← Chapters Ch. 24 / 40

Chapter Twenty Four

Cerita Tentang Laras

POV: Dimas


Aku tidak tidur malam itu.

Bukan tidak bisa—tidak mau. Ada perbedaannya. Aku duduk di ruang tengah sampai lewat jam dua, di kursi yang menghadap dinding foto, memandangi ruang kosong di rak kedua tempat sebuah bingkai seharusnya berdiri.

Ruang kosong itu ada di sana entah sejak kapan.

Itu yang paling sulit kuterima. Bukan bahwa Kirana mengambilnya. Tapi bahwa ia mengambilnya, dan aku tidak menyadarinya—berapa hari? Dua? Tiga? Aku melewati ruangan ini belasan kali sehari. Aku yang membuat bingkainya. Aku yang memasang raknya.

Dan aku tidak lihat.

Jam tiga pagi aku berdiri, mengambil tangga lipat, dan mengeluarkan kardus dari atas lemari kamarku—kardus yang empat tahun ini tidak pernah kubuka lebih dari dua kali setahun, itu pun sendirian, malam-malam, dengan pintu terkunci.

Album foto. Tiga buah. Sebuah kotak kecil berisi barang-barang. Buku catatan bersampul kain.

Kubawa semuanya ke ruang tengah dan kutaruh di meja.

Lalu aku duduk memandangi tumpukan itu sampai subuh, dan yang kupikirkan bukan bagaimana cara membukanya besok. Yang kupikirkan: kenapa selama ini kardus ini di atas lemari.

Kubilang pada diriku dulu alasannya untuk melindungi Kirana. Anak sekecil itu tidak perlu diseret ke kesedihan orang dewasa.

Tapi jam tiga pagi adalah jam di mana alasan-alasan bagus kehilangan cat lapisannya, dan yang tersisa kayunya yang asli:

Aku tidak menyimpan kardus itu untuk melindungi Kirana.

Aku menyimpannya untuk melindungi diriku sendiri.

Karena kalau kardus itu dibuka, aku harus menceritakannya. Dan kalau aku menceritakannya, aku harus merasakannya. Dan empat tahun terakhir seluruh sistem hidupku dibangun di atas satu prinsip yang tidak pernah kutulis di mana pun tapi kupatuhi setiap hari: jangan berhenti bergerak, karena kalau berhenti, kamu akan merasakannya.

Aku bangun pagi. Aku masak. Aku antar sekolah. Aku kerja. Aku jemput. Aku masak lagi. Aku tidurkan. Aku kerja lagi sampai tengah malam.

Empat tahun.

Raka pernah bilang aku berfungsi, bukan hidup. Waktu itu kupikir dia berlebihan.

Ternyata dia cuma lebih dulu melihat kardus di atas lemariku.


Kirana bangun jam tujuh. Sabtu, tidak sekolah.

Ia keluar kamar dengan rambut berantakan dan mata bengkak, berhenti di lorong begitu melihatku duduk di ruang tengah, dan seluruh tubuh kecil itu langsung siaga—bahu naik, tangan menggenggam ujung piyama.

Anak itu mengira ia akan dimarahi.

Dan kesadaran itu—bahwa putriku bangun pagi dengan bersiap-siap dimarahi—adalah hal kedua yang menghancurkanku dalam dua puluh empat jam.

“Kirana. Sini.”

Ia berjalan pelan. Berhenti tiga langkah dariku.

“Ayah—” suaranya kecil, serak sisa menangis, “—Kirana minta maaf. Kirana teriak sama Tante. Kirana salah.”

“Duduk dulu.”

“Kirana bakal minta maaf ke Tante. Beneran. Nanti—”

“Kirana.” Kutepuk sofa di sebelahku. “Ayah nggak mau ngomongin itu dulu. Duduk.”

Ia duduk. Di ujung sofa, jauh, kaki tidak sampai lantai.

Kulihat matanya bergerak ke meja. Ke tumpukan album. Ke kotak kecil. Dan aku melihat detik ketika ia mengenali sampul album paling atas—warna hijau tua, sudut-sudutnya sudah kusam—karena matanya membesar dan tangannya berhenti meremas piyama.

“Itu...”

“Ini album Mama.” Kubuka halaman pertama. “Ayah mau cerita.”


Kalimat pertama adalah yang paling berat. Setelah itu, aneh sekali, semuanya keluar sendiri—seperti membuka keran yang seretnya cuma di putaran pertama.

“Ini fotonya Mama waktu kuliah. Rambutnya pendek waktu itu.”

“Kok pendek?”

“Karena dia potong sendiri di kamar kos. Pakai gunting kertas.” Aku hampir tertawa mengingatnya. “Terus dia nangis semaleman, terus besoknya dia bilang ke semua orang itu emang model.”

Kirana mendekat satu jengkal.

“Nih. Ini Mama pas pertama kali ketemu Ayah.” Kutunjuk foto berikutnya—foto acara kampus, buram, warnanya sudah menguning. “Ayah lagi jaga stan pameran maket. Mama dateng, terus dia bilang maket Ayah miring. Ayah bilang nggak miring. Dia ngotot. Dia ambil penggaris dari tasnya—dia bawa penggaris, Kirana, ke acara kampus—terus dia ukur.”

“Terus?”

“Miring dua derajat.”

Kirana mengeluarkan bunyi kecil yang bukan tawa tapi tetangga dekatnya.

“Dari situ Ayah kalah terus,” kataku. “Empat tahun pacaran, delapan tahun nikah. Nggak pernah menang argumen sekali pun.”

Ia mendekat lagi. Sekarang bahunya hampir menyentuh lenganku.

Kubuka halaman demi halaman, dan kuceritakan semuanya—hal-hal yang empat tahun ini kusimpan karena kupikir menyimpannya sama dengan menjaganya:

Bahwa Mama-nya tidak bisa masak sama sekali, dan tetap keras kepala mencoba, dan pernah membuat rendang yang harus dikubur di halaman belakang karena tidak ada tempat sampah yang pantas.

Bahwa Mama-nya kalau tertawa suaranya kencang sekali, sampai di bioskop pernah ditegur, dan bukannya malu ia malah tertawa lebih kencang.

Bahwa nama “Kirana” itu ide Mama, dari kata yang artinya cahaya, dan Ayah waktu itu mengusulkan nama lain yang sekarang tidak akan disebutkan karena “Ayah malu”.

“Nama apa?”

“Nggak usah.”

“AYAH.”

“...‘Cantika’.”

“IH.” Kirana menutup mulutnya dengan dua tangan. “Untung Mama menang.”

“Mama selalu menang.”

Ia tertawa—tawa betulan, yang pertama dalam empat hari—lalu tawanya berhenti sendiri, seperti kaget mendengar dirinya tertawa, dan wajah kecil itu berubah lagi jadi wajah yang sudah kukenal sejak semalam.

Aku menutup album.

“Sekarang giliran Kirana yang cerita.”

“Cerita apa?”

“Kenapa foto Mama pindah ke laci.”

Tubuhnya membeku.

“Ayah nggak marah,” kataku cepat. “Ayah nggak akan marah. Ayah cuma butuh tahu, karena kalau Ayah nggak tahu, Ayah nggak bisa bantu. Dan Ayah udah empat hari nggak bantu apa-apa, dan itu kesalahan Ayah, bukan kesalahan kamu.”

Kirana menunduk. Kakinya mengayun. Sekali. Dua kali.

Lalu keluarlah semuanya.

Warung. Kardus mi instan. Bu Ningsih. Nomor satu. Bayi yang dari perut. Foto yang bisa digeser berarti bisa diturunkan. Kotak biskuit di bawah kasur. Kartu Hari Ibu yang tidak bisa dikasih ke siapa-siapa.

Dan yang terakhir, yang membuatku harus menekan pangkal hidung dengan ibu jari dan telunjuk supaya sanggup bertahan sampai kalimatnya selesai:

“Kirana nggak inget Mama, Yah.”

“...Apa?”

“Kirana nggak inget sama sekali.” Suaranya nyaris tidak terdengar. “Semua orang bilang ‘kangen Mama ya’ — Kirana bingung. Kangen kan kalau inget. Kirana nggak punya yang diinget. Kirana cuma punya foto.” Ia menarik napas yang tersendat. “Terus kalau fotonya diturunin, Kirana punya apa lagi?”

Aku menariknya ke pangkuanku, dan ia menangis di sana, di dadaku, dengan suara—suara, syukurlah, kali ini ada suaranya—sementara aku memegangi kepalanya dan menatap ruang kosong di rak kedua itu dan menyadari sebesar apa kegagalanku.

Bukan kegagalan menjaga kenangan.

Kegagalan mewariskannya.

Empat tahun aku menjaga Laras dengan cara menyimpannya di kardus di atas lemari, dan anakku tumbuh dengan ibu berbentuk satu bingkai di dinding—benda, bukan orang. Aku pikir aku sedang melindungi. Ternyata aku sedang mengurung.


Ketika tangisnya reda, aku mengangkat kotak kecil dari meja dan membukanya di pangkuannya.

“Kirana lihat ini.”

Isinya: gelang manik-manik (pasangan dari yang ada di kotak biskuitnya, ternyata), kunci lama, botol parfum yang tinggal seperempat, sebuah buku catatan bersampul kain, dan setumpuk kertas kecil-kecil.

“Ini apa, Yah?”

“Ini catatan Mama waktu hamil kamu.” Kubuka buku itu. Tulisan bulat itu memenuhi halaman-halamannya. “Dia nyatet semuanya. Tiap minggu. Dia nyatet kamu nendang jam berapa, dia ngidam apa, dia takut apa.”

Kirana memegang buku itu dengan dua tangan—dua tangan, seperti seseorang yang lain yang kukenal—dan menatap halaman yang tidak bisa ia baca semuanya karena tulisan sambung.

“Baca dong, Yah.”

Kubaca beberapa. Yang lucu-lucunya dulu: minggu ke-14, “ngidam duren jam 2 pagi, Dimas cari sampai 3 tempat, dapet, ternyata aku nggak jadi pengen. Dia nggak marah. Aku nikah sama orang sabar banget”; minggu ke-22, “si kecil nendang pas denger suara Dimas. TIAP KALI. Anak ini udah punya favorit dan itu bukan aku. Nggak apa-apa. Aku juga favoritnya dia”.

Lalu Kirana menunjuk satu halaman di dekat belakang.

“Yang ini.”

Kulihat halamannya. Dan aku harus berhenti sebentar, karena aku tahu halaman ini, dan aku belum pernah membacanya keras-keras di depan siapa pun.

“Ini ditulis dua minggu sebelum kamu lahir,” kataku akhirnya.

Kubaca.

“Buat kamu yang di dalem sana. Kalau nanti kamu bisa baca ini, berarti kamu udah gede, dan berarti aku udah cerewet banget selama bertahun-tahun jadi kamu pasti udah bosen sama aku. Nggak apa-apa. Bosenin ibumu itu hak anak.”

“Satu hal aja yang aku mau kamu tau: kamu boleh sayang siapa aja. Sebanyak-banyaknya. Jangan pelit. Sayang itu bukan kue ulang tahun yang kalau dipotong buat orang lain jatah kamu berkurang.”

Suaraku berhenti di situ.

Kirana mendongak. “Terus?”

Kubaca sisanya.

“Sayang itu kayak rumah. Kalau ada tamu baru, ya bangun kamar baru. Kamar yang lama nggak dibongkar.”

Hening panjang di ruang tengah itu.

“Mama nulis itu,” bisik Kirana, “buat Kirana?”

“Buat kamu. Delapan tahun lalu. Sebelum kamu lahir.”

Ia membaca ulang halaman itu sendiri, pelan-pelan, jarinya menyusuri huruf-huruf yang belum semuanya bisa ia baca.

Lalu ia bertanya—dan pertanyaan ini, aku tahu, adalah pertanyaan yang sebenarnya sejak awal, yang semua kejadian empat hari ini cuma pembungkusnya:

“Ayah masih sayang Mama nggak?”

“Selalu,” kataku. Tanpa jeda. Tanpa dipikir. “Sampai kapan pun.”

“Terus Tante Alena?”

“Ayah juga sayang Tante Alena.”

“Dua-duanya?”

“Dua-duanya.”

Keningnya berkerut—kerutan yang sama seperti waktu ia memutuskan soal obat nyamuk, kerutan orang yang sedang mengerjakan soal terlalu besar untuk kepalanya.

“Kok bisa?”

Dan kupakai kalimat yang sudah kususun sejak jam tiga pagi tadi, yang kucari-cari selama empat tahun tanpa tahu sedang mencarinya.

“Karena sayang itu nggak saling menggantikan, Nak.”

Kupegang tangannya, dan kutunjuk dadanya sendiri dengan ujung jariku.

“Hati itu bukan rumah yang kamarnya cuma satu. Kalau ada orang baru masuk, yang lama nggak diusir keluar. Hatinya yang nambah kamar.” Kuketuk pelan dadanya. “Kamar Mama masih ada. Nggak akan pernah dibongkar. Ayah tinggal di rumah itu tiap hari.”

Kirana menatap tangannya sendiri di tanganku.

“Berarti Kirana juga boleh?”

“Boleh apa?”

“Boleh nambah kamar. Buat Tante Alena.” Suaranya tersendat. “Tanpa ngusir Mama.”

“Boleh,” kataku, dan suaraku pecah di kata yang cuma lima huruf itu. “Itu yang paling boleh sedunia.”

Ia menangis lagi—dan aku menangis, sedikit, untuk pertama kalinya di depan anakku sejak ia bisa mengingat—dan kami berdua duduk di sofa itu dengan album terbuka dan kotak terbuka dan sebuah buku catatan yang ditulis delapan tahun lalu oleh seseorang yang, ternyata, sudah menyiapkan jawabannya jauh sebelum ada yang bertanya.


Jam sembilan, Kirana turun dari pangkuanku dan berlari ke kamarnya.

Ia kembali membawa bingkai itu—dipeluk di dada—dan berdiri di depan rak.

“Ayah angkatin. Kirana nggak nyampe.”

Kuangkat dia. Ia meletakkan bingkai itu kembali di rak kedua, di posisi persis, dan membetulkannya dua kali sampai lurus.

Lalu ia bilang, masih dalam gendonganku, menghadap foto itu:

“Ma, maaf ya Kirana simpen di laci. Kirana takut Mama diturunin.” Ia menarik napas. “Ternyata nggak. Kata Ayah, kamarnya nambah.”

Kuturunkan dia. Ia berdiri memandangi foto itu sebentar, lalu menoleh padaku dengan wajah anak yang baru selesai mengerjakan sesuatu yang berat dan sekarang sudah punya agenda berikutnya.

“Yah. Tante Alena di mana?”

“Di rumahnya. Kenapa?”

“Kirana mau minta maaf.” Ia sudah bergerak ke pintu. “Sama mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa?”

Kirana berhenti di ambang pintu, memegang gagangnya, dan berkata dengan suara yang untuk pertama kalinya dalam empat hari terdengar seperti suaranya sendiri:

“Kirana mau tanya, kamar Mama-nya boleh dipasangin foto yang bagus nggak. Yang di dinding itu kan cuma satu. Padahal Mama fotonya banyak banget di album.”

Dan ia keluar, menyeberangi halaman, menuju rumah sebelah—tanpa tahu bahwa orang yang ingin ia tanyai sedang dalam perjalanan pulang dari toko bingkai dengan bagasi mobil yang penuh.


[Bersambung ke Bab 25 — “Pojok Mama”]