Chapter Nine
Oke. Satu-Satu
POV: Bella
Twin Day adalah hari paling penting dalam kalender Nayara+, dan malam paling berbahaya.
Flash sale tanggal kembar. Diskon sampai tujuh puluh persen, dimulai tepat tengah malam. Tahun lalu, sebelum ada Nayara+, promo yang sama berjalan di situs lama dan membuat sistem tumbang selama dua jam. Tim marketing masih menyebutnya “Malam Itu” dengan suara pelan, seperti menyebut nama mantan.
Tahun ini, kami punya aplikasi baru, jutaan pengguna, dan satu ruang rapat besar di lantai 21 yang disulap menjadi war room.
Pukul 22.40, Ruang Merbau sudah penuh. Empat puluh orang. Tim teknis vendor lama di sisi kiri, dipimpin Pak Gunawan, yang secara resmi masih memegang operasional sampai serah terima selesai. Tim product di tengah. Tim customer service di pojok dengan headset di leher. Tim marketing di dekat pintu, gelisah seperti keluarga pasien di depan ruang operasi. Enam layar besar di dinding menampilkan grafik trafik, status pembayaran, dan satu layar khusus yang menayangkan media sosial secara langsung. Kalau sesuatu rusak, internet akan tahu lebih dulu dari kami.
Dua belas kotak pizza di meja tengah. Pak Darmawan sudah makan tiga potong karena gugup.
Aku menjadi PIC komunikasi insiden. Artinya, kalau sesuatu terjadi, aku yang mengangkat telepon direksi. Aku sudah membuat templat pesan, daftar kontak, dan urutan eskalasi. Aku sudah mengeceknya tiga kali. Aku jago di bagian itu.
Erga duduk di ujung ruangan, dekat jendela, dengan laptop terbuka dan tablet di sebelahnya. Dia bukan PIC apa pun malam ini. Kontraknya adalah optimasi dan migrasi, bukan operasional. Dia datang karena Pak Darmawan memintanya “berjaga-jaga”. Sepanjang malam dia hampir tidak bicara, hanya menatap grafik di layarnya dengan tenang, seperti nelayan yang membaca awan.
Di sebelahku, Yoga tidak bisa diam. Dia sudah bolak-balik ke toilet empat kali.
“Kamu kenapa, Yog?”
“Nggak apa-apa, Bu. Gugup aja.” Dia tersenyum, tapi senyumnya terlalu lebar. “Tadi sore saya pasang pengaman tambahan. Rate limiter. Buat blokir bot yang suka borong voucher. Tahun lalu kan gara-gara bot juga.” Dia menarik napas. “Biar Pak Erga bangga.”
“Udah di-review?”
“Lewat pipeline vendor, Bu. Kalau lewat situ bisa langsung naik. Pak Erga lagi rapat sama Pak Darmawan tadi.”
Aku mengangguk. Aku tidak berpikir apa-apa tentang itu.
Seharusnya aku berpikir.
Pukul 00.00, countdown di layar besar mencapai nol. Tim marketing bersorak. Konfeti digital meledak di aplikasi. Grafik trafik melompat seperti detak jantung orang yang baru jatuh cinta: dua puluh ribu pengguna aktif, empat puluh ribu, delapan puluh ribu.
Pukul 00.01, pesanan mulai masuk. Seratus. Lima ratus. Dua ribu.
Pukul 00.03, grafik pembayaran berhenti naik.
Pukul 00.04, grafik itu berubah merah.
“Checkout gagal,” seseorang berteriak dari tim customer service. “Ada yang lapor nggak bisa bayar!”
“Ada yang lapor ratusan,” teriak yang lain.
Di layar media sosial, tagar #NayaraError muncul di posisi empat puluh tujuh. Lalu dua puluh. Lalu sembilan.
Ruangan meledak.
Empat puluh orang bicara bersamaan. Tim vendor saling tunjuk. Gateway pembayaran down? Coba cek jaringan! Bukan, database! Tim marketing berteriak minta banner promo diturunkan. Seseorang menjatuhkan kotak pizza. Pak Darmawan berdiri, duduk, berdiri lagi, dan mulai mengipasi wajahnya dengan kertas agenda.
Ponselku berdering. Mas Raka.
“Bel, apa yang terjadi? Twitter lagi rame. Papa nanya.”
“Lagi dicek, Mas. Aku kabari lima menit lagi.”
Belum sempat aku menutup telepon, ponselku berdering lagi. Sekretaris Papa. Lalu direktur keuangan. Lalu direktur marketing. Aku memegang ponsel itu seperti memegang granat, dan setiap getarannya membuat jantungku melompat.
Pukul 00.07. Tim Pak Gunawan masih mengecek jaringan. Pak Gunawan sendiri berdiri di depan layar dengan kedua tangan di pinggang, wajahnya kaku, bibirnya bergerak tanpa suara.
Pukul 00.08. Aku menoleh ke Yoga.
Dia tidak bergerak. Dia duduk di kursinya, menatap laptopnya, dan wajahnya putih. Bukan pucat. Putih, seperti kertas yang baru keluar dari printer. Di layarnya, aku melihat baris-baris log dengan angka yang sama berulang-ulang: 429. 429. 429.
Aku tidak tahu artinya. Tapi aku tahu wajah itu. Wajah orang yang baru sadar dialah penyebabnya.
Pak Darmawan menoleh ke ujung ruangan.
Erga sudah berdiri. Aku tidak melihat kapan. Dia berjalan ke tengah ruangan, pelan, tidak terburu-buru. Dia berhenti di depan Pak Gunawan.
“Pak,” katanya. “Boleh saya ambil alih?”
Suaranya tidak keras. Justru lebih pelan dari suara siapa pun di ruangan itu. Tapi entah kenapa, orang-orang di dekatnya berhenti bicara untuk mendengarnya.
Pak Gunawan menatapnya. Aku melihat sesuatu bergulat di wajah laki-laki tua itu. Delapan tahun. Sistem yang dia bangun. Anak muda dari Zogo yang menemukan server lupa-dimatikan miliknya.
Lalu Pak Gunawan mengangguk sekali, dan mundur selangkah.
Erga berbalik menghadap ruangan.
“Oke,” katanya. “Satu-satu.”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi setelah itu. Dia tidak berteriak. Dia tidak menepuk tangan atau memukul meja. Dia hanya bicara, dengan volume yang biasa dipakai orang untuk memesan kopi, dan ruangan itu ikut pelan. Seperti empat puluh orang yang sedang berlari tiba-tiba melihat satu orang berjalan, lalu tanpa sadar ikut berjalan.
“Bella.”
Aku tersentak. “Ya.”
“Kamu pegang telepon direksi. Update tiap lima menit. Satu kalimat. Apa yang kita tahu, apa yang sedang kita kerjakan. Jangan janji waktu.”
“Oke.”
“Adit, pantau dashboard gateway. Kalau angka suksesnya naik, bilang. Kalau turun, bilang lebih keras.” Adit mengangguk dan langsung duduk. “Tim marketing, turunkan banner countdown. Jangan turunkan promonya. Mbak Tika, siapkan jawaban template untuk customer service. Minta maaf, bilang sedang ditangani, jangan kasih estimasi.”
Semua orang bergerak. Tidak ada yang bertanya kenapa. Dia sudah menjawabnya dengan nada suaranya.
Lalu dia menoleh ke Yoga.
Aku menahan napas. Semua orang di ruangan ini, sadar atau tidak, sedang mencari seseorang untuk disalahkan. Dan Yoga sudah menawarkan dirinya sendiri lewat wajahnya.
“Yog,” kata Erga. Nadanya tidak berubah sama sekali. “Kamu buka log gateway. Kasih aku jumlah error per kode, per menit. Bisa?”
Yoga mengerjap. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara.
“Bisa, Yog?”
“B-bisa, Pak.”
“Oke. Mulai.”
Yoga mulai mengetik. Tangannya masih gemetar, tapi sekarang punya tujuan. Aku melihatnya sadar, bahkan sebelum Yoga sendiri sadar: Erga baru saja memberikan tugas paling sederhana di ruangan itu kepada orang yang paling panik. Tugas yang pasti bisa dia selesaikan. Supaya dia berhenti tenggelam.
Ponselku bergetar. Direktur keuangan. Aku mengangkat, dan suaraku keluar lebih tenang dari yang kuduga.
“Pak, kami sudah menemukan pola errornya, dan tim sedang menelusuri penyebabnya. Update berikutnya lima menit lagi.”
Aku menutup telepon. Aku tidak berbohong. Dan aku tidak menjanjikan apa pun.
Erga berdiri di belakang Yoga, membaca layar dari atas bahunya.
“Error-nya kode berapa?”
“Empat-dua-sembilan, Pak. Hampir semua.”
“Terlalu banyak permintaan,” kata Erga pelan, lebih untuk dirinya sendiri. “Bukan server mati. Server-nya nolak.” Dia menegakkan badan dan menatap ruangan. “Pertanyaan kedua. Apa yang berubah hari ini?”
Hening.
Tim vendor saling pandang. Tim marketing menatap lantai. Aku melihat punggung Yoga menegang seperti kawat.
Lalu tangan Yoga naik. Pelan. Gemetar.
“Saya, Pak,” katanya. Suaranya pecah di tengah. “Rate limiter. Jam tiga sore. Buat blokir bot.”
Semua kepala menoleh padanya. Aku melihat Pak Darmawan membuka mulut, mungkin untuk marah, mungkin untuk bertanya.
Erga bicara lebih dulu.
“Oke. Makasih, Yog. Itu membantu banget.”
Pak Darmawan menutup mulutnya.
“Pertanyaan terakhir,” kata Erga. “Limitnya per apa?”
“Per IP, Pak. Seratus request per menit.”
Erga mengangguk. Aku melihat seluruh gambarnya terbentuk di kepalanya dalam satu detik, seperti puzzle yang tiba-tiba menyatu sendiri.
“Kebanyakan pengguna kita pakai data seluler,” katanya, cukup keras supaya seluruh ruangan dengar. “Operator seluler menggabungkan ribuan pengguna di balik satu alamat IP yang sama. Jadi di mata rate limiter, lima ribu orang yang lagi checkout dari HP kelihatan seperti satu bot yang sangat rakus.” Dia menunjuk grafik merah di layar. “Aplikasi yang ditolak otomatis mencoba lagi. Dan lagi. Percobaan ulangnya membanjiri gateway pembayaran sampai gateway-nya kehabisan waktu. Pelanggan kita diblokir oleh pengaman yang dipasang untuk melindungi mereka.”
“Jadi?” tanya Pak Darmawan dengan suara kecil.
“Jadi kita rollback.”
Dia duduk di kursi di sebelah Yoga. Dia tidak mengusir Yoga dari kursinya. Dia hanya menggeser laptopnya sendiri ke sebelah laptop Yoga, dan mulai mengetik.
“Rollback konfigurasi rate limiter ke versi jam tiga kurang satu menit. Yog, kamu lihat ini. Nanti kamu yang ngerjain yang begini.”
Aku melihatnya bekerja. Mengembalikan konfigurasi. Menguras antrean percobaan ulang yang menumpuk. Lalu memasang aturan baru, bukan per IP tapi per akun pengguna, supaya bot tetap terblokir dan manusia tetap bisa lewat. Jarinya bergerak cepat tapi tidak terburu-buru. Setiap beberapa detik dia bicara pada Yoga dengan suara rendah, menjelaskan apa yang sedang dia lakukan, seperti guru yang mengajar di tengah kebakaran.
“Angka sukses naik,” kata Adit tiba-tiba. “Naik, Pak. Tiga puluh persen. Lima puluh. Tujuh puluh!”
Grafik merah di layar besar mulai turun. Pelan, lalu sekaligus. Hijau merangkak naik, lalu berlari.
“Sembilan puluh delapan persen,” kata Adit. Suaranya pecah. “Pak. Sembilan puluh delapan.”
Aku melihat jam dinding. 00.21.
Tujuh belas menit sejak Erga berdiri.
Ruangan itu meledak lagi. Bukan panik kali ini. Sorakan. Tepuk tangan empat puluh orang yang terdengar seperti stadion kecil. Tim marketing berpelukan. Seseorang menangis. Mbak Tika memukul meja sambil berteriak “ALHAMDULILLAH” dengan nada lagu dangdut.
Pak Darmawan berjalan ke arah Erga, dan tanpa aba-aba, memeluknya. Erat. Seperti ayah yang menemukan anaknya pulang dari perang.
Erga berdiri kaku di dalam pelukan itu, tangan terangkat setengah di udara, seperti tidak tahu harus diletakkan di mana.
“Pak,” katanya.
Pak Darmawan tidak melepaskan.
“Pak Darmawan.”
“Sebentar,” kata Pak Darmawan di bahunya. “Saya belum selesai.”
Pukul 01.40, sebagian besar orang sudah pulang. Yang tersisa tim inti, tersebar di sofa dan kursi Ruang Merbau seperti korban selamat kapal karam. Mbak Tika tertidur dengan kepala di atas kotak pizza kosong. Cece duduk tegak di kursinya dengan mata setengah terbuka, masih mengetik laporan untuk grup Divisi Gosip:
Cece: Laporan cuaca lantai 21, pukul 01.41. Cerah. Ada pelangi. Pelanginya pakai kemeja putih.
Lalu dia tertidur dengan jari masih di keyboard, dan grup itu menerima tiga ratus huruf j.
Erga duduk di ujung meja, menulis postmortem. Laporan insiden. Apa yang terjadi, kenapa, dan bagaimana mencegahnya.
Aku melihat Yoga berdiri di dekatnya, ragu, seperti anak yang akan mengaku memecahkan vas.
“Pak.”
Erga mengangkat kepala.
“Saya… saya siap, Pak. Kalau besok saya dipanggil direksi. Kalau saya harus—” Yoga menelan ludah. “Itu salah saya. Saya nggak minta review. Saya mau bikin Bapak bangga, terus saya malah—”
Erga memutar laptopnya supaya Yoga bisa membaca layar. Aku berdiri di ambang pintu, jadi aku juga bisa membacanya.
Akar masalah: Perubahan konfigurasi di lingkungan produksi dapat dilakukan tanpa proses review.
Tindakan korektif: Mulai hari ini, semua perubahan konfigurasi produksi wajib melalui review dua orang. Penanggung jawab proses: Erga Mahardika.
Tidak ada nama Yoga di mana pun.
“Pak, tapi saya yang—”
“Kamu yang ngasih tahu dalam dua puluh detik,” kata Erga. “Waktu semua orang lagi nyari siapa yang salah, kamu angkat tangan. Kalau kamu diam, kita butuh satu jam untuk nemuin penyebabnya. Mungkin dua.” Dia memutar laptopnya kembali. “Yang salah prosesnya, Yog. Prosesnya biar aku yang benerin. Kamu tidur.”
Yoga berdiri di sana selama lima detik. Lalu dia berbalik dan berjalan cepat ke luar ruangan, ke arah toilet. Aku minggir untuk memberinya jalan, dan aku melihat wajahnya waktu dia melewatiku.
Dia sudah menangis sebelum sampai di pintu toilet.
Aku tetap berdiri di ambang pintu. Aku memandang laki-laki di ujung meja itu. Dia sudah kembali menulis, seolah tidak baru saja menyelamatkan karier seseorang dengan satu paragraf.
Dan di situ, di ambang pintu Ruang Merbau, pukul 01.52 pagi, dengan bau pizza dingin dan kopi basi, aku tahu.
Bukan karena empat menit di ballroom. Bukan karena tiga koma dua miliar. Bukan juga karena tujuh belas menit malam ini, meskipun tujuh belas menit itu adalah hal paling mengagumkan yang pernah kulihat seorang manusia lakukan dengan laptop.
Tapi karena “Oke. Makasih, Yog. Itu membantu banget.”
Karena di ruangan penuh orang yang sedang mencari siapa yang harus disalahkan, dia memilih untuk mencari siapa yang harus dilindungi.
Malam itu aku jatuh. Resmi. Dan aku tidak berniat bangun.
Aku tidak ingat kapan tertidur. Aku ingat duduk di sofa panjang di pojok ruangan, menunggu Erga selesai menulis, supaya aku bisa membaca postmortem itu sebelum dikirim ke direksi. Aku ingat AC ruangan yang terlalu dingin. Aku ingat memeluk lenganku sendiri.
Lalu aku terbangun, dan ada sesuatu yang hangat di bahuku.
Jaket. Jaket gelap berbahan kanvas, berat, beraroma sabun cuci dan sedikit kopi. Terlalu besar untukku. Lengannya jatuh sampai melewati tanganku.
Aku menoleh.
Dia duduk di ujung lain sofa yang sama, satu meter dariku, laptop di pangkuan. Dia hanya memakai kemeja. Lengan kemejanya sudah digulung sampai siku, dan aku bisa melihat bulu kuduk di lengannya berdiri karena dingin.
Jam di dinding menunjukkan 03.04.
“Kamu kedinginan,” kataku. Suaraku serak karena baru bangun.
“Nggak.”
“Bulu tangan kamu berdiri.”
Dia melirik lengannya sendiri, seperti baru tahu lengan itu ada. Lalu kembali ke laptop. “Postmortem-nya udah selesai. Kamu bisa baca besok pagi.”
Aku menarik jaket itu lebih erat. Aku mengambil gelas kopi dingin di meja kecil di sebelahku, gelas yang entah milik siapa, dan meminumnya karena tenggorokanku kering.
Aku memandangnya dari balik gelas. Profilnya diterangi cahaya layar laptop. Rambutnya sedikit berantakan, satu-satunya hal berantakan yang pernah kulihat darinya.
Aku tidak berencana mengatakannya. Mungkin karena jam tiga pagi. Mungkin karena tujuh belas menit tadi. Mungkin karena aku sudah jatuh dan orang yang sudah jatuh tidak punya apa-apa lagi untuk dijaga.
“Kamu tahu nggak,” kataku, “kamu paling seksi pas ngomong ‘rollback’.”
Jarinya berhenti di atas keyboard.
Dia tidak menoleh. Dia menatap layar laptop. Satu detik. Dua detik. Aku mulai berpikir dia akan pura-pura tidak mendengar, seperti biasanya.
Lalu dia bicara, dengan suara datar yang sama persis seperti saat dia memerintahkan rollback empat jam lalu. Tapi lebih pelan. Jauh lebih pelan.
“Aku bisa ngomong itu lagi,” katanya. “Pelan-pelan. Kalau kamu mau.”
Kopi dingin itu masuk ke saluran yang salah.
Aku terbatuk. Keras. Sampai Mbak Tika terbangun dari kotak pizzanya dan bertanya “Kebakaran? Kebakaran?” dengan mata tertutup, lalu tertidur lagi sebelum ada yang menjawab.
Dia tidak tertawa. Tapi dia menyodorkan botol air mineral padaku, dan waktu aku mengambilnya, jari kami bersentuhan. Sebentar. Hangat, meskipun bulu tangannya berdiri.
Pukul sepuluh pagi, rapat direksi darurat. Papa memimpin.
Aku datang dengan jaket itu.
Aku tidak berencana. Aku pulang pukul empat, tidur tiga jam, mandi, dan saat membuka lemari, aku melihat jaket itu di kursi, lalu memakainya tanpa berpikir. Jaket kanvas gelap yang kebesaran, di atas blus sutra krem, di rapat direksi. Aku terlihat seperti anak kuliahan yang tersesat ke ruang dewan komisaris.
Papa melihatku masuk. Matanya berhenti di jaket itu selama satu detik.
“Jaket siapa itu, Bel?”
“Jaket tim, Pa.”
Papa tidak bertanya lagi. Tapi dia melirik ke ujung meja, ke tempat Erga baru saja berdiri untuk mempresentasikan postmortem. Erga melihat jaketnya di bahuku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia berhenti di tengah kalimat. Satu detik penuh. Tangannya yang memegang remote presentasi tidak bergerak.
Lalu dia melanjutkan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di tengah presentasi, direktur keuangan bertanya dengan nada tajam siapa yang mengubah konfigurasi tanpa izin. Seluruh ruangan menoleh ke Erga.
“Prosesnya yang salah, Pak,” kata Erga. “Saya yang akan memperbaiki prosesnya.”
Hanya itu. Dia tidak menyebut nama. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut. Direktur keuangan membuka mulut untuk bertanya lagi, lalu melihat wajah Papa, dan menutupnya.
Papa menatap Erga lama. Tatapan yang sama yang dia berikan pada kontrak bernilai ratusan miliar. Lalu Papa berkata satu kata.
“Lanjutkan.”
Dari tempat dudukku, aku melihat Papa menulis sesuatu di buku catatannya. Satu nama, digarisbawahi dua kali.
Aku tidak mengembalikan jaket itu. Hari itu, atau hari berikutnya.
Dia juga tidak memintanya.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu reading
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama