Chapter Thirty
H-7
POV: Bella
Selasa pagi, pukul 06.30, aku mengirim satu pesan.
Hari ini Selasa.
Balasannya datang dalam dua detik. Dia sudah bangun. Mungkin dia tidak tidur sama sekali.
Aku tahu.
Hanya itu. Aku menatap dua kata itu lama, dan aku tidak tahu apa yang lebih menakutkan: bahwa dia tahu, atau bahwa dia sudah menghitungnya jauh sebelum aku.
Hari itu berjalan seperti hari biasa, dan justru itu yang membuatnya terasa salah.
Aku ke kantor. Aku memimpin rapat review fase tiga. Aku memanggilnya Pak Erga di video call, dan dia memanggilku Bu Bella, dan Cece menulis di grup: Cuaca: Cerah berawan. Mereka saling panggil formal lagi, tapi Bu Bella senyum waktu bilang “Pak”. Kemungkinan hujan: 0%. Kemungkinan pelangi: terus naik.
Aku makan dua potong telur dadar dari kotak biru di kulkas pantry. Aku membalas email vendor dekorasi. Aku menelepon Mbak Rina untuk memastikan jumlah kursi tamu VIP.
Pukul tiga sore, rapat video selesai. Semua orang keluar dari panggilan, satu per satu. Tinggal dua kotak di layar. Aku, dan dia.
Dia tidak langsung keluar. Aku juga tidak.
“Bel,” katanya.
“Ya?”
“Kalau malam ini…”
Dia berhenti. Aku melihatnya di layar kecil itu, di meja makan apartemennya, menatap sesuatu di luar kamera. Garis tipis di dahinya muncul.
“Kalau malam ini apa?”
“Nggak jadi,” katanya. “Nggak apa-apa.”
Kotaknya hilang dari layar. Aku menatap layar kosong itu lama. Dia tidak pernah bilang nggak jadi. Dia selalu menyelesaikan kalimatnya.
Setiap satu jam, aku melihat jam.
Sepuluh. Sebelas. Dua belas. Tiga.
Pesan Kevin di ponsel Sheila kemarin berbunyi besok malam. Hari ini malam itu. Tempat biasa. Aku tidak tahu di mana tempat biasa itu. Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Ada yang mau aku omongin serius.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku terlalu banyak berpikir. Bahwa ini hanya Selasa biasa. Bahwa ada jutaan Selasa di dunia, dan tidak semuanya berakhir dengan telepon jam sembilan malam.
Pukul empat sore, aku pulang lebih awal. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa aku harus ada di rumah.
Malam itu, rapat final persiapan siraman. Siramannya hari Kamis. Akadnya Selasa depan. Rumah kami penuh.
Mbak Rina duduk di sofa ruang keluarga dengan headset dan tablet, membaca susunan acara menit demi menit. Mama di sebelahnya, mencatat dengan pulpen di buku kecil, meskipun Mbak Rina sudah bilang tiga kali bahwa semuanya ada di tablet. Papa di kursi berlengan di pojok, membaca koran yang sama yang sudah dia baca sejak pagi.
Mas Raka berdiri di tengah ruangan, memegang dua kotak seserahan yang baru diantar dari toko. Kotak transparan berpita emas. Satu berisi sepatu. Satu berisi jam tangan dan kosmetik.
“Sheila bilang jam tujuh,” katanya, lagi, menatap jam dinding. “Dia mau lihat seserahan sebelum dihias.”
Jam dinding menunjukkan 20.10.
“Mungkin macet,” kata Mama tanpa mengangkat wajah dari buku kecilnya.
Mas Raka menelepon. Tidak diangkat. Dia menelepon lagi. Tidak diangkat.
“Mungkin lagi nyetir,” kata Mama.
Pukul 20.35, Mas Raka mengirim pesan. Aku melihatnya mengetik, menghapus, mengetik lagi. Dia menatap layar. Centang satu. Tidak dua.
Pukul 20.50, dia masih berdiri di tengah ruangan, dengan dua kotak seserahan di tangan, karena dia lupa meletakkannya. Mbak Rina sudah selesai membacakan susunan acara. Mama sudah selesai mencatat. Papa sudah membalik koran ke halaman terakhir.
Aku duduk di tangga, di anak tangga ketiga dari bawah, dan menatap jam dinding.
Mas Raka akhirnya meletakkan satu kotak seserahan di meja, lalu duduk di anak tangga di sebelahku, dengan kotak lainnya di pangkuan. Dari saku kemejanya, dia mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru tua, dan membukanya.
Dua cincin. Emas putih. Polos. Yang satu lebih kecil dari yang lain.
“Mas pilih sendiri,” katanya pelan, tanpa menatapku. “Sheila bilang terserah Mas. Jadi Mas pilih yang polos. Soalnya Mas pikir, yang polos itu nggak pernah ketinggalan zaman.” Dia tertawa kecil. “Ukurannya Mas tebak. Mas pegang tangannya waktu dia tidur di mobil, terus Mas ukur pakai benang.”
Aku menatap cincin yang lebih kecil itu.
“Pinter kan, Bel?”
“Pinter, Mas,” kataku, dan suaraku keluar lebih serak dari yang kumau.
Dia menutup kotak itu dan memasukkannya kembali ke saku, lalu berdiri dan mengambil lagi kotak seserahan dari meja, seolah tangannya butuh sesuatu untuk dipegang.
20.58.
21.01.
21.03.
Pukul 21.04, ponsel Mas Raka berdering.
Aku melihat layarnya dari tempat dudukku. Sayang.
Mas Raka melihatnya juga. Wajahnya berubah, lega, seperti orang yang baru bisa bernapas setelah menahan napas terlalu lama. Tapi kedua tangannya masih memegang kotak seserahan.
“Bel,” katanya. “Angkat. Loudspeaker.”
Aku berdiri. Aku berjalan ke arahnya. Kakiku terasa seperti bukan milikku. Aku mengambil ponsel dari saku kemejanya, menggeser layar, dan menekan tombol speaker.
“Sayang?” kata Mas Raka ke ponsel yang kupegang. “Kamu di mana? Aku telepon dari tadi. Seserahannya udah dateng, kamu mau lihat—”
“Mas.”
Suara Sheila. Datar.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Nala pernah menceritakan ini. Di kafe hijau pastel, dengan es kopi yang tumpah. Suaranya datar. Nggak nangis. Itu yang paling Abang inget. Dia nggak nangis.
“Aku nggak sanggup,” kata Sheila.
Ruangan itu berhenti.
Mama berhenti menulis. Mbak Rina berhenti mengetik di tabletnya. Papa menurunkan korannya, pelan, sampai ke pangkuan.
“Aku takut.”
Jeda. Satu detik. Dua.
Aku tahu kalimat berikutnya sebelum dia mengucapkannya. Aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti orang yang mendengar batuk tertentu dan langsung tahu penyakitnya.
“Cintaku sudah habis.”
Kotak seserahan jatuh dari tangan Mas Raka.
Keduanya. Kotak transparan berpita emas itu menghantam lantai marmer, dan tutupnya terbuka. Sepatu hak tinggi putih gading terlempar ke bawah sofa. Jam tangan meluncur di lantai sampai berhenti di kaki Papa. Satu botol parfum pecah, dan ruangan itu tiba-tiba dipenuhi bau manis yang terlalu berat, seperti bunga yang terlalu lama di vas.
Mas Raka tidak melihat ke bawah. Dia menatap ponsel di tanganku.
“Sayang,” katanya. Suaranya pecah. “Sayang, kamu di mana? Kita ngomong. Aku ke sana sekarang. Kita ngomong baik-baik—”
“Nggak ada yang perlu diomongin, Mas.”
“Sheila—”
“Maaf.”
Klik.
Layar ponsel berubah. Panggilan berakhir. 00:47.
Empat puluh tujuh detik. Delapan belas bulan bersama kakakku, diakhiri dalam empat puluh tujuh detik.
Aku berdiri di tengah ruang keluarga dengan ponsel kakakku di tanganku, dan aku mendengar suara Nala di kepalaku, kata demi kata, seperti rekaman yang diputar ulang. Selasa malam. Seminggu sebelum akad. Aku nggak sanggup. Aku takut. Cintaku sudah habis. Maaf. Terus dia nggak pernah angkat telepon lagi.
Kalimat yang sama. Urutan yang sama. Hari yang sama.
Jam yang sama. Sembilan lewat empat.
Mas Raka merebut ponselnya dari tanganku. Dia menelepon balik. Suara operator. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Dia menelepon lagi. Operator lagi.
Dia menelepon lagi.
“Raka,” kata Papa pelan.
Mas Raka tidak mendengar. Dia menelepon lagi. Tangannya gemetar sampai ponselnya hampir jatuh.
“Dia pasti capek,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kami. “Dia pasti cuma panik. Persiapan. Perjanjian pranikah. Itu banyak. Itu wajar. Besok dia pasti—”
Suara operator lagi.
Papa berdiri. Papa yang tidak pernah berdiri dari kursinya di tengah percakapan, kecuali untuk meninggalkan ruangan. Dia berjalan melewati sepatu putih gading di bawah sofa, melewati jam tangan di lantai, melewati genangan parfum. Dia berhenti di depan Mas Raka, dan meletakkan satu tangannya di bahu anaknya.
Tidak memeluk. Hanya meletakkan tangan. Seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak jatuh.
Mas Raka menatap Papa. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku kecil, aku melihat wajah kakakku kehilangan senyumnya sama sekali. Tidak ada versi yang tersisa. Tidak ada satu pun.
“Pa,” katanya.
Hanya itu.
Lalu dia melepaskan diri dari tangan Papa, berjalan ke tangga, naik, melewati aku yang masih berdiri di dekat anak tangga ketiga. Aku mendengar pintu kamarnya tertutup. Lalu kunci diputar. Dua kali.
Mama duduk di sofa dan tidak bergerak. Buku kecilnya masih terbuka di pangkuan, pulpen masih di tangan, di tengah kalimat yang tidak selesai. Mbak Rina melepas headset-nya pelan-pelan, meletakkannya di atas meja, dan diam-diam mulai memunguti isi kotak seserahan dari lantai, satu per satu, tanpa suara. Dia menemukan sepatu putih gading di bawah sofa, membersihkan debu dari ujungnya dengan ujung blusnya sendiri, lalu meletakkannya di atas meja dengan sangat hati-hati, seolah sepatu itu masih akan dipakai seseorang.
Di atas meja, ponsel Mama bergetar. Grup WA keluarga. Pesan otomatis dari akun WO yang dijadwalkan sejak minggu lalu, dengan stiker bunga-bunga berwarna merah muda.
Reminder: Besok fitting terakhir kebaya siraman, jam 10 pagi ya, keluarga Harsono! 🌸🌸🌸
Tidak ada yang berani menghapusnya.
Papa masih berdiri di tengah ruangan. Dia menatap pintu kamar Mas Raka di lantai atas. Lalu dia menoleh padaku. Tatapan yang sama seperti yang dia berikan pada laporan keuangan tiga ratus halaman. Tapi kali ini, aku melihat sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lelah, dan tua, dan sangat, sangat sedih.
“Kamu tahu,” katanya pelan. Bukan pertanyaan.
Aku tidak menjawab.
Papa mengangguk sekali, seolah diamku sudah cukup. Lalu dia berjalan ke ruang kerjanya dan menutup pintu, tidak rapat.
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak kafe hijau pastel dan es kopi yang tumpah. Aku tahu sejak ponsel di atas kursi kemarin pagi. Aku memilih menunggu, karena dia bilang orang yang mau pergi selalu pergi sendiri, dan karena aku sudah pernah membuka mulut di lantai dua puluh delapan dan melihat apa yang terjadi.
Aku tidak tahu apakah menunggu itu benar. Aku tidak tahu apakah kalau aku bicara kemarin, malam ini akan berbeda. Mungkin Mas Raka akan kehilangan Sheila lebih cepat. Mungkin dia akan membenciku seumur hidup. Mungkin dua-duanya.
Yang aku tahu, di lantai atas, kakakku sendirian di balik pintu yang dikunci dua kali. Dan aku berdiri di ruang keluarga yang berbau parfum pecah, dengan tangan kosong, tidak tahu harus melakukan apa.
Aku keluar ke halaman depan.
Lampu-lampu kecil di pohon mangga menyala. Mbak Rina menyalakannya sore tadi untuk uji coba, dan tidak ada yang mematikannya. Ratusan lampu kecil berwarna kuning hangat, berkedip pelan di antara daun-daun, seperti bintang yang turun untuk pesta yang tidak akan pernah terjadi.
Aku berdiri di bawahnya dengan ponselku sendiri di tangan.
Aku tidak berpikir. Jariku bergerak sendiri. Nama itu. Tombol hijau.
Satu dering.
“Bel.”
Suaranya. Tenang. Terlalu tenang. Seperti dia sudah menunggu di sebelah ponselnya sepanjang malam.
Aku membuka mulut dan tidak ada suara yang keluar. Aku mencoba lagi.
“Ga.” Suaraku gemetar begitu hebat sampai aku tidak mengenalinya sendiri. “Ga… dia bilang kalimat yang sama.”
Di ujung sana, hening.
Bukan hening yang biasa. Bukan hening orang yang sedang berpikir. Hening orang yang berhenti bernapas.
“Jam berapa?” tanyanya. Suaranya sangat pelan.
“Sembilan lewat empat.”
Hening lagi. Lebih panjang. Aku mendengar sesuatu di latar belakangnya. Kursi yang didorong. Kunci yang diambil dari meja.
“Aku ke sana,” katanya.
“Ga, kamu nggak harus—”
“Bel.”
Aku berhenti.
Suaranya tidak lagi pelan. Tidak lagi datar. Suaranya seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum telepon ini berdering, mungkin di balkon jam dua pagi, mungkin di bawah lampu gantung Graha Sasmita, dan baru sekarang membiarkan keputusan itu keluar.
“Aku udah di mobil Andre.”
Aku menunggu di depan pagar.
Satpam kompleks keluar dari pos jaga, melihatku berdiri sendirian di bawah pohon mangga yang berkelap-kelip, dan tidak bertanya apa-apa. Dia hanya berdiri di dekat pos jaganya, tangan di belakang punggung, seperti orang yang berjaga di pintu rumah duka.
Aku menatap ujung jalan. Aku menghitung.
Aku tidak pernah menghitung apa pun seumur hidupku. Aku selalu jadi orang yang terlambat, yang lupa jam, yang membiarkan lima menit jadi satu jam. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menghitung.
Satu menit. Lima. Sepuluh. Lima belas.
Di lantai atas, di balik jendela yang gelap, kakakku mengunci dirinya. Di ruang kerja, Papa duduk tanpa menyalakan lampu. Di ruang keluarga, Mama masih memegang pulpen di tengah kalimat. Di atas lantai marmer, bau parfum yang pecah masih mengambang, manis dan berat.
Dua puluh.
Dua puluh satu.
Dua puluh dua.
Di ujung jalan, sepasang lampu mobil muncul dari tikungan, terlalu cepat untuk jalan kompleks. Satpam kompleks menegakkan badan.
Mobil itu berhenti di depan pagar dengan rem yang terlalu keras. Pintu penumpang terbuka bahkan sebelum mobilnya benar-benar berhenti.
Dua puluh tiga menit.
Dia keluar. Kaus abu-abu. Celana kain. Sandal rumah, karena dia tidak sempat memakai sepatu. Rambutnya berantakan. Kerah kausnya miring ke satu sisi.
Satpam kompleks memberi hormat. Pelan. Sungguh-sungguh.
Dia tidak melihat satpam itu. Dia hanya melihatku.
Dan dia berjalan ke arahku, di bawah lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip untuk pesta yang tidak akan pernah terjadi, tanpa menghitung satu langkah pun.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7 reading
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama