Chapter Nineteen
Resep yang Belum Selesai
POV: Alena
Aku ingin belajar masak bukan karena tekanan siapa pun.
Perlu kutegaskan itu di awal, karena ketika akhirnya kuutarakan, dua reaksi yang kuterima adalah tawa Dara (“ini kah wujud cinta”) dan alis Dimas yang naik satu mili (“kenapa tiba-tiba?”). Dua-duanya salah alamat.
Alasannya sederhana dan agak memalukan: selama enam bulan, aku selalu jadi orang yang duduk.
Setiap malam, jam tujuh, aku menyeberang ke rumah sebelah dan menemukan meja yang sudah tertata, makanan yang sudah matang, dan seorang laki-laki yang sudah mencuci wajan sebelum aku sempat menawarkan bantuan. Aku mencuci piring—satu-satunya wilayah yang berhasil kurebut lewat perdebatan tiga minggu—dan itu pun ia selalu menyerobot bagian panci gosongnya.
Enam bulan menerima. Terus-menerus. Dan ada batas di mana menerima berhenti terasa manis dan mulai terasa seperti utang yang tidak bisa dilunasi.
“Aku mau belajar masak,” kataku hari Minggu, di dapurnya, sambil ia mengiris bawang. “Serius. Bukan buat lucu-lucuan. Aku mau bisa masakin kamu sama Kirana. Sekali-sekali. Biar kalian yang duduk.”
Ia meletakkan pisau. Menatapku agak lama—cara dia menimbang sesuatu, aku hafal—lalu mengangguk sekali.
“Besok Sabtu. Pagi. Kirana ada les gambar sampai siang, dapur kosong.”
“Kok besok Sabtu, bukan sekarang?”
“Karena kalau sekarang,” katanya, “aku belum sempet mikir mau ngajarin apa.”
Sabtu pagi, dapur itu sudah disiapkan seperti ruang operasi.
Bahan-bahan tertata dalam mangkuk kecil, semua sudah ditakar. Talenan bersih. Dua celemek—satu miliknya yang biasa, satu... baru. Warna hijau muda. Masih ada lipatan bekas kemasan.
“Kamu beli celemek.”
“Ada di rumah.”
“Dimas. Lipatannya masih kayak baru dikeluarin dari plastik.”
“...Kebetulan lewat toko.”
Aku memakai celemek hijau muda itu dan memutuskan untuk tidak menang argumen pagi itu, karena ada hal yang lebih penting: di meja, di sebelah talenan, ada sebuah buku tulis. Tebal, sampul cokelat sudah kusam, sudutnya melengkung karena umur.
“Itu apa?”
“Resep.” Ia membukanya. “Punya ibuku. Diwarisin ke aku pas nikah.”
Halaman-halaman itu penuh tulisan tangan miring khas ibu-ibu generasi lama, dengan noda minyak di beberapa tempat, coretan revisi, dan catatan pinggir yang jujur (“kurang asin”, “anak2 nggak suka”, “kalau Bapak: cabainya dobel”). Aku membalik pelan-pelan, dan tanpa perlu diberi tahu, aku tahu bahwa aku sedang memegang benda yang di rumah ini nilainya melebihi seluruh isi workshop.
“Kita masak yang mana?”
Dan di situ ia diam.
Aku mengangkat wajah. Ia sedang menatap buku itu—bukan menatapku—dengan ekspresi yang membuat seluruh pagi terasa berbeda tekstur. Lalu ia mengulurkan tangan, membalik ke halaman tertentu, halaman yang jelas tidak perlu ia cari karena jarinya langsung sampai.
Di halaman itu, di antara tulisan miring sang ibu, ada tulisan lain. Tulisan tangan perempuan yang berbeda—lebih bulat, lebih besar, ditulis dengan pulpen biru di kolom kosong sebelah kanan:
“Percobaan 1: keasinan. Percobaan 2: gosong dikit tapi Dimas bilang enak (bohong). Percobaan 3: BESOK. Awas aja kalau gagal lagi.”
Di bawahnya, tidak ada percobaan 3.
Halaman itu berhenti di situ.
Napasku tertahan di suatu tempat yang tidak semestinya.
“Ini...”
“Rawon.” Suaranya biasa saja. Terlalu biasa saja. “Menu ulang tahunku. Ibuku selalu masakin itu tiap tahun. Pas Ibu meninggal, Laras mutusin dia yang lanjut.”
Aku tidak berani bergerak.
“Laras nggak bisa masak,” lanjutnya, dan sudut bibirnya bergerak sedikit—bukan sedih; sesuatu yang lebih tua dari sedih. “Nggak bisa banget. Level kamu masih di atas dia. Tapi dia keras kepala. Dua kali gagal, dua kali dia nangis di dapur ini sambil marah-marahin panci.” Ia mengetuk halaman itu dengan buku jari. “Percobaan ketiga rencananya ulang tahunku yang berikutnya. Nggak kesampaian. Dia keburu sakit.”
Dapur itu hening. Di luar, suara motor tukang sayur lewat, jauh sekali rasanya.
“Dimas.” Suaraku keluar hati-hati, seperti berjalan di lantai yang mungkin retak. “Kalau ini terlalu—kita masak yang lain aja. Beneran. Buku ini isinya delapan puluh resep, aku bisa mulai dari telur dadar—”
“Nggak.”
“Aku serius, aku nggak mau—”
“Alena.” Ia menutup buku itu sedikit, hanya untuk menahannya dengan telapak tangan, dan menoleh padaku. Dan di matanya tidak ada yang retak. Yang ada malah semacam ketenangan yang sudah lama disiapkan. “Kamu pikir kenapa aku minta waktu seminggu buat ‘mikir mau ngajarin apa’?”
Aku tidak menjawab, karena jawabannya baru mendarat di kepalaku detik itu juga.
“Seminggu ini aku mikir,” katanya. “Bolak-balik. Sampai kemarin malam.” Ia membuka bukunya lagi, di halaman itu, dan mendorongnya sedikit ke arahku. “Resep ini nggak pernah selesai. Empat tahun kubiarin. Aku nggak sanggup masak sendiri—rasanya kayak ngerebut giliran orang. Tapi didiemin juga salah. Kayak ada pekerjaan nggantung di rumah ini yang semua orang pura-pura nggak lihat.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang ada yang minta diajarin masak.” Ia mengangkat bahu, gerakan itu lagi, gerakan orang yang sedang mengucapkan hal besar dengan tubuh sekecil mungkin. “Menurutku dia orang yang tepat buat nyelesaiin percobaan ketiga.”
Mataku panas seketika, dan aku menunduk cepat-cepat ke buku itu supaya tidak ada yang perlu dikomentari.
“Kamu yakin?” tanyaku pada halaman itu.
“Aku nggak minta kamu jadi dia,” katanya, dan suaranya turun—lebih pelan, lebih hati-hati, dan justru karena itu lebih jelas. “Aku nggak akan pernah minta kamu jadi dia. Kamu Alena. Kamu masakin aku pakai caramu sendiri nanti, seumur hidup, dan itu punya kita.” Jarinya mengetuk halaman itu sekali lagi. “Tapi yang ini kerjaan yang belum selesai. Dan kamu bagian dari rumah ini sekarang. Jadi menurutku wajar kalau kita selesaiin. Bareng.”
Kita.
“Oke,” bisikku. “Oke. Kita selesaiin.”
Yang terjadi tiga jam berikutnya adalah kelas memasak paling tidak efisien dalam sejarah kuliner Indonesia.
Karena guruku, ternyata, adalah tipe guru yang tidak bisa membiarkan apa pun.
“Bawangnya jangan dipotong gitu.”
“Ini udah kecil-kecil!”
“Kecil doang nggak cukup. Ratanya harus sama, biar mateng barengan.” Ia berdiri di belakangku, mengambil pisau dari tanganku, mendemonstrasikan tiga irisan—tak-tak-tak—lalu mengembalikan pisaunya. “Gitu.”
“Kamu bisa gitu karena udah dua puluh tahun—”
“Sepuluh tahun.”
“—sepuluh tahun. Aku baru tiga menit.”
“Makanya,” dan tanpa peringatan apa pun, ia melangkah lebih rapat, satu tangannya menutupi tanganku di gagang pisau, tangan satunya menuntun tangan kiriku ke posisi jari yang benar, “posisinya begini. Jari ditekuk. Ujung pisau nempel di buku jari. Nggak akan kepotong.”
Dan seluruh pelajaran berhenti masuk ke otakku sejak detik itu.
Karena dadanya menempel di punggungku. Karena dagunya ada di dekat pelipisku dan aku bisa merasakan napasnya di rambutku. Karena tangannya—tangan yang biasa menaklukkan kayu keras, yang pernah menangkap pinggangku dari gravitasi, yang mengepang rambutku dengan hasil miring yang kusimpan seharian—sekarang menutupi tanganku sepenuhnya dan menggerakkannya, pelan, teratur, tak... tak... tak...
“Kamu ngerti?” suaranya di dekat telingaku.
“Hm,” kataku, dan aku bahkan tidak yakin sedang memegang pisau atau wortel atau apa.
“Alena.”
“Hm?”
“Bawangnya udah abis dari tadi.”
Aku menunduk. Talenan itu kosong. Kami berdua sedang mengiris udara dengan sangat teknis.
Ia mundur selangkah. Aku menatap talenan. Tidak ada yang bicara selama empat detik penuh, dan detik-detik itu berisi bunyi kompor dan dua orang yang sama-sama memutuskan untuk tidak membahasnya.
“Selanjutnya numis,” kata Dimas, dengan suara yang serak di bagian awal.
“Numis,” ulangku, ke talenan.
Sisa pelajaran berjalan lebih aman, sebagian karena aku memohon supaya kompor jadi wilayahku sendiri tanpa asistensi fisik (“aku nggak akan belajar apa-apa kalau tanganku dipegangin terus,” kataku, yang jujur meskipun bukan alasan sebenarnya).
Dan di antara bunyi tumisan, sesuatu yang tidak terduga terjadi: ia mulai bercerita.
“Kluweknya jangan langsung semua. Bertahap. Laras dulu langsung semua, hasilnya kayak aspal.”
Aku menahan napas, takut ceritanya berhenti kalau kutanggapi salah.
“Dia gitu orangnya,” lanjut Dimas, menyandar ke meja, tangan bersedekap. “Semua dilakuin sekaligus. Kalau belajar, semalem suntuk. Kalau marah, tuntas hari itu juga, nggak ada dendam nginep. Kebalikan aku.” Sudut bibirnya bergerak. “Waktu percobaan kedua gosong, dia bilang: ‘Ini bukan gosong, ini karamelisasi tingkat lanjut.’ Aku makan dua mangkuk. Dua-duanya bohong.”
“Kamu bohongnya kentara?”
“Kentara banget. Dia tahu. Dia tetep seneng.” Ia mengangkat bahu. “Katanya, yang penting bukan enaknya. Yang penting aku ngunyah sampai abis.”
Aku mengaduk tumisan itu pelan-pelan, dan sesuatu yang selama ini kutakutkan diam-diam—rasa canggung yang kukira akan datang setiap kali nama itu disebut—ternyata tidak datang sama sekali. Yang datang malah semacam kehangatan aneh: seperti diperkenalkan pada seseorang yang tidak akan pernah kutemui, oleh orang yang menyayangi kami berdua.
“Dia kedengarannya asyik.”
“Asyik banget. Berisik banget.” Ia menoleh ke arahku, dan menambahkan, tanpa perlu ditanya, dengan nada yang sama biasanya: “Kalian nggak mirip sama sekali. Kadang aku mikirin itu. Ternyata aku bukan tipe yang punya tipe.”
“Itu pujian?”
“Itu observasi.”
“Kamu sama observasimu.”
Rawon itu jadi jam satu siang.
Dan rawon itu—aku harus jujur karena ini rumah yang jujur—keasinan.
Tidak parah. Tapi ada. Persis seperti percobaan pertama di catatan pinggir halaman itu.
Aku berdiri memegangi sendok cicip dengan wajah yang pasti kelihatan hancur, siap meminta maaf, siap mengulang, siap membeli bahan lagi ke pasar detik itu juga—ketika kudengar suara di belakangku.
Dimas tertawa.
Bukan tawa pendek. Bukan tawa yang disamarkan jadi batuk. Tawa betulan, dari dada, kepala sedikit mendongak, tangan menutup mata—tawa orang yang sudah lama tidak tertawa untuk hal semacam ini dan tubuhnya kaget sendiri.
“KENAPA?” Aku hampir melempar sendok. “Ini kenapa lucu?!”
“Keasinan,” katanya, di sela tawanya. “Persis. Sama persis.”
“Iya makanya kenapa—”
“Alena.” Ia menghapus sudut matanya dengan punggung tangan, dan aku tidak tahu apakah itu air mata tawa atau bukan dan memutuskan tidak akan pernah bertanya. “Percobaan pertama dia keasinan. Kamu keasinan. Kalian berdua—” ia menggeleng, mengambil sendok cicip dari tanganku, mencicipi sekali lagi seolah butuh konfirmasi kedua, dan tertawa lagi, lebih pelan, “—kalian berdua sama-sama nggak bisa ngukur garam. Nggak bisa. Dua-duanya.”
“Itu penghinaan berlapis.”
“Itu observasi.”
“Kamu sama observasimu—”
Dan ia menarikku ke pelukannya di tengah dapur yang bau kluwek, dengan celemek hijau muda yang masih ada lipatan pabriknya, dan menaruh dagunya di atas kepalaku, dan berdiri begitu lama sekali tanpa mengatakan apa-apa.
“Makasih,” katanya akhirnya, di rambutku.
“Buat rawon keasinan?”
“Buat mau ngerjain kerjaan yang nggantung.”
Kupeluk dia balik, erat, dan mengucapkan sesuatu yang sudah kususun sejak tadi pagi, sejak melihat halaman yang berhenti di percobaan kedua:
“Dimas. Aku mau nulis di buku itu. Boleh?”
Ia melepas pelukan, menatapku, dan mengangguk.
Maka sore itu, dengan pulpen hitam, di bawah tulisan pulpen biru yang bulat itu, aku menulis:
“Percobaan 3 (2 Mei, sama Dimas): keasinan juga. Maaf, Mbak. Ternyata susah. Percobaan 4 menyusul—aku janji nggak akan berhenti sebelum jadi. Nanti kalau udah pas takarannya, aku tulis di sini biar nggak ada yang perlu ngulang dari nol lagi. — Alena”
Kutunjukkan padanya. Ia membacanya lama—terlalu lama untuk kalimat sependek itu—lalu menutup buku itu pelan dan meletakkannya kembali di rak dapur.
“Dia pasti seneng,” katanya, “akhirnya resep ini ada yang lanjutin.”
Dan malam itu, saat Kirana pulang les gambar dan disodori semangkuk rawon buatan “Tante” dengan pengumuman resmi bahwa ini “menu ulang tahun keluarga”, anak itu makan tiga suap, berhenti, dan berkata dengan kejujuran yang cuma dimiliki umur enam tahun:
“Asin.”
“KIRANA.”
“Tapi enak,” ia melanjutkan, menyendok lagi. “Asin-asin enak. Besok bikin lagi ya, Tante. Yang nggak asin.”
“Besok,” janjiku.
Dan di seberang meja, ayahnya menunduk ke mangkuknya, bahunya bergetar, dan tidak ada satu pun dari kami yang berpura-pura tidak melihat.
[Bersambung ke Bab 20 — “Gendong”]