← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Thirty Seven

Lima Menit?

POV: Bella

Rabu malam, pukul 23.02, ponselku bergetar di atas bantal.

Aku sedang setengah tertidur, dengan jaket kanvasnya menutupi separuh tubuhku dan lampu tidur berbentuk bulan menyala di sudut kamar. Aku meraih ponsel tanpa membuka mata sepenuhnya, dengan asumsi itu pesan udah makan? yang terlambat dua jam dari jadwal alarmnya.

Bukan.

Dua kata. Dari nomor yang kusimpan sekarang sebagai Ga, tanpa keterangan tambahan, dengan emoji telur kecil di belakangnya karena Nala yang mengganti namanya waktu meminjam ponselku.

Lima menit?

Aku membuka mata sepenuhnya.

Aku menatap dua kata itu. Aku membacanya sekali, lalu sekali lagi, lalu sekali lagi, seperti membaca tiket yang statusnya tidak masuk akal.

Selama tujuh bulan, akulah yang mengirim dua kata itu. Di rooftop, setelah Sheila bilang aku cuma main aplikasi. Setelah rapat keluarga. Di tangga darurat karaoke. Di dapur rumahku, malam semuanya runtuh. Selalu aku. Lima menit adalah bahasaku. Kode yang artinya temani aku, jangan tanya kenapa.

Dia tidak pernah memakainya. Tidak sekali pun.

Aku sudah berdiri sebelum sempat membalas. Aku mengambil kunci mobil dari meja. Aku memakai jaket itu dengan benar, bukan sebagai selimut. Aku menuruni tangga dengan kaki telanjang, lalu kembali naik karena lupa sandal.

Di dapur, Mama sedang mengambil air putih. Dia melihatku, dengan jaket laki-laki dan kunci mobil dan wajah panik, jam sebelas malam.

“Mau ke mana?”

“Lima menit, Ma.”

Mama menatapku lama. Lalu dia mengangguk pelan, seperti orang yang mengerti sesuatu yang tidak dijelaskan.

“Hati-hati,” katanya. “Jalannya licin.”

Aku berhenti di pintu. “Ma. Nggak hujan.”

“Mama tahu.” Dia meminum airnya. “Mama cuma suka kalimatnya. Nak Erga yang ngajarin.”


Sembilan belas menit. Aku menyetir di bawah batas kecepatan, dengan lampu sein menyala setiap kali pindah lajur, bahkan di jalan tol yang kosong. Aku tidak sadar kapan aku mulai menyetir seperti itu. Aku hanya tahu bahwa sejak malam dia mengambil kunci dari tanganku di basement, aku tidak pernah bisa menyetir dengan cara lain.

Di lobi apartemennya, Pak Dudung sedang berjaga malam. Dia melihatku masuk, melihat jam dinding, lalu membuka buku tamu dengan wajah pasrah.

“Mbak Bella.”

“Malam, Pak.”

Dia menulis sesuatu di buku tamu. Aku melihatnya dari balik meja resepsionis. Tulisannya besar-besar dan miring.

23.24. Mbak Bella. Tujuan: Mas Erga, lantai 9. Keperluan: tamu darurat (lagi).

Kata lagi digarisbawahi dua kali.


Dia membuka pintu sebelum aku sempat menekan bel.

Dia berdiri di ambang pintu dengan kaus abu-abu dan celana tidur, rambut berantakan, dan wajah yang tidak bisa kubaca. Bukan tenang. Bukan datar. Wajah yang seperti layar yang sedang memuat sesuatu, dengan ikon berputar yang tidak kunjung selesai.

Aku belum pernah melihat wajah itu.

“Hai,” kataku.

“Hai.”

Aku masuk. Apartemennya rapi seperti biasa. Laptop tertutup di meja makan. Satu gelas teh yang sudah dingin. Dan di atas meja, sesuatu yang tidak biasa: sebuah tas kertas kecil berwarna putih dengan tali pita, dari toko yang logonya tidak bisa kubaca karena dia langsung mengambilnya dan memasukkannya ke laci waktu melihat mataku mengarah ke sana.

Aku tidak bertanya.

Dia duduk di sofa. Aku duduk di sebelahnya. Dia tidak bicara. Aku juga tidak.

Lalu aku mendengarnya. Napasnya. Terlalu cepat. Pendek-pendek, tidak teratur, seperti orang yang baru berlari naik sembilan lantai. Tangannya di atas lututnya mengepal, lalu terbuka, lalu mengepal lagi.

Laki-laki yang tidak pernah panik. Laki-laki yang menyelamatkan Twin Day dalam tujuh belas menit dan Anniversary Sale dari warung kopi dengan dua bar sinyal.

Dia sedang panik.


“Ga,” kataku pelan.

Dia tidak menoleh. “Maaf. Aku nggak tahu kenapa aku kirim itu. Kamu pasti udah tidur. Aku harusnya—”

“Ga.”

Dia berhenti.

Aku memindahkan tubuhku sedikit, supaya aku duduk menghadapnya. Aku mengambil kedua tangannya yang mengepal, satu per satu, dan membukanya dengan jariku sendiri. Aku menggenggamnya.

Aku menarik napas. Empat hitungan.

“Oke,” kataku. “Satu-satu.”

Dia menatapku. Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Seperti orang yang mendengar suaranya sendiri diputar kembali dari tempat yang tidak dia duga.

“Pertama,” kataku, meniru nada suaranya di war room, datar dan pelan. “Apa yang berubah hari ini?”

Dia diam lama. Aku menunggu. Aku sudah belajar menunggu.

“Aku ke toko perhiasan,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Sore tadi. Sepulang kantor.”

Aku tidak bergerak. Aku tidak menoleh ke laci.

“Aku udah pilih. Aku udah bayar. Aku udah mau pulang.” Dia menatap tangan kami. “Terus mbak-mbak penjualnya bilang sesuatu. Sambil bungkusin. Dia bilang, kalau nanti batal, Mas, bisa di-refund delapan puluh persen, ya. Simpan struknya.”

Aku menutup mata sebentar.

“Dia nggak salah, Bel. Itu kebijakan toko. Dia bilang itu ke semua orang. Aku tahu.” Napasnya mulai cepat lagi. “Tapi aku pulang, dan aku simpan struknya di dompet, dan aku duduk di sini, dan aku nggak bisa berhenti mikirin kata itu. Kalau nanti batal.”

“Oke.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Kedua. Error-nya apa? Kamu takut apa, persisnya?”

Dia menatapku. Matanya merah. Aku belum pernah melihat matanya merah.

“Aku takut suatu hari kamu bangun,” katanya, sangat pelan, “hari Selasa. Dan kamu bilang kalimat itu.”

Aku tidak berpaling.

“Aku tahu itu nggak masuk akal. Aku tahu kamu bukan dia. Aku udah bilang ke Mas Raka, cinta nggak kadaluarsa, orangnya aja yang nyerah. Aku percaya itu. Aku percaya.” Suaranya retak. “Tapi ada bagian di kepalaku yang masih nyimpen tugas terjadwal itu, Bel. Kayak server abu-abu di lantai sembilan. Jangan dimatikan. Tiga tahun jalan diam-diam. Dan hari ini, satu kalimat dari mbak-mbak toko perhiasan bikin tugas itu jalan lagi.”

Aku mengangkat satu tanganku dari genggamannya dan meletakkannya di pipinya. Ibu jariku di bawah matanya yang merah. Seperti yang selalu dia lakukan padaku.

“Terakhir,” kataku. “Rollback plan-nya apa?”

Dia menatapku, bingung.

“Kamu selalu punya rollback plan,” kataku. “Setiap langkah di runbook. Kalau gagal, kembali ke versi sebelumnya dalam sembilan menit. Pelanggan nggak akan tahu apa-apa.” Aku tersenyum sedikit. “Rollback plan kamu buat aku apa?”

“Aku nggak punya,” bisiknya.

“Bagus.”

Dia mengerjap.

“Karena aku juga nggak mau ada rollback.” Aku menarik napas. “Aku nggak akan pakai kalimat itu, Ga. Nggak hari Selasa. Nggak hari apa pun. Kalimat itu bukan punyaku. Aku nggak mau pinjam.”

Aku merasakan dia gemetar di bawah telapak tanganku.

“Tapi aku juga nggak mau bohong. Aku nggak bisa janji aku nggak akan pernah takut. Aku manusia. Suatu hari mungkin aku bakal takut. Sama pernikahan. Sama masa depan. Sama sesuatu yang belum aku tahu sekarang.” Aku menatap matanya. “Jadi ini janjiku. Kalau suatu hari aku takut, aku bakal bilang ke kamu. Sebelum Selasa. Sebelum apa pun. Aku bakal bilang lima menit. Dan kita duduk. Kayak sekarang. Sampai takutnya selesai.”

Dia tidak bicara.

“Itu rollback plan-nya,” kataku. “Bukan kembali ke versi sebelumnya. Duduk di sini. Berdua. Sampai sistemnya stabil lagi.”

Napasnya, pelan-pelan, mulai teratur. Aku merasakannya di telapak tanganku. Satu. Dua. Tiga. Empat. Tahan. Keluarkan.

Dia menunduk, menempelkan dahinya di bahuku, dan diam di sana untuk waktu yang sangat lama.


Setelah itu, kami bicara tentang hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak penting, yang justru karena tidak penting jadi terasa aman.

Dia bercerita tentang Papa-nya, yang tiga tahun lalu menuangkan teh untuknya setiap malam tanpa bicara, dan yang sampai sekarang masih melakukannya setiap kali dia pulang ke rumah hari Jumat. Cangkirnya selalu terlalu penuh. Hampir tumpah. Dia bilang dulu dia pikir Papa-nya tidak bisa menakar. Baru tahun lalu dia sadar, itu cara Papa-nya bilang Papa di sini.

Aku bercerita tentang lampu tidur berbentuk bulan. Tentang Mama yang membelikanku yang baru setiap kali yang lama rusak, sejak aku umur lima tahun. Aku sudah punya sebelas lampu bulan seumur hidupku. Yang sekarang nomor dua belas.

“Kamu takut gelap sampai sekarang,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Nggak takut. Cuma nggak suka.”

“Di lift, kamu takut.”

“Di lift, ada kamu yang ngitung,” kataku. “Jadi aku nggak takut lagi.”

Dia diam lama. Lalu dia bilang, sangat pelan, bahwa kalau suatu hari kami tinggal di rumah yang sama, dia akan memasang lampu kecil di lorong, dari kamar ke dapur, supaya aku tidak perlu berjalan dalam gelap kalau haus tengah malam.

Dia mengatakannya seperti membaca spesifikasi teknis. Datar. Detail. Dengan jarak antarlampu yang sudah dia hitung di kepalanya.

Aku tidak bisa bicara selama beberapa menit.


Pukul satu pagi, dia tertidur.

Aku tidak tahu kapan tepatnya. Kami masih di sofa. Aku duduk bersandar di sandaran sofa. Dia berbaring, dengan kepala di pangkuanku, karena di satu titik dia bilang sebentar aja dan aku bilang iya, dan sebentar itu berubah jadi sesuatu yang lebih panjang.

Aku menatap wajahnya dalam cahaya lampu meja yang redup. Garis tipis di dahinya sudah hilang. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di atas pahaku. Satu tangannya menggenggam ujung jaket kanvas yang kupakai, seperti anak kecil yang menggenggam selimut.

Laki-laki paling kompeten di gedung Nayara. Laki-laki yang membuat CEO PayNusa bertanya siapa dia. Laki-laki yang menulis runbook enam puluh halaman dalam satu malam.

Tertidur di pangkuanku, menggenggam jaketnya sendiri.

Aku menyentuh rambutnya. Pelan. Menyisirnya dengan jari. Ini pertama kalinya aku menyentuh rambutnya. Lebih lembut dari yang kubayangkan.

Pukul 02.50, pintu kamar tamu terbuka.

Nala keluar dengan piyama bergambar alpukat dan mata setengah tertutup, menuju dapur. Dia menginap malam ini. Aku lupa. Dia berhenti di tengah ruang tamu, melihat kami di sofa, melihat kakaknya tidur di pangkuanku, melihat tanganku di rambut kakaknya.

Dia menatap kami selama tiga detik.

Lalu dia mengangkat kedua tangannya, perlahan, dan menutup matanya sendiri.

“Aku nggak lihat apa-apa,” bisiknya. Dia berjalan mundur, dengan mata masih tertutup, meraba-raba dinding, sampai pintu kamar tamu. “Aku cuma mimpi. Mimpi alpukat.”

Pintu kamar tamu tertutup pelan.

Aku menutup mulutku dengan tangan supaya tidak tertawa. Di pangkuanku, bahunya bergetar. Sangat sedikit.


Pukul 05.30, langit di balik jendela balkon mulai abu-abu. Kakiku sudah mati rasa sejak jam tiga, tapi aku tidak bergerak.

Dia bernapas pelan, teratur. Terlalu teratur.

Aku menunduk. Matanya masih tertutup. Tapi bulu matanya bergerak sedikit. Dan tangannya yang menggenggam ujung jaketku menggenggam sedikit lebih erat, seperti orang yang takut sesuatu akan pergi kalau dia membuka mata.

“Aku tahu kamu udah bangun,” kataku pelan.

Tidak ada jawaban. Bulu matanya bergerak lagi.

“Ga.”

Sudut bibir kirinya bergerak. Matanya tetap tertutup.

“Lima menit lagi,” gumamnya.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Laki-laki yang tidak pernah terlambat satu menit pun dalam hidupnya, yang memasang alarm tiga jam sekali untuk menanyakan aku sudah makan atau belum, sedang pura-pura tidur di pangkuanku untuk mencuri lima menit.

“Kamu sadar,” kataku, menyisir rambutnya lagi dengan jari, “kamu jadi berbahaya?”

Dia membuka matanya. Dia menatapku dari bawah, dari pangkuanku, dengan mata yang masih berat karena tidur dan sesuatu yang lain yang jauh lebih berat.

“Tiga tahun aku nyimpen semuanya,” katanya pelan. Suaranya serak karena baru bangun. “Kamu dapat semuanya sekaligus.”

Aku berhenti menyisir rambutnya.

Dia mengangkat tangannya dari ujung jaket dan menyentuh wajahku. Jarinya menyusuri garis rahangku, pelan, dari telinga ke dagu. Lalu dia menarik wajahku turun, sedikit, cukup supaya dia bisa mencium sudut bibirku dari tempat dia berbaring.

Singkat. Hangat. Lebih berbahaya dari yang di bawah lampu gantung kristal, karena yang ini tidak direncanakan. Yang ini jujur.

“Makasih,” katanya.

“Buat apa?”

“Rollback plan-nya.”

Dia bangun, duduk, dan meregangkan punggungnya. Aku mencoba meluruskan kakiku dan meringis karena kesemutan. Dia melihatnya, lalu, tanpa bertanya, memindahkan kakiku ke pangkuannya dan mulai memijatnya pelan, dari pergelangan kaki ke betis.

Aku menatapnya. Rambut berantakan, kaus kusut, mata masih merah di pinggirnya, dengan kedua tangan memijat kakiku yang kesemutan, jam setengah enam pagi, di sofa abu-abu apartemennya.

Aku tidak pernah ingin berada di tempat lain seumur hidupku.


Pukul enam, aku pamit. Dia mengantarku sampai lift.

Di depan pintu lift, dia merogoh saku celana tidurnya dan mengeluarkan dompetnya. Dia membukanya. Dia mengeluarkan selembar kertas kecil yang dilipat. Struk. Dari toko perhiasan.

Dia merobeknya jadi dua. Lalu empat. Lalu delapan.

“Kamu sobek struknya?”

“Nggak ada rollback,” katanya. “Kamu yang bilang.”

Lift berdenting. Pintunya terbuka.

Aku masuk, berbalik, dan menahan pintu dengan satu tangan, seperti hari pertama di lobi Nayara, hari pintunya lagi nutup.

“Ga.”

“Hm.”

“Delapan potong,” kataku, menatap serpihan struk di tangannya.

Dia menatap tangannya sendiri. Delapan potong kertas kecil.

Lalu dia tertawa. Tawa yang rendah, lepas, pagi-pagi di lorong lantai sembilan yang masih sepi.

Pintu lift menutup. Aku turun ke lobi dengan jaketnya, dan Pak Dudung sudah berganti shift. Satpam pagi, yang belum pernah melihatku, menatapku dari balik meja resepsionis, lalu membuka buku tamu dan membaca catatan terakhir Pak Dudung.

Dia menatapku lagi. Dia tersenyum.

“Tamu darurat, Mbak?”

“Iya, Pak.”

“Daruratnya udah selesai?”

Aku berpikir sebentar.

“Udah stabil, Pak,” kataku.

Di parkiran, sebelum menyalakan mesin, ponselku bergetar. Nala.

Kak. Mimpi alpukatku semalam aneh banget. Ada Abang tidur di pangkuan orang, terus orangnya nyisir rambut Abang pakai jari. Kayaknya aku harus berhenti makan martabak malam-malam.

Satu pesan lagi, sepuluh detik kemudian.

Btw Kak, Abang nggak pernah tidur lebih dari jam lima pagi. Seumur hidup. Aku adiknya dua puluh empat tahun. Jadi yang semalam itu mimpi paling nggak masuk akal yang pernah aku mimpiin.