← Chapters Ch. 37 / 40

Chapter Thirty Seven

Blueprint

POV: Alena


Aku menemukannya karena disuruh mencari obeng.

Itu bagian yang paling kusuka dari seluruh cerita ini, kalau boleh memilih: bahwa sesuatu sebesar itu dimulai dari kalimat yang sama persis dengan kalimat yang setahun lalu membuatku membeku lima detik dan membawakan tang.

“Sayang, ambilin obeng. Yang plus. Ujung merah.”

Sabtu sore. Dimas sedang di atas tangga membetulkan lampu teras yang kedip-kedip, satu tangan menahan fitting, dan aku sedang duduk di undakan mengupas jeruk.

“Di laci?”

“Bukan. Di kotak perkakas yang di workshop. Yang atas.”

Kirana, yang sedang menggambar di lantai teras, mengangkat kepalanya begitu cepat sampai kudengar bunyi lehernya.

“KIRANA AJA YANG AMBILIN.”

“Kirana lagi gambar,” kataku, berdiri.

“NGGAK PAPA. Gambarnya nanti. Kirana aja.”

“Sayang, Bunda—”

“BUNDA NGUPAS JERUK AJA.”

Aku menoleh padanya, bingung. Anak ini sebulan terakhir memang aneh: senyum-senyum sendiri, tiba-tiba menawarkan bantuan, sekali kupergoki menepuk-nepuk dadanya sendiri di depan cermin sambil berlatih ekspresi.

“Kirana kenapa sih?”

“Nggak papa,” katanya, sambil berdiri terlalu cepat.

Dan dari atas tangga, Dimas berkata—santai, tanpa menoleh, dengan nada orang membicarakan cuaca:

“Biarin Bunda aja yang ambil, Kirana.”

Kirana membeku.

Lalu ia duduk kembali, pelan-pelan, dan menatap ayahnya dengan mata sebesar piring.

Dan aku—yang saat itu masih belum mengerti apa-apa—berjalan ke workshop sambil membawa setengah jeruk.


Kotak perkakas yang di atas itu berdebu.

Aneh: semua barang di workshop ini bersih. Dimas orang yang menyeka permukaan sebelum meletakkan apa pun. Tapi kotak yang satu ini duduk di rak atas dengan lapisan debu tipis yang jelas berumur tahunan.

Kuturunkan. Kubuka.

Tidak ada obeng.

Yang ada: gulungan-gulungan kertas. Delapan, sepuluh, entah. Digulung dan diikat karet gelang yang sebagiannya sudah getas dan patah saat kusentuh.

Kertas gambar teknik. Tua.

Aku tahu seharusnya kututup kembali. Ini bukan milikku, ini jelas arsip lama, dan aku bukan orang yang membongkar barang orang.

Tapi gulungan paling atas sudah setengah terbuka, dan di bagian yang terlihat ada garis-garis denah, dan di sudut kanan bawahnya—di kotak keterangan yang selalu ada di setiap gambar teknik—ada tulisan tangan.

Tulisan yang kukenal. Tegak, rapi, huruf orang yang biasa menulis di gambar teknik.

Kubuka gulungan itu.


DENAH RUMAH TINGGAL Griya Anggrek Blok C-12 Luas: 96 m² Perancang: Dimas Aryasatya Untuk: Laras

Aku duduk di lantai workshop dengan gulungan kertas itu di pangkuanku.

Ini rumah ini. Rumah yang sekarang berdiri di seberang jendela. Digambar tangan, sebelum ada, ketika masih berupa kertas.

Dan di sekeliling denahnya, di margin, ada catatan-catatan kecil dengan tulisan tangan yang sama:

Dapur menghadap timur — L suka masak pagi (walau hasilnya begitu)

Jendela ruang tengah dibesarkan. L bilang rumah yang gelap bikin sedih.

Kamar anak: sisi selatan, paling hangat. (belum ada anaknya, tapi katanya harus disiapin dari sekarang)

Teras: undakan 3, jangan 2. L suka duduk di undakan.

Pagar: rendah aja. Kata L pagar tinggi itu nggak sopan sama tetangga.

Aku membaca catatan terakhir itu tiga kali.

Pagar: rendah aja.

Pagar rendah yang gerendelnya berkarat. Pagar yang sepuluh bulan lalu kubuka sambil marah-marah jam tiga pagi. Pagar tempat rantang berpindah tangan, tempat kening dicium jam setengah tujuh pagi, tempat seseorang berdiri sejam dengan kunci di saku dan tidak berani menyeberang.

Pagar itu rendah karena seorang perempuan yang tidak pernah kutemui bilang pagar tinggi itu tidak sopan.

Aku menutup mulutku dengan tangan dan menangis di lantai workshop, di antara serutan kayu, memegangi gambar rumah yang dirancang seseorang untuk orang lain dua belas tahun lalu.

Kalau bukan karena catatan itu, kalau pagarnya tinggi—aku tidak akan pernah bisa membukanya. Aku akan mengetuk pintu depan seperti orang asing, marah-marah, dan pulang.

Aku tidak akan pernah masuk.


Aku sedang melipatnya kembali—hati-hati, mengembalikan lipatan pada bekasnya—ketika kusadari ada satu gulungan yang tidak berdebu.

Di dasar kotak. Diikat karet gelang baru. Karetnya masih kenyal.

Tanganku berhenti.

Aku menatap gulungan itu selama mungkin sepuluh detik, dan di kepalaku berputar satu kalimat dari sore itu yang tadi tidak kumengerti:

“Biarin Bunda aja yang ambil, Kirana.”

Kuambil gulungan itu.

Kulepas karetnya.

Dan kubuka.


DENAH RENOVASI Griya Anggrek Blok C-11 & C-12 Luas gabungan: 192 m² Perancang: Dimas Aryasatya

Dan di baris paling bawah kotak keterangan itu, di tempat yang di gambar lama tertulis Untuk: Laras

Judul proyek: RUMAH KITA

Aku berdiri terlalu cepat dan harus berpegangan ke meja kerja.


Kubentangkan gambar itu di meja, dan menahan diriku untuk tidak membacanya sekaligus, dan gagal.

Dua denah rumah, digambar berdampingan.

Dan garis tembok pembatas di antara keduanya—garis yang membelah kertas itu jadi dua—dihapus. Bukan digambar putus-putus. Dihapus, sampai kertasnya tipis dan sedikit berbulu di bagian itu, tanda dihapus berkali-kali sampai benar-benar hilang.

Halaman jadi satu.

Dan di tengah halaman yang menyatu itu, digambar sebuah persegi panjang, dengan keterangan:

Meja makan panjang, 6 kursi. Kayu jati, bikin sendiri. (6 kursi bukan salah ketik.)

Aku tertawa dan menangis bersamaan, sendirian di workshop, seperti orang gila.

Kuteruskan membaca.

Di bekas rumahku—C-11—ruangan-ruangannya diberi nama baru:

Ruang praktik kecil. Untuk A, kalau ada pasien darurat malam / kontrol tetangga. Cukup 1 kursi periksa. (Sudah cek ukurannya, muat.)

Kamar tamu — untuk Bu Ratna kalau menginap. Lantai dasar, kamar mandi menempel, tanpa undakan (lutut).

Ruang belajar Kirana. Dinding satu sisi dicat papan tulis (dia bakal corat-coret dindingnya, mending dilegalkan).

Dan di rumah lama, C-12, ruang tengahnya digambar dengan detail, dan di dinding seberang sofa ada persegi panjang yang diarsir, diberi keterangan dengan huruf kapital:

POJOK MAMA — TIDAK DIPINDAH. TIDAK DIKURANGI. Rak diperpanjang 40 cm (foto nambah).

Aku duduk di lantai lagi.

Di margin kanan bawah, dengan tulisan lebih kecil, ada catatan-catatan seperti di gambar lama:

Dapur: 2 orang harus muat berdiri bersamaan. (Yang sekarang sempit, tiap masak bareng nabrakan terus. Bukan masalah, tapi tetap.)

Undakan teras: TETAP 3. Jangan diubah.

Jendela kamar Kirana menghadap halaman gabungan — biar dari kasurnya kelihatan dua rumah sekaligus.

Lampu teras: pasang yang sensor. A sering pulang malam dan gelap-gelapan cari saklar.

Pagar tengah dibongkar. Simpan gerendelnya.

Kubaca yang terakhir tiga kali.

Simpan gerendelnya.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai workshop itu.

Yang kutahu, ketika akhirnya pintu berderit dan Dimas masuk—membawa obeng yang jelas sudah ia ambil sendiri dari tempat lain, artinya seluruh permintaan tadi memang cuma alasan—aku sedang duduk bersila di lantai dengan dua gulungan kertas di pangkuan dan wajah yang sudah tidak bisa diperbaiki.

Ia berdiri di ambang pintu.

Tidak bicara.

“Kamu nyuruh aku ke sini bukan buat obeng,” kataku.

“Hm.”

“Kamu naruh yang lama di atas.”

“Hm.”

“Kenapa nggak langsung nunjukin yang baru aja?”

Dan Dimas menutup pintu di belakangnya, dan berjalan mendekat, dan duduk di lantai di depanku—laki-laki tiga puluh tiga tahun duduk bersila di lantai workshop-nya sendiri—dan menjawab dengan suara yang serak dari kalimat pertama:

“Karena yang baru nggak ada artinya kalau kamu nggak tahu yang lama dulu.”

Kupegang gulungan tua itu.

“Dimas—”

“Rumah itu kurancang buat dia,” katanya. “Dua belas tahun lalu. Tiap ruangnya ada alasannya, dan alasannya dia semua.” Ia menunjuk gulungan di tanganku dengan dagu. “Kamu udah baca margin-nya?”

“Udah.”

“Berarti kamu tahu kenapa pagarnya rendah.”

Aku mengangguk, dan air mataku jatuh lagi.

“Nah.” Ia menarik napas. “Aku mau kamu tahu satu hal, Alena, dan aku udah mikirin cara ngomongnya berbulan-bulan dan tetep nggak nemu yang bener. Jadi kubilang apa adanya aja.”

Ia menatapku.

“Aku nggak bakal ngerancang rumah baru buat kamu di tempat lain.”

“...Apa?”

“Aku bisa. Kita bisa jual dua-duanya, beli tanah, aku gambar dari nol, semuanya baru, nggak ada bekas siapa-siapa.” Ia menggeleng. “Aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Karena itu bohong.”

Ia mengambil gulungan tua itu dari tanganku dan meletakkannya di lantai di antara kami.

“Rumah ini punya sejarah. Ada orang yang pernah tinggal di dalamnya dan bikin rumahnya jadi rumah. Anakku lahir dari rumah ini. Aku hancur di rumah ini.” Suaranya bergetar. “Kalau aku pindah dan bikin yang baru, aku bakal ngajarin Kirana bahwa cara mulai hidup baru itu dengan ninggalin yang lama. Dan itu bohong, karena itu nggak mungkin.”

Ia membuka gulungan yang baru, dan meletakkannya di sebelah yang lama.

Dua gambar. Bersebelahan. Rumah yang sama, dua belas tahun jaraknya.

“Ini rumahnya,” katanya. “Sama. Cuma nambah kamar.”

Dan di situ aku hancur total, karena itu kalimat Kirana, kalimatnya sendiri, kalimat yang ia ucapkan pada anaknya di sofa itu dan yang ternyata ia percaya sampai ke tulang.

“Dimas—”

“Belum selesai.” Ia mengangkat tangan, dan aku melihat tangan itu gemetar. “Sebentar. Aku belum selesai.”

Ia menunjuk kotak keterangan di gambar baru itu. Ke baris paling bawah.

“Di gambar lama, di situ tulisannya ‘Untuk: Laras’. Itu standar. Tiap gambar teknik ada kolom itu—buat siapa bangunannya.”

Aku menatap kolom yang sama di gambar baru.

RUMAH KITA.

“Aku nggak nulis ‘Untuk: Alena’,” katanya, dan suaranya pecah di namaku. “Karena bukan buat kamu. Ini bukan hadiah. Ini—”

Ia berhenti. Menggosok wajahnya dengan telapak tangan. Menarik napas.

“Ini rencana,” katanya. “Rencana buat kita berempat. Dan rencana itu cuma bisa jalan kalau kamu setuju.”

“Aku setuju.”

“Alena—”

“Aku setuju.” Aku sudah menangis terlalu keras untuk terdengar anggun. “Apa pun pertanyaannya, aku setuju.”

Dan Dimas tertawa—tawa yang basah, yang setengah tercekik—dan menunduk, dan bahunya bergetar.

“Belum,” katanya. “Belum pertanyaannya.”

“Ya tanya.”

“Nggak bisa sekarang.”

“KENAPA?”

Ia mengangkat wajah, dan matanya merah, dan ia tersenyum dengan senyum penuh yang cuma keluar dua kali seumur hidupnya.

“Karena ada satu orang yang harus pegang kotaknya,” katanya. “Dan dia bilang, kalau acaranya nggak sesuai rundown, dia nggak mau ikut.”


Kami duduk di lantai workshop itu setengah jam lagi.

Tidak membicarakan apa-apa yang penting. Dimas menjelaskan bagian-bagian teknis gambar itu—kenapa tembok yang ini tidak bisa dibongkar (struktural), kenapa ruang praktik harus di sisi timur (cahaya pagi lebih baik untuk memeriksa), berapa perkiraan waktunya (empat bulan kalau lancar, tujuh kalau realistis).

Aku mendengarkan setengahnya. Setengah lagi kuhabiskan memandangi laki-laki itu bicara tentang beban struktur dengan wajah bersinar seperti anak-anak.

“Kamu kangen ini,” kataku.

“Apa?”

“Ngerancang.” Kutunjuk gambar itu. “Kamu ngomongin dinding sambil senyum, Dimas. Kamu nggak pernah senyum kalau ngomongin lemari.”

Ia terdiam.

“...Mungkin.”

“Bukan mungkin.”

“Empat tahun aku nggak nyentuh ini.” Ia mengusap sudut kertas itu dengan ibu jarinya. “Kupikir udah selesai. Ternyata cuma ditutup.”

“Kayak kardus di atas lemari.”

Ia menoleh padaku, dan mengangguk pelan, dan tidak berkata apa-apa lagi.


Ketika kami keluar dari workshop, matahari sudah turun dan lampu teras sudah menyala—Dimas jelas sudah menyelesaikan perbaikannya sejak tadi, sebelum menyuruhku mencari obeng yang tidak ada.

Kirana masih duduk di undakan.

Buku gambarnya tertutup di pangkuannya. Krayonnya tidak tersentuh. Ia jelas sudah menunggu di posisi itu selama satu setengah jam.

Ia melihat wajahku. Melihat gulungan kertas di tangan ayahnya.

Lalu ia berdiri, dan tangan kecilnya mengepal di sisi badan, dan ia bertanya dengan suara yang berusaha tenang dan gagal total:

“Bunda udah lihat?”

“Udah, sayang.”

“Yang ada tulisan ‘RUMAH KITA’-nya?”

“Udah.”

Dan anak itu—yang katanya sudah latihan sepuluh menit tiap malam di depan cermin, yang menahan sebulan penuh, yang mengarang cerita tentang jam tangan kakek di depan seluruh warung—akhirnya kehilangan seluruh hasil latihannya dalam satu detik.

“KIRANA UDAH TAHU DARI SEBULAN LALU!” teriaknya, melompat. “SEBULAN! Kirana ngintip! Kirana nggak bilang siapa-siapa! Kirana bohong tiga kali sama Bunda dan Kirana sudah nyatet daftarnya di buku gambar dan Kirana minta maaf tapi itu bohong yang jagain, kata Mimi juga gitu—”

Aku berlutut dan menangkapnya, dan anak itu menabrakku, dan di belakangku terdengar suara ayahnya:

“Kamu ngintip?”

“IYA!” Kirana berteriak dari bahuku, tanpa penyesalan sedikit pun sekarang. “Hari Selasa! Ayah duduk sejam mandangin kertas terus hapus-hapus terus buka laci!”

“Terus waktu Ayah nanya kamu bisa jaga rahasia nggak—”

“Kirana pura-pura nggak tahu.”

Hening di teras.

Lalu Dimas berkata, dengan nada yang paling dekat dengan kekaguman yang pernah kudengar darinya:

“...Anak siapa ini.”

“ANAK AYAH,” kata Kirana.

Dan ketiga orang di teras itu tertawa, dan di dalam rumah, di dinding seberang sofa, empat belas bingkai menghadap ke arah kami dengan cahaya lampu teras yang masuk lewat jendela.


[Bersambung ke Bab 38 — “Lamaran di Bawah Lampu Kuning”]