Chapter Seven
Kepang Tiga
POV: Alena
Ritual itu lahir dari sebuah bencana kecil bernama “kepang hasil karya Ayah”.
Aku memergokinya di suatu pagi, dua minggu setelah sistem barter berjalan: Kirana berdiri di depan pagar menunggu jemputan sekolah dengan rambut yang... aku butuh waktu untuk menemukan kosakatanya. Kepangnya dimulai dengan niat baik di dekat telinga kiri, lalu di tengah jalan kehilangan arah hidup, menyerap rambut-rambut yang bukan haknya, dan berakhir sebagai struktur yang lebih mirip sarang burung yang dikepang daripada kepang yang menyerupai apa pun.
“Ini kepang model apa?” tanyaku dari pagar, sambil menyerahkan rantang kosong hasil cuci semalam.
“Model Ayah,” jawab Kirana, dengan nada yang sudah berdamai dengan takdir. “Kata Ayah ini kepang bebas. Bebasnya kebanyakan.”
Dari balik pintu, pelaku muncul membawa bekal Kirana, menangkap arah pandanganku, dan langsung memasang pembelaan: “Tutorialnya tiga menit. Tangannya orang lain. Jarinya lebih kecil.”
“Kamu bisa bikin sambungan kayu Jepang tanpa paku, tapi kalah sama tiga untai rambut?”
“Kayu diem. Rambut milih-milih pihak.”
“Sini.” Aku membuka gerendel pagar yang tidak pernah terkunci itu, masuk ke teras mereka, dan duduk di undakan. “Kirana, duduk depan Tante. Kita bongkar dulu ya, sayang. Kepangmu ini harus diruwat.”
Sepuluh menit kemudian, Kirana berangkat sekolah dengan kepang ekor ikan yang membuat mbak jemputan memuji sepanjang lima detik penuh, dan pulangnya sore itu ia mengeluarkan dekrit: mulai besok, urusan rambut pagi dipindahtangankan ke Tante. Ayah diturunkan jabatannya menjadi bagian konsumsi.
Dimas menerima demosi itu dengan lapang dada yang mencurigakan—belakangan kupahami kenapa: dekrit itu berarti setiap pagi, jam setengah tujuh, aku punya alasan resmi untuk duduk di teras rumahnya, dan ia punya alasan resmi untuk menyeduh dua cangkir—kopi untuknya, teh untukku—yang diletakkan di undakan tanpa pernah dibahas sebagai kebiasaan.
Tidak ada yang membahasnya sebagai kebiasaan. Itu aturan mainnya. Semua hal di antara kami berjalan dengan sistem yang sama: terjadi dulu, dinormalisasi kemudian, tidak pernah diberi nama.
Yang membahasnya justru pihak luar. Rute ibu-ibu senam pagi kompleks, yang bertahun-tahun melewati jalan besar, sejak bulan lalu misterius berbelok melewati gang kami tepat jam setengah tujuh—delapan ibu-ibu berseragam senam berjalan pelan sekali di depan pagar, kecepatan yang tidak menghasilkan manfaat kardio apa pun, sambil menyapa “Morniiing” dengan mata yang memotret. Pak Harun, yang seumur-umur patroli paginya berakhir jam enam, kini “memperpanjang shift demi keamanan” sampai jam tujuh, rutenya bolak-balik depan gang, jurnalnya makin tebal.
Kompleks ini sudah menonton kami seperti sinetron pagi. Kami berdua tahu. Kami berdua pura-pura tidak tahu. Itu juga bagian dari sistem.
Sudah tiga minggu ritual itu berjalan ketika pagi itu datang.
Pagi itu hari Sabtu. Tidak ada sekolah, tidak ada jemputan, tapi Kirana tetap menagih kepang karena “rambut nggak libur”, dan kami duduk di posisi biasa: Kirana di undakan bawah, aku di undakan atas, jari-jariku membagi rambutnya jadi tiga untai sambil ia melapor perkembangan gigi goyangnya yang “udah bisa muter kayak gasing”.
Dimas di kursi teras, memegang cangkir kopinya, membaca berita di ponsel. Sabtu adalah satu-satunya hari ia duduk selama itu tanpa mengerjakan apa pun. Aku suka Sabtu.
“Selesai.” Kuikat ujung kepang Kirana dengan karet warna kuning pilihan resminya. “Kepang mahkota. Puteri Kirana silakan bercermin.”
Kirana berlari masuk, menghadap cermin, dan kembali dengan wajah puas seorang klien tetap. Lalu ia berdiri di depan kami berdua, tangan di pinggang, dan menjatuhkan keputusan yang mengubah struktur pagi itu selamanya:
“Sekarang gantian.”
“Gantian apa?”
“Rambut Tante.” Ia menunjuk kepalaku, lalu memutar telunjuknya ke arah kursi teras. “Yang dikepang Ayah.”
Bunyi cangkir diletakkan di meja. Pelan. Terlalu pelan.
“Kirana,” kata Dimas, dengan suara orang yang memilih pijakan di jembatan goyang, “Ayah kan udah dipecat dari bagian rambut.”
“Makanya harus latihan biar diterima kerja lagi.” Logika anak enam tahun: kejam, bulat, tanpa celah banding. “Tante gurunya. Tadi Kirana udah liatin caranya. Ayah tinggal niru.”
“Tante-nya belum tentu mau—”
“Tante mau, kan?”
Dua pasang mata menoleh padaku. Satu berbinar penuh harap. Satu—satu lagi tidak bisa kubaca, dan justru karena tidak bisa kubaca itulah jantungku mulai mengatur kuda-kuda.
Yang benar untuk dikatakan: nggak usah, repot, rambutku susah, kapan-kapan aja. Sopan, aman, sesuai prosedur.
“Boleh,” kata mulutku, yang rupanya sudah lama berhenti berkoordinasi dengan bagian prosedur.
Maka terjadilah perpindahan formasi yang dijalankan dengan keseriusan upacara: aku turun ke undakan bawah, tempat Kirana tadi. Dimas turun dari kursinya ke undakan atas, tempatku tadi. Kirana mengambil posisi pengawas di samping, memeluk Mimi yang entah kapan dijemputnya, karena menurut dia “Mimi juga harus belajar”.
Lalu hening.
Aku duduk memunggunginya, menghadap halaman, menghadap pagar, menghadap dunia yang mendadak terasa sangat perlu diperhatikan detail-detailnya—itu daun mangga jatuh, itu semut jalan, itu keramik teras nat-natnya rapi—karena di belakangku terdengar tarikan napas pendek seseorang yang sedang menghitung keberanian, dan aku tidak boleh memikirkan itu.
“Kalau sakit ketarik,” suaranya rendah, dekat, terlalu dekat, “bilang.”
“Rambutku nggak semanja itu.”
“Hm.”
Ada jeda kecil setelah “hm” itu—jeda yang bisa kudengar isinya: ia menggosok kedua telapak tangannya sekali, pelan, seperti tukang kayu memeriksa tangannya sendiri sebelum menyentuh material mahal. Aku hampir menoleh untuk memastikan. Tidak jadi. Menoleh sekarang berarti wajah kami akan berjarak sejengkal, dan aku sedang tidak punya anggaran untuk itu.
Dan jarinya menyentuh rambutku.
Aku pernah ke salon langgananku dua ratus kali. Aku tahu persis bagaimana rasanya tangan orang lain di kepala: profesional, efisien, tidak ada artinya.
Ini bukan itu.
Ini jari-jari yang biasa menaklukkan kayu keras, sekarang bergerak seperti sedang memegang sesuatu yang bisa retak. Ia menyisir rambutku dengan jarinya dulu, pelan, dari pangkal ke ujung, mengumpulkannya, membaginya jadi tiga—dan setiap kali ujung jarinya menyentuh tengkuk, kulit di sana mengirim laporan kilat ke seluruh provinsi tubuhku, dan seluruh provinsi menjawab dengan status siaga.
“Untaiannya,” suaraku keluar setengah oktaf lebih tinggi dari anggaran, “yang kanan dilewatin ke tengah dulu.”
“Hm.”
“Terus yang kiri.”
“Hm.”
“Terus—” jarinya menyelip di dekat telingaku, mengambil untai yang lepas, dan punggung telunjuknya tanpa sengaja menggores garis rahangku, satu senti, tidak lebih, “—terus...”
Terus apa. Apa. Kata-kata itu tadi ada. Aku dokter. Aku hafal delapan saraf kranial pakai nomor. Terus apa?
“Terus yang kanan lagi?” Dimas menawarkan, dan dari suaranya—rendah, terkontrol ketat, terlalu terkontrol—aku tahu, aku tahu, dia juga sedang tidak baik-baik saja di belakang sana, dan entah kenapa pengetahuan itu memperburuk sekaligus memperbaiki segalanya.
“Iya,” bisikku. “Yang kanan lagi.”
Sisa kepang itu dikerjakan tanpa kata. Hanya bunyi pagi kompleks—ayam tetangga, sepeda lewat, siaran senam dari rumah Bu RT—dan tarikan-tarikan kecil yang lembut di kepalaku, ritmis, sabar, dan hening di antara kami yang sudah bukan hening kosong melainkan hening yang penuh sesak, hening yang kalau disenggol sedikit saja akan tumpah.
Kirana, entah bagaimana, memahami itu dengan naluri binatang kecilnya: ia menonton tanpa suara, memeluk Mimi, matanya bergerak dari tangan ayahnya ke wajahku ke tangan ayahnya lagi, menyimpan semuanya ke dalam arsip.
“Karet,” kata Dimas akhirnya, suaranya serak, tangannya terulur ke samping.
Kirana menyerahkan karet rambut—warna merah, dari stok pribadinya—dengan dua tangan, khidmat, seperti perawat menyerahkan instrumen operasi.
Ujung kepangku diikat. Selesai. Tangannya turun dari rambutku—dan berhenti sedetik di bahuku. Sedetik saja. Berat dan hangatnya sempat mendarat penuh sebelum diangkat lagi, seperti sebuah kalimat yang dibatalkan.
“Udah,” katanya.
Aku mengangkat tangan, meraba hasilnya. Kepangnya... miring. Untaiannya tidak rata, ada yang gembung di tengah, dan ujungnya berbelok arah seperti kepangnya berubah pikiran di tengah jalan.
Ini kepang terburuk yang pernah menempel di kepalaku.
“Gimana?” tanya Kirana.
“Jelek,” kataku jujur.
“YAH. Ayah nggak lulus.”
“Jelek,” ulangku, berdiri, menepuk rok, tidak menoleh ke undakan atas karena kalau menoleh sekarang mukaku akan membocorkan seluruh rahasia negara, “tapi nggak akan Tante bongkar. Seharian ini.”
Hening di belakangku berubah tekstur.
“Itu namanya apa dong,” tanya Kirana, “jelek tapi nggak dibongkar?”
Aku membuka gerendel pagar, melangkah ke halaman sendiri, dan menjawab tanpa berbalik:
“Nanti kalau Kirana udah besar, ngerti sendiri.”
Aku mempertahankan kepang miring itu sampai malam. Ke pasar, ke apotek, ke mana-mana.
Kesalahan strategisnya: aku juga memakainya ke klinik, karena Sabtu aku ada jadwal setengah hari.
Dara menangkap basah anomali itu sebelum aku selesai melepas jaket. Ia sedang membaca rekam medis di meja resepsionis, mendongak untuk menyapa, dan kalimat sapaannya berhenti di tengah jalan seperti kena rem mendadak.
“Rambutmu kenapa.”
“Kepang.”
“Alena. Aku sebelas tahun kenal kamu. Kamu tipe yang balik ke toilet karena poni miring dua mili. Ini—” ia memutariku pelan-pelan seperti memeriksa mobil bekas, “—ini kepangnya belok, gembung di tengah, terus ujungnya kayak nyerah. Dan kamu senyum-senyum.”
“Nggak senyum-senyum.”
“Kamu senyum SEKARANG.”
“Ini muka bawaan.”
Dara berhenti tepat di depanku. Menyipit. Aku bisa melihat mesin diagnosisnya bekerja: gejala—kepang gagal dipertahankan sukarela; riwayat—tetangga tukang kayu, ralat, furniture maker; onset—pagi ini.
“Siapa yang ngepang,” katanya. Bukan bertanya. Menjatuhkan vonis.
“Pasienku banyak nggak hari ini?”
“SIAPA. YANG. NGEPANG.”
“Anak tetangga minta gantian—”
“Anak tetangga umur enam jarinya nggak segede itu tarikannya, Alena, kepang anak kecil itu longgar—” Dara menunjuk kepalaku dengan pulpen, gemetar oleh euforia, “—ini kepang orang gede. Orang gede yang grogi. Ya Tuhan. Ya TUHAN. Dia megang rambutmu. Si kayu megang rambutmu terus kamu pamerin hasilnya ke seluruh kota.”
“Aku nggak mamerin, aku cuma nggak bongkar—”
“SAMA AJA.”
Dua pasien pertamaku hari itu diperiksa oleh dokter dengan kepang miring dan asisten dokter yang sesekali memandangi kepang itu dari pintu sambil menggeleng-geleng seperti menyaksikan keajaiban dunia kesembilan.
Dan malamnya, sebelum tidur, saat akhirnya membuka ikatannya di depan cermin—karet merah itu kuletakkan di meja rias.
Makan malam sebelumnya berjalan seperti biasa, kecuali satu hal yang kami berdua pura-pura tidak terjadi: setiap kali aku menunduk ke piring, aku bisa merasakan pandangannya mampir ke kepang miring itu. Sebentar-sebentar. Berkali-kali. Seperti orang mengecek hasil kerjanya—atau mengecek apakah hasil kerjanya benar-benar masih dipakai.
“Ayah ngeliatin kepangnya Tante terus,” lapor kepala arsip kompleks, di suapan kesekian.
“Ngecek kualitas,” kata Dimas.
“Kualitasnya kan jelek. Kata Tante sendiri.”
“Makanya dicek. Barang jelek kok—” ia berhenti, menyendok sup, dan menyelesaikannya dengan volume yang lebih rendah, nyaris untuk dirinya sendiri, “—kok betah dipake seharian.”
Aku menyuap nasi dengan khusyuk yang berlebihan. Kirana memandangi kami bergantian, lalu mengangguk-angguk sendiri, lalu turun dari kursi dan berjalan ke kulkas—untuk menggeser dua gambar, memberi ruang kosong di tengah.
“Buat gambar yang besok,” jelasnya, tanpa ditanya.
Tidak ada yang berani bertanya besok mau menggambar apa.
Karet merah itu kuletakkan di meja rias.
Bukan di tempat karet-karet lain.
Di mangkuk kecil tempat aku menaruh barang-barang yang tidak boleh hilang.
Aku menatap karet merah di dalam mangkuk itu, menatap perempuan di cermin yang senyumnya masih belum bisa dihentikan, dan mengucapkan diagnosis yang sudah tiga minggu kutunda-tunda pembacaannya:
“Kamu,” kataku pada perempuan di cermin, “udah jatuh. Bukan dari kardus.”
Perempuan di cermin tidak membantah.
Perempuan di cermin sudah tahu duluan.
[Bersambung ke Bab 8 — “Demam”]