← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter One

Server yang Katanya Down

POV: Erga

Pesan Andre masuk pukul 18.47, tepat saat aku menutup laptop.

Ga. DARURAT. Server down di venue. Cuma lo yang bisa. Ballroom Arunika lt. 3. SEKARANG.

Aku membacanya dua kali. Andre Wiratama hanya memakai huruf kapital untuk dua hal: nama klub bola dan tanggal gajian. Kalau sekarang dia memakainya untuk server, berarti ada yang benar-benar terbakar. Atau ada yang benar-benar sedang dia sembunyikan.

Venue apa? Server siapa?

Nanti gue jelasin. Bawa laptop. Nyawa gue taruhannya.

Sudah tiga tahun aku tidak datang ke acara apa pun yang memakai kata “ballroom”. Bukan sumpah. Hanya kebiasaan yang lama-lama terasa seperti aturan. Tapi “server down” adalah bahasa yang aku mengerti, dan Andre, seberisik apa pun dia, belum pernah berbohong soal pekerjaan.

Aku memasukkan laptop ke tas, mematikan lampu meja, lalu menghitung, tanpa sadar seperti biasa: sembilan belas menit dari kantor Zogo ke Arunika kalau Sudirman tidak macet.

Sudirman macet. Tiga puluh empat menit.


Ballroom lantai tiga Hotel Arunika sama sekali tidak terlihat seperti tempat yang servernya sedang mati.

Lampu kristal. Karpet merah marun. Dinding LED raksasa di ujung ruangan menampilkan logo lingkaran jingga dengan tanda tambah di tengahnya, Nayara+, berputar pelan seperti jantung yang terlalu percaya diri. Dua ribu kursi, mungkin lebih, hampir semuanya terisi orang berbatik mahal dan bergaun satin. Di sisi panggung berdiri tiga kamera siaran langsung. Di pojok layar LED, angka penonton livestream terus naik: 18.204. 18.391. 18.560.

Andre menemukanku di pintu masuk. Dia memakai batik lengan panjang yang jelas baru dibeli tadi siang, karena lipatannya masih tajam, dan dia tersenyum dengan cara orang yang tahu dirinya sebentar lagi akan dipukul.

“Server-nya mana, Ndre?”

“Nah. Itu.” Dia menepuk bahuku. “Server-nya… belum down. Tapi bisa aja, kan. Kita nggak tahu masa depan.”

Aku menatapnya.

“Oke, oke.” Dia mengangkat kedua tangan. “Ini launching Nayara+. Klien baru kita. Lo mulai kerja di sana Senin. Bu Liana nyuruh minimal satu orang Zogo dateng buat ‘membangun hubungan’, dan lo tahu gue nggak bisa membangun hubungan sama orang yang pakai jas. Gue butuh lo. Lo tinggal berdiri, senyum dikit, ngangguk kalau ada yang ngomongin cloud. Satu jam.”

“Kamu bilang server down.”

“Gue bilang bisa down. Secara filosofis.”

“Kamu nulis ‘darurat’.”

“Buat gue ini darurat, Ga. Lo lihat meja itu?” Dia menunjuk meja bundar dekat panggung, penuh laki-laki paruh baya berjas gelap. “Itu direksi. Gue disuruh duduk di sebelah mereka. Sendirian.”

Aku melihat jam. 19.26. Kalau keluar sekarang, aku bisa sampai rumah sebelum jam delapan, makan, membaca dokumen arsitektur Nayara yang dikirim minggu lalu, dan tidur sebelum jam sebelas.

“Satu jam,” kata Andre, memelas. “Gue traktir kopi seminggu.”

“Setengah jam.”

“Empat puluh lima menit, dan gue yang bayar parkir.”

Aku tidak menjawab. Andre, yang sudah enam tahun mengenalku, tahu itu artinya iya.


Aku memilih berdiri di dekat pilar belakang, dekat pintu darurat. Kebiasaan lain yang tidak pernah kuputuskan secara sadar: di ruangan mana pun, aku selalu tahu di mana jalan keluarnya. Ballroom ini punya empat. Dua di belakang, satu di sisi kiri dekat dapur, satu lagi di balik panggung.

Acara dibuka dengan sambutan. Seorang laki-laki tua berambut perak, pendiri Nayara Group, Pak Bram Harsono, menurut tulisan di layar, bicara pendek dan tegas seperti orang yang tidak pernah diinterupsi seumur hidupnya. Lalu MC, laki-laki muda bersuara penyiar radio, mengumumkan bagian yang ditunggu-tunggu: demo langsung Nayara+.

“Hadirin sekalian, di layar sudah ada QR code. Silakan pindai sekarang! Anda yang di ballroom, juga Anda yang menonton dari rumah! Seribu orang pertama yang menukar poin malam ini mendapat voucher lima ratus ribu rupiah!”

Dua ribu orang di ruangan mengangkat ponsel serentak. Di pojok layar, angka penonton livestream sudah menyentuh 41.000.

Aku berhenti bernapas sebentar. Bukan karena kagum.

Empat puluh satu ribu orang. Satu QR code. Detik yang sama.

Layar LED menampilkan aplikasi dari ponsel si MC. Logo Nayara+ berputar. Lalu berputar. Lalu terus berputar.

Lalu layarnya berubah putih, dengan tulisan kecil abu-abu yang aku kenal lebih baik daripada wajahku sendiri:

Terjadi kesalahan. Silakan coba beberapa saat lagi.

Ruangan belum sadar. Beberapa orang tertawa, mengira ini bagian dari pertunjukan. MC ikut tertawa, lebih keras dari yang perlu. “Wah, sepertinya semua orang sudah tidak sabar, ya! Kita coba sekali lagi!”

Dia mencoba sekali lagi. Putih lagi.

Di meja direksi, seorang laki-laki berkacamata tebal mencengkeram taplak. Wajahnya pelan-pelan berubah warna seperti lampu kulkas yang mati. Di sebelahnya, dua orang berlanyard vendor saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk, dan dari gerakan tangan mereka saja aku tahu yang sedang mereka cari adalah siapa yang salah, bukan apa yang salah.

“Ga,” bisik Andre, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahku. “Ga. Ga. Itu… beneran down.”

“Iya.”

“Gue… barusan nubuat?”

Aku tidak menjawab. Mataku sudah pada angka di pojok layar. Empat puluh dua ribu. Empat puluh tiga. Siaran terus berjalan, kamera terus menyorot panggung yang tiba-tiba kehilangan makna, dan setiap detik ada ribuan orang lagi yang memindai kode yang sama, mengetuk tombol yang sama, menambah beban ke pintu yang sama yang sudah macet.

Aku tahu persis apa yang sedang terjadi di balik layar itu, seperti orang yang mendengar batuk tertentu dan langsung tahu penyakitnya.

Ini bukan urusanku. Kontrakku baru mulai Senin. Aku bahkan belum punya akses.

Tapi ada sistem yang sedang sekarat di depanku, dan aku tidak pernah bisa berdiri diam melihat sistem sekarat.

“Pegang ini,” kataku, menyerahkan gelas air mineral ke Andre.

“Lo mau ke mana?”

“Pintu keempat.”


Di balik panggung udaranya berbeda. Lebih panas, lebih bising, lebih banyak kabel. Di meja kontrol, seorang teknisi muda berkaus hitam menatap laptopnya seperti menatap bom. Di sebelahnya berdiri seorang perempuan bergaun gelap, satu tangan memegang tablet, tangan lain menekan earpiece, suaranya cepat dan jernih.

“Berapa lama? Aku cuma butuh angka, Dit. Berapa lama?”

“Nggak tahu, Bu. Server-nya nggak respon. Tim vendor lagi cek. Katanya mungkin jaringan hotel—”

“Bukan jaringan hotel,” kataku.

Mereka berdua menoleh.

Aku tidak benar-benar melihat wajah perempuan itu. Maksudku, tentu aku melihatnya, tapi mataku langsung jatuh ke layar laptop si teknisi, ke dashboard monitoring yang dipenuhi garis merah. Aku selalu begitu. Dalam keadaan seperti ini, aku hanya bisa melihat satu hal dalam satu waktu.

“Anda siapa?” tanya perempuan itu. Tidak galak. Hanya cepat.

“Orang yang Senin mulai kerja untuk sistem ini.” Aku menunjuk laptop. “Boleh saya lihat? Dua menit. Kalau saya salah, saya pergi.”

Hening sepersekian detik. Di luar, MC mulai bercerita tentang sejarah Nayara Group, jelas sedang mengulur waktu. Suaranya bergetar sedikit di ujung kalimat.

“Dit,” kata perempuan itu. “Kasih.”

Teknisi itu, Adit menurut ID card-nya, menggeser laptop dengan tangan gemetar. Aku berlutut di depan meja supaya sejajar dengan layar.

“Oke,” kataku. “Satu-satu.”

Aku merasakan, lebih daripada mendengar, ruangan kecil itu ikut memelan. Napas Adit yang tadi tersengal-sengal mulai teratur. Bahkan perempuan itu berhenti mengetuk tabletnya.

“Pertama. Database utamanya di mana?”

“Di… cloud. Region Jakarta.”

“Connection pool-nya disetel berapa?”

Adit mengerjap. “Dua… dua ratus, kayaknya.”

“Buka konfigurasinya.” Dia membukanya. Dua ratus. Untuk empat puluh ribu orang yang mengetuk pintu di detik yang sama. “Terakhir. Cache-nya nyala?”

“Ada, Pak. Tapi nggak dipakai buat halaman tukar poin. Katanya biar datanya selalu real-time.”

Tiga pertanyaan. Cukup.

“Masalahnya bukan server mati,” kataku sambil mulai mengetik. “Server-nya hidup. Tapi setiap orang yang scan QR itu minta satu sambungan ke database, dan database cuma menyediakan dua ratus kursi. Sisanya antre, lalu menyerah, lalu mencoba lagi, dan antreannya makin panjang. Kayak dua ribu tamu yang masuk lewat satu pintu putar.”

“Jadi?” tanya perempuan itu.

“Jadi kita tambah kursinya. Dan sebagian besar tamu kita suruh nunggu di lobi yang lebih besar.”

Aku menaikkan batas sambungan sejauh yang masih aman untuk ukuran mesin mereka. Lalu aku mengalihkan semua permintaan yang hanya membaca data, seperti halaman katalog, daftar voucher, dan saldo poin, ke cache, supaya database utama hanya melayani transaksi yang benar-benar perlu. Terakhir, aku menyalakan halaman antrean sederhana yang sebenarnya sudah ada di sistem mereka tapi tidak pernah diaktifkan: Anda nomor 3.412. Mohon tunggu sebentar. Orang jauh lebih sabar menunggu kalau diberi tahu nomor antreannya.

“Restart layanan penukaran poin,” kataku ke Adit. “Yang ini. Bukan yang itu.”

Dia menekan. Kami bertiga menatap grafik.

Garis merah itu turun. Pelan, lalu sekaligus, seperti demam yang pecah. Garis hijau merangkak naik.

Dari earpiece perempuan itu terdengar suara kecil yang berteriak. Dia menekannya. “Masuk? Beneran masuk? Oke. Oke. Kasih tahu MC. Sekarang.”

Di balik tirai, ruangan meledak. Tepuk tangan dua ribu orang terdengar seperti hujan deras di atap seng. Di monitor kecil, demo Nayara+ berjalan mulus: poin tertukar, voucher muncul, konfeti digital beterbangan. MC tertawa lagi, kali ini lega sampai hampir menangis.

Aku melihat jam di pojok laptop. Empat menit sejak aku berlutut.

“Jangan diubah apa-apa lagi sampai acaranya selesai,” kataku ke Adit sambil berdiri dan menepuk lutut celana. “Senin kita perbaiki dengan benar.”

Adit menatapku seperti anak kecil menatap pemadam kebakaran. Perempuan itu membuka mulut—

“Bu! Bu, dipanggil ke panggung! Sesi berikutnya, sekarang!”

Seorang kru menarik lengannya. Dia menoleh sekali ke arahku, lalu hilang ke balik tirai. Aku keluar lewat jalan yang sama seperti saat masuk, sebelum ada yang sempat bertanya namaku. Itu juga kebiasaan. Aku suka memperbaiki sesuatu. Aku tidak suka dilihat.


Andre menyambutku di pilar dengan dua gelas di tangan.

“Lo. Gila.” Dia menyodorkan satu gelas. “Lo tahu nggak, meja direksi barusan kayak lagi nonton gol menit sembilan puluh. Bapak yang kacamatanya tebel itu, CTO-nya, Pak Darmawan, tadi hampir pingsan. Sekarang dia nanya ke semua pelayan, ‘Siapa tadi yang ke belakang? Siapa tadi?’”

“Kamu nggak bilang, kan?”

“Belum. Gue lagi nunggu harga yang pas.”

Di panggung, perempuan bergaun gelap itu sedang mempresentasikan fitur-fitur Nayara+. Dari jarak ini aku tidak melihat wajahnya dengan jelas, dan aku juga tidak berusaha. Tapi aku melihat efeknya. Ruangan yang tadi gelisah sekarang diam. Laki-laki di meja depan kami menurunkan ponselnya. Seorang pelayan yang membawa nampan berhenti di tengah lorong. Andre, di sebelahku, lupa menutup mulut.

“Ndre.”

“Hm.”

“Mulut.”

Dia menutupnya. Lalu membukanya lagi. “Itu siapa, sih?”

“Product lead-nya, kayaknya.”

“Kok lo tahu?”

“Dia yang tadi pegang tablet di belakang.”

“Dan lo nggak nanya namanya?”

“Nggak perlu.”

Andre menatapku dengan wajah orang yang sudah terlalu sering melihat hal yang sama dan tetap tidak terbiasa. Dia tidak bilang apa-apa. Enam tahun berteman, dia tahu kapan harus diam.

Presentasi selesai. Lampu meredup. Pak Bram naik lagi ke panggung, kali ini diikuti laki-laki muda berjas abu-abu yang wajahnya seperti versi tiga puluh tahun lebih muda dari dirinya.

“Sebelum kita menutup malam ini,” kata Pak Bram, “izinkan saya menyampaikan satu kabar bahagia keluarga kami. Putra saya, Raka—”

Tepuk tangan.

“—malam ini ingin memperkenalkan seseorang.”

Laki-laki berjas abu-abu itu tersenyum dan mengulurkan tangan ke sisi panggung. Seorang perempuan berjalan ke arahnya. Gaun putih gading. Rambut disanggul rendah. Cara berjalannya sedikit terlalu hati-hati di tumit kanan, karena tumit itu pernah terkilir waktu naik gunung di semester lima. Aku mengenalinya sebelum sempat melihat wajahnya.

“Tunangan saya,” kata Raka Harsono ke mikrofon. “Sheila Maharani. Insyaallah kami menikah lima bulan lagi.”

Ruangan bertepuk tangan.

Aku tidak.

Aku tidak melakukan apa-apa. Itu yang aneh. Tidak ada yang pecah. Tidak ada yang jatuh. Aku hanya berdiri, dan tiba-tiba aku menghitung lagi. Empat pintu keluar. Dua di belakang. Satu dekat dapur. Satu di balik panggung. Enam puluh dua langkah ke yang terdekat. Tiga tahun. Seminggu. Satu telepon hari Selasa, jam sembilan malam.

Andre berhenti bertepuk tangan di tengah-tengah. Aku merasakan dia menoleh padaku, lalu ke panggung, lalu padaku lagi.

“Ga,” katanya pelan. “Ga, itu…”

Di panggung, Sheila tersenyum ke arah kamera. Senyum yang sama. Dulu aku hafal semua versi senyumnya. Yang ini versi yang dia pakai untuk difoto.

Aku harus keluar. Aku tahu itu sejelas aku tahu database tadi butuh lebih banyak kursi. Tapi kakiku tidak menerima perintah.

Lalu sesuatu yang dingin menghantam dadaku.

“Aduh! Aduh, maaf, maaf banget!”

Cairan merah menembus kemeja putihku, dingin sampai ke kulit. Jus stroberi, dari baunya. Sebuah gelas kosong di tangan seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di depanku. Terlalu dekat.

“Ya ampun, kemeja kamu. Ayo, ayo, aku antar ke toilet. Sini.”

Sebuah tangan menggenggam lenganku, tidak kuat tapi yakin, lalu menarik. Dan kakiku, yang tadi menolak semua perintahku, menurut pada tangan orang asing.


Lorong di luar ballroom sepi dan dingin. Pintu menutup di belakang kami, dan tepuk tangan tinggal gumaman di kejauhan.

Perempuan itu melepaskan lenganku, merogoh tas kecilnya, mengeluarkan segenggam tisu, lalu mulai menekan-nekan noda di dadaku.

Aku baru sadar. Ini dia. Perempuan dari balik panggung. Gaun gelap yang sama. Suara jernih yang sama.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Saya bisa sendiri.”

“Diam,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Aku lagi tanggung jawab.”

Dia terus menekan. Tisunya berubah merah muda. Kemejaku tidak berubah apa-apa. Tangannya bergerak dari tengah dada ke kiri, ke atas, pelan, lalu lebih ke atas lagi, mendekati kerah.

“Nodanya di dada,” kataku. “Bukan di leher.”

Tangannya berhenti.

“Oh,” katanya. Lalu dia mengangkat wajah. “Aku tahu.”

Aku tidak akan mendeskripsikan wajahnya. Bahkan di kepalaku sendiri, aku tidak mau. Aku hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam lima menit terakhir, aku berhenti menghitung.

Dia melempar tisu basah itu ke tempat sampah dengan lemparan yang terlalu akurat untuk orang yang barusan “tidak sengaja” menumpahkan minuman.

“Kamu,” kataku pelan, “sengaja.”

Dia tidak menyangkal. Dia melipat sisa tisu di tangannya jadi segi empat kecil, lalu menyelipkannya ke saku kemejaku yang basah. Jarinya menyentuh dadaku sekali, sebentar, tepat di atas jantung, seolah yang dia taruh di sana bukan tisu.

“Tadi kamu kelihatan,” katanya, “kayak orang yang butuh alasan buat keluar.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada yang pernah melihatku seperti itu, bahkan di malam paling buruk tiga tahun lalu. Orang selalu melihat aku tenang. Orang selalu mengira aku tenang.

“Makasih,” kataku akhirnya. “Untuk yang tadi.”

“Aku yang harusnya makasih. Kamu yang nyelametin launching aku.” Dia memiringkan kepala. “Jadi impas, ya? Kamu nyelametin aplikasiku, aku nyelametin kamu dari—”

Dia berhenti, karena dia tidak tahu dari apa. Dan aku tidak memberitahunya.

“Mbak! Mbak, dicari Pak Darmawan! Sekarang, katanya penting!”

Seorang kru muncul di ujung lorong, melambai panik. Perempuan itu menoleh, menghela napas, lalu menatapku sekali lagi.

“Kemeja kamu,” katanya sambil mundur selangkah, “nanti aku ganti.”

“Nggak perlu.”

“Aku nggak nanya perlu atau nggak.”

Lalu dia pergi. Gaun gelap, langkah cepat, satu tangan sudah kembali menekan earpiece. Dia tidak menyebut namanya, dan aku tidak bertanya.

Aku berdiri sendirian di lorong itu sampai Andre keluar dari ballroom, menemukanku, lalu berhenti tiga langkah di depanku dengan wajah orang yang baru sadar dia telah menyeret sahabatnya ke pesta pertunangan mantan calon istrinya.

“Ga,” katanya. Suaranya hampir habis. “Gue nggak tahu. Sumpah demi apa pun, gue nggak tahu.”

“Aku tahu kamu nggak tahu.”

“Lo… mau gue anterin pulang?”

Aku menunduk menatap kemejaku. Noda merah itu sudah mulai mengering di tepinya, membentuk peta pulau yang tidak ada di atlas mana pun. Di saku, tisu yang dilipat segi empat kecil itu masih lembap.

“Pulang, Ndre,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tahu persis pintu mana yang harus kupakai.