← Chapters Ch. 21 / 40

Chapter Twenty One

Hari Ibu di Sekolah

POV: Kirana


Aku tahu sesuatu yang orang dewasa tidak tahu: kalau kamu diam saja dan tidak berisik, orang dewasa lupa kamu ada di situ, dan mereka mulai ngomongin hal-hal yang sebenarnya bagus buat didengerin.

Makanya aku suka duduk di bawah meja workshop. Ayah kira aku main. Padahal aku kerja.

Dari bawah meja itu aku tahu banyak: aku tahu Ayah suka ngomong sendiri kalau sambungannya susah. Aku tahu Tante Alena kalau ke workshop selalu ngelap kursinya dulu padahal kursinya nggak kotor. Aku tahu mereka berdua kalau ketemu mata itu suka pura-pura lihat ke arah lain, terus lihat lagi, terus pura-pura lagi. Kayak main petak umpet tapi nggak ada yang ngitung.

Aku sudah tahu semuanya dari lama. Dari sebelum mereka tahu.

Jadi waktu Bu Guru bilang minggu depan ada Hari Ibu, aku sudah punya rencana.


Bu Guru bilangnya hari Senin, pas lingkaran pagi.

“Anak-anak, minggu depan hari Jumat kita ada acara Hari Ibu. Ibunya masing-masing diundang ke sekolah ya. Nanti ada lomba, ada pentas, terus anak-anak kasih hadiah buat Ibu.”

Terus Bu Guru bagi-bagi surat undangan. Kertasnya pink, ada gambar bunga, terus ada tempat kosong buat nulis nama.

“Kepada: ______________”

Semua temanku langsung nulis. Rara nulis “MAMA”. Bagas nulis “MAMA” juga. Anak-anak lain juga mama semua.

Aku nggak nulis apa-apa.

Aku lipat suratku, aku masukin tas, terus aku main lagi. Aku nggak sedih. Ini penting: aku nggak sedih. Orang selalu ngira aku sedih kalau ada acara begini, terus mereka mukanya jadi aneh, terus mereka baik-baik banget sampai nggak enak. Padahal aku nggak apa-apa. Aku sudah biasa.

Tahun lalu Uti yang datang. Tahun sebelumnya juga Uti. Uti itu ibunya Mama. Uti selalu mau datang kalau aku minta, terus dia pakai kebaya, terus dia menang lomba masukin pensil ke botol karena tangannya nggak goyang.

Cuma tahun ini aku kepikiran sesuatu.

Aku kepikirannya pas pulang sekolah, di jemputan, pas lihat Bu Yayuk di warung. Terus aku mikir terus sampai rumah. Terus aku mikir lagi pas makan malam, pas Tante Alena lagi ketawa gara-gara Ayah bilang sesuatu yang nggak lucu tapi Tante-nya ketawa aja terus.

Terus aku ambil keputusan.


Hari Rabu, pas Tante ngepang rambutku di teras, aku tanya. Aku sengaja tanyanya pas Ayah lagi di dapur, biar aman.

“Tante.”

“Ya, Bu Asisten.”

“Hari Jumat depan Tante kerja nggak?”

“Jumat depan...” Tante mikir sambil jarinya jalan di rambutku. “Kerja. Tapi siangnya kosong. Kenapa?”

“Nggak papa. Nanya aja.”

Terus aku diem. Terus aku tanya lagi, sambil ngeliatin semut jalan di lantai teras biar nggak usah lihat mukanya.

“Kalau ada acara, Tante mau dateng nggak?”

“Acara apa?”

“Acara aja. Di suatu tempat.”

Tante ketawa. “Kirana, Tante butuh informasi lebih lengkap buat ngasih keputusan.”

“Nanti Kirana kasih tahu. Sekarang jawab dulu: mau apa nggak.”

Tante berhenti ngepang sebentar. Terus dia lanjut lagi, tapi pelan-pelan.

“Kalau Kirana yang ngajak,” katanya, “Tante mau.”

“Janji?”

“Janji.”

“Nggak boleh dibatalin walaupun ada pasien banyak?”

“...Nggak boleh dibatalin.”

“Oke.” Aku ngangguk. Semutnya sudah sampai ujung teras. “Nanti Kirana kasih suratnya.”


Malamnya aku isi suratnya di kamar, pintu ditutup, pakai spidol yang paling bagus.

Aku nulisnya lama banget. Bukan karena bingung nulis apa. Karena aku pengen tulisannya rapi. Kalau tulisannya jelek nanti kayak nggak niat.

“Kepada: TANTE ALENA”

Terus di bawahnya aku gambar dua orang: satu tinggi rambut panjang, satu kecil kepang dua. Terus aku kasih hati dua. Terus aku hapus satu karena kebanyakan. Terus aku gambar lagi karena kok kurang.

Besoknya aku kasih ke Tante pas dia mau berangkat kerja, terus aku langsung lari ke jemputan biar nggak usah lihat mukanya pas baca.

Tapi aku sempat lihat dikit dari jendela mobil jemputan.

Tante berdiri di pagar. Lama. Suratnya dipegang dua tangan. Terus dia usap matanya pakai punggung tangan, cepet-cepet, kayak orang yang nggak mau ketahuan.

Terus dia lambai ke jemputan sambil senyum lebar banget.

Aku lambai balik.

Di dalam mobil aku senyum-senyum sendiri sampai Rara nanya aku kenapa. Aku bilang nggak papa.


Hari Jumat.

Sebelum hari Jumat ada hari Kamis, dan hari Kamis itu ada latihan pentas.

Kelasku dapat bagian nyanyi lagu “Kasih Ibu”. Aku hafal lagunya dari dulu, jadi aku santai. Yang nggak santai itu Rara, karena Rara suka lupa liriknya di bagian “hanya memberi tak harap kembali”.

“Kirana,” kata Rara pas istirahat, sambil makan bekal, “ibumu dateng nggak besok?”

Anak-anak itu enak, mereka nanya langsung. Orang dewasa nggak pernah nanya langsung. Orang dewasa nanyanya muter-muter sampai kamu capek.

“Mamaku sudah meninggal,” kataku. Aku selalu bilangnya gitu. Kalimatnya sudah biasa di mulutku, kayak bilang alamat rumah.

“Oh iya.” Rara ngangguk. Dia sudah tahu, cuma lupa. “Terus siapa yang dateng?”

“Tante-ku.”

“Yang cantik itu?”

“Iya.”

“Yang suka jemput kamu terus kalian jalan bertiga sama ayahmu?”

“Iya.”

Rara mikir sambil ngunyah. Terus dia bilang, “Enak ya.”

Aku nggak jawab. Tapi di dalam dadaku ada yang anget.

Terus Rara bilang lagi, “Kakakku bilang, ayah-ayah yang udah nggak punya istri itu biasanya—”

“Bu Guru manggil tuh,” kataku, padahal Bu Guru nggak manggil.

Rara langsung lari ke kelas.

Aku duduk sendirian sebentar. Terus aku lanjut makan bekalku—nasi goreng buatan Ayah, yang telurnya dibentuk hati karena aku minta.

Aku nggak mau dengerin kalimat yang belum selesai itu.

Aku belum tahu kenapa. Cuma perutku bilang jangan.


Terus besoknya, hari Jumat beneran.

Aku pakai baju biru yang ada renda di lengannya. Ayah yang nyetrika. Ayah nyetrikanya sambil ngomel karena rendanya susah, tapi hasilnya bagus.

Terus Ayah jongkok di depanku pas mau berangkat.

“Kirana.”

“Iya?”

“Ayah nggak boleh masuk ya. Ini acara ibu-ibu.”

“Iya, Kirana tahu.”

“Ayah tungguin di luar. Di parkiran. Kalau kenapa-kenapa, Kirana keluar aja, Ayah di situ terus. Nggak ke mana-mana.”

“Ayah nggak usah nunggu. Kan ada Tante.”

“Ayah tetep nunggu,” kata Ayah.

Terus Ayah benerin kerah bajuku yang sudah rapi, dua kali, kayak orang yang bingung tangannya mau ngapain lagi.

Aku pikir Ayah lucu. Aku kan cuma mau ke sekolah, bukan mau ke bulan.


Acaranya di aula. Ramai banget. Semua ibu-ibu pakai baju bagus, ada yang pakai kebaya, ada yang pakai batik. Wangi-wangi.

Terus Tante datang.

Dan semua orang lihat.

Beneran. Semua orang. Ibu-ibu berhenti ngomong, terus lihat, terus bisik-bisik. Aku sudah tahu ini bakal kejadian—kalau jalan sama Tante di pasar juga gitu, orang selalu lihat—tapi hari ini lebih parah karena Tante pakai baju yang warnanya kayak susu, terus rambutnya digelung, terus dia bawa kotak kue.

Tante jalan lurus ke arahku dan jongkok di depanku.

“Maaf ya, telat lima menit. Pasien terakhir dramanya panjang.”

“Nggak telat,” kataku. “Belum mulai.”

Terus Tante benerin kerah bajuku.

Persis kayak Ayah tadi. Persis banget. Padahal mereka nggak janjian.

Aku senyum sampai pipiku sakit.


Ini yang terjadi di acara Hari Ibu, urutannya:

Satu. Lomba masukin benang ke jarum. Tante menang. Ibu-ibu lain kaget. Aku bilang ke Rara, “Tante-ku dokter, tangannya nggak boleh goyang, kalau goyang nanti giginya bolong tambah bolong.” Rara bilang “wah”. Aku bangga banget sampai perutku geli.

Dua. Lomba estafet air pakai spons. Kami kalah. Kami kalah parah. Tante-nya kecepetan lari terus tumpah semua. Tapi kami ketawa terus sampai Bu Guru harus negur karena kelamaan ketawanya.

Tiga. Makan bareng. Kue yang dibawa Tante habis duluan. Aku bilang ke semua orang itu kue dari toko yang antrinya panjang. Bagas nanya, “Ini ibumu?” Aku diem sebentar. Terus aku bilang, “Ini Tante-ku.” Terus Bagas bilang, “Oh.” Terus dia lanjut makan. Cuma gitu doang. Ternyata anak-anak nggak ribet.

Empat. Ini bagian terakhir. Bagian ngasih hadiah.

Bu Guru bilang, “Anak-anak, sekarang kasih kartu yang kemarin kita bikin ke ibunya masing-masing ya. Terus peluk. Satu-satu ke depan.”

Aku sudah bikin kartunya dari Senin. Isinya gambar aku sama Tante Alena di depan rumah, terus ada tulisan “MAKASIH SUDAH DATANG”.

Terus giliranku.

Aku maju. Aku kasih kartunya. Tante bacanya lama, terus dia nunduk, terus dia peluk aku erat banget sampai aku agak susah napas tapi aku nggak bilang.

Terus dia bisik di telingaku.

“Makasih ya, sayang. Tante seneng banget diajak.”

Terus aku bisik balik, “Makasih Tante dateng.”

Terus Tante bilang lagi, pelan banget, “Tante bangga banget sama kamu.”

Terus—

Aku nggak tahu kenapa, tapi tiba-tiba mataku panas.

Bukan sedih. Sumpah bukan sedih. Rasanya kayak kalau lagi kenyang banget terus masih dikasih makanan enak. Kepenuhan.

Aku peluk lebih erat biar nggak ada yang lihat mukaku.


Pas pulang, Ayah beneran ada di parkiran. Berdiri di sebelah motor. Sudah dari tadi kayaknya karena bajunya agak basah kena keringat.

Ayah lihat kami keluar. Terus Ayah lihat mukaku. Terus Ayah lihat muka Tante—yang matanya masih merah dikit—terus Ayah nggak nanya apa-apa. Ayah cuma bilang:

“Es krim?”

“ES KRIM!”

Jadi kami makan es krim di kedai deket sekolah. Bertiga. Aku pesan rasa cokelat, Tante rasa stroberi, Ayah nggak pesan karena katanya nggak suka manis, tapi terus dia habisin punyaku yang nggak kuat lagi.

Bohong. Ayah suka manis. Aku pernah lihat dia makan tiga potong kue di dapur jam sebelas malam sambil sembunyi. Tapi aku nggak bilang.


Malamnya, sebelum tidur, aku buka tasku.

Ada satu hal yang belum aku ceritain.

Waktu Senin kemarin, pas semua anak bikin kartu, aku bikin dua.

Yang satu buat Tante Alena. Yang satu lagi... yang satu lagi aku bikin waktu Bu Guru lagi keluar kelas. Cepet-cepet. Gambarnya jelek karena buru-buru.

Gambar perempuan, rambutnya panjang, pakai baju biru. Aku gambarnya dari foto yang ada di kamarku. Fotonya Mama lagi gendong aku waktu aku masih kayak roti.

Di kartunya aku tulis: “HARI IBU. BUAT MAMA. DARI KIRANA.”

Terus aku nggak kasih ke siapa-siapa. Karena nggak bisa dikasih.

Jadi kartunya aku lipat, aku masukin ke kantong depan tas, ritsletingnya aku tutup rapet.

Sekarang aku keluarin lagi. Aku buka lipatannya. Aku lihatin lama-lama di bawah lampu kamarku yang ada bintang empat puluh tujuh.

Terus aku taruh di bawah bantal. Di sebelah foto Mama yang aku simpen di kotak biskuit.

Aku nggak sedih. Beneran.

Cuma... hari ini aku senang banget. Senang banget sampai kepenuhan. Dan waktu aku senang banget kayak gitu, ada satu hal yang muncul di kepalaku dan aku nggak bisa usir:

Kalau nanti aku terlalu senang sama Tante Alena, terus Mama gimana?

Mama kan nggak bisa datang ke Hari Ibu.

Mama kan cuma bisa di kotak biskuit.

Aku tarik selimut sampai leher. Aku peluk Mimi.

“Mi,” kataku, pelan banget biar nggak kedengeran sampai luar. “Mimi kan tahu aku sayang Mama, kan?”

Mimi nggak jawab. Mimi kan boneka.

Tapi Mimi diem itu artinya iya. Aku sudah kenal Mimi dari bayi.

Aku tidur.

Besoknya aku bangun dan semuanya biasa lagi: Tante datang jam setengah tujuh, ngepang rambutku, dua cangkir di undakan, Ayah bilang “sayang, tolong ambilin” sesuatu, dan Tante berhenti sebentar kayak biasa terus pura-pura nggak berhenti.

Semuanya bagus. Semuanya seperti seharusnya.

Kartu yang satunya tetap di bawah bantal.

Aku nggak cerita ke siapa-siapa.


[Bersambung ke Bab 22 — “Kata Bu Yayuk”]