Jangan makan dulu. Alena: SIAP. eh ini kencan pertama kita dong secara resmi Aku: Hm. Alena: kencan pertama kita ada pendampingnya umur 6 tahun Aku: Ketua tim wajib hadir di acara perdana. Aturan organisasi. Alena: kamu tuh ya Alena: untung sayang

Kubaca dua kata terakhir itu lebih lama dari yang mau kuakui, lalu masuk kamar untuk mencari kemeja yang bukan flanel.


Pasar malam alun-alun adalah jenis keramaian yang sudah bertahun-tahun kuhindari: lampu terlalu banyak, musik dari lima sumber bertabrakan, dan di setiap sudutnya berdiri kenangan-kenangan kecil yang dulu kupilih untuk tidak dikunjungi lagi.

Malam ini aku berdiri di gerbangnya dengan formasi baru: Kirana dengan bando kelinci yang dibeli tiga langkah setelah masuk (negosiasinya kalah cepat dari penyesalanku), dan Alena di sisi lain—celana jins, kaus, sneakers, rambut dikuncir, dandanan paling sederhana yang pernah kulihat darinya, dan tetap saja sepanjang jalan masuk tadi kepala orang-orang berputar seperti barisan bunga matahari. Ia tidak menyadarinya. Atau sudah terlalu terbiasa untuk menyadarinya. Aku belum terbiasa, dan memutuskan untuk berjalan setengah langkah lebih dekat.

“Aturan pasar malam,” umum Kirana, berdiri di antara kami dengan wibawa penuh. “Satu: nggak boleh pisah. Dua: jajannya gantian milihnya. Tiga—” ia mengangkat tangan kanannya ke arahku dan tangan kirinya ke arah Alena, “—gandeng. Biar nggak ilang.”

Kami patuh pada konstitusi. Formasi kereta: aku, Kirana, Alena, tersambung tangan ke tangan, menyusuri lorong lampu dan bunyi itu—dan pelan-pelan, tanpa kusadari kapan mulainya, malam yang kuhindari bertahun-tahun berubah jadi malam yang tidak ingin kupercepat.

Kirana memilih jajanan pertama: telur gulung, dimakan sambil jalan dengan teknik yang membuat Alena siaga satu memegangi tusuknya. Alena memilih kedua: es potong, yang katanya “rasa masa kecil”, dan ia memejamkan mata di gigitan pertama persis seperti saat sup buntut dulu. Aku dipaksa memilih ketiga dan memilih kopi keliling, yang divonis dua lawan satu sebagai “pilihan paling membosankan sepanjang sejarah pasar malam” dan tetap kunikmati sebagai bentuk perlawanan.

Di stan tembak balon, aku memenangkan boneka bebek ukuran sedang dengan enam tembakan—empat tahun tidak memegang senapan angin ternyata tidak menghapus masa SMP yang dihabiskan di pasar malam kampung. Kirana mengangkat bebek itu tinggi-tinggi seperti piala dunia. Alena menatapku dengan sipit curiga.

“Kamu jago nembak juga?”

“Pasar malam itu sekolahku dulu.”

“Ada lagi nggak skill yang belum dilaporin? Aku harus tahu lengkapnya. Buat... administrasi.”

“Nanti,” kataku, “ketahuan sendiri satu-satu.”

“Sombong banget,” katanya, dan tersenyum seperti orang yang tidak keberatan menunggu lama.

Rumah hantu kami lewati atas veto ketua tim (“Kirana nggak takut. Kirana cuma nggak setuju aja sama konsepnya”)—tapi tidak sebelum kami sempat menyaksikan, dari luar, seorang bapak keluar dari pintunya sambil menggendong anaknya yang tenang-tenang saja sementara bapaknya yang pucat. Kirana menonton pemandangan itu, lalu mendongak ke arahku, menilai, mengukur.

“Ayah takut hantu nggak?”

“Nggak.”

“Tante?”

“Tante takutnya kecoa.”

“Oh iya.” Kirana mengangguk, kasusnya selesai, arsipnya lengkap. “Semua orang udah tahu itu.”

Lalu, di depan komidi putar, hal itu terjadi—hal yang sudah diantisipasi semua pihak kecuali kami berdua.

Kirana melihat Rara. Rara yang itu, teman sekelasnya, sumber intelijen obat nyamuk, sedang antre komidi putar bersama ibunya. Dua anak itu saling menemukan dengan radar yang hanya dimiliki anak-anak, menjerit senang, dan Kirana melepaskan genggaman—dua-duanya, kiri dan kanan—untuk berlari memeluk temannya, bernegosiasi dengan ibunya Rara, dan naik komidi putar bersama, meninggalkan kami di garis penonton dengan satu boneka bebek dan dua tangan yang mendadak kosong.

Maksudku—seharusnya kosong.

Tanganku dan tangan Alena, yang tadi tersambung lewat perantara di tengah, ternyata sudah menemukan jalannya sendiri: bertaut langsung, jari di sela jari, entah sejak kapan, entah siapa duluan, tanpa melewati satu pun rapat.

Alena menunduk, melihat tautan itu. Aku ikut melihat.

“Kirananya udah lepas dari tadi,” katanya.

“Hm.”

“Alasannya kan ‘biar Kirana nggak ilang’.”

“Kamu juga bisa ilang.”

“Aku umur dua puluh delapan, Dimas.”

“Pasar malam rawan.” Kueratkan genggamannya. “Statistiknya nggak bohong.”

“Statistik dari mana—”

“Sumber terpercaya.”

Ia tertawa, menyerah, dan membalas eratnya—dan kami berdiri begitu di garis penonton komidi putar, bergandengan tanpa alasan logistik untuk pertama kalinya, menonton Kirana melambai heboh dari atas kuda-kudaan setiap kali putaran melewati kami, dan aku melambai balik dengan tangan yang memegang boneka bebek, karena tangan satunya sedang tidak bisa diganggu.


Kami menutup malam di bianglala.

Bianglala pasar malam: kecil, lambat, berderit dengan jujur, dan dari puncaknya alun-alun terhampar seperti tumpahan lampu. Satu gondola bertiga—Kirana di tengah, tentu, sudah konstitusinya—dan ketika kami berhenti tepat di puncak, angin malam masuk lewat kisi-kisi dan Kirana bersandar ke lenganku dengan bando kelincinya yang miring.

“Yah.”

“Hm.”

“Ini kencan pertama paling bagus sedunia.”

“Kamu belum pernah lihat kencan lain.”

“Nggak perlu.” Ia menguap lebar, kekenyangan dan kemenangan membuat baterainya terjun bebas. “Udah tau ini yang paling bagus.”

Di sisi lain, Alena memandang lampu-lampu di bawah, lalu memandang kami, dan angin memainkan anak rambut di pelipisnya, dan lampu bianglala berganti warna di wajahnya—merah, kuning, hijau—dan ia berkata pelan, hampir pada dirinya sendiri:

“Tahun lalu, jam segini, aku lagi lembur nulis rekam medis sambil makan roti. Sendirian. Kalau ada yang bilang setahun lagi aku bakal ada di sini—” ia menggeleng, tertawa kecil, “—naik bianglala bunyi kriyet-kriyet sama tukang kayu galak dan ketua tim umur enam...”

“Furniture maker.”

“...aku bakal tanda tangan di mana aja.”

Gondola bergoyang pelan. Di bawah, pasar malam berputar dengan segala lampunya. Di tengah, ketua tim kami sudah setengah tertidur, bando kelinci melorot, tangan kecilnya menggenggam ujung kaus Alena dan ujung kemejaku sekaligus—formasi kereta versi darurat, supaya tidak ada yang hilang bahkan dalam tidurnya.

Aku memandang dua orang itu, lalu lampu-lampu di bawah, lalu dua orang itu lagi.

Empat tahun aku menghindari tempat-tempat seperti ini karena setiap sudutnya berisi kenangan yang menyakitkan untuk dikunjungi.

Ternyata obatnya bukan menghindar.

Obatnya duduk di gondola yang sama.


Kirana tertidur total di perjalanan pulang, di jok belakang mobil Alena—kami berangkat naik mobilnya karena “motor nggak muat konstitusi”, kata pemilik konstitusi—dengan boneka bebek jadi bantal dan bando kelinci akhirnya menyerah, melorot menutupi sebelah matanya.

Di depan rumah, aku menggendongnya keluar. Anak enam tahun yang tidur itu beratnya dua kali anak enam tahun yang bangun; hukum alam yang tidak pernah dijelaskan sains. Kepalanya jatuh ke bahuku, napasnya panjang-panjang, dan di tengah pindahan dari mobil ke gendongan ia menggumam sesuatu—laporan terakhir dari alam mimpi:

“...kencannya bagus... Mimi juga bilang gitu...”

Alena membukakan pintu pagar, pintu rumah, pintu kamar—prosesi hening yang dikerjakan dengan koordinasi tanpa aba-aba, seperti sudah ratusan kali—dan menunggu di ambang kamar sementara aku membaringkan Kirana, melepas bando, memasang selimut, meletakkan bebek dalam radius pelukan.

Kami keluar mengendap seperti dua pencuri. Kebiasaan lama.

Di pagar—di pagar kami, gerendel berkarat, saksi paling senior—Alena berhenti, memutar badan, dan menengadah menatapku.

“Jadi besok tetep jalan? Yang berdua?”

“Reservasi jam tujuh. Uti udah nyiapin kamar.”

“Dua malam berturut-turut dikencanin.” Ia mengangguk-angguk, pura-pura menghitung. “Kalau gini terus aku bisa manja, loh. Nggak tanggung jawab nanti kamu.”

“Hm.”

“Itu ‘hm’ yang mana?”

Aku menunduk, mencium keningnya—bagian dari kamus yang tidak butuh terjemahan—dan menjawab di sana, pelan:

“Yang artinya: emang itu targetnya.”

Ia pulang ke rumah sebelah dengan langkah yang tidak lurus-lurus amat untuk orang yang tidak minum apa-apa, dan aku mengunci pintu dengan perasaan orang yang baru memenangkan sesuatu yang tidak diperlombakan.


[Bersambung ke Bab 14 — “Interogasi Papa”]