← Chapters Ch. 1 / 40

Chapter One

Gedoran Jam Tiga Pagi

POV: Alena


Malam itu aku percaya pada tiga hal: pertama, keputusanku pindah dari rumah orang tua adalah bentuk kedewasaan; kedua, kompleks Griya Anggrek adalah tempat paling tenang yang pernah kusurvei; ketiga, besok aku akan bangun segar untuk hari pertama praktik di klinik baruku.

Pada pukul tiga kurang tujuh menit dini hari, ketiga kepercayaan itu runtuh berjamaah.

BRAK.

Aku membuka mata. Langit-langit kamar baruku masih asing—sempat lupa sedang berada di mana. Kardus-kardus pindahan berdiri seperti gedung-gedung kota mati di sekeliling kasur yang bahkan belum kupasangi seprai dengan benar.

BRAK. BRUK. Gedebuk.

Suara itu datang dari sebelah. Tembok rumah ini ternyata jujur sekali dalam meneruskan informasi.

Kuraih ponsel. 02.53.

“Oke,” gumamku pada kegelapan. “Mungkin jatuh sesuatu. Orang bisa jatuh sesuatu jam tiga pagi. Sekali.”

GEDEBUK. Sreeek. BRAK.

Bukan sekali.

Aku memejamkan mata, menarik napas panjang seperti yang biasa kuajarkan pada pasien kecilku sebelum giginya dibor. Tarik... buang. Tarik... buang. Aku orang yang sabar. Aku dokter gigi anak. Kesabaranku sudah teruji oleh balita yang menggigit jariku sambil menangis dan menendang dadaku dalam satu gerakan.

Dari sebelah, samar tapi jelas, terdengar suara air keran dinyalakan kencang, disusul sesuatu yang seperti panci beradu, disusul—aku bersumpah—suara pria mengumpat tertahan.

02.58.

“Pesta,” bisikku, membuka mata dengan kalem yang berbahaya. “Dia bikin pesta. Jam tiga pagi. Di malam pertamaku.”

Aku bangkit. Menyambar cardigan dari kardus terdekat—yang ternyata kardus berisi handuk, jadi kusambar kardus kedua, dapat cardigan—dan berjalan keluar dengan langkah yang kuharap terdengar sampai sebelah sebagai peringatan dini.

Udara malam kompleks menampar mukaku, dingin dan bersih. Rumah sebelah, satu-satunya sumber kehidupan di gang yang sunyi itu, lampunya menyala hampir semua. Dari jendela samping terlihat siluet bergerak cepat, bolak-balik, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu.

Dikejar deadline nyusun playlist, mungkin, pikirku sengit.

Aku berdiri di depan pintu rumah itu, merapikan cardigan, menyusun kalimat. Sesuatu yang tegas tapi beradab. Selamat malam, maaf mengganggu—tidak, DIA yang mengganggu—Permisi, saya tetangga baru Anda, dan saya ingin menyampaikan bahwa suara Anda...

Kuketuk pintunya. Sopan. Tiga kali.

Tidak ada jawaban. Di dalam, suara langkah cepat masih hilir-mudik.

Kuketuk lagi, lebih keras. Lima kali.

Suara sesuatu tumpah. Umpatan tertahan lagi.

Kesopananku resmi habis masa berlakunya. Aku menggedor.

“Permisi! Halo?! Pak! Saya tahu Bapak di dalam—”

Pintu terbuka begitu mendadak sampai tinjuku yang sudah terangkat untuk gedoran berikutnya nyaris mendarat di dada orang.

Dada yang, untuk ukuran jam tiga pagi, terlalu... ada. Kaus abu-abu lusuh, lengan tergulung, dan di balik itu semua seorang laki-laki yang jelas bukan sedang berpesta. Rambutnya berantakan ke segala arah mata angin. Matanya merah kurang tidur. Di bahu kirinya tersampir handuk kecil bermotif kelinci. Di tangan kanannya, termometer.

Dan wajahnya—aku butuh sepersekian detik untuk memproses ini—wajahnya adalah wajah orang yang sedang tenggelam dan baru saja melihat sesuatu mengapung.

“Kamu dokter?”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Mobil kamu.” Ia menunjuk dengan dagu ke arah carport rumahku, ke mobil yang stikernya belum sempat kulepas: logo rumah sakit tempatku koas dulu. “Ada lambang... Kamu dokter, bukan?”

“Saya—iya, tapi—”

“Anak saya demam. Tiga sembilan koma dua. Udah saya kompres, udah minum obat penurun panas jam dua belas, nggak turun-turun, dia mulai ngelindur, dan saya—” ia berhenti, seperti baru mendengar suaranya sendiri dan menyadari sedang berbicara secepat apa. Jakunnya naik-turun. “Saya nggak tahu harus bawa ke IGD sekarang atau tunggu. Tolong.”

Semua kalimat protes yang sudah kususun rapi di depan pintu tadi menguap tanpa pamit.

“Tiga sembilan koma dua sejak kapan?”

“Naiknya dari jam satu. Tadi sore masih tiga tujuh lima.”

“Kejang? Muntah?”

“Nggak. Belum. Nggak tahu—” tangannya naik menjambak rambutnya sendiri, “—nggak, belum.”

“Boleh saya lihat?”

Ia sudah melangkah masuk sebelum kalimatku selesai, menyisakan pintu terbuka lebar sebagai jawaban.

Ruang tengah rumah itu seperti lokasi bencana skala kecil. Bantal-bantal sofa berserakan di lantai. Baskom berisi air di atas meja, satu lagi di lantai, satu lagi entah kenapa di atas rak buku. Sebuah panci—sumber suara brak nomor tiga, aku menduga—tergeletak di ambang dapur bersama genangan air. Termometer cadangan, plester kompres demam yang sobekannya gagal, dan bungkus obat berhamburan di meja seperti sisa pertempuran.

Tapi yang membuat langkahku melambat bukan itu. Rumah ini—di balik kekacauan daruratnya—hangat. Lantainya kayu. Rak-raknya kayu, dengan sambungan yang halus dan pasti tidak dibeli jadi. Di dinding, foto-foto keluarga dalam bingkai kayu yang seragam dibuat, bukan dibeli.

“Sini.” Suaranya memanggil dari kamar dengan pintu bergambar tempelan bintang-bintang.

Di kasur berseprai motif rubah, seorang anak perempuan kecil meringkuk memeluk boneka kelinci yang telinganya tinggal satu. Pipinya merah membara. Napasnya cepat dan pendek. Rambutnya lepek menempel di dahi yang dipasangi plester kompres secara miring—jelas dipasang oleh tangan yang panik.

Aku duduk di tepi kasur, dan tubuhku berpindah mode tanpa diminta. Punggung tanganku menempel ke leher anak itu, lalu dada. Kuangkat sedikit kausnya, memeriksa perut dan dada—tidak ada ruam. Kutekan lembut ujung-ujung jari kecil itu, mengamati warnanya kembali.

“Halo, cantik,” kataku pelan ketika kelopak matanya bergetar membuka. “Aku temennya Ayah. Boleh aku lihat tenggorokanmu? Buka mulutnya kayak singa... nah, gitu. Pinter banget.”

Anak itu, bahkan dalam demam 39 derajat, menurut. Kusorotkan senter ponsel. Tenggorokan merah. Kuraba belakang telinga, rahang. Kelenjar sedikit membesar.

“Telinganya sakit, nggak, sayang?”

Ia menggeleng lemah, lalu matanya yang sayu berpindah ke sosok ayahnya yang berdiri kaku di ambang pintu seperti tiang yang menyesal. “Ayah,” lirihnya serak, “kepalaku muter.”

Dan tiang itu retak. Aku melihatnya—laki-laki dewasa bertangan kasar dan berbahu lebar itu retak seketika hanya dengan tiga kata anaknya.

“Ayah di sini,” ia sudah berlutut di sisi lain kasur entah sejak kapan, tangannya yang besar menggenggam tangan kecil itu sampai tenggelam. “Ayah di sini, Kirana.”

Kirana. Kusimpan nama itu, lalu menoleh ke sang ayah. “Panas tinggi karena infeksi tenggorokan, kelihatannya virus. Belum ada tanda bahaya—napasnya masih baik, nggak ada kaku kuduk, nggak ada ruam, dia masih respons dan nurut. Belum perlu IGD.”

Bahunya turun lima senti. Aku hampir bisa mendengar suara pundak itu mendarat.

“Tapi,” lanjutku, “obat penurun panasnya boleh diulang, ini udah lewat jam-nya. Terus kompresnya salah tempat—” kulepas plester dari dahi Kirana, “—dahi itu cuma bikin adem perasaan ayahnya. Yang bener di lipatan: ketiak, selangkangan, pakai handuk hangat, bukan dingin. Bajunya ganti yang tipis, jangan diselimutin tebal walau dia menggigil, dan bujuk minum sesering mungkin. Dikit-dikit nggak apa-apa, yang penting sering.”

Ia menatapku dua detik penuh dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara ingin mencatat dan ingin bersujud—lalu bangkit. “Handuk hangat. Air hangat. Oke.” Ia berbalik ke dapur, berhenti, berbalik lagi. “Obatnya yang sirup atau—”

“Yang tadi jam dua belas dikasih apa?”

“Parasetamol sirup, lima mili.”

“Berat badannya berapa?”

“Sembilan belas kilo.”

“Boleh naik jadi tujuh setengah mili. Sekalian bawa gelas air minumnya.”

Ia bergerak. Dan aku, yang seharusnya sudah bisa pamit karena tugas konsultasiku selesai, entah kenapa malah menggulung lengan cardigan.


Yang terjadi satu jam berikutnya kelak akan kuingat sebagai shift jaga paling aneh dalam karierku.

Kami bekerja seperti dua perawat yang belum pernah dinas bareng tapi terpaksa kompak: aku mengompres lipatan, ia menjadi pelayan logistik yang efisien—air hangat datang sebelum diminta, handuk bersih selalu tersedia, dan ketika Kirana menolak minum obat sambil merengek, kami tanpa berunding langsung membagi peran. Aku memegang sendok takar dan suara lembut; ayahnya memegang boneka kelinci satu telinga dan memainkannya dengan suara falsetto yang sangat, sangat tidak cocok dengan tampangnya.

“Kirana minum obatnya, nanti Mimi ikut minum,” kata boneka kelinci itu dengan suara laki-laki bariton yang dipaksa naik tiga oktaf.

Aku harus menunduk dalam-dalam, pura-pura mengecek sendok takar, demi menyelamatkan wibawa semua pihak di ruangan itu.

Kirana minum obatnya.

Pukul empat lewat seperempat, suhu turun ke 38,1. Pukul setengah lima, 37,6, dan Kirana tertidur pulas dengan napas yang panjang-panjang. Boneka kelinci dijaga di sebelah bantalnya, sudah “ikut minum obat” dan “ikut sembuh”.

Kami berdua mundur dari kamar itu pelan-pelan seperti dua pencuri yang batal mencuri, dan baru bisa bernapas normal setelah pintu bergambar bintang itu tertutup separuh.

Di ruang tengah yang seperti medan perang tadi, kami berdiri canggung. Jam dinding menunjukkan hampir jam lima. Di luar, langit mulai mengencerkan gelapnya.

“Duduk dulu,” katanya. Bukan menawarkan. Lebih seperti memutuskan. Ia menyingkirkan bantal-bantal dari sofa dengan satu sapuan lengan, lalu menghilang ke dapur.

Aku baru sadar kakiku pegal ketika duduk. Aku juga baru sadar sedang berada di rumah orang asing, jam lima pagi, memakai cardigan di atas piyama motif alpukat, dan rambutku sejak tadi dicepol darurat dengan karet gelang warna merah yang kutemukan di saku.

Ya Tuhan. Kesan pertama pada tetangga: piyama alpukat dan karet gelang.

Ia kembali membawa dua cangkir. Cokelat panas. Bukan kopi—cokelat panas, dengan busa kecil di permukaannya, seperti dibuat oleh orang yang sudah ratusan kali membuatnya untuk anak kecil.

“Maaf,” katanya, duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang sopan. “Cuma ada ini. Kalau saya bikin kopi jam segini, kamu nggak akan tidur.”

“Saya memang udah nggak akan tidur.” Kuterima cangkirnya. “Praktik pertama saya jam sembilan.”

“Praktik.” Ia mengangguk pelan, lalu matanya menyipit sedikit. “Dokter apa, kalau boleh tahu? Tadi kamu sama Kirana... telaten banget.”

“Dokter gigi. Spesialis anak.”

Hening sebentar.

“Saya gedor pintu dokter gigi jam tiga pagi buat pasien demam.”

“Secara teknis,” kutiup cokelatku, “saya yang gedor pintu Anda.”

“Buat marah-marah.”

“Buat menyampaikan keberatan secara beradab.”

“Kamu bilang ‘Saya tahu Bapak di dalam’ sambil gedor.”

“Itu beradab. Versi jam tiga pagi.”

Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum penuh—lebih seperti senyum yang bocor sedikit dari bendungannya. Dan aku, yang seharian tadi diseret sopir truk pindahan, kuli angkut, dan kardus-kardus tak berujung, mendapati diriku tersenyum balik tanpa rencana.

“Dimas,” katanya. “Rumah ini cuma berisik kalau anaknya sakit. Biasanya kami tetangga yang membosankan.”

“Alena.” Kujabat tangan yang terulur—telapaknya kasar, hangat, dan entah kenapa jabatan itu membuatku sadar betapa berantakan penampilanku saat ini. “Rumah sebelah. Yang tadi niatnya perang.”

“Perangnya ditunda?”

“Dibatalkan. Dengan syarat.”

Alisnya naik sedikit. “Syarat.”

“Cokelat panasnya bikin lagi lain kali. Ini—” kutatap cangkirku dengan kecurigaan yang tulus, “—kenapa bisa enak banget? Ini cuma cokelat.”

“Rahasia dapur.”

“Saya tetangga Anda sekarang. Rahasia antar-tetangga itu tipis.”

“Nggak setipis tembok rumah ini, kayaknya.” Ia menyesap cokelatnya sendiri. “Buktinya kamu denger semua.”

“Semua,” tegasku. “Termasuk yang ngumpat pas panci jatuh.”

“Itu bukan ngumpat. Itu doa dengan intonasi darurat.”

Tawaku lolos sebelum sempat disensor—terlalu keras untuk jam lima pagi, sampai buru-buru kubekap dengan punggung tangan, dan kami berdua refleks menoleh ke arah pintu kamar berbintang. Aman. Sunyi.

Ketika akhirnya aku pamit, langit di luar sudah abu-abu terang dan tukang sayur terdengar lewat di ujung gang. Ia mengantarku sampai pagar—pagar rendah yang memisahkan dua halaman kami, yang baru sekarang kuperhatikan gerendelnya berkarat, jarang dipakai.

“Terima kasih,” katanya. Kali ini pelan, dan tanpa sisa panik di suaranya. “Beneran. Kalau tadi kamu nggak dateng, jam segini saya lagi di IGD, panik sendirian, digalakin perawat.”

“Kalau gitu jangan berisik lagi,” jawabku, melangkahi batas halaman sendiri, “biar saya nggak perlu nolongin Anda lagi.”

“Nggak janji.” Ia bersandar di pagar. “Anak umur enam tahun itu sumber suara. Sehat berisik, sakit lebih berisik.”

“Kalau berisiknya karena sehat, saya maafkan.”

“Dicatat.” Ia mengangguk sekali, hendak berbalik, lalu berhenti. “Alena.”

“Hm?”

“Piyamanya bagus.”

Aku berdiri mematung di tengah halaman sendiri, dalam piyama alpukat, ketika pintu rumah sebelah tertutup dengan bunyi klik yang sopan.

“...Sialan,” bisikku pada pagar.

Pagar itu tidak membela siapa-siapa.


Pukul sembilan pagi, dengan dua cangkir kopi dalam darah dan bekas kurang tidur yang ditutupi concealer seadanya, aku—drg. Alena Paramitha, yang namanya baru kemarin dipasang di papan klinik—membuka pintu praktik untuk pasien pertama.

Dan sore harinya, ketika pulang dengan tubuh remuk tapi hati penuh, kutemukan sesuatu tergantung di pagar rendah antara dua rumah itu: sebuah rantang kayu—kayu, siapa yang punya rantang kayu—dengan secarik kertas terselip di gagangnya.

Tulisannya tegak, rapi, seperti huruf orang yang biasa menulis di gambar teknik:

“Kirana sudah bisa lompat-lompat lagi. Kata dia, ini buat ‘Tante Dokter’. Kata saya, ini bayaran shift jaga. — D.”

Di dalamnya: sup ayam yang masih hangat, dan cokelat—dibuatkan versi dingin dalam botol kecil.

Aku berdiri lama di depan pagar itu, menahan senyum yang menolak dibatalkan, dan berpikir bahwa mungkin, mungkin, pindah ke kompleks ini bukan cuma bentuk kedewasaan.

Mungkin ini bentuk keberuntungan.

Aku belum tahu saja: gerendel pagar yang berkarat itu tidak akan pernah sempat dikunci lagi.


[Bersambung ke Bab 2 — “Rantang Perdamaian”]