← Chapters Ch. 3 / 40

Chapter Three

Gorden dan Gravitasi

POV: Alena


Ada dua jenis manusia di dunia ini: manusia yang minta tolong, dan manusia yang lebih memilih mempertaruhkan nyawa daripada mengakui butuh bantuan.

Aku, dengan gelar dokter dan sertifikat kompetensi yang dibingkai di dinding klinik, termasuk jenis kedua.

Masalahnya sederhana: gorden.

Rumah ini kubeli semi-furnished, dan pemilik lama meninggalkan batang gorden terpasang di semua jendela—kecuali satu. Jendela ruang tengah, yang paling besar, yang menghadap langsung ke... halaman rumah sebelah. Yang artinya setiap malam, kalau lampuku menyala, seisi rumah sebelah bisa menonton aku makan ayam geprek ojek online sambil nangis nonton drama. Sudah dua kali aku memergoki Kirana melambai dari jendela mereka saat aku sedang mangap.

Privasi harus ditegakkan. Hari Minggu ini juga.

Batang gorden sudah kubeli. Bor... aku tidak punya bor, tapi pemilik lama meninggalkan dua bracket terpasang di dinding, jadi teorinya aku tinggal memanjat, memasukkan batang ke bracket, selesai. Pekerjaan lima menit.

Aku menyeret satu-satunya alat panjat yang kumiliki: kursi makan, ditumpuk kardus berisi buku-buku kuliah yang akhirnya menemukan kegunaan setelah sekian tahun.

Sebagai tenaga medis, aku sepenuhnya sadar konstruksi ini melanggar kira-kira sebelas prinsip keselamatan.

Sebagai pemilik rumah yang kemarin dikatai “piringnya masih ada stikernya”, aku sepenuhnya termotivasi untuk melanggar kesebelasnya.

“Oke,” aku bicara pada batang gorden di tanganku. “Kamu, saya, lima menit. Jangan bikin malu.”

Kakiku naik ke kursi. Aman. Naik ke kardus. Kardus berdecit sedikit—ilmu kedokteran menyebut bunyi itu krepitasi, dan krepitasi tidak pernah kabar baik—tapi bertahan. Ujung batang gorden kuarahkan ke bracket kiri. Masuk. Bagus. Sekarang tinggal ujung kanan, yang cuma butuh aku... condong... sedikit... lagi...

Tiga hal terjadi hampir bersamaan.

Pertama, kardus buku kuliahku memutuskan bahwa dedikasinya pada dunia pendidikan sudah selesai.

Kedua, dari arah pagar terdengar suara pintu kayu dan langkah—yang belakangan kuketahui adalah Dimas, mengantarkan wadah kosong bekas cokelat, karena rupanya di kompleks ini wadah beredar seperti mata uang.

Ketiga, aku jatuh.

Bukan jatuh yang anggun. Jatuh yang disertai jeritan pendek, batang gorden terbang entah ke mana, dan otakku sempat-sempatnya memutar satu pikiran jernih di udara: besok pasien pertamaku jam sembilan, siapa yang mau digantiin—

Aku tidak pernah mencapai lantai.

Sesuatu menangkapku—satu lengan melingkar tepat di pinggang, satu lagi menahan punggung, dan momentum jatuhku berhenti begitu saja, diserap oleh sesuatu yang jauh lebih stabil daripada kursi-plus-kardus mana pun. Dunia berhenti berputar. Yang tersisa cuma bunyi batang gorden menggelinding di lantai, dan detak jantungku yang tidak tahu diri kencangnya.

Aku membuka mata.

Wajah Dimas ada di sana. Dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang baru kenal seminggu, terlalu tenang untuk ukuran orang yang barusan menangkap manusia jatuh. Ada serbuk kayu halus di rambutnya. Aku bisa melihatnya sejelas itu. Sedekat itu.

“Pintunya,” katanya, dengan nada datar yang sama seperti membahas cuaca, “nggak dikunci. Aku ketok, nggak dijawab. Terus aku denger kardus.”

“...Kamu denger kardus.”

“Kardus kalau mau nyerah bunyinya khas.”

Otakku, yang biasanya bisa diandalkan, memilih saat ini untuk hanya memproses informasi-informasi tidak penting: tangannya besar sekali di pinggangku, kausnya bau kayu dan matahari, dan jarak antara wajah kami kira-kira satu buku tulis.

“Udah kubilang,” lanjutnya, masih dengan volume rendah yang entah kenapa terdengar lebih menghakimi daripada teriakan, “kalau butuh apa-apa, panggil aku.”

“Kamu nggak pernah bilang gitu.”

“Kalau gitu kubilang sekarang. Kalau butuh apa-apa, panggil aku.”

“Aku nggak butuh—” kata-kataku kehabisan bensin di tengah jalan, karena sulit mempertahankan argumen kemandirian dalam posisi digendong-tangkap satu lengan oleh subjek argumen. “...Kamu bisa turunin aku dulu, nggak?”

Dimas menatapku.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik. Aku menghitung. Sumpah, aku menghitung, karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan wajahku selain memanas dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan otakku selain menghitung.

“Hm,” katanya, dan menurunkanku dengan kecepatan yang menurut perhitungan fisika mana pun tergolong santai.

Kakiku menyentuh lantai. Lututku sempat lupa fungsinya sebentar. Aku merapikan kaus, rambut, harga diri—dalam urutan itu—sementara Dimas memungut batang gorden dari lantai, mengamati kedua bracket di dinding, lalu mengamati monumen kursi-kardus, lalu mengamatiku.

Ia tidak berkomentar. Itu yang paling kurang ajar. Alisnya saja yang berkomentar.

“Aku hampir berhasil,” kataku.

“Hm.”

“Serius. Tinggal ujung kanan.”

“Hm.” Ia menaruh batang gorden di sofa, lalu berjalan keluar begitu saja. Tanpa pamit. Aku baru mau memprotes tata kramanya ketika ia kembali tiga puluh detik kemudian membawa tangga aluminium lipat dari rumahnya, memasangnya, naik dua anak tangga, dan memasang batang gorden itu—kiri, kanan, selesai—dalam waktu yang bahkan tidak cukup untukku menyusun kalimat protes.

Sebelas detik. Pekerjaan yang hampir merenggut karier medisku diselesaikan orang ini dalam sebelas detik.

“Gordennya mana?” tanyanya dari atas tangga.

Aku menyerahkan kain gorden dengan perasaan campur aduk antara terima kasih dan keinginan melempar kain itu ke mukanya. Ia memasang, merapikan lipatan jatuhnya dengan ketelitian yang tidak perlu, turun, melipat tangga.

“Bracket-nya longgar yang kanan,” katanya. “Besok kubawa bor, kupasang ulang. Jangan digantungin yang berat dulu.”

“Kamu nggak harus—”

“Alena.” Ia menyandarkan tangga lipat ke bahunya, menatapku. “Kamu jatuh dari kardus demi gorden. Kalau minggu depan aku lihat kamu di atas kulkas demi ganti lampu, aku yang trauma.”

“Yang jatuh aku, kenapa kamu yang trauma?”

“Yang nangkep aku.”

Ia mengatakannya datar, tanpa senyum, sambil berjalan ke pintu—dan justru karena itu kalimatnya menempel di tempat yang salah. Di suatu tempat di sekitar tulang rusuk. Berdenging.

Di ambang pintu ia berhenti, melirik jendela besar yang kini bergorden. “Ngomong-ngomong. Gorden ini buat nutupin apa?”

“Privasi.”

“Privasi nonton drama sambil nangis?”

Aku membeku. “...Kirana cerita.”

“Kirana lapor. Lengkap. Katanya Tante Dokter kalau nangis mangap.”

“AKU NGGAK—” aku menarik napas, mengumpulkan sisa-sisa martabat profesi, “—itu namanya reaksi emosional yang sehat terhadap narasi.”

“Hm,” kata Dimas, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat senyumnya bocor lebih dari biasanya—hampir seperempat senyum penuh—sebelum ia menutup pintu dari luar dengan sopan.

Aku berdiri sendirian di ruang tengahku yang akhirnya privat.

Menatap gorden.

Gorden yang kupasang untuk melindungi diriku dari pengamatan rumah sebelah, dipasangkan oleh kepala keluarga rumah sebelah, yang barusan menangkap pinggangku, menahanku tiga detik lebih lama dari yang diperlukan hukum gravitasi mana pun, dan pergi begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa.

“Nggak,” kataku pada gorden. “Nggak. Dia duda. Punya anak. Tetangga. Ini cuma... refleks tetangga yang baik.”

Gorden itu bergeming, karena gorden tahu kapan seseorang sedang berbohong.


Masalahnya, tubuh punya memori sendiri, dan memori itu tidak berkonsultasi dulu denganku.

Malamnya, saat aku berbaring hendak tidur, memori itu memutar ulang tanpa izin: lengan di pinggang. Bau kayu dan matahari. Yang nangkep aku. Tiga detik yang dihitung lengkap oleh otakku yang pengkhianat.

Aku mengambil ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang bisa dipercaya menangani situasi darurat semacam ini.

Dara mengangkat di dering ketiga. “Klinik baru bermasalah?”

“Dara. Pertanyaan hipotetis.”

“Wah.” Ada suara ia menegakkan duduk. “Hipotetis jam sebelas malem. Lanjut.”

“Kalau seseorang—hipotetis—jatuh dari ketinggian, terus ditangkap orang, terus orang itu nurunin dia... agak lama. Itu artinya apa? Secara umum. Secara fisika.”

“Berapa lama?”

“Tiga detik.”

“Kamu ngitung?”

“BUKAN AKU. Hipotetis-nya yang ngitung.”

Hening di seberang. Hening yang bisa kudengar isinya: Dara sedang tersenyum dengan seluruh giginya.

“Len,” katanya akhirnya, manis sekali, “orang yang nangkep hipotetis ini... tukang kayu sebelah rumah yang kamu ceritain masak supnya enak itu, bukan?”

“Furniture maker,” jawabku otomatis. “Bayarannya bikin orang antre tiga bulan.”

Hening lagi. Lebih lama.

“...Kenapa kamu hafal itu.”

Aku menatap langit-langit kamar dan menerima kenyataan bahwa hidupku baru saja jadi jauh lebih rumit daripada urusan gorden.

“Dara. Tolong.”

“Nggak bisa ditolong,” kata sahabatku, tertawa puas sekali. “Tiga detik itu bukan refleks, sayang. Refleks itu setengah detik. Tiga detik itu keputusan.”

Aku menutup telepon. Menarik selimut sampai dagu. Dan menghabiskan empat puluh lima menit berikutnya menatap langit-langit, mendengarkan samar-samar dari seberang pagar bunyi seseorang bekerja di workshop-nya—gergaji halus, ketukan pelan, ritmis, tenang—sampai tanpa sadar bunyi itu yang menidurkanku.


Besoknya ia benar-benar datang membawa bor.

Hari Minggu, jam sembilan pagi, saat aku baru selesai sarapan roti (dipanggang di rumah sebelah, diantar Kirana dengan gaya kurir profesional lengkap dengan “tanda tangan di sini, Tante”—di telapak tangannya). Ketukan di pintu depan: Dimas dengan kotak perkakas kayu—tentu saja kotak perkakasnya pun buatan sendiri—dan di sebelahnya Kirana menenteng kotak perkakas versi mini berwarna pink.

“Dia punya kotak perkakas sendiri?”

“Dia asisten,” kata Dimas.

“Asisten senior,” koreksi Kirana.

“Asisten senior,” Dimas mengalah tanpa perlawanan, dan aku mulai memahami struktur kekuasaan di keluarga itu.

Mereka bekerja dengan pembagian tugas yang jelas hasil latihan bertahun-tahun: Dimas menandai titik, mengebor, memasang fischer; Kirana bertugas menyerahkan sekrup satu per satu dengan kedua tangan seperti menyerahkan pusaka kerajaan, dan meniup debu bor dari lantai—tugas yang ia laksanakan dengan semangat jauh melebihi kebutuhan.

Aku disuruh duduk.

“Ini rumahku,” protesku.

“Rumahmu,” Dimas menyalakan bor, “dengan riwayat satu jatuh dari kardus dan satu kremasi panci dalam dua minggu. Duduk. Kamu tim medis. Kalau ada korban, baru turun tangan.”

“Nggak akan ada korban, kan, yang kerja kamu.”

“Makanya duduk. Biar statistiknya tetap bagus.”

Jadi aku duduk di sofaku sendiri, menonton laki-laki itu bekerja—dan menonton, ternyata, adalah kesalahan strategis. Karena orang ini kalau bekerja berbeda. Gerakannya tidak ada yang sia-sia. Menandai, mengebor, meniup debu, memasang, mengetes dengan menggantungkan beban tarik dua kali—semuanya mengalir dengan keyakinan orang yang tangannya sudah ribuan jam melakukan hal serupa. Lengan bawahnya—

“Tante ngeliatin Ayah terus.”

Suara itu datang dari lantai, dari asisten senior yang sedang memunguti serpihan, disampaikan dengan volume penuh dan kepolosan yang mematikan.

Bor berhenti.

“Nggak,” kataku, dengan ketenangan yang kupelajari dari sepuluh tahun menghadapi anak-anak. “Tante ngeliatin bracket-nya. Mastiin lurus.”

“Lurus kok,” kata Dimas, tanpa menoleh. “Udah dicek waterpass.”

“Ya bagus. Makanya aku berhenti ngeliatin.”

“Hm,” kata Dimas.

Dan aku bersumpah—aku bersumpah demi seluruh sertifikat kompetensiku—bahu orang itu bergetar sedikit. Sekali. Seperti menahan sesuatu.

Sementara ayahnya membereskan perkakas, asisten senior merangkak naik ke sofa di sebelahku, duduk dengan gaya orang yang hendak membuka rapat penting.

“Tante.”

“Ya, Bu Asisten.”

“Tante kok tinggalnya sendirian?”

Pertanyaan anak-anak selalu begini: tanpa pemanasan, langsung ke bagian yang orang dewasa butuh tiga gelas kopi untuk berani menyentuhnya. “Karena Tante udah besar. Orang besar boleh tinggal sendirian.”

“Ayah juga besar. Tapi nggak sendirian. Ada Kirana.” Ia mengayunkan kakinya yang tidak sampai lantai. “Tante nggak takut malem-malem?”

“Kadang,” jawabku jujur, karena anak-anak bisa mencium kebohongan lebih tajam daripada mencium bau sate ban.

Kirana mengangguk penuh pertimbangan, seperti komite yang menerima laporan. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik dengan bisikan anak kecil yang volumenya tetap terdengar sampai dapur:

“Kalau takut, gedor aja rumah Kirana. Kayak waktu itu. Ayah bukanya cepet kok.”

Dari arah kotak perkakas, suara beres-beres berhenti sedetik.

“Tante inget itu,” kataku, menahan senyum. “Bukanya cepet banget malah. Kayak udah nungguin.”

Suara beres-beres dilanjutkan. Sedikit lebih berisik dari perlu.

Mereka pulang sebelum makan siang, menolak segala bentuk balas jasa kecuali satu permintaan Kirana (“Tante nanti malem cerita lagi ya yang pohonnya jadi bagian dinosaurus, tapi versi panjang”), dan meninggalkanku dengan gorden yang kini terpasang pada bracket yang mampu—kata pemasangnya—“menahan beban gantungmu sekalian, kalau kamu jatuh lagi arahnya ke situ.”

Aku menutup pintu.

Bersandar di daun pintunya.

Dan menerima kenyataan, resmi, dengan stempel: Dara benar. Tiga detik itu keputusan.

Dan aku, yang menghitungnya sampai selesai—

—aku juga sudah memutuskan sesuatu. Cuma belum berani membaca isi keputusannya.


Statistik akhir pekan ini: satu gorden terpasang, dua bracket diperkuat, nol korban jiwa.

Satu dokter gigi, kondisi: perlu observasi lebih lanjut.


[Bersambung ke Bab 4 — “Panci Terakhir”]