Chapter Thirty Three
Resolved
POV: Bella
Akhir pekan itu, rumah kami belajar bernapas lagi.
Tenda putih di halaman depan dibongkar hari Sabtu pagi. Tukang-tukang bekerja dalam diam, seperti tahu mereka sedang membereskan sesuatu yang lebih dari sekadar tiang dan terpal. Kursi-kursi lipat diangkut kembali ke truk. Melati putih bahagia, yang dipesan Mama dengan penuh perjuangan, dibagikan ke tetangga satu kompleks. Satpam kompleks menerima dua untai dan menggantungkannya di pos jaga, di sebelah kalender dan jadwal ronda.
Hanya lampu-lampu kecil di pohon mangga yang tidak dicopot. Mama melarang.
“Biarin,” katanya, berdiri di teras dengan tangan terlipat. “Lampunya nggak salah apa-apa.”
Mas Raka turun untuk sarapan hari Sabtu. Pertama kalinya sejak Selasa malam. Matanya masih bengkak, dan dia makan pelan-pelan, dan dia tidak banyak bicara. Tapi dia turun. Dia duduk di kursinya. Dia menerima nasi goreng dari Mama dan bilang terima kasih.
Papa, di kepala meja, meletakkan koran dan menuangkan teh ke cangkir Mas Raka sampai penuh. Hampir tumpah. Tanpa bicara.
Aku menatap cangkir itu, dan aku ingat cerita seseorang tentang ayah yang menuangkan teh setiap malam tanpa sepatah kata, tiga tahun lalu, di rumah yang lain.
Minggu sore, Mas Raka duduk di sebelahku di teras, di bawah lampu-lampu kecil yang belum dinyalakan.
“Bel,” katanya. “Mas mau cerita sesuatu.”
Aku menunggu.
“Jumat kemarin, Mas ngopi sama dia. Di warung pinggir jalan. Warungnya jelek banget. Kopinya pahit banget. Ibunya kasih teh manis gratis karena katanya kami kayak orang abis nangis.” Dia tertawa kecil. “Kami emang abis nangis.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kami bikin klub. Klub H-7. Anggotanya dua.” Dia menggaruk tengkuknya. “Andre mau daftar, tapi ditolak.”
“Aku tahu. Aku baca di grup.”
“Terus…” Mas Raka menatap pohon mangga. Dia tidak menatapku. “Terus Mas bilang ke dia. Kejar kamu.”
Aku menoleh cepat. “Mas.”
“Mas serius.”
“Mas nggak boleh bilang gitu ke dia! Itu— itu urusan aku—”
“Mas tahu.” Dia akhirnya menatapku. Senyumnya yang baru. Tipis, lebih tua, lebih jujur. “Tapi dia mundur karena Mas, Bel. Karena keluarga kita. Karena dia pikir dia bakal jadi alasan rumah ini retak. Mas cuma… balikin apa yang Mas ambil.”
Aku menatap kakakku lama. Laki-laki yang minggu lalu kehilangan semua versi senyumnya. Laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku dan mengembalikan sesuatu padaku yang bahkan tidak dia sadari pernah dia pegang.
“Dia jawab apa?” tanyaku pelan.
Mas Raka tersenyum lebih lebar.
“Dia nggak jawab. Dia diem aja. Kamu tahu kan dia gimana.” Dia berdiri, menepuk bahuku dua kali. “Tapi kupingnya merah, Bel. Merah banget.”
Senin pagi, aku memakai lipstik yang itu.
Merah cabai. Warna yang kubeli dua tahun lalu untuk pesta tahun baru. Warna yang Mama bilang membuatku terlihat seperti mau menagih utang. Warna yang membuat seseorang tidak bisa membaca slide.
Aku memakainya dengan sangat hati-hati di depan cermin kamar mandi rumah, jam enam pagi, dua kali, karena yang pertama tanganku gemetar.
Di lobi Nayara Tower, satpam menyapaku dengan “Selamat pagi, Bu Bella,” lalu melihat bibirku, lalu menyapa pot tanaman di sebelahku dengan “Selamat pagi” juga.
Di lantai 21, Cece melihatku keluar dari lift dan langsung mengetik. Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.
Cuaca Lantai 21: SIAGA SATU. Merah cabai terdeteksi pukul 08.02. Semua personel diharap waspada. Pak Architect sudah di mejanya sejak jam tujuh.
Aku berjalan ke mejaku lewat jalan paling panjang. Yang kebetulan melewati pojok Zogo.
Dia sedang menggambar diagram di tabletnya. Dia mengangkat wajah waktu aku lewat. Matanya berhenti di bibirku. Satu detik.
Stylus itu jatuh.
Dari meja product, Cece menambahkan garis kesembilan di sticky note hijaunya, lalu menggambar hati kecil di sebelahnya.
Pagi itu adalah pagi terpanjang dalam hidupku.
Aku memimpin rapat review fase tiga dan tidak ingat satu pun yang kukatakan. Aku membalas enam email dan harus membacanya ulang karena lupa menulis salam. Aku minum teh melati sampai habis tiga gelas. Mbak Tika menawariku permen jahe. Yoga menawariku kopi. Andre lewat di depan mejaku dua kali tanpa alasan, lalu yang ketiga kalinya dia berhenti dan berbisik, “Semangat, Bu,” lalu pergi dengan cepat seperti orang yang baru membocorkan rahasia negara.
Pukul 11.58, aku naik ke lantai 30.
Tangga darurat. Tiga lantai. Aku tidak mau bertemu siapa pun di lift.
Pintu besi rooftop. Aku berhenti di depannya, dengan tangan di gagang, dan menarik napas. Empat hitungan. Tahan. Keluarkan. Seperti yang dia ajarkan di lift yang gelap.
Aku membuka pintu.
Dia sudah di sana.
Di bangku kayu, di bayangan tandon air. Dua botol teh dingin di sebelahnya, belum dibuka. Kotak makan biru di pangkuannya, tutupnya sudah terbuka. Telur dadar. Aku bisa melihat dari sini. Dipotong delapan. Potongannya besar. Empat butir.
Dan di sebelah kotak makan, di atas bangku, laptopnya. Terbuka.
Dia berdiri waktu melihatku. Dia tidak langsung bicara. Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan matanya berhenti di bibirku lagi, lebih lama dari satu detik kali ini, dan aku melihat jakunnya naik turun.
“Kamu pakai yang itu,” katanya.
“Kamu yang minta.”
“Aku nggak nyangka kamu beneran pakai.”
“Aku nggak pernah ninggalin sesuatu di tengah jalan,” kataku. “Termasuk ancaman soal lipstik.”
Sudut bibir kirinya bergerak. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia menepuk bangku di sebelahnya dua kali.
Seperti yang dulu selalu kulakukan untuknya.
Aku duduk. Setengah meter. Bangkunya memang pendek.
Dia mengambil laptop dan meletakkannya di pangkuanku.
Di layar, NayaraDesk. Daftar tiket lama. Tiga puluh satu tiket, masing-masing dengan status yang dia berikan. Won’t Fix. Duplicate. Need More Info. In Progress. Dan di paling atas, tiket yang sudah dia buka.
Tiket #001
Judul: User tidak bisa berhenti mikirin Senior Architect.
Status: WON’T FIX
Komentar dari erga.mahardika: Di luar lingkup proyek.
Tiket pertama. Dari hari Senin berbulan-bulan lalu, setelah kick-off, setelah lift, setelah pintunya lagi nutup. Aku ingat menulisnya sambil makan siang dan tertawa sendiri. Aku ingat menunggu dua menit.
Dia mengulurkan tangan melewati pangkuanku, menggeser kursor ke menu status, dan membukanya.
Aku menahan napas.
Kursornya melewati Won’t Fix. Melewati In Progress. Berhenti di satu kata.
Dia mengklik.
Status diubah oleh erga.mahardika: RESOLVED
Lalu dia mengetik di kolom komentar. Pelan. Satu kata demi satu kata, dengan jari yang tidak gemetar sama sekali.
Won’t Fix-nya salah input.
Dia menekan Enter.
Aku menatap layar itu. Aku tidak bisa bicara. Mataku panas, dan aku tidak mau menangis dengan lipstik merah cabai, karena Mama bilang lipstik merah dan air mata adalah kombinasi yang membuat perempuan terlihat seperti tokoh sinetron.
“Bel,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
Dan aku melihatnya.
Aku sudah menatap wajah ini berkali-kali. Di balik panggung, berlutut di depan laptop. Di rooftop, menatap crane. Di dalam mobil, sejengkal dariku. Di lorong B2, di bawah lampu neon, menerima semua yang dijatuhkan padanya. Aku sudah hafal garis tipis di dahinya. Aku sudah hafal sudut bibir kirinya yang bergerak dua detik. Aku sudah hafal telinganya yang memerah.
Tapi aku belum pernah melihat wajah ini tanpa apa pun di depannya.
Tidak ada permukaan danau yang rata. Tidak ada layar yang dimatikan paksa. Tidak ada dinding yang dibangun bata demi bata dengan tangan yang menelepon dua puluh tiga vendor. Hanya wajahnya. Mata yang gelap dan tenang dan sangat, sangat takut. Rahang yang tegang. Bibir yang sedikit terbuka, seperti orang yang akan mengatakan sesuatu yang sudah terlalu lama dia simpan.
Aku menahan napas.
“Aku mau bilang semuanya,” katanya. “Sekali. Jelas. Biar nggak ada yang salah input lagi.”
Aku mengangguk. Aku tidak percaya suaraku.
“Aku jatuh cinta sama kamu.”
Angin bertiup. Botol teh di bangku berdenting pelan.
“Aku nggak tahu sejak kapan.” Suaranya tetap tenang. Hanya tangannya, yang sekarang di atas lututnya sendiri, mencengkeram kain celananya. “Mungkin sejak kamu bilang aku tahu di lorong ballroom. Mungkin sejak kamu nyuruh aku diam karena kamu lagi tanggung jawab. Mungkin sejak kamu ngambil telur dadarku pakai jari tanpa minta izin. Aku udah coba cari tanggalnya. Aku nggak nemu.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Tiga tahun aku percaya semua cinta punya tanggal kadaluarsa,” lanjutnya. “Jadi aku selalu nyari tanggalnya. Kapan mulai, kapan berakhir. Biar aku siap.” Dia menarik napas. “Sama kamu, aku nggak tahu tanggal mulainya. Dan untuk pertama kalinya, aku nggak peduli tanggal berakhirnya.”
Aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku jatuh. Lipstik merah cabai dan air mata. Tokoh sinetron. Aku tidak peduli.
“Aku masih takut, Bel.” Suaranya retak, sedikit. “Aku nggak mau bohong. Aku masih takut suatu hari kamu bangun dan bilang kalimat itu. Tapi Andre bilang sesuatu ke aku di kafe. Dia bilang dia nggak mau nggak tahu rasanya.” Dia menatapku. “Aku juga nggak mau. Aku lebih takut nggak tahu rasanya daripada takut kehilangan.”
Dia berhenti. Dan kemudian, karena dia adalah dia, karena dia selalu bertanya dulu, dia menambahkan satu kalimat.
“Kamu mau?”
Aku menatapnya lama. Aku ingin mengatakan sesuatu yang indah. Aku ingin mengatakan sesuatu yang bisa dia simpan di laci bersama tisu segi empat dan sticky note kuning.
Yang keluar dari mulutku adalah:
“Aku udah bilang dari minggu ketiga, Erga.”
Dia mengerjap.
“Aku lagi deketin kamu, ya. Biar nggak kaget.” Aku tertawa di tengah tangis. “Minggu ketiga. Di meja kamu. Kamu jawab sudah tercatat.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, seperti fajar yang naik di atas gedung-gedung, dia tersenyum. Bukan dua detik. Bukan sudut bibir kiri. Senyum penuh, yang membuatnya terlihat lima tahun lebih muda dan sepuluh kali lebih berbahaya. Senyum yang kulihat sekali di tangga darurat, sebelum alert server berbunyi.
“Tercatat,” katanya pelan. “Di tempat yang nggak bisa dihapus.”
Aku mengambil laptop dari pangkuanku. Aku membuka tiket #031. Tiket yang kubuat sendiri, tanpa judul, tanpa deskripsi, dengan status yang kuubah sendiri tiga bulan lalu.
Paused. Bukan Closed.
Aku membuka menu status. Aku memilih satu kata.
Status diubah oleh bella.larasati: RESUMED
Dia membaca layar itu dari sebelahku. Aku mendengar dia tertawa. Tawa yang lepas, rendah, dari dadanya.
Dia meletakkan laptop di bangku, di sebelah kotak makan. Lalu dia menoleh padaku dan mengangkat tangannya ke wajahku. Ibu jarinya mengusap air mata di bawah mata kiriku, seperti di ruang tamu apartemennya, berbulan-bulan lalu. Kali ini tidak ada yang membuka pintu.
“Aku nggak mau pelan-pelan lagi, Bel,” katanya. “Tiga tahun udah cukup pelan.”
Dia menunduk.
Aku memejamkan mata.
Bibirnya menyentuh keningku. Hangat. Lama. Tangannya di sisi wajahku, ibu jarinya di tulang pipiku, dan aku merasakan napasnya di rambutku, dan aku merasakan dia gemetar sedikit, laki-laki yang tidak pernah gemetar di depan server yang terbakar.
Dia menarik diri. Pelan. Dahinya masih menempel di dahiku.
Aku membuka mata. “Kenapa cuma kening?”
Dia tidak menjauh. Aku merasakan dia tersenyum, sejengkal dari bibirku.
“Karena kalau bukan kening,” katanya, “aku nggak akan balik kerja hari ini.”
BRAKK.
Pintu besi rooftop terbuka lebar, menghantam dinding.
Dua belas orang terjatuh ke depan, bertumpuk, seperti domino. Mbak Tika di paling atas, masih memegang ponsel yang merekam. Yoga di bawahnya, dengan kopi yang tumpah ke kemejanya. Cece dengan laptop terbuka dan wajah paling tenang di antara semuanya. Pak Darmawan, dengan kacamata miring. Andre, yang tertindih paling bawah, mengangkat satu tangan dari tumpukan manusia.
“Maaf,” kata Andre dari bawah. “Pintunya ternyata nggak ketutup rapat.”
Hening.
Lalu Pak Darmawan, masih tergeletak di atas Yoga, melepas kacamatanya yang miring dan mulai menangis. “Saya belum selesai,” katanya tersedu. “Saya belum selesai nonton.”
Mbak Tika bangkit, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, dan berteriak ke arah langit Jakarta dengan nada lagu dangdut.
“ALHAMDULILLAAAAH!”
Rooftop meledak. Sorakan, tepuk tangan, siulan. Yoga bangun dan memeluk Adit. Cece mengetik dengan kecepatan cahaya. Dua detik kemudian, ponselku dan ponselnya bergetar bersamaan di atas bangku.
Cuaca Lantai 21 (dan Lantai 30): CERAH. PELANGI GANDA. Tiket #001: RESOLVED. Tiket #031: RESUMED. Status stylus: tidak relevan lagi. Laporan ditutup. Terima kasih atas partisipasinya.
Aku menatapnya. Dia menatapku. Telinganya merah dari ujung sampai pangkal.
Aku tertawa. Lalu, di depan dua belas saksi, di bawah langit Jakarta yang terik, aku berjinjit dan mencium pipinya. Cepat. Satu detik. Seperti orang yang menandatangani dokumen sebelum sempat berubah pikiran.
Rooftop meledak untuk kedua kalinya. Pak Darmawan menangis lebih keras. Andre bersiul dari lantai.
Dia berdiri membeku, dengan satu tangan terangkat setengah ke arah pipinya, seperti tangan di pelukan Pak Darmawan di malam Twin Day, tidak tahu harus diletakkan di mana.
Di pipinya, ada bekas merah cabai. Jelas sekali. Berbentuk bibirku.
Dia tidak menghapusnya.
Dia turun ke lantai 21 dengan bekas itu, duduk di mejanya, dan bekerja sampai jam enam sore dengan bekas itu. Dia memimpin rapat dengan tim Sinergi pukul tiga dengan bekas itu. Tidak ada yang berani menyebutnya.
Dia tidak menghapusnya sama sekali.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved reading
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama