Chapter Fifteen
Setelah Meja Makan
POV: Erga
Minggu pagi, pukul 06.14, aku menulis laporan insiden.
Bukan untuk Nayara. Bukan untuk Zogo. Untuk diriku sendiri, di aplikasi catatan di ponsel, sambil duduk di tepi tempat tidur dengan rambut yang masih berantakan dan batik cokelat tua yang tergantung di balik pintu, bersebelahan dengan kemeja putih bernoda stroberi.
Aku menulisnya dengan format yang sama seperti postmortem Twin Day. Karena itu satu-satunya cara yang kutahu untuk memahami sesuatu yang rusak.
Insiden: Kontak fisik tidak terencana.
Waktu: Sabtu, 19.52.
Lokasi: Meja makan keluarga Harsono. Di bawah taplak.
Durasi: 23 menit.
Pemicu: Pernyataan pihak ketiga (“orangnya yang bikin capek, ya”).
Dampak: Subjek makan dengan tangan kiri. Satu kentang balado jatuh. Ibu subjek curiga. Ayah subjek kemungkinan besar tahu.
Tindakan saat kejadian: Genggaman dipertahankan. Ibu jari bergerak. Tidak ada upaya pelepasan sampai puding disajikan.
Aku berhenti di baris berikutnya.
Akar masalah:
Aku menatap kursor yang berkedip selama empat menit.
Aku bisa menulis bahwa aku ingin menghentikan Bella sebelum dia mengatakan sesuatu yang akan dia sesali di depan keluarganya. Itu benar. Aku bisa menulis bahwa kalimat Sheila mengenai sesuatu di dalam diriku, dan tanganku butuh pegangan. Itu juga benar.
Tapi keduanya bukan akar masalah. Keduanya pemicu.
Akar masalahnya adalah bahwa tanganku tahu persis di mana tangannya berada, bahkan di bawah taplak meja, bahkan tanpa melihat. Seolah sudah lama menghitung jaraknya.
Aku menghapus seluruh catatan itu.
Nala datang pukul sepuluh, membawa bubur ayam dan wajah seorang jaksa penuntut.
“Tiga kali,” katanya, meletakkan bubur di meja makan dengan hentakan. “Abang menang catur tiga kali.”
“Dia benci orang yang sengaja kalah.”
“Abang tahu dari mana?”
“Dia yang bilang.”
Nala membuka mulut, lalu menutupnya, lalu duduk dan menatapku dari seberang meja dengan mata menyipit. “Terus. Selain catur.”
“Makan malam.”
“Terus.”
“Rendang empat kali.”
“Bang.”
Aku menyuap bubur. Aku tidak mengaduknya. Nala menatap buburku yang tidak diaduk, lalu menatapku, dan aku tahu dia sedang mengingat bahwa aku selalu mengaduk bubur ayam sampai rata. Selalu. Sejak kecil.
“Abang ngapain di sana,” katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Aku menyuap lagi.
Nala tidak memaksa. Dia makan buburnya sendiri, yang diaduk sampai berwarna kuning pucat. Lalu, waktu mangkuk kami berdua sudah kosong, dia bicara ke arah mangkuknya.
“Kak Bella tadi pagi kirim WA ke aku. Jam lima pagi.”
Aku berhenti.
“Isinya cuma satu kalimat.” Nala menatapku. “Nal, abangmu tangannya hangat banget.”
Aku berdiri, membawa dua mangkuk kosong ke wastafel, dan mencucinya sangat, sangat pelan, supaya aku tidak perlu berbalik.
Senin, aku tidak ke rooftop.
Aku makan siang di meja. Nasi, telur dadar. Dipotong empat. Dua butir telur, bukan empat. Aku memecahkannya pagi tadi sambil berdiri di dapur dan mengatakan pada diriku sendiri, dengan suara keras, dua.
Pukul 12.20, NayaraDesk berbunyi.
Tiket #021 — Rooftop kosong. User sendirian. Burung gereja juga nanya kamu ke mana.
Won’t Fix.
Pukul 15.40.
Tiket #022 — Kamu nggak ada di rooftop. Kamu nggak lewat pantry. Kamu nggak ngangkat kepala waktu aku lewat. Tiga data, satu kesimpulan.
Won’t Fix.
Selasa, pukul 12.15.
Tiket #023 — Oke. Aku tahu apa yang kamu lakuin.
Aku menatap tiket itu lebih lama dari dua tiket sebelumnya.
Won’t Fix.
Tiga menit setelah menekan tombol itu, aku berdiri dari kursi dan naik ke lantai 30.
Aku tidak tahu kenapa. Aku bilang pada diriku sendiri aku hanya ingin memeriksa sesuatu. Aku berhenti di balik pintu besi rooftop dan mengintip lewat kaca kecil di tengahnya.
Dia di sana. Di bangku kayu, di bayangan tandon air. Dua botol teh dingin di sebelahnya. Satu sudah dibuka. Yang satu lagi belum, diletakkan di ujung bangku yang kosong, di tempat aku biasa duduk. Dia tidak makan. Dia hanya duduk, menatap crane di seberang jalan, dengan jaket kanvasku di bahunya meskipun siang itu panas sekali.
Aku berdiri di balik pintu itu selama satu menit. Tanganku di gagang pintu.
Lalu aku melepaskannya dan turun lagi lewat tangga. Dua puluh sembilan anak tangga per lantai. Aku menghitungnya semua, karena kalau tidak menghitung, aku akan berbalik.
Status adalah tempat bersembunyi yang nyaman. Status tidak punya nada suara. Status tidak punya ibu jari yang ingat bentuk punggung tangan orang lain.
Di grup Divisi Gosip, yang entah bagaimana tampilannya terus-terusan kulihat dari layar Cece, laporan cuaca Senin sore berbunyi: Mendung. Pak Architect makan di meja. Ulangi: MAKAN DI MEJA. Selasa pagi: Masih mendung. Tekanan udara rendah. Kemungkinan badai.
Di antara semua itu, pekerjaan tetap berjalan, dan pekerjaan membawa kabar yang tidak kuduga.
Senin pagi, Pak Darmawan mampir ke mejaku dengan wajah seperti orang yang baru menang undian.
“Pak Erga. Kemarin pagi, jam enam, Pak Bram mengirim foto ke direktur logistik.” Dia menunjukkan ponselnya. Foto serbet kain putih, sedikit kusut, dengan dua belas kotak kecil dan panah-panah yang kugambar dengan pulpen di ruang kerja Pak Bram. “Caption-nya satu kata. Coba.”
“Coba?”
“Uji coba mulai minggu depan. Jadwal truk dibagi per jam. Satu dok diubah jadi dok berpendingin sementara.” Pak Darmawan menurunkan ponselnya. “Direktur logistik menelepon saya jam tujuh pagi. Hari Minggu. Dia tanya, siapa orang yang menggambar di serbet ini?”
“Bapak jawab apa?”
Pak Darmawan tersenyum bangga, seperti ayah di hari wisuda. “Saya bilang, itu Pak Architect kami.”
Pukul 14.00, direktur logistik Nayara menelepon langsung ke ponselku. Dia laki-laki berusia lima puluhan dengan suara berat, dan kalimat pertamanya adalah, “Anda siapa?” Kalimat keduanya, setelah aku menjawab, adalah, “Saya sudah dua tahun minta anggaran gudang baru.” Kalimat ketiganya, setelah jeda panjang, adalah, “Boleh saya traktir makan siang?”
Aku bilang tidak perlu. Dia bilang dia tidak bertanya perlu atau tidak.
Aku mulai curiga semua orang di keluarga Harsono dan orang-orang di sekitarnya belajar kalimat itu dari orang yang sama.
Selasa pagi, whiteboard taruhan di pojok Zogo memunculkan baris baru dengan tulisan tangan Andre yang panik:
ODDS MINGGU 8: 1:1.5. SIAPA YANG UBAH???
Andre berdiri di depan whiteboard itu dengan spidol di tangan, menatap angka yang bukan dia yang menulis. Lalu dia berbalik ke arah meja product, dengan wajah detektif yang baru menemukan jejak kaki di TKP.
“Oke. Siapa yang punya info dari dalam rumah Harsono?”
Divisi Gosip saling pandang.
“Bukan saya, Mas,” kata Yoga cepat.
“Bukan saya,” kata Mbak Tika, lebih cepat lagi.
Cece mengangkat tangan, pelan. “Secara teknis, Mas, bukan saya juga. Tapi saya tahu jalurnya.”
“Jalur apa?”
“Satpam kompleks rumah Pak Bram punya grup WA dengan satpam gedung ini. Namanya Paguyuban Satpam Jaksel Bersatu.” Cece membetulkan kacamatanya. “Satpam gedung kita satu grup WA sama OB lantai 21. OB lantai 21 satu grup sama Mbak Tika.”
Semua kepala menoleh ke Mbak Tika.
“Saya cuma di grup itu karena grupnya bagi-bagi info diskon sembako,” kata Mbak Tika membela diri.
“Infonya apa?” tanya Andre, yang sekarang lupa bahwa dia sedang marah.
Cece membuka ponselnya dan membaca dengan suara datar, seperti membaca log server: “Laporan pos 2, Sabtu malam. Mas Supir Kantor Mahal datang pakai batik. Pulang jam 21.20. Diantar Non Bella sampai teras. Non Bella berdiri di teras lama sekali setelah taksi pergi. Pegangin tangan sendiri. Saya awasin.”
Pojok Zogo hening.
Aku terus mengetik. Aku tidak mengangkat kepala. Aku mengetik kalimat yang sama tiga kali di dokumen migrasi dan menghapusnya tiga kali.
“Pegangin tangan sendiri,” ulang Andre pelan. Lalu dia menoleh padaku, dengan wajah orang yang baru memecahkan kasus. “Ga.”
“Aku kerja, Ndre.”
“Tangan sendiri, Ga.”
“Aku kerja.”
Selasa, pukul 19.40. Lantai 21 sudah hampir kosong. Aku sedang mematikan laptop saat mendengar langkah kaki yang sudah kukenal, cepat dan tegas, dengan irama yang selalu sedikit terlalu terburu-buru.
Dia berhenti di depan mejaku. Dia tidak duduk. Dia berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, jaket kanvasku di bahunya, dan wajah seperti orang yang sudah dua hari menyusun argumen.
“Kamu ngehindarin aku.”
“Aku kerja.”
“Kamu makan di meja. Kamu nggak pernah makan di meja. Kamu bilang di meja ada orang yang minta kamu benerin sesuatu.”
Aku memasukkan laptop ke tas.
“Kamu ngasih Won’t Fix ke tiket soal burung gereja,” lanjutnya. “Burung gereja, Erga.”
“Burung gereja di luar lingkup proyek.”
“Kamu nggak lucu.”
“Aku nggak lagi berusaha lucu.”
Dia melangkah maju. Satu langkah. Mejaku sekarang satu-satunya yang memisahkan kami.
“Oke,” katanya, lebih pelan. “Aku tahu kenapa. Kamu mikir Sabtu itu kesalahan. Kamu mikir kamu harus mundur sebelum ini jadi sesuatu. Kamu mikir kalau kamu makan di meja dan ngasih Won’t Fix ke semua tiketku, aku bakal nyerah.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi kamu lupa satu hal.” Dia mengangkat tangan kanannya, pelan, dan menunjukkan telapak tangannya padaku. Seperti bukti di persidangan. “Tangan kamu yang duluan, Erga.”
Aku menatap tangan itu.
“Aku punya saksi,” katanya. “Tangan aku.”
“Itu refleks.”
“Refleks?” Suaranya naik. “Refleks kamu pakai jempol muter-muter selama dua puluh tiga menit?”
Aku menatapnya. Dia tahu angkanya. Tentu saja dia tahu. Dia pasti menghitungnya juga.
Hening. Di ujung lantai, lampu otomatis di area yang kosong mati satu per satu, klik, klik, klik, sampai hanya lampu di atas mejaku yang masih menyala.
Suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Pertanyaan yang sudah dia tahan sejak Sabtu malam, dan mungkin dia takut jawabannya.
“Kamu nyesel?”
Aku bisa bilang iya. Itu jalan keluar paling bersih. Iya, aku menyesal. Itu kesalahan. Maaf. Dia akan terluka, tapi dia akan mengerti, dan tiketnya akan berhenti datang, dan telur dadarku akan kembali jadi dua butir untuk selamanya.
Aku sudah membuka mulut untuk mengatakannya.
“Bel.”
Satu suku kata. Keluar sebelum aku sempat memeriksanya.
Dia membeku. Aku melihatnya. Seluruh tubuhnya berhenti, seperti program yang mendapat input yang tidak ada di dokumentasi. Tujuh minggu aku memanggilnya Bu Bella. Lalu Bella. Tidak pernah ini.
Aku tidak bisa menariknya kembali. Jadi aku melanjutkan. Datar. Jujur. Seperti membaca log.
“Nyesel lepasinnya.”
Aku mengangkat tas laptop ke bahu, berjalan melewatinya, dan menekan tombol lift. Aku tidak menoleh. Pintu lift terbuka, dan aku masuk, dan aku berbalik menghadap ke depan hanya karena itu satu-satunya arah yang tersedia di dalam lift.
Dia masih berdiri di depan mejaku, membelakangiku, dengan satu tangan terangkat di udara, di posisi yang sama saat dia menunjukkan telapak tangannya padaku.
Pintu tertutup.
Lift turun. Dua puluh satu. Dua puluh. Sembilan belas. Aku menatap angka merah di atas pintu, lalu menatap bayanganku sendiri di dinding cermin lift.
Laki-laki berkemeja putih, dua puluh sembilan tahun, dengan wajah yang tenang dan rapi seperti biasa.
Dan telinga yang merah sampai ke ujung.
Nala pernah bilang begitu, di pesan yang dia kirim ke Bella setelah hari hujan itu. Abang di mobil diem aja, tapi kupingnya merah. Aku tidak percaya waktu Bella menunjukkannya padaku sambil tertawa. Aku pikir Nala mengarang.
Nala tidak mengarang.
Aku menutupi telinga kiriku dengan tangan sampai lift sampai di lobi, seperti orang yang sakit telinga, dan satpam lobi bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku bilang aku cuma kedinginan.
Lift itu tidak dingin sama sekali.
Pukul 23.10, di apartemen, NayaraDesk berbunyi.
Tiket #024
Judul: Tangan user masih kebayang tangan seseorang.
Prioritas: —
Deskripsi: Sejak Sabtu, 19.52. Gejala bertambah sejak Selasa, 19.46. Mohon jangan di-Won’t Fix. Tolong. Sekali ini aja.
Aku menatap tiket itu selama sepuluh menit.
Dua puluh tiga tiket. Aku sudah menutup semuanya dengan satu klik. Won’t Fix. Duplicate. Need More Info. Setiap status adalah pintu yang kututup dengan sopan, satu per satu.
Aku membuka menu status. Kursor melayang di atas Won’t Fix.
Aku menggeser kursor itu ke bawah. Satu baris.
Status: IN PROGRESS
Aku tidak menulis komentar. Aku menutup laptop, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap dengan tangan kiri di atas dada, menatap langit-langit. Tangan yang sama.
Rabu pagi, pukul 08.03, sebuah jeritan terdengar dari pantry lantai 21.
Bukan jeritan takut. Jeritan orang yang baru membaca sesuatu di ponselnya dan tidak bisa menampung reaksinya di dalam tubuh. Panjang, tinggi, dan diakhiri sesuatu yang terdengar seperti AAAAKKHHH yang teredam ke dalam telapak tangan.
Seluruh lantai menoleh.
Dari celah pintu pantry yang setengah terbuka, aku melihat Mbak Tika berdiri dengan ponsel terangkat, merekam, dengan ekspresi seorang dokumenter satwa liar yang baru menangkap momen langka.
Aku tidak mengangkat kepala. Aku terus mengetik dokumen migrasi. Aku mengetik dengan tenang dan rapi.
Stylus di tanganku jatuh ke meja, memantul, dan berguling ke lantai.
Dari meja product terdengar bunyi pulpen di atas kertas. Garis kelima.
Andre, di meja sebelah, sedang minum kopi. Dia melihat stylus itu di lantai. Lalu melihat wajahku. Aku tidak tahu apa yang dia lihat di wajahku. Aku tidak bisa melihat wajahku sendiri.
Tapi Andre tersedak kopinya, keras, dan menatapku dengan mata terbelalak seperti orang yang baru melihat hantu.
“Ga,” katanya di sela batuk. “Ga. Lo senyum.”
Aku memungut stylus dari lantai.
“Nggak.”
Tapi aku tidak berusaha terlalu keras untuk berhenti.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan reading
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama