← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Eighteen

Tolong Jauhi Adikku

POV: Bella

Kamis pagi, aku memakai lipstik yang lebih merah.

Aku sudah bilang begitu di pesan. Dan aku tidak pernah meninggalkan sesuatu di tengah jalan, termasuk ancaman kecil soal lipstik.

Warnanya merah cabai. Warna yang kubeli dua tahun lalu untuk pesta tahun baru dan tidak pernah berani kupakai lagi karena Mama bilang aku terlihat seperti mau menagih utang. Aku memakainya dengan hati-hati di depan cermin kamar mandi kantor, lalu berjalan ke mejaku lewat jalan paling panjang, yang kebetulan melewati pojok Zogo.

Dia sedang mengetik. Dia mengangkat kepala saat aku lewat. Matanya berhenti di wajahku selama satu detik.

Lalu dia menunduk ke keyboard dengan kecepatan orang yang baru mendengar alarm kebakaran.

Dari meja product, Cece berkata pelan tanpa mengalihkan mata dari layarnya, “Stylus nggak jatuh, Bu. Tapi dia salah ketik ‘database’ jadi ‘datbase’. Tiga kali.”

Aku tersenyum sepanjang pagi. Aku tidak tahu itu akan jadi senyum terakhirku hari itu.


Pukul 11.20, Mas Raka mampir ke mejaku. Dia jarang turun ke lantai 21. Kalau ada perlu, dia menelepon.

“Bel. Nanti pulang bareng Mas, ya. Mobil kamu tinggal aja di sini, besok Pak Tarno yang ambil.”

“Kenapa?”

“Ada yang mau Mas omongin. Tunggu Mas di B2, jam enam lewat seperempat.”

Dia pergi sebelum aku bisa bertanya lagi. Aku menatap punggungnya sampai hilang di lift, lalu menoleh ke pojok Zogo.

Erga sedang menatapku. Dia tidak menunduk kali ini. Wajahnya tenang, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang dia coba sembunyikan dan tidak sepenuhnya berhasil.

Seperti orang yang tahu akan ada badai, dan sudah memutuskan untuk berdiri di luar tanpa payung.


B2 Nayara Tower adalah parkiran bawah tanah dengan lampu neon putih yang berdengung dan bau oli yang menempel di udara. Di satu sisinya ada lobi lift kecil berdinding kaca, yang terhubung langsung ke terowongan menuju stasiun MRT. Karyawan yang tidak membawa mobil biasanya pulang lewat sini.

Pukul 18.14, aku keluar dari lift dan melihatnya.

Erga berdiri di dekat pilar besar bernomor B2-14, dengan tas laptop di bahu. Tidak bersandar. Tidak memegang ponsel. Hanya berdiri, dengan kedua tangan di sisi tubuh, seperti orang yang menunggu kereta yang dia tahu tidak akan membawa kabar baik.

Aku berhenti.

“Erga?”

Dia menoleh. Tidak terkejut. “Bella.”

“Kamu ngapain di sini?”

Sebelum dia bisa menjawab, pintu lift di belakangku terbuka lagi. Mas Raka keluar, dengan jas yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan, dasi sudah dilonggarkan. Dia melihatku, lalu melihat Erga, dan wajahnya berubah. Bukan terkejut. Puas. Seolah semua orang sudah berada di tempat yang dia rencanakan.

Aku mengerti saat itu juga. Mas Raka tidak memintaku pulang bareng karena ingin bicara denganku.

Dia memintaku ada di sini supaya aku mendengar.


“Pak Erga,” kata Mas Raka, berhenti tiga langkah di depannya. Suaranya tidak keras. Mas Raka tidak pernah bersuara keras. Itu yang membuatnya lebih menakutkan. “Terima kasih sudah datang.”

“Mas.”

“Saya tidak akan lama.” Mas Raka menarik napas. “Sheila sudah cerita semuanya.”

Aku merasakan perutku jatuh.

“Kalian pacaran delapan tahun. Kalian hampir menikah. Dia yang membatalkan, seminggu sebelum akad.” Mas Raka menatap Erga lurus. “Dan dia cerita kenapa.”

Erga tidak bergerak.

“Kamu kasar sama dia.” Suara Mas Raka bergetar sedikit di kata itu. “Bukan mukul. Dia bilang kamu nggak pernah mukul. Tapi kamu ngatur semuanya. Semua keputusan. Semua jadwal. Semua vendor. Dia nggak pernah boleh milih apa-apa. Kamu nggak pernah dengerin dia. Kamu dingin. Dia bilang tinggal sama kamu rasanya kayak tinggal di dalam spreadsheet.” Dia berhenti. “Dia bilang dia takut sama kamu. Makanya dia kabur. Seminggu sebelum akad, karena itu satu-satunya waktu dia berani.”

Spreadsheet tujuh tab.

Aku ingat suara Nala di kafe. Kalau Kak Sheila capek, Abang yang kerjain. Kalau Kak Sheila bilang nggak sanggup, Abang yang sanggupin.

Semua yang Erga lakukan untuknya, dia ambil, dia balik, dan dia berikan kepada kakakku dalam bentuk pisau.

“Dan sekarang,” lanjut Mas Raka, “kamu muncul di kantor saya. Lima bulan sebelum saya menikah. Kamu narik dia ke pantry. Kamu nutup pintunya.”

“Mas,” kataku. “Mas, itu—”

Mas Raka mengangkat tangannya tanpa menoleh padaku. “Bel. Mas belum selesai.”

Dia melangkah maju satu langkah. Sekarang jarak mereka tinggal dua langkah.

“Jauhi dia,” katanya. “Jangan bicara sama dia. Jangan lihat dia. Kalau dia ke kantor, kamu ke tempat lain.” Suaranya pecah sedikit, lalu mengeras lagi. “Dan jauhi adikku.”


Erga diam.

Aku menunggunya bicara. Aku menunggunya bilang itu bohong. Aku menunggunya menjelaskan pantry, pintu yang ditutup, siapa yang menutupnya. Aku menunggunya bilang dia yang pergi, dia yang menelepon hari Selasa, aku yang menelepon dua puluh tiga vendor sendirian.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia berdiri di sana, di bawah lampu neon B2 yang berdengung, dan menerima semua itu. Wajahnya tidak berubah. Tidak marah. Tidak terluka. Tidak apa-apa. Wajahnya seperti permukaan danau di pagi hari, rata sempurna, dan aku tahu, aku tahu, bahwa di bawah permukaan itu ada sesuatu yang tenggelam.

Aku tidak bisa.

“Mas, itu bohong!” Suaraku keluar lebih keras dari yang kurencanakan, memantul di dinding beton. “Mas nggak tahu apa yang terjadi. Mas cuma dengar dari satu orang. Dia yang—”

“Bel.”

Satu suku kata. Pelan. Datang dari arah pilar B2-14.

“Jangan.”

Aku berhenti.

Aku menoleh padanya. Dia menatapku. Hanya aku. Dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat, sesuatu yang bukan permintaan dan bukan perintah. Sesuatu yang lebih mirip permohonan.

Aku minta kamu janji.

Aku janji… nyoba.

Aku menutup mulutku. Rasanya seperti menelan pecahan kaca.

Mas Raka melihat itu. Dia melihat Erga memanggilku Bel. Dia melihat aku berhenti. Dan aku melihat sesuatu mengeras di wajah kakakku, sesuatu yang tidak pernah ada di sana sebelumnya.

“Lihat,” kata Mas Raka pelan. Bukan kepada Erga. Kepadaku. “Lihat, Bel. Dia udah ngatur kamu juga.”

Kalimat itu menampar lebih keras daripada tangan mana pun.


Aku mendengar suara sapu.

Di ujung deretan mobil, seorang satpam parkir berseragam biru sedang menyapu lantai beton. Area yang sama. Maju, mundur. Maju, mundur. Sapunya tidak menyentuh apa pun karena lantai itu sudah bersih. Dia terus menyapu sambil sesekali melirik ke arah kami, pelan-pelan mendekat, satu petak demi satu petak, seperti orang yang siap melempar sapu kalau diperlukan.

Mas Raka tidak menyadarinya. Dia masih menatap Erga.

“Saya nggak akan mendekati Mbak Sheila, Mas,” kata Erga akhirnya. Suaranya datar, tenang, seperti membaca laporan. “Itu saya janji.”

“Dan adik saya?”

Hening.

Aku berhenti bernapas.

Erga menatap Mas Raka. Lalu, sangat pelan, dia menoleh padaku. Hanya sesaat. Lalu kembali ke Mas Raka.

“Itu keputusan Bella, Mas,” katanya. “Bukan keputusan saya. Bukan keputusan Mas.”

Mas Raka melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja Erga.

Tidak keras. Mas Raka tidak pernah berkelahi seumur hidupnya. Tangannya gemetar, dan cengkeramannya lebih mirip orang yang berpegangan daripada orang yang menyerang. Tapi dia menariknya, dan kerah putih yang biasanya selalu rapi itu tertarik miring ke satu sisi.

Erga tidak melawan. Tidak mengangkat tangan. Tidak mundur. Dia membiarkan kerahnya dicengkeram, menatap Mas Raka dengan wajah yang sama, dan menunggu.

Sapu satpam parkir berhenti. Satpam itu berdiri tegak, dua petak dari kami, memegang gagang sapu dengan dua tangan seperti tongkat.

“Pak,” katanya dengan suara keras yang dibuat-buat. “Maaf, Pak. Area ini mau saya pel.”

Tidak ada yang bergerak.

“Sekarang, Pak,” tambah satpam itu, mengayunkan sapunya sedikit, tidak sungguh-sungguh, tapi cukup untuk membuat Mas Raka sadar ada orang lain di sini.

Mas Raka melepaskan kerah itu. Dia mundur. Dia menatap tangannya sendiri seperti tidak mengenali tangan itu. Lalu dia berbalik, meraih pergelangan tanganku, dan menarikku ke arah mobilnya.

Aku menoleh ke belakang.

Erga masih berdiri di dekat pilar B2-14. Kerahnya miring. Satu sisi terangkat, satu sisi terlipat ke dalam. Kerah yang sama yang kurapikan di teras rumahku sebulan lalu, pelan-pelan, dengan jari menyentuh lehernya.

Dia tidak merapikannya. Dia hanya berdiri di sana, menatapku pergi.


Di dalam mobil, Mas Raka tidak menyalakan mesin selama satu menit penuh. Dia memegang setir dengan dua tangan, menatap dinding beton di depan mobil.

“Kamu kenal dia berapa lama, Bel?”

Aku tidak menjawab.

“Dua bulan? Tiga? Sheila kenal dia delapan tahun.” Suaranya pecah. “Delapan tahun, Bel. Dia yang tahu siapa laki-laki itu sebenarnya. Bukan kamu.”

“Mas—”

“Kamu nggak lihat polanya? Dia muncul di kantor. Lalu dia deketin kamu. Adik calon istri Mas.” Mas Raka menoleh padaku. Matanya merah. “Dia deketin kamu buat deket sama Sheila, Bel. Buat balas dendam. Buat bikin Sheila nggak nyaman di keluarga kita.”

Aku menatap kakakku. Laki-laki yang selalu menerima semua ucapan Papa dengan senyum seperti menerima hujan. Laki-laki yang tidak pernah punya versi senyum lain. Laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku dengan mata merah dan tangan gemetar, memercayai setiap kata yang dibisikkan ke telinganya, karena dia mencintai orang yang membisikkannya.

Aku bisa mengatakannya sekarang. Semuanya. Selasa malam. Dua puluh tiga vendor. Balkon. Aku tidak akan jatuh cinta lagi.

Mulutku terbuka.

Lalu aku melihat wajah Erga di kepalaku. Bel. Jangan.

Aku menutup mulutku lagi.

“Mas,” kataku pelan, dan suaraku gemetar lebih parah dari suaranya. “Suatu hari, Mas bakal minta maaf sama dia. Dan aku harap waktu itu dia masih mau dengerin.”

Mas Raka menatapku lama. Lalu dia menyalakan mesin.

Kami tidak bicara lagi sepanjang jalan.


Di rumah, pertengkaran itu pindah ke ruang keluarga. Mas Raka bicara dengan suara pelan yang menakutkan. Aku bicara dengan suara keras yang tidak bisa kukendalikan. Mama menangis di sofa, bertanya berulang-ulang ada apa, ada apa, dan tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang bisa menjawab tanpa menghancurkan sesuatu.

Papa berdiri di ambang pintu ruang kerjanya sepanjang pertengkaran itu. Dia tidak bicara. Dia hanya mendengarkan. Waktu suaraku akhirnya pecah dan aku tidak bisa melanjutkan kalimat, Papa mengucapkan satu kata.

“Cukup.”

Semua orang diam.

Papa menatap Mas Raka. Lalu menatapku. Lama. Terlalu lama. Seperti membaca laporan keuangan tiga ratus halaman dan menemukan angka yang salah, tapi belum tahu di halaman mana.

Lalu dia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu.


Pukul 21.30, aku memesan taksi online kembali ke kantor.

Aku bilang ke Mama aku harus mengambil laptop yang tertinggal. Itu bohong. Laptopku ada di tas. Aku hanya butuh berada di mobilku sendiri, di tempat yang bisa kukunci, di tempat di mana tidak ada orang yang akan bertanya ada apa.

B2 kosong. Lampu neon berdengung. Mobilku masih di tempatnya.

Aku masuk, mengunci pintu, dan tidak menyalakan mesin.

Jaket kanvasnya ada di jok belakang. Aku menariknya ke depan, memakainya, menarik kerahnya sampai menutupi setengah wajahku, dan menangis.

Bukan tangisan cantik. Tangisan yang jelek, keras, dengan napas tersedak dan ingus dan maskara yang pasti sudah luntur sampai ke dagu. Aku menangis untuk laki-laki yang berdiri di bawah lampu neon dan menerima semua itu tanpa sepatah kata pun. Aku menangis untuk kerahnya yang miring. Aku menangis untuk kakakku yang tangannya gemetar. Aku menangis karena aku sudah berjanji, dan janji itu terasa seperti tali yang mengikat mulutku sementara rumahku terbakar.

Ponselku bergetar di dasbor.

Jangan nyetir sambil nangis.

Aku menatap pesan itu. Mengusap mata. Menatapnya lagi.

Pesan kedua masuk.

Aku lihat mobil kamu masih di parkiran. Aku tunggu sampai kamu jalan.

Aku mengangkat wajah. Aku melihat ke sekeliling B2 yang kosong. Deretan mobil. Pilar-pilar beton. Lalu, di ujung, di balik dinding kaca lobi lift yang terhubung ke terowongan MRT, aku melihatnya.

Dia berdiri di sana. Dua puluh meter dariku. Tas laptop di bahu. Kerahnya masih miring.

Dia tidak mendekat. Dia hanya berdiri di balik kaca, menatap ke arah mobilku.

Aku mengetik dengan jari yang masih gemetar.

Kamu nggak mau ke sini?

Balasannya datang lambat. Aku melihatnya mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.

Kalau aku ke sana sekarang, Mas Raka benar.

Aku menatap kalimat itu, dan air mata yang tadi sudah hampir berhenti datang lagi, lebih deras.

Aku di sini aja, lanjutnya. Sampai kamu jalan.

Aku menyalakan mesin. Aku menyalakan lampu. Aku mengusap wajahku dengan lengan jaketnya yang terlalu panjang, lalu memundurkan mobil pelan-pelan dari tempat parkir.

Waktu mobilku melewati lobi lift berdinding kaca itu, aku menoleh.

Dia masih di sana. Dia mengangkat satu tangannya. Tidak melambai. Hanya mengangkatnya, telapak tangan terbuka, seperti orang yang menunjukkan bahwa tangannya kosong. Bahwa dia tidak memegang apa-apa. Bahwa dia tidak menahanku.

Lalu tangan itu turun, dan dia tidak terlihat lagi di kaca spion.

Aku menyetir pulang di bawah batas kecepatan, dengan lampu sein menyala setiap kali pindah lajur, bahkan di jalan yang kosong. Seperti orang yang mengikuti ujian SIM. Seperti seseorang yang kukenal.

Di lampu merah pertama, aku menyadari bahwa aku tidak lagi menangis untuk diriku sendiri. Aku menangis karena akhirnya aku mengerti apa yang dia lakukan tiga tahun lalu. Dia berdiri di tempat yang sama. Menerima semua yang dijatuhkan kepadanya. Tanpa sepatah kata pun.

Dan tidak ada yang datang menunggunya sampai dia jalan.