← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Fourteen

Di Bawah Meja

POV: Bella

Aku mencoba menukar kartu nama di meja makan tiga kali, dan tiga kali Mama menangkap basah.

“Jangan diacak, Bel.” Mama merebut kartu bertuliskan Nak Erga dari tanganku dan meletakkannya kembali di tempat semula, dengan presisi seorang ahli bedah. “Mama udah atur feng shui-nya.”

“Ma, sejak kapan Mama percaya feng shui?”

“Sejak tadi siang. Mama nonton YouTube.”

Susunan versi Mama: Papa di kepala meja. Di kiri Papa, Mas Raka, lalu Sheila. Di kanan Papa, Mama, lalu Erga, lalu aku.

Artinya, Erga akan duduk tepat berhadapan dengan Sheila. Sepanjang makan malam. Dengan jarak satu meter, satu meja jati, dan satu mangkuk sayur asem di tengah.

“Ma. Tuker aja sama aku. Biar aku yang di depan Kak Sheila, biar kami bisa ngobrolin seserahan—”

“Nak Erga di sebelah Mama, biar Mama gampang nambahin rendang. Kamu di ujung.” Mama menepuk tanganku yang masih melayang di atas kartu nama. “Kamu kenapa, sih? Dari tadi gelisah kayak kucing mau lahiran.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa bilang, Ma, laki-laki yang Mama masakin rendang enam jam itu pernah ditinggal seminggu sebelum akad oleh calon menantu Mama. Aku sudah berjanji. Aku janji nyoba.

Jadi aku duduk di kursiku, dan menunggu.


Mereka masuk bersama. Papa di depan, dengan wajah yang lebih santai dari biasanya. Erga di belakangnya, dengan batik cokelat tua dan kerah yang tadi kurapikan dengan tanganku sendiri, dan rambut yang disisir ke samping seperti orang yang disuruh adiknya.

Mas Raka berdiri dan menjabat tangan Erga dengan hangat. “Pak Erga! Papa nggak ngajak Bapak main catur, kan?”

“Tiga kali, Mas.”

“Tiga kali?” Mas Raka tertawa. “Papa kalah tiga kali? Wah. Papa nggak pernah kalah sama saya.”

“Kamu tidak pernah menang,” kata Papa, duduk di kursinya, “karena kamu tidak pernah berpikir lebih dari tiga langkah.”

Mas Raka tertawa lagi, meskipun itu jelas bukan pujian. Mas Raka selalu begitu. Dia menerima semua yang dikatakan Papa dengan senyum, seperti menerima hujan.

Lalu Sheila berdiri. Dia tersenyum, versi senyum yang dia pakai untuk tamu penting, dan mengulurkan tangan melintasi meja.

“Mas Erga. Ketemu lagi, ya. Kita sering papasan di kantor, ya.”

“Mbak Sheila.” Erga menjabatnya. Satu detik. Tepat satu detik, lalu lepas.

Mereka duduk. Erga menarik kursi di sebelahku. Aku bisa mencium parfumnya, kayu dan sedikit sesuatu yang seperti hujan. Aku tidak berani menatapnya.

Di seberang, Sheila menatap kami berdua. Senyumnya tidak berubah. Tapi matanya berpindah dari wajah Erga, ke wajahku, ke jarak antara bahu kami, lalu kembali ke wajah Erga. Cepat, seperti orang yang menghitung sesuatu.


Mama menyendokkan rendang ke piring Erga sebelum dia sempat menyentuh sendoknya.

“Makan yang banyak, Nak Erga. Enam jam, lho, ini.”

“Terima kasih, Tante.”

Sepuluh menit kemudian, piringnya sudah setengah kosong. Mama menambahkan dua potong lagi.

“Kurus sekali. Kerja terus.”

“Terima kasih, Tante.”

Lima belas menit kemudian, Mama menambahkan lagi. Tiga potong, dengan kuah yang dituang sampai hampir tumpah dari pinggir piring.

Aku melihat Erga menatap piringnya. Wajahnya tetap sopan, tetap datar. Tapi aku melihat jakunnya naik-turun, seperti orang yang sedang menghitung kapasitas lambungnya dan menemukan angka yang mengkhawatirkan.

“Ma,” kataku. “Udah empat kali.”

“Tamu harus kenyang, Bel.” Mama menoleh padaku. “Oh, nanti kamu cuci piring, ya. Bi Inah lagi pulang kampung.”

“Kenapa aku?”

“Nak Erga tamu.”

“Aku juga tamu. Tamu di hati Mama.”

“Kamu anak.” Mama menyendokkan sayur asem ke piring Erga, yang sudah tidak punya ruang lagi. “Anak cuci piring.”

Mas Raka tertawa. Papa tidak tertawa, tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit. Dan di sebelahku, Erga menunduk ke piringnya, dan aku mendengar suara yang sama seperti di rooftop minggu lalu. Suara batuk yang bukan batuk.


Percakapan berjalan. Papa bertanya tentang migrasi. Mas Raka bercerita tentang seserahan. Mama bercerita tentang YouTube feng shui. Semuanya normal. Semuanya hampir menyenangkan.

Lalu, di tengah hidangan utama, Mas Raka meletakkan sendoknya dan menatap Erga dengan wajah ramah dan penuh rasa ingin tahu yang sama sekali tidak berbahaya.

“Pak Erga sudah menikah?”

Aku berhenti mengunyah.

“Belum, Mas.”

“Wah.” Mama langsung bersinar. “Tante punya kenalan, anaknya teman arisan, dokter gigi, cantik, sholehah—”

“Ma.”

“Mama cuma bilang, Bel.”

“Jangan bilang.”

Mama menatapku dengan heran. Papa menatapku dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang terlalu tajam. Aku menunduk ke piringku dan menusuk sepotong kentang balado dengan tenaga yang tidak perlu.

Lalu Sheila tertawa kecil.

Suara tawa yang lembut dan manis, seperti gula yang dilelehkan. Dia menyandarkan kepalanya sedikit ke bahu Mas Raka, lalu menatap Erga melintasi meja.

“Mas Erga pasti susah, ya, jomblo terus.” Senyumnya melebar. “Mungkin standarnya ketinggian, ya.”

Jeda. Sangat singkat. Seperti pisau yang ditarik dari sarung.

“Atau orangnya yang bikin capek, ya.”

Meja itu hening.

Mas Raka tertawa canggung. “Sayang…” katanya pelan, bukan menegur, lebih seperti bingung. Mama menatap Sheila, lalu Erga, lalu Sheila lagi, dengan kening berkerut. Papa berhenti makan.

Aku merasakan sesuatu naik dari perutku. Panas. Cepat. Tidak bisa ditahan. Aku sudah membuka mulut. Kalimatnya sudah ada di ujung lidah, dan kalimat itu tidak sopan, tidak manis, dan pasti akan membuat Mama menjatuhkan sendok sayurnya.

Satu kali lagi dia nyakitin kamu, aku nggak janji bisa diam.

Lalu sesuatu menyentuh tanganku di bawah meja.

Tangannya.

Bukan menyentuh. Menggenggam. Tangan kirinya menemukan tangan kananku di atas pangkuanku, di bawah taplak meja, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, dan menggenggamnya. Tidak keras. Tapi tidak ragu. Seperti dia sudah memutuskan ini jauh sebelum tangannya bergerak.

Aku menutup mulutku.

Aku tidak tahu harus melihat ke mana. Aku menatap piringku. Kentang balado. Rendang. Sayur asem yang sudah dingin. Seluruh kesadaranku ada di tangan kananku, di bawah meja, di dalam genggaman yang hangat dan kering.

Tangannya lebih besar dari yang kubayangkan. Telapaknya kasar sedikit di pangkal jari, mungkin karena terlalu sering memegang stylus, atau karena memotong telur dadar setiap pagi. Jari-jarinya menyelip di antara jariku, tidak sepenuhnya bertaut, hanya cukup untuk bilang: aku di sini.

Lalu ibu jarinya bergerak.

Pelan. Mengusap punggung tanganku. Dari pangkal ibu jariku ke buku jari telunjuk, lalu kembali. Lingkaran kecil. Lalu lagi. Seperti orang yang menenangkan sesuatu. Atau seseorang.

Di atas meja, dia mengangkat wajah dan menatap Sheila. Tenang. Sopan. Tanpa sedikit pun retakan.

“Mungkin dua-duanya, Mbak,” katanya, dengan senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung apa pun.

Lalu, sebelum ada yang bisa merespons, dia menoleh ke Papa.

“Pak, soal dok berpendingin tadi. Saya kepikiran satu hal lagi. Kalau jadwal kedatangannya dibagi per jam, sistem gudang juga harus bisa kasih tahu pemasok slot mana yang masih kosong. Sebenarnya Nayara+ sudah punya modul penjadwalan untuk pengiriman pelanggan. Mungkin bisa dipakai ulang.”

Papa menatapnya. Aku melihat sesuatu berubah di wajah Papa. Seperti orang yang sedang menonton pertandingan catur dan baru saja melihat langkah yang tidak dia duga.

“Jelaskan,” kata Papa.

Dan Erga menjelaskan. Dengan suara tenang, dengan kalimat pendek dan rapi, sambil tangan kirinya tetap di bawah meja, menggenggam tanganku. Ibu jarinya terus bergerak pelan, lingkaran demi lingkaran, sementara mulutnya berbicara tentang slot jadwal dan dok berpendingin kepada pendiri Nayara Group.

Sheila menatap mereka berdua. Senyumnya masih di sana, tapi senyum itu sekarang terlihat seperti lukisan di dinding. Masih ada, tapi tidak lagi hidup. Matanya turun sesaat ke tepi meja, ke arah kami, seolah mencoba melihat sesuatu yang tertutup taplak.

Dia tidak bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa.


Masalahnya, aku tidak kidal.

Tangan kananku sedang dipakai. Di bawah meja. Oleh seseorang yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya. Jadi aku mengambil sendok dengan tangan kiri, dan mencoba menyuap nasi seperti orang normal.

Aku bukan orang normal dengan tangan kiri. Sendok itu miring. Nasinya jatuh sebagian. Sepotong kentang balado melompat dari pinggir sendok dan mendarat di taplak meja, tepat di sebelah gelas Mama.

“Bel.” Mama menatap tangan kiriku dengan ngeri. “Kok makan pakai tangan kiri? Ada tamu, lho. Nggak sopan.”

“Aku lagi latihan, Ma.”

“Latihan apa?”

“Latihan…” Aku menatap kentang di atas taplak. “Latihan tangan kiri. Buat otak kanan. Katanya bagus buat kreativitas.”

“Kreativitas apa? Kamu bukan pelukis. Kamu bikin aplikasi.”

“Aplikasi juga butuh kreativitas, Ma.”

Mama menatapku seperti menatap anak yang demam tinggi. Mas Raka tertawa. Papa tidak tertawa. Dia menatapku lama, lalu menatap Erga, yang sedang makan dengan tangan kanannya dengan sangat sopan dan sangat normal, lalu menatap tepi meja di antara kami berdua.

Aku yakin Papa tidak bisa melihat menembus taplak. Tapi Papa juga tidak perlu melihat untuk tahu. Papa bisa membaca laporan keuangan tiga ratus halaman dan menemukan satu angka yang salah.

Di bawah meja, ibu jari Erga berhenti sebentar. Lalu bergerak lagi, sedikit lebih cepat. Aku merasakan tubuhnya bergetar pelan di sebelahku. Aku tidak berani menoleh, tapi aku tahu. Dia sedang menahan tawa.

Genggaman itu baru lepas saat Mama berdiri untuk mengambil puding. Dia menarik tangannya perlahan, jarinya meluncur keluar dari sela-sela jariku satu per satu, seperti orang yang meninggalkan ruangan tanpa ingin terdengar.

Tanganku terasa dingin tiba-tiba. Lebih dingin dari AC enam belas derajat.


Aku mencuci piring.

Tiga belas piring, sebelas gelas, dua panci rendang yang kerak bumbunya menempel seperti lem. Aku menggosok panci pertama dengan semangat orang yang butuh menyalurkan sesuatu.

Pintu dapur terbuka. Dia masuk.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia menggulung lengan batiknya sampai siku, mengambil lap kering dari gantungan, lalu berdiri di sebelahku dan mulai mengeringkan piring yang sudah kucuci.

“Kamu tamu,” kataku.

“Tamu yang dikasih rendang empat kali.”

“Terus?”

“Harus bayar.”

Kami bekerja dalam diam. Aku mencuci, dia mengeringkan. Bahu kami hampir bersentuhan. Air keran berdesis. Dari ruang makan terdengar suara Mas Raka dan Sheila tertawa, dan suara Papa bertanya sesuatu tentang tanggal.

Pintu dapur terbuka lagi, sedikit. Mama mengintip dari celahnya. Dia melihat kami berdua di depan wastafel. Matanya membesar. Tangannya menutup mulut. Dia mengeluarkan suara pekikan kecil yang tertahan, seperti ketel air yang baru mendidih, lalu menutup pintu itu kembali dengan sangat pelan.

Kami tidak menoleh. Kami tidak bicara. Tapi aku melihat sudut bibir kirinya bergerak.

Tiga piring kemudian, pintu dapur terbuka lagi, kali ini lebar. Mas Raka masuk, mengambil gelas dari rak, dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas. Dia melihat kami berdua di depan wastafel dan tersenyum, senyum Mas Raka yang lebar dan polos, senyum yang tidak pernah punya versi lain.

“Pak Erga, makasih, ya.”

Erga berhenti mengeringkan piring. “Untuk apa, Mas?”

“Papa.” Mas Raka bersandar di pinggir meja dapur. “Papa jarang ngobrol selama itu sama orang. Sama saya aja paling lama lima menit, terus dia bilang saya kurang mikir.” Dia tertawa kecil. “Tadi saya lihat Papa senyum. Dua kali. Saya hitung. Itu rekor.”

“Pak Bram orangnya menyenangkan, Mas.”

“Bapak orang pertama yang bilang gitu.” Mas Raka menepuk bahu Erga, hangat, seperti menepuk bahu teman lama. “Datang lagi, ya. Serius. Kapan-kapan kita main catur juga. Saya pasti kalah, tapi nggak apa-apa.”

Dia keluar dengan gelas airnya.

Aku melirik Erga. Dia masih memegang piring yang sama, dengan lap yang sama, di posisi yang sama. Dia menatap pintu yang baru tertutup itu, dan di wajahnya ada sesuatu yang belum pernah kulihat. Bukan dingin. Bukan datar.

Seperti orang yang baru saja dipeluk oleh seseorang yang tidak tahu bahwa dia sedang berdiri di atas pecahan kaca.

“Dia orang baik,” katanya pelan, lebih pada piring itu daripada padaku.

“Iya,” kataku. “Makanya.”

Dia tidak bertanya makanya apa. Dia tahu. Dia meletakkan piring itu di rak, lalu mengambil piring berikutnya dari tanganku, dan kami melanjutkan tanpa bicara.


Dia pamit pukul sembilan lewat dua puluh. Aku mengantarnya ke teras.

Malam sudah dingin. Lampu teras menyala kuning. Satpam di pos jaga berdiri tegak begitu melihat kami keluar, siap memberi hormat lagi.

Aku berhenti di anak tangga teratas. Dia berhenti satu anak tangga di bawahku, sehingga untuk pertama kalinya mata kami hampir sejajar.

“Jempol kamu,” kataku pelan, “tadi ngapain?”

Dia tidak berpura-pura tidak mengerti. Dia menatapku lurus. Tenang.

“Nenangin kamu.”

“Aku nggak tenang, Ga.”

Dia tidak menjawab.

“Sama sekali,” tambahku.

Dia menatapku lama. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya, sesuatu yang dia tahan di balik permukaan yang datar, seperti arus di bawah danau yang tenang. Tangannya, di sisi tubuhnya, bergerak sedikit. Jari-jarinya menekuk, lalu lurus lagi. Seperti tangan yang ingat sesuatu.

“Selamat malam, Bella,” katanya.

Dia turun dari tangga. Satpam memberi hormat. Dia membalasnya dengan anggukan kecil, lalu berjalan ke taksi online yang sudah menunggu di depan pagar.

Aku berdiri di teras sampai taksi itu hilang di tikungan. Aku memegang tangan kananku dengan tangan kiriku, seperti memegang sesuatu yang takut hilang.

Waktu aku berbalik untuk masuk, aku melihatnya.

Di jendela ruang tamu, di balik tirai tipis, Sheila berdiri dan menatap ke arah teras. Ke arahku. Wajahnya tidak tersenyum. Tidak ada versi senyum apa pun. Hanya wajah yang dingin, datar, dan sangat, sangat tenang.

Lalu tirai itu tertutup.