← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Five

Lima Menit

POV: Bella

Pada Kamis pagi, seminggu setelah launching, seluruh Nayara Tower sudah tahu tentang server abu-abu di lantai sembilan.

Aku tahu karena ada tiga orang yang membicarakannya di lift. Ada dua lagi di pantry. Dan satpam lobi, yang biasanya hanya membicarakan hasil pertandingan bola, berkata kepada resepsionis dengan suara penuh wibawa, “Tiga koma dua miliar, Mbak. Pakai M.”

Papa menelepon Pak Darmawan Rabu malam. Aku tahu karena Pak Darmawan menceritakannya padaku keesokan paginya dengan mata berkaca-kaca, seperti anak SD yang dipuji kepala sekolah di depan upacara. Papa tidak pernah menelepon siapa pun untuk memuji. Papa menelepon untuk bertanya, menegur, atau memerintah. Menurut Pak Darmawan, malam itu Papa hanya bilang satu kalimat.

“Orang Zogo itu. Jaga baik-baik.”

Grup Fanclub Pak Architect, yang katanya dibuat Yoga “untuk diskusi teknis”, sekarang punya tiga puluh satu anggota. Pesan terakhir di grup itu adalah foto Erga dari belakang yang sedang berdiri di depan papan tulis, dengan caption dari Pak Darmawan sendiri: Punggung orang yang menyelamatkan tiga koma dua miliar. Lihat, bahkan punggungnya kompeten.

Aku bukan anggota grup itu. Aku tahu isinya karena Cece meneruskan semuanya ke grup Divisi Gosip, di mana aku sudah jadi anggota dan, secara resmi, “pengamat”.

Yang aneh adalah perasaanku sendiri. Setiap kali ada orang menyebut angka tiga koma dua miliar, dadaku terasa hangat, seperti aku sedang dipuji. Seperti aku yang menemukan server itu. Seperti laki-laki di pojok dekat jendela itu punyaku.

Dia bukan punyaku. Dia menutup tiket dengan kata Duplicate.

Tapi aku masih tersenyum setiap kali mengingatnya.


Grup WA keluarga Harsono berbunyi pukul sembilan pagi.

Mama mengirim foto dekorasi bunga. Satu. Dua. Tujuh. Lima belas. Aku meletakkan ponsel di meja dan membiarkannya bergetar sendiri seperti sedang kesurupan. Mbak Tika, dari meja sebelah, melirik.

“Bu Bella, HP-nya kenapa?”

“Mamaku lagi milih bunga.”

“Berapa pilihan?”

Ponselku berhenti bergetar. Aku melihat layar. “Empat puluh.”

“Empat puluh bunga?”

“Empat puluh foto. Bunganya mungkin cuma tiga. Diambil dari sudut yang beda-beda.”

Pesan terakhir dari Mama: Yang mana, anak-anak? Mama suka semua.

Lalu pesan dari Sheila, yang juga ada di grup keluarga sejak lamaran: Aku suka nomor 23, ya, Ma. Tapi nomor 17 juga bagus, ya. Terserah Mama, ya. Diikuti tiga stiker hati.

Tiga “ya” dalam satu pesan. Aku menghitungnya tanpa sadar, dan aku tidak bangga pada diriku sendiri karena melakukannya.


Pukul 11.50, resepsionis lobi menelepon.

“Bu Bella, ada Ibu Ratna dan Mbak Sheila di bawah. Katanya mau jemput Ibu.”

Aku menutup mata. Aku punya sprint review jam satu. Tim Yoga akan mempresentasikan rencana perbaikan pertama dari hasil audit Erga, dan aku harus ada di sana.

Aku turun.

Mama berdiri di tengah lobi dengan kacamata hitam dan tas besar, seperti ratu yang turun dari kereta kencana. Sheila di sebelahnya, rapi, cantik, dengan senyum yang sama seperti di foto-foto prewedding yang sudah dipesan.

“Bella! Ayo, kita ke tasting katering. Mama sudah janji jam dua belas seperempat. Kamu kan panitia konsumsi.”

“Ma, aku ada rapat jam satu.”

“Sebentar aja, Sayang. Satu jam.”

“Tasting katering nggak pernah satu jam, Ma. Tiga jam paling cepat.”

Mama cemberut. Sebelum dia sempat menjawab, Sheila menyentuh lengan Mama dengan lembut.

“Nggak apa-apa, Ma. Bella kan sibuk, ya.” Lalu dia menoleh ke arahku, tersenyum. Senyum yang sangat manis. “Tapi Bella kan cuma main aplikasi, ya. Pasti bisa izin sebentar, ya. Ini kan pernikahan kakaknya sendiri, ya.”

Cuma main aplikasi.

Aku merasakan sesuatu di dadaku mengencang. Bukan marah. Marah itu panas, dan ini dingin. Ini perasaan yang sudah kukenal sejak SMA, sejak pertama kali orang bilang aku masuk universitas bagus karena Papa, dapat magang karena Papa, dapat posisi product lead karena Papa. Perasaan ketika semua kerja kerasmu diringkas jadi satu kata kecil yang terdengar seperti mainan.

“Iya, Bel,” kata Mama, menyetujui tanpa sadar. “Sebentar aja.”

Aku tersenyum. Aku jago tersenyum. Aku anak bungsu keluarga Harsono.

“Maaf, Ma. Aku nggak bisa hari ini. Aku kirim pilihan menunya lewat WA, ya. Nanti aku yang pilih dari foto.”

Mama menghela napas panjang, napas yang bisa terdengar dari lantai tiga puluh. Sheila mengusap lengan Mama dan berkata, “Nggak apa-apa, Ma. Kita berdua aja, ya.” Suaranya lembut. Matanya, sepersekian detik, melihat ke arahku dengan sesuatu yang bukan lembut.

Mereka pergi. Aku berdiri di lobi selama sepuluh detik, lalu masuk lift, lalu menekan tombol paling atas.

Bukan lantai 21. Lantai 30.


Rooftop Nayara Tower adalah taman kecil yang dibangun Papa sepuluh tahun lalu untuk “kesejahteraan karyawan”, lalu dilupakan semua karyawan karena terlalu panas di siang hari. Ada beberapa bangku kayu, pot-pot bugenvil yang dirawat tukang kebun seminggu sekali, dan satu tandon air besar yang bayangannya menjadi satu-satunya tempat teduh di jam dua belas siang.

Aku ke sana karena di sana tidak ada orang. Aku butuh tempat di mana aku tidak perlu tersenyum.

Ternyata ada orang.

Dia duduk di bangku kayu dalam bayangan tandon air, dengan kotak makan plastik di pangkuan, sendirian. Kemeja putih lengannya digulung sampai siku. Laptop tidak ada. Ponsel tertelungkup di bangku. Dia hanya duduk dan makan, pelan, sambil menatap gedung-gedung di seberang jalan, seperti orang yang sudah lama membuat kesepakatan diam-diam dengan kota ini.

Dia menoleh saat mendengar pintu besi rooftop berderit. Melihatku. Tidak terkejut. Tidak juga tersenyum. Hanya menunggu.

Aku berjalan ke bangku itu dan duduk di ujung yang lain. Jarak kami satu setengah meter. Aku menatap lurus ke depan.

“Lima menit,” kataku. “Temenin aku lima menit. Jangan tanya kenapa.”

Dia tidak menjawab.

Dia juga tidak bertanya kenapa.

Dia hanya kembali makan, pelan, dan membiarkan aku duduk di sana. Angin siang bertiup panas, membawa suara klakson dari jalanan tiga puluh lantai di bawah kami. Seekor burung gereja hinggap di pot bugenvil, menatap kami berdua, lalu terbang lagi karena mungkin menyimpulkan kami tidak menarik.

Setelah beberapa saat, dia menggeser kotak makannya sedikit ke arahku. Isinya nasi putih, telur dadar yang dipotong empat, dan sambal di sudut. Sederhana. Rapi. Seperti dirinya.

Aku melihat kotak itu. Lalu melihatnya.

“Kamu masak sendiri?”

Dia mengangguk.

Aku mengambil satu potong telur dengan jari. Dia tidak protes. Aku memakannya. Asinnya pas. Ada daun bawang di dalamnya.

“Enak,” kataku.

“Hm.”

“Kamu nggak nanya kenapa aku ke sini.”

“Kamu bilang jangan.”

“Kamu selalu nurut?”

“Sama instruksi yang jelas.” Dia menatap gedung di seberang. “Yang nggak jelas, aku tanya dulu.”

Aku tertawa sedikit, dan tawa itu mengendurkan sesuatu yang kencang di dadaku. Aku mengambil potongan telur kedua. Dia kembali menggeser kotaknya sedikit lebih dekat.

Aku tidak berencana bercerita. Tapi keheningan di sebelahnya bukan keheningan yang menuntut sesuatu. Keheningannya seperti ruangan kosong dengan pintu terbuka, dan kamu boleh masuk kalau mau.

“Tadi ada orang,” kataku akhirnya, “yang bilang kerjaanku cuma main aplikasi.”

Dia berhenti mengunyah.

“Bukan pertama kali,” lanjutku. “Aku udah biasa. Anak bungsu. Semua orang pikir aku di sini karena Papa. Padahal nama belakangku bahkan bukan Harsono. Mama sengaja memberiku nama tanpa marga keluarga, katanya supaya aku punya nama sendiri. Ironis. Aku kerja sampai jam sepuluh malam, aku yang nyusun ulang alur NayaraDesk, aku yang ngotot launching ditunda dua kali karena fiturnya belum siap. Tapi tetap aja. Main aplikasi.”

Aku tidak menyebut siapa. Dia tidak bertanya siapa.

Dia meletakkan sendoknya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku duduk, dia menoleh dan menatapku langsung.

“Aplikasi yang kamu ‘mainin’,” katanya pelan, “dipakai empat puluh satu ribu orang dalam satu menit, Kamis malam kemarin. Waktu sistemnya mati, kamu nggak nangis, nggak nyalahin orang, nggak kabur. Kamu berdiri di belakang panggung dan nanya satu hal yang benar: berapa lama. Itu bukan main.”

Aku menatapnya.

“Yang main-main itu,” tambahnya, kembali menghadap kota, “konfigurasi database-nya.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik. Tenggorokanku tiba-tiba sempit dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan telur dadar. Tidak ada yang pernah bilang begitu padaku. Bukan Papa, bukan Mama, bukan Mas Raka. Semua orang memujiku karena rapi, karena cantik, karena anak baik. Tidak ada yang pernah memujiku karena pertanyaan yang tepat di saat yang salah.

Aku mengalihkan pandangan cepat-cepat sebelum dia melihat mataku.

“Kamu kenapa makan sendirian di sini?” tanyaku, sedikit terlalu keras. “Tiap hari?”

“Di atas sini nggak ada yang minta aku benerin apa-apa.”

“Oh.” Aku menunduk. “Berarti aku ganggu, dong.”

“Nggak.”

“Kok nggak?”

“Kamu nggak minta dibenerin,” katanya. “Kamu minta ditemenin. Itu beda.”


Kami duduk lagi dalam diam. Diam yang nyaman sekarang, hangat seperti bangku kayu di bawah kami.

Ponselku bergetar. Grup keluarga. Mama mengirim foto meja tasting: dua belas piring kecil, dan Sheila tersenyum di belakangnya.

Aku mendesah. “Mas Raka mau nikah lima bulan lagi. Aku panitia dua seksi. Konsumsi dan dekorasi. Mamaku kirim empat puluh foto bunga pagi ini, dan kayaknya abis ini empat puluh foto piring.”

Di sebelahku, dia tidak bergerak.

Maksudku, dia memang jarang bergerak. Tapi ini lain. Seperti mesin yang kipasnya tiba-tiba berhenti berputar. Tangannya yang memegang tutup kotak makan terhenti di udara. Matanya tetap ke gedung di seberang, tapi aku merasa dia tidak sedang melihat gedung itu.

Seperti di ballroom. Seperti di depan pilar belakang.

“Kamu nggak suka kondangan, ya?” tanyaku pelan.

Jeda. Lalu tutup kotak itu turun, menutup kotak makan dengan bunyi klik kecil.

“Nggak terlalu,” katanya.

Aku ingin bertanya lagi. Pertanyaannya sudah di ujung lidah: Kenapa? Ada apa dengan kondangan? Ada apa dengan kakakku? Kenapa waktu Mas Raka menjabat tanganmu, kamu menekan pulpen sampai buku jarimu putih?

Tapi aku tadi bilang jangan tanya kenapa. Aturan itu berlaku dua arah. Dia menepatinya untukku. Aku akan menepatinya untuknya.

Untuk sekarang.

Aku melihat jam di ponsel dan terkejut. 12.47.

“Ya ampun. Udah lima menit, ya?”

“Lima menitnya,” katanya sambil memasukkan kotak makan ke tas kain kecil, “sudah lewat dua belas menit.”

Aku berhenti. “Kamu ngitung?”

Dia berdiri. Dia merapikan lipatan lengan kemejanya, satu, lalu yang lain, dengan ketelitian orang yang tidak pernah membiarkan apa pun berantakan. Lalu dia menatapku. Datar. Tenang. Seolah dia sedang membacakan log server.

“Aku ngitung semua hal,” katanya. “Kamu yang bikin aku lupa berhentinya.”

Dia berjalan ke pintu besi, membukanya, dan menghilang ke tangga.

Aku duduk di bangku itu sendirian dengan wajah panas. Bukan karena matahari. Matahari sudah bergeser, dan bayangan tandon air sekarang sepenuhnya menutupiku. Tetap saja panas.


Aku turun lewat tangga darurat karena tidak sanggup bertemu siapa pun di lift. Tiga lantai. Lalu aku sadar aku perlu turun sembilan lantai lagi, jadi aku keluar di lantai 27 dan menunggu lift di sana.

Satpam lantai 27, laki-laki paruh baya berkumis tebal yang biasanya hanya mengangguk padaku, menatapku dengan cemas.

“Bu Bella? Ibu nggak apa-apa?”

“Kenapa, Pak?”

“Mukanya merah banget, Bu. Dari leher sampai jidat.” Dia mendekat sedikit, seperti dokter jaga. “Ibu demam? Mau saya panggilkan klinik?”

Pintu lift terbuka. Aku masuk.

“Iya, Pak,” kataku, menekan tombol 21. “Kayaknya demam.”

Pintu menutup di depan wajahnya yang semakin khawatir.

Di dalam lift yang kosong, aku bersandar ke dinding cermin dan menatap bayanganku. Satpam itu benar. Merah dari leher sampai jidat.

Kamu yang bikin aku lupa berhentinya.

Laki-laki yang menutup tiketku dengan Won’t Fix. Laki-laki yang menandai tiket keduaku sebagai Duplicate. Laki-laki yang bilang aplikasiku bukan mainan, lalu pergi begitu saja seperti tidak baru saja meruntuhkan seluruh pertahanan yang kubangun sejak SMA.


Sprint review dimulai tepat pukul satu. Yoga mempresentasikan rencana perbaikan dari hasil audit dengan suara yang jauh lebih percaya diri dari biasanya, dan setiap tiga kalimat dia menyebut “kata Pak Erga”. Erga duduk di ujung meja, mencatat di buku kecilnya, tidak sekali pun melihat ke arahku.

Mbak Tika mencondongkan badan ke telingaku.

“Bu, katanya Ibu demam?”

Aku menoleh cepat. “Siapa yang bilang?”

“Satpam lantai dua puluh tujuh lapor ke grup satpam. Grup satpam bocor ke grup OB. Grup OB bocor ke kita.” Dia berbisik lebih pelan lagi. “Katanya Ibu turun dari rooftop. Dan lima menit sebelumnya, Pak Architect juga turun dari rooftop.”

“Mbak Tika.”

“Saya cuma menyampaikan data, Bu.”

Di bawah meja, ponselku bergetar. Bukan grup. Pesan pribadi, dari nomor yang baru kusimpan kemarin sebagai Erga (Zogo).

Katanya kamu demam.

Aku menatap ujung meja. Dia masih mencatat, wajahnya datar, seolah tidak baru saja mengirim pesan dari bawah meja rapat seperti anak sekolah.

Iya, balasku.

Minum air. Jangan ke rooftop jam dua belas lagi. Panas.

Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

Aku ke sana bukan karena panasnya.

Tanda centang dua berubah biru. Dia tidak membalas. Tapi di ujung meja, pulpen di tangannya berhenti bergerak selama tiga detik penuh. Aku menghitungnya.


Malamnya, grup keluarga berbunyi lagi. Mama: Bel, kamu pilih menu yang mana? Mama kirim foto lagi ya.

Empat puluh foto piring masuk satu per satu.

Kali ini, aku tidak menghitung satu pun.