Chapter Twenty Three
Tante Mau Hapus Mama?
POV: Alena
Hari pertama, kubilang pada diriku sendiri: anak-anak memang begitu.
Aku dokter gigi anak. Sepuluh tahun aku bekerja dengan makhluk-makhluk kecil yang moodnya berganti seperti cuaca pegunungan. Ada hari mereka memelukmu, ada hari mereka menolak membuka mulut karena warna sarung tanganmu berubah. Itu normal. Itu perkembangan.
“Nggak usah. Kirana bisa sendiri.”
Kepang pagi itu ia kerjakan sendiri. Hasilnya berantakan—lebih berantakan dari karya Dimas di masa jayanya—dan ia tetap berangkat sekolah dengan kepang itu, dagu terangkat, tanpa menoleh ke arahku.
“Lagi pengen mandiri kali,” kataku pada Dimas, yang berdiri di ambang pintu memegang dua cangkir dengan kening berkerut.
“Hm.”
“Anak-anak fase-fasean gitu.”
“Hm,” katanya lagi, dan “hm” yang itu tidak sependapat denganku sedikit pun.
Hari kedua: ia tidak duduk di kursinya saat makan malam.
Bukan menolak makan—ia mengambil piringnya, mengisinya sendiri, lalu duduk di kursi ujung. Kursi yang biasanya kosong. Kursi yang jaraknya dari kursiku dua kali lipat.
“Kirana, kursimu di situ,” kata Dimas.
“Kirana mau duduk sini.”
“Kenapa?”
“Kirana suka aja.”
Dimas membuka mulut. Kugenggam pergelangan tangannya di bawah meja: jangan. Ia menutup mulutnya lagi.
Makan malam itu berlangsung dua puluh menit dengan suara sendok yang terdengar terlalu jelas.
Hari ketiga: aku membuat rawon.
Percobaan kelima. Sudah tidak keasinan—aku sudah menaklukkan garam, kluweknya sudah bertahap, dan menurut penilaian juri utama di rumah ini rasanya sudah “delapan setengah dari sepuluh, kurangnya di daging, tapi itu dagingnya yang salah bukan kamu”.
Kubawa satu panci kecil ke rumah sebelah dengan seluruh kebanggaan yang dimiliki manusia yang tujuh bulan lalu menggosongkan panci saat merebus air.
Kirana mencium baunya dari kamar dan keluar. Berdiri di ambang dapur.
“Itu bikinan siapa?”
“Tante.” Kubuka tutupnya. “Percobaan kelima. Yang ini udah nggak asin, sumpah.”
Ia menatap panci itu.
Lalu ia bilang, dengan suara datar yang persis suara ayahnya kalau sedang menutup sesuatu:
“Kirana nggak mau.”
“Kenapa? Kemarin—”
“Kirana mau masakan Ayah aja.”
Dan ia pergi.
Aku berdiri di dapur itu memegang tutup panci, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sesuatu di dadaku retak sedikit.
Malamnya kutelepon Dara dari mobil, di parkiran depan rumahku sendiri, karena aku tidak sanggup masuk ke rumah kosong dulu.
“Dia nolak masakanku, Dar.”
“Anak-anak—”
“Jangan bilang anak-anak memang begitu. Aku yang biasanya bilang gitu ke orang tua pasien, dan sekarang aku tahu kalimat itu nggak ngebantu sama sekali.”
Hening di seberang.
“Oke,” kata Dara. “Kalau bukan ‘anak-anak memang begitu’, menurutmu apa?”
“Aku nggak tahu. Itu masalahnya.” Kusandarkan kepala ke setir. “Dar, aku sepuluh tahun megang anak. Aku bisa bikin anak yang nendang-nendang jadi nurut dalam sebelas menit. Tapi itu semua di kursi periksa, dua puluh menit, terus mereka pulang. Ini beda. Ini anak yang tiap pagi nungguin aku di undakan teras dan sekarang mundur waktu aku mau pegang dahinya.”
“Kamu udah tanya dia?”
“Dia nggak mau ditanya.”
“Terus kamu mau apa?”
“Aku mau dia balik lagi,” kataku, dan suaraku bergetar dengan cara yang membuatku sendiri kaget. “Dar, aku baru sadar sesuatu yang bikin aku takut. Aku pikir selama ini aku jatuh cinta sama Dimas terus dapet bonus anak lucu. Ternyata nggak. Aku sayang anak itu sendiri. Sebagai orangnya. Kalau besok aku putus sama ayahnya, yang bikin aku hancur bukan cuma ayahnya.”
Dara diam lama sekali.
“Len,” katanya akhirnya, pelan, “kamu barusan ngomong kayak orang tua.”
Aku menutup telepon dan menangis di parkiran selama empat menit, lalu memperbaiki riasan dan masuk rumah seperti orang yang baik-baik saja.
Hari keempat, Sabtu, aku mencoba jalan lain.
Bukan makanan, bukan rambut. Sesuatu yang selama ini selalu berhasil: aku datang ke rumah sebelah membawa kotak alat gambarku—kotak yang kubeli waktu masih koas dan hampir tidak pernah kupakai—dan duduk di ruang tengah, di lantai, tanpa mengajak siapa-siapa.
Anak-anak itu seperti kucing. Kalau kau kejar, mereka lari. Kalau kau duduk diam dan melakukan sesuatu yang menarik, mereka datang sendiri.
Lima belas menit kemudian, terdengar langkah kecil di lorong. Berhenti. Mendekat lagi.
“Tante gambar apa?”
Aku tidak mengangkat wajah. “Gigi.”
“Ih. Gambar gigi?”
“Gigi geraham. Ini yang paling susah. Akarnya tiga, kadang empat, dan yang keempat suka sembunyi.” Kugeser kertasku sedikit. “Kirana mau gambar juga? Ada spidol dua belas warna.”
Hening lama.
Lalu ia duduk. Setengah meter dariku—dulu jaraknya nol—dan mengambil kertas sendiri.
Kami menggambar sepuluh menit tanpa bicara, dan sepuluh menit itu adalah sepuluh menit terbaikku sejak hari Rabu.
Lalu aku, yang bodoh, yang terlalu senang, yang mengira sudah aman, melakukan kesalahan.
Aku melihat gambarnya: rumah, tiga orang, pagar terbuka. Gambar yang sudah ratusan kali ia buat dan menempel di kulkas.
“Bagus banget,” kataku. “Nanti kalau udah selesai, kita tempel di kulkas ya. Tante bantuin cari magnet yang—”
“Nggak usah.”
Spidolnya berhenti.
“Kenapa?”
“Nggak usah aja.”
“Kirana.” Aku menaruh spidolku. Pelan. Hati-hati. “Tante boleh nanya nggak?”
“Nggak.”
“Cuma satu.”
“NGGAK.”
Suaranya naik, dan seluruh rumah mendengarnya. Dari arah workshop, bunyi mesin serut berhenti.
Aku harusnya berhenti di situ. Sungguh. Sepuluh tahun menangani anak-anak seharusnya mengajariku bahwa “nggak” yang volumenya naik itu artinya pintu sudah ditutup dan memaksa hanya akan membuat kuncinya dibanting.
Tapi empat hari itu panjang, dan aku lelah, dan aku sayang anak ini, dan kadang sayang membuat orang bodoh.
“Tante cuma mau tahu Tante salah apa,” kataku pelan. “Biar Tante bisa minta maaf. Kalau Tante salah, Tante mau—”
Dan Kirana berdiri.
Enam tahun, satu meter dua senti, tangan mengepal di sisi badan, dan mukanya—mukanya bukan muka anak yang sedang ngambek. Mukanya muka anak yang sudah menyimpan sesuatu terlalu lama sampai penyimpanannya jebol.
“TANTE MAU HAPUS MAMA DARI RUMAH INI, YA?”
Dunia berhenti.
Bunyi apa pun berhenti. Kipas angin, jam dinding, semuanya. Yang tersisa cuma napas anak itu yang cepat dan pendek, dan telingaku yang berdenging.
“Kirana—”
“Tante datang tiap hari!” Suaranya pecah, air matanya sudah jatuh sebelum kalimat pertamanya selesai. “Tante makan di kursi! Tante ngepang rambut Kirana! Tante masak pakai buku resep Uti! Terus Ayah jadi ketawa terus, Ayah nggak pernah ketawa kayak gitu, terus sekarang semua orang bilang ‘wah cocok banget, wah bagus banget’—”
“Sayang, dengerin Tante—”
“TERUS MAMA GIMANA?!”
Ia berteriak sekencang-kencangnya, dan tubuh kecil itu bergetar seluruhnya.
“Kata ibu-ibu di warung, nanti fotonya diturunin! Nanti nggak ada yang inget! Kata mereka nanti kalau Tante punya bayi, Kirana nggak nomor satu lagi, terus Mama—terus Mama—”
Ia terisak, kehabisan napas, dan kalimat terakhirnya keluar dengan suara yang sangat kecil dan sangat hancur:
“—terus Mama dilupain, terus Mama nggak ada beneran.”
Dan di situ ia berhenti bicara sama sekali, karena isakannya sudah tidak menyisakan tempat untuk kata-kata.
Aku mendengar langkah cepat dari arah lorong.
Dimas berdiri di ambang ruang tengah dengan apron kerja masih terpasang, dada naik-turun, dan aku bisa melihat semuanya di wajahnya sekaligus: kaget, sakit, dan—ini yang berbahaya—marah. Bukan marah pada Kirana. Marah pada situasi, pada ibu-ibu di warung, pada dirinya sendiri, pada empat tahun terakhir. Tapi marah tetaplah marah, dan yang paling dekat dengan marah selalu yang paling kecil di ruangan.
“Kirana,” suaranya rendah, tegang. “Kamu nggak boleh ngomong gitu ke—”
“Jangan.”
Aku berdiri. Kutahan lengannya.
“Alena—”
“Jangan, Dimas.” Aku menatapnya, dan aku tahu suaraku bergetar tapi aku memaksanya tetap tegak. “Dia nggak salah.”
“Dia—”
“Dia takut.” Kutekan lengannya. “Dia takut, dan dia nyimpen sendirian entah berapa lama, dan dia nggak punya kata-katanya, jadi keluarnya begitu. Kalau kamu marahin dia sekarang, kamu ngajarin dia satu hal: takut itu nggak boleh diomongin.” Napasku putus di tengah. “Aku nggak mau dia belajar itu. Nggak dari kita.”
Dimas menatapku. Rahangnya masih mengeras. Lalu bahunya turun, perlahan, dan sesuatu di matanya patah.
Di lantai, di antara spidol dua belas warna, Kirana menangis dengan cara yang membuat dadaku hancur berkeping: mulutnya ditutup rapat dengan kedua tangan, bahunya berguncang, tanpa suara.
Anak enam tahun yang sudah tahu cara menangis tanpa suara.
Entah sejak kapan ia belajar itu, dan siapa yang mengajarinya, dan berapa kali ia sudah melakukannya di kamarnya sendiri sementara kami berdua di ruangan sebelah merasa semuanya baik-baik saja.
Aku berlutut. Tidak menyentuhnya—tidak boleh, tidak sekarang, tubuhnya sedang bilang jangan—cuma berlutut supaya mataku sejajar.
“Kirana.”
Ia tidak mengangkat wajah.
“Tante nggak akan hapus Mama.”
Bahunya masih berguncang.
“Tante nggak akan pernah hapus Mama. Nggak fotonya, nggak bukunya, nggak apa pun.” Suaraku pecah dan kubiarkan pecah. “Dan kamu nomor satu. Kamu nomor satu Ayah dan kamu akan selalu nomor satu Ayah, dan itu bukan sesuatu yang bisa Tante ambil, karena itu bukan punya Tante.”
Ia mengangkat wajah sedikit. Matanya merah, hidungnya basah, dan ia menatapku dengan tatapan anak yang ingin percaya tapi sudah terlanjur mendengar hal lain dari orang dewasa lain.
“Tante boleh mikir dulu?” kataku.
“...Mikir apa?”
“Mikir gimana caranya Tante buktiin. Karena kalau Tante cuma ngomong, ngomong itu gampang. Kirana udah dengar orang ngomong macam-macam minggu ini, dan ternyata omongan bisa bikin sakit.” Kuseka mataku dengan punggung tangan. “Jadi Tante mau buktiin pakai yang bukan omongan. Tapi Tante butuh waktu buat mikir. Boleh?”
Kirana menatapku lama sekali.
Lalu ia mengangguk. Satu kali. Kecil.
Dan itu—satu anggukan kecil itu—adalah hal terbaik yang terjadi padaku sepanjang minggu itu.
Ia tidur jam delapan, kelelahan menangis.
Dimas menemaniku sampai pagar. Kami berdiri di sana lama tanpa bicara, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, pagar itu terasa seperti pagar lagi.
“Maaf,” katanya akhirnya. Suaranya habis.
“Buat apa?”
“Buat semuanya. Buat nggak nyadar. Empat hari, Alena. Anakku dingin ke kamu empat hari dan aku pikir dia cuma—” ia menggosok wajahnya dengan telapak tangan, “—aku pikir dia cuma lagi begitu. Aku ayahnya. Aku harusnya—”
“Dimas.”
“Aku juga marah tadi. Ke dia. Padahal dia—”
“Dimas.” Kupegang kedua sisi wajahnya, kupaksa ia menatapku. “Kamu manusia. Kamu denger anakmu teriak sama orang yang kamu sayang, kamu refleks. Terus kamu berhenti pas dibilang berhenti. Itu udah bagus.”
Ia menutup matanya sebentar. Ketika membukanya lagi, ada yang berkilat di sana, dan ia buru-buru menoleh ke arah gelap.
“Aku nggak pernah cerita tentang Laras ke dia,” katanya pelan. “Sadar nggak? Tujuh bulan kamu di rumah itu, dan aku nggak pernah cerita apa pun ke Kirana tentang ibunya. Foto ada. Nama disebut kalau perlu. Tapi cerita—” ia menggeleng. “Nggak pernah. Aku pikir kalau nggak dibahas, dia nggak sedih. Ternyata yang kubikin bukan nggak sedih. Yang kubikin: dia punya ibu yang cuma berupa foto di dinding. Dan foto bisa diturunin.”
Aku memeluknya di pagar itu, dan ia membalas pelukannya dengan cara yang belum pernah—erat, sedikit putus asa, seperti orang yang memegangi sesuatu supaya tidak hanyut.
“Besok,” kataku di bahunya.
“Besok apa?”
“Besok kamu cerita ke dia. Tentang Laras. Semuanya, yang lucu-lucunya, yang berisiknya, yang nggak bisa masaknya. Kamu ceritain sampai anak itu punya ibu yang bukan cuma foto.”
Ia diam lama.
“Terus kamu?”
“Aku,” kataku, dan rencana itu baru selesai terbentuk di kepalaku detik itu juga, seperti sambungan yang akhirnya masuk, “aku besok ke toko bingkai.”
[Bersambung ke Bab 24 — “Cerita Tentang Laras”]