← Chapters Ch. 18 / 40

Chapter Eighteen

Sticky Note

POV: Dimas


Kebiasaan itu dimulai dari kotak kunci, meskipun waktu itu tidak ada yang menyebutnya kebiasaan.

Malam kami resmi jadian, ia menyelipkan secarik kertas kuning di pintu workshop: “Kuncinya udah kucoba. Bisa kebuka. Berarti sah ya. Nggak ada tukar tambah.” Kutempel di dinding, di sebelah rak “nanti”.

Empat hari kemudian muncul yang kedua, ditempel di kaca jendela workshop dari luar, terbaca terbalik dari dalam sampai aku harus keluar untuk membacanya: “Yang di dalem sana, udah minum belum? Air putih. Bukan kopi. Kopi bukan air. — Dokter”

Yang ketiga di gagang gergaji: “Jangan lupa istirahat 15 menit tiap 2 jam. Ini perintah medis. Ada dasar hukumnya (aku).”

Yang keempat di kaleng amplas: “Hari ini kamu ganteng. Nggak usah dibales. Ini pemberitahuan satu arah.”

Setelah bulan pertama, aku berhenti menghitung. Setelah bulan kedua, aku mulai tahu di mana harus mencari: kertas kuning itu bisa muncul di mana saja—di dalam kotak perkakas, di balik tutup termos, di bawah keyboard laptop tempat aku mencatat pesanan, sekali di dalam kaus kaki bersih di lemariku (masih misteri bagaimana), sekali di dalam kotak bekal Kirana yang isinya kutulis sendiri (“Kirana bilang ayahnya suka masak tapi nggak pernah dipuji. Jadi: masakanmu enak. Selesai.”).

Aku tidak pernah membalas satu pun. Tidak pernah berkomentar. Kalau ia bertanya “udah baca yang tadi?”, jawabanku selalu “hm”.

Itu bukan karena tidak berarti. Itu karena—dan aku baru bisa merumuskannya belakangan—ada hal-hal yang kalau kubahas dengan mulut, akan berkurang. Aku tumbuh di rumah yang bahasa sayangnya berbentuk piring makan dan ban sepeda yang mendadak sudah dipompa. Kata-kata di rumahku dulu dipakai untuk hal-hal praktis. Sayang tidak diucapkan; sayang dikerjakan.

Bapakku, seumur hidupnya, tidak pernah sekali pun bilang bangga padaku. Yang ia lakukan: menyimpan setiap rapor, setiap sertifikat lomba gambar, setiap potongan koran yang memuat namaku—di map plastik cokelat, di laci bawah lemari bengkelnya, yang baru kutemukan setelah ia meninggal. Map itu tebalnya empat sentimeter. Termasuk sertifikat lomba mewarnai kelas dua SD yang aku sendiri sudah lupa pernah ikut.

Aku menangisi map itu lebih lama dari menangisi peti.

Jadi kukerjakan.

Setiap kertas kuning yang kutemukan, malamnya masuk ke laci kedua meja kerja workshop—laci yang dulu isinya baut serep. Bautnya kupindah. Kertas-kertas itu kutata: tanggal ditulis kecil di pojok belakang pakai pensil, disusun urut, ditumpuk rapi, dijepit dengan penjepit kayu buatan sendiri supaya tidak melengkung.

Sampai bulan kelima, laci itu sudah berisi seratus tiga puluh empat lembar.

Aku tahu jumlah persisnya. Tentu saja aku tahu jumlah persisnya.

Ada yang kubaca sekali dan langsung masuk laci. Ada yang tidak.

Nomor 43 kubaca empat kali dalam satu hari: “Kirana cerita di klinik tadi, katanya Ayah suka nyanyi kalau nyuci piring, tapi cuma kalau ngira nggak ada yang denger. Aku pengen denger. Kapan-kapan pura-pura nggak ada aku ya.” Malamnya aku mencuci piring dalam keheningan total, gagal, dan menyerah di piring keempat.

Nomor 88 kubaca sampai kertasnya melengkung: “Hari ini pasienku nanya kenapa aku senyum terus. Aku nggak bisa jawab jujur ke anak 5 tahun. Jadi kutulis di sini aja.”

Dan nomor 100—ia menandainya dengan spidol merah di pojok, satu-satunya yang ia beri nomor sendiri, karena ternyata ia juga menghitung, orang ini juga menghitung, kami cuma tidak pernah membicarakannya: “Ini yang keseratus. Aku nggak tahu kamu baca apa nggak. Nggak papa. Aku tetep nulis. — A.”

Kalau ada satu lembar yang membuatku hampir berbicara, itu nomor seratus. Aku memegangnya malam itu di workshop selama—entah, lama—menyusun kalimat balasan di kepala, membuang semuanya karena tidak ada yang cukup, dan akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan: menuliskan tanggalnya di pojok dengan pensil, memasukkannya ke laci, dan besoknya membuatkannya rak sepatu untuk teras rumahnya yang selama ini sepatunya berserakan.

Ia senang sekali dengan rak itu. Ia tidak pernah tahu rak itu adalah balasan untuk nomor seratus.


Ia menemukannya di hari Sabtu, dan bukan karena aku ceroboh. Aku tidak ceroboh. Aku menyerah.

Begini kejadiannya: sore itu ada pesanan mendesak yang harus dikirim Senin, aku mengejar finishing, dan Alena—yang sedang libur—menawarkan diri jadi asisten. Tugasnya sederhana: menyerahkan barang kalau kuminta, dan mencatat ukuran kalau kusebut.

“Sayang, pensil. Laci kedua.”

Kalimat itu keluar dari mulutku dengan otomatis, dan otakku menyusul tiga perempat detik kemudian dengan laporan yang terlambat: bukan laci kedua. Laci kedua bukan pensil lagi sejak lima bulan.

Tanganku sudah setengah terangkat untuk menghentikannya. Tidak jadi.

Kubiarkan.

Aku bilang aku menyerah, dan itu jujur—tapi bukan menyerah karena lelah. Menyerah karena entah kenapa, di detik itu, aku ingin ia tahu. Sudah lama ingin ia tahu. Hanya saja tidak ada satu pun cara di dunia ini yang bisa kupakai untuk memberitahunya secara langsung tanpa terasa seperti pengakuan yang terlalu besar untuk diucapkan sambil berdiri.

Laci itu terbuka.

Hening.

Aku terus memoles permukaan meja pesanan itu dengan gerakan yang tetap teratur, karena kalau berhenti, aku harus menoleh, dan kalau menoleh aku harus punya wajah.

“Dimas.”

“Hm.”

“Ini apa.”

“Laci.”

“Dimas.”

Kuletakkan lap. Kutoleh.

Ia berdiri memegang tumpukan itu dengan dua tangan—selalu dua tangan, orang ini—penjepit kayunya sudah dilepas, dan ia sedang membalik lembaran-lembaran itu satu per satu. Kertas kuning, kertas pink, satu kertas resep klinik yang kertas kuningnya habis, satu tisu makan warung yang tulisannya nyaris pudar (itu yang ke-71, malam ia mengantar bakso karena aku lembur).

Dan di pojok belakang tiap lembar, angka kecil pensil.

“Kamu... nyimpen semuanya.”

“Hm.”

“Yang ini—” ia mengangkat satu, tangannya mulai bergetar sedikit, “—ini yang aku tempel di kaca dari luar. Yang kebalik. Kamu bahkan nyimpen yang aku sendiri lupa pernah nulis.”

“Nomor sebelas.”

Ia mengangkat wajah. “Apa?”

“Yang di kaca. Nomor sebelas.” Kuangkat bahu, gerakan yang kupakai setiap kali sedang tidak sanggup melakukan gerakan lain. “Tanggal dua puluh tiga. Hari itu hujan, kamu pulang dari klinik langsung nempel dari luar biar nggak ganggu aku kerja. Kamu basah setengah badan. Aku baru sadar dua jam kemudian.”

“Kamu inget nomornya.”

“Aku inget semuanya.”

Kertas-kertas itu turun ke dadanya. Ia menunduk. Bahunya naik sekali, turun, naik lagi—dan aku, yang selama lima bulan menyusun arsip ini dengan tenang seperti menyusun baut, mendadak panik seperti orang yang baru menyalakan sesuatu yang tidak tahu cara mematikannya.

“Alena—”

“Sebentar.” Suaranya serak. Ia mengibaskan tangan, wajah masih menunduk. “Sebentar. Aku lagi—sebentar.”

Aku menunggu. Bau pelitur memenuhi workshop. Di halaman, samar, Kirana sedang bernegosiasi dengan seseorang di telepon Bu Ratna tentang jadwal menginap.

“Lima bulan,” katanya akhirnya, mengangkat wajah dengan mata merah dan basah dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya. “Lima bulan aku nempelin kertas-kertas itu sambil mikir, ah, dia mah nggak baca kali. Dibuang mungkin. Nggak papa, aku nempel buat diriku sendiri aja. Biar aku ngerasa—” ia tertawa, basah, “—biar aku ngerasa punya andil di ruangan ini. Ruangan yang isinya kamu banget, yang aku pikir aku nggak akan pernah punya bagiannya.”

“Kamu punya bagiannya.”

“Kamu nggak pernah bilang apa-apa!”

“Aku nggak bilang,” kataku. “Aku naruh.”

Ia menatapku. Lalu menatap laci itu—laci yang bautnya kupindahkan demi kertas—lalu ke dinding, tempat sticky note nomor satu masih menempel sendirian di sebelah rak, satu-satunya yang tidak masuk arsip karena itu yang pertama dan yang pertama tidak diarsipkan, yang pertama dipajang.

Dan aku melihat momen ketika ia akhirnya membacanya: bukan kertasnya. Bahasanya.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Kamu ini... kamu ngomongnya pakai laci.”

“Hm.”

“Selama ini kamu ngomong terus. Aku aja yang nyari kalimatnya di tempat yang salah.”

Kertas-kertas itu ia letakkan kembali—hati-hati, urut, tanpa mengacak urutannya, dan detail kecil itu hampir menghancurkanku lebih parah dari air matanya—lalu ia menyeberangi jarak di antara kami dan menabrakku dengan pelukan yang tidak diberi aba-aba.

Aku menangkapnya. Selalu.

“Kamu tahu nggak,” katanya di dadaku, “aku sempet mikir aku yang kebanyakan. Nempelin note tiap hari kayak remaja. Dara sampe bilang aku norak.”

“Nggak kebanyakan.”

“Serius?”

Kupikirkan sebentar bagaimana mengatakannya. Lalu kukatakan saja, karena workshop ini sudah terlalu jujur sore ini untuk setengah-setengah.

“Empat tahun,” kataku, “nggak ada satu pun orang yang ninggalin tulisan buat aku. Bukan salah siapa-siapa. Orang dewasa nggak nulis-nulis surat kecil ke orang dewasa lain. Yang datang ke aku itu invoice, pesan pesanan, tagihan sekolah Kirana.” Kueratkan pelukanku. “Terus lima bulan lalu ada yang mulai nempel kertas kuning di gergajiku. Ngasih perintah medis. Ngasih pemberitahuan satu arah.”

Ia mendongak. Wajahnya berantakan dan cantiknya tidak masuk akal.

“Kamu pikir aku nyimpen itu karena kamu kebanyakan?” kataku. “Aku nyimpen itu karena tiap satu lembar itu bukti.”

“Bukti apa?”

“Bukti ada orang yang mikirin aku pas aku lagi nggak ada di depannya.”

Ia menutup mataku dengan telapak tangannya—gerakan aneh, refleks, seperti orang yang tidak sanggup ditatap sambil mendengar itu—dan mencium mulutku dengan mata yang masih basah, dan aku membiarkan tangannya di sana, membiarkan gelap, karena ternyata lebih mudah mengatakan hal-hal semacam ini kalau tidak ada yang bisa dilihat.


Malam itu ia pulang membawa satu-satunya lembar yang kuizinkan keluar dari laci: nomor tujuh puluh satu, si tisu warung yang tulisannya hampir pudar.

“Buat apa?”

“Difoto. Terus kucetak yang bagus.” Ia melambaikan tisu itu. “Terus kutempel lagi ke laci. Biar arsipnya awet. Arsiparisnya kan teliti orangnya.”

“Hm.”

Dan besok paginya, di pintu workshop, menempel yang ke seratus tiga puluh lima:

“Lacinya jangan dipindah-pindah. Nanti aku nulis lebih banyak, harus muat sampai tua. — A.”

Kutempel di dinding.

Di sebelah nomor satu.

Dua lembar itu, sampai sekarang, satu-satunya yang tidak masuk laci.


Ada satu perkembangan lagi, seminggu kemudian, yang tidak kuperhitungkan.

Kirana, yang menyaksikan seluruh kejadian hari Sabtu itu dari ambang pintu workshop (aku baru tahu belakangan; anak itu punya bakat menjadi bagian dari furnitur), rupanya mengambil kesimpulannya sendiri dan bertindak berdasarkan kesimpulan itu.

Aku menemukannya hari Jumat, tertempel di gagang palu: selembar kertas gambar yang digunting kecil-kecil supaya menyerupai sticky note, ditempel pakai lem stik, dengan tulisan huruf besar-besar yang beberapa hurufnya terbalik:

“AYAH JANGAN LUPA MINUM. DARI KIRANA. INI JUGA DIMASUKIN LACI YA.”

Malam itu aku membuka laci kedua, dan menyadari kertas gambar Kirana terlalu tebal—kalau ditumpuk bersama yang lain, tumpukannya akan miring, dan yang miring akan melengkung, dan yang melengkung akan rusak.

Jadi kubuka laci ketiga. Kupindahkan isinya—paku ukuran sedang, ke kotak di rak—dan kutata kertas guntingan itu di dalamnya, sendirian, dengan tanggal di pojok belakang.

Dua laci sekarang.

Aku duduk memandangi dua laci terbuka itu agak lama malam itu, dan berpikir bahwa sepuluh tahun lagi, kalau ada yang membuka meja kerja ini, isinya bukan baut dan paku.

Itu terdengar seperti kerugian, secara teknis. Meja kerja seharusnya berisi perkakas.

Aku menutup dua laci itu dan tidak merasa rugi sedikit pun.


[Bersambung ke Bab 19 — “Resep yang Belum Selesai”]