Chapter Thirty Nine
H-7, Lagi
POV: Bella
Kami memilih hari Kamis.
Bukan karena feng shui, meskipun Mama sempat menonton tiga video YouTube tentang hari baik dan hampir memaksakan hari Minggu. Bukan karena gedungnya kosong, meskipun satpam tua di Graha Sasmita bilang dia akan mengosongkan hari apa pun untuk Mas yang kemarin.
Kami memilih Kamis karena dia tidak pernah deploy hari Jumat.
Dan karena di bawah lampu gantung kristal, lima bulan lalu, dia bilang hari ini Kamis sebelum menciumku untuk pertama kalinya.
Tanggalnya jatuh tepat satu tahun setelah malam launching Nayara+. Satu tahun setelah segelas jus stroberi. Aku tidak merencanakannya. Waktu Mbak Rina membuka kalender dan menunjuk satu-satunya Kamis yang tersisa di bulan itu, aku melihat tanggalnya, dan aku harus duduk.
Dia melihat tanggal yang sama. Dia tidak duduk. Dia hanya menatap kalender itu lama, lalu menulis sesuatu di buku catatan kecilnya.
Aku mengintip waktu dia ke toilet. Satu baris.
Satu tahun. Nggak kadaluarsa.
Tujuh hari sebelum akad, aku menyadari sesuatu.
Dia menghitung lagi.
Tidak ada yang memberitahuku. Dia tidak mengatakannya. Tapi aku sudah tujuh bulan belajar membaca log di balik wajahnya, dan log itu jujur saat dia pikir tidak ada yang melihat.
Dia melirik kalender di meja kerjanya lebih sering dari biasanya. Dia terbangun jam tiga pagi. Aku tahu karena status online di bawah namanya menyala setiap malam antara jam tiga dan empat, dan aku tahu karena aku juga terbangun. Dia memotong telur dadar jadi enam belas potong suatu pagi, bukan delapan, dan waktu aku bertanya, dia menatap kotak makan itu seperti baru melihatnya.
Kamis pagi, H-7, jam enam, aku mengirim pesan.
Kamu ngitung, ya.
Balasannya datang dalam empat detik.
Nggak.
Lalu, sepuluh detik kemudian:
Iya.
Aku menatap dua pesan itu. Lalu aku menutup ponsel, mandi, berpakaian, dan menyetir ke kantor dengan lampu sein menyala setiap kali pindah lajur.
Aku sudah punya rencana.
H-7. Kamis. 07.58.
Aku berdiri di depan mejanya di pojok Zogo sebelum dia sempat menyalakan laptop. Lantai 21 masih setengah kosong. Tapi Divisi Gosip sudah datang, tentu saja. Divisi Gosip selalu datang lebih pagi di minggu-minggu penting.
Dia mengangkat wajah.
Aku mengangkat tangan kanan, setinggi bahu, seperti murid SD di depan guru yang memanggil nama.
“Absen,” kataku. “Bella Larasati. Masih di sini.”
Dia menatapku. Aku melihat sudut bibir kirinya bergerak, lalu berhenti, lalu bergerak lagi, seperti program yang tidak yakin harus menampilkan apa.
Di meja product, Cece mengetik dengan kecepatan cahaya.
Aku menurunkan tangan, berbalik, dan berjalan ke mejaku. Aku tidak menjelaskan. Aku tidak perlu.
Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.
Cece: Laporan cuaca H-7. Bu Bella absen di meja Pak Architect pukul 07.58. Format: angkat tangan, sebut nama, “masih di sini”. Tujuan: tidak diketahui. Dampak pada subjek: telinga merah, stylus belum jatuh, tapi tangan kirinya memegang dada selama empat detik. Pemantauan dilanjutkan setiap hari sampai H-0.
Sore itu, pukul 16.40, Yoga menumpahkan kopi susu ke blus putihku di pantry. Kecelakaan murni. Dia tersandung kabel charger, gelasnya terlempar, dan noda cokelat mengalir dari bahu kiriku sampai ke pinggang.
Yoga berdiri membeku dengan gelas kosong di tangan, wajahnya lebih putih dari blusku.
“Bu. Bu, maaf. Bu, saya—”
“Nggak apa-apa, Yog.”
“Bu, saya ganti. Saya beliin. Saya—”
“Diam,” kataku. “Aku lagi mikir.”
Dia diam.
Lima menit kemudian, aku keluar dari toilet memakai kemeja putih laki-laki yang terlalu besar, dengan lengan digulung tiga kali dan ujungnya diikat di pinggang. Kemeja cadangan dari laci paling bawah meja di pojok Zogo. Aku tahu dia menyimpannya di sana, karena dia menyimpan segalanya dengan rencana cadangan.
Aku berjalan melewati pojok Zogo.
Dia melihatku. Dia melihat kemejanya. Dia menjatuhkan stylus, bukan ke meja, langsung ke lantai.
Garis kedua puluh tiga di sticky note Cece. Dia sudah pindah ke sticky note ketiga.
Pukul 18.20, di basement, di sebelah mobilku, dia menungguku.
Dia bersandar di pilar, tangan di saku, dan menatapku berjalan dari lift dengan kemejanya yang kebesaran. Dia tidak bicara sampai aku berdiri di depannya.
“Tujuh hari lagi,” katanya pelan.
Aku menatapnya. “Takut?”
Dia diam sebentar. Aku melihat dia benar-benar memikirkan jawabannya, seperti membaca log baris demi baris.
“Nggak sabar,” katanya. “Beda tipis.” Dia menatapku lurus. “Tapi kali ini aku tahu yang mana.”
Aku tidak bisa bicara.
Dia melepaskan satu tangan dari sakunya dan menyentuh ujung lengan kemeja yang kugulung tiga kali. Jarinya menyusuri lipatan kain itu, pelan, dari pergelangan tanganku ke siku.
“Jangan pakai kemeja aku lagi,” katanya.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab langsung. Matanya turun ke kerah kemeja itu, yang kubiarkan terbuka dua kancing, lalu naik lagi ke wajahku. Lebih pelan dari yang seharusnya.
“Karena aku jadi mikirin cara ngambil kemeja itu balik,” katanya. Suaranya rendah. Datar. Berbahaya. “Dan caranya nggak ada yang sopan.”
Aku berhenti bernapas.
Basement itu sunyi. Lampu neon berdengung. Seorang satpam parkir di kejauhan tiba-tiba sangat sibuk menyapu area yang sama, maju mundur, dengan punggung menghadap kami.
Aku melangkah maju. Setengah langkah. Cukup supaya aku harus mengangkat wajah untuk menatapnya.
“Tujuh hari lagi,” bisikku, “kamu boleh nggak sopan.”
Dia menatapku. Lama. Aku melihat jakunnya naik turun. Aku melihat telinganya berubah warna, dari ujung sampai pangkal, di bawah lampu neon basement yang pucat.
“Aku catat,” katanya.
Dia mengambil kunci mobil dari tanganku, membukakan pintu penumpang, dan menunggu sampai aku masuk. Lalu dia berjalan memutari mobil ke sisi pengemudi.
Satpam parkir berhenti menyapu, menatap mobil kami, dan memberi hormat.
H-6. Jumat. 12.00.
Rooftop. Bangku kayu. Dua botol teh dingin. Kotak biru dengan telur dadar dipotong delapan, bukan enam belas.
Aku duduk di sebelahnya. Aku mengangkat tangan.
“Absen. Masih di sini.”
Dia memotong satu potong telur jadi dua, dan memberikan setengahnya padaku, dengan jari. Seperti yang dulu kulakukan padanya.
H-5. Sabtu. 07.30.
Aku menekan bel apartemennya tujuh kali. Dia membuka pintu dengan kaus abu-abu dan rambut berantakan, dan aku berdiri di lorong dengan dua bungkus bubur ayam dari gerobak di depan gedung.
“Absen,” kataku. “Masih di sini. Bawa bubur.”
Dia mengambil satu bungkus. Dia mengaduknya sampai rata di meja makan, kuning pucat, dengan sangat teliti. Aku tidak mengaduk punyaku. Dia menatap buburku yang tidak diaduk, lalu mengambil sendokku, dan mengaduknya untukku.
H-4. Minggu. 16.00.
Rumah orang tuanya. Pertama kalinya aku ke sana. Papa-nya menuangkan teh ke cangkirku. Penuh. Sampai hampir tumpah. Tanpa bicara.
Aku menatap cangkir itu. Lalu aku menatap Erga, yang duduk di seberang meja dan menatap cangkir yang sama. Matanya merah.
Aku mengangkat tangan, pelan, di depan Papa-nya dan Mama-nya dan Nala dan Andre.
“Absen,” kataku. “Masih di sini.”
Papa-nya menatapku. Lalu, sangat pelan, dia mengangguk. Satu kali. Dan dia menuangkan teh lagi ke cangkirku yang masih penuh, sampai benar-benar tumpah ke tatakan.
Mama-nya tertawa sambil menangis dan mengambil lap.
H-3. Senin. 23.00.
Tiket NayaraDesk. Antrean Proyek Pak Architect. Nomor #101.
Judul: Absen.
Deskripsi: Masih di sini. (Laporan harian, hari ke-5 dari 7.)
Statusnya dia ubah dalam dua detik.
ACKNOWLEDGED.
Di kolom komentar, satu baris: Diterima. Tiga hari lagi, giliran aku yang absen. Di depan penghulu.
H-2. Selasa.
Selasa. Aku sudah menunggu hari ini sejak hari Kamis.
Aku tidak menemuinya siang itu. Aku tidak mengirim tiket. Aku tidak mengirim pesan. Aku tahu dia pasti menunggu. Aku tahu dia pasti bertanya-tanya kenapa hari ini tidak ada absen.
Aku menunggu.
Pukul 21.00, aku duduk di tepi tempat tidur di kamarku, dengan ponsel di tangan dan lampu tidur berbentuk bulan nomor dua belas menyala di sudut. Aku menatap jam di layar.
21.01.
21.02.
21.03.
Pukul 21.04, aku menekan tombol hijau.
Satu dering.
“Bel.”
Suaranya tegang. Aku bisa mendengarnya. Dia sudah menatap jam juga. Dia tahu jam berapa ini. Dia tahu hari apa ini. Dia pasti sudah menatap ponselnya sejak pukul sembilan, menunggu sesuatu yang tidak dia inginkan.
“Ga,” kataku.
Dia tidak bicara. Aku mendengar napasnya. Berhenti.
“Hari Selasa,” kataku pelan. “Jam sembilan lewat empat.”
Hening.
“Absen,” kataku. “Bella Larasati. Masih di sini.”
Aku mendengar sesuatu di ujung telepon. Suara yang tidak pernah kudengar darinya. Bukan batuk yang bukan batuk. Bukan tawa. Suara napas yang pecah, seperti orang yang menahan sesuatu selama tiga tahun dan akhirnya tidak bisa menahannya lagi.
“Dan aku nggak takut,” tambahku. “Aku sayang kamu. Hari Selasa juga.”
Dia tidak menjawab selama waktu yang sangat lama. Aku tidak menutup telepon. Aku menunggu. Aku mendengarkan napasnya, yang pelan-pelan, satu hitungan demi satu hitungan, kembali teratur.
“Bel,” katanya akhirnya. Suaranya basah.
“Hm.”
“Hari Selasa,” katanya pelan, “sekarang punya kamu.”
H-1. Rabu.
Nala mengadakan malam lajang untukku.
Nala menyebutnya bachelorette. Nala menyewa ruang karaoke yang sama dengan pesta migrasi dulu, yang sama dengan tangga darurat, dan mendekorasinya dengan balon berbentuk hati dan spanduk bertuliskan SELAMAT TINGGAL MASA LAJANG, KAK BELLA (DAN SELAMAT DATANG KAKAK IPAR).
Rencananya, hanya perempuan. Nala. Mbak Tika. Cece. Dua teman kuliahku.
Rencana itu bertahan dua puluh menit.
Menit ke-21, Mama datang. Dengan panci rendang. “Mama nggak ganggu, Mama cuma nganter makanan.”
Menit ke-24, Mama Erga datang. Dengan panci rendang juga. “Kebetulan lewat.”
Menit ke-30, kedua ibu itu duduk di sofa ruang karaoke, berdampingan, dengan dua panci rendang di meja, dan menyanyikan lagu dangdut duet dengan suara yang sangat keras dan harmoni yang sangat buruk. Nala menutup wajahnya dengan balon hati.
Menit ke-45, ponselku bergetar. Nala menatap ponselnya sendiri pada saat yang sama, dan wajahnya berubah. Dari malu, ke bingung, ke curiga.
Pesan di grup Tim Pemulihan (Rahasia), dari Andre.
Ga. Darurat. Server kebakaran di ruang karaoke nomor 7. Cuma lo yang bisa. SEKARANG.
Aku menatap pesan itu. Nala menatap pesan itu. Kami berdua saling pandang.
“Ruang karaoke nomor tujuh,” kata Nala pelan, “itu ruangan ini, Kak.”
Lima belas menit kemudian, pintu ruang karaoke terbuka. Erga berdiri di ambang pintu dengan tas laptop di bahu, kemeja kantor, dan wajah orang yang sudah menduga dia sedang dijebak tapi tetap datang karena ada kata server.
Dia melihat balon hati. Dia melihat spanduk. Dia melihat dua ibu dengan dua panci rendang, menyanyikan lagu dangdut. Dia melihat aku.
“Server-nya mana?” tanyanya.
Lampu ruang karaoke tiba-tiba meredup. Musik berhenti. Dari balik pintu, Andre masuk.
Bukan dengan laptop. Dengan kotak beludru merah di tangan, dan wajah pucat seperti kertas, dan kemeja baru yang lipatannya masih tajam.
Dia berjalan melewati Erga. Melewati dua ibu yang tiba-tiba berhenti bernyanyi. Melewati aku. Dia berhenti di depan Nala, yang masih memegang balon hati di depan wajahnya.
Dia berlutut.
Nala menjatuhkan balonnya.
“Gue bohong soal server,” kata Andre. Suaranya bergetar. “Ini alasan palsu gue yang terakhir. Janji.”
Dia menoleh ke Erga, yang berdiri membeku di ambang pintu.
“Ga,” katanya. “Gue butuh lo di sini. Sebagai saksi. Sebagai abangnya.” Dia menelan ludah. “Dan sebagai orang yang boleh nulis postmortem kalau gue bikin dia nangis.”
Lalu dia menoleh kembali ke Nala, membuka kotak beludru itu, dan bertanya.
Nala menangis sebelum pertanyaan itu selesai. Dia mengangguk sebelum Andre sempat bilang kamu mau. Mama Erga menjerit. Mama-ku menjerit karena Mama Erga menjerit. Mbak Tika merekam semuanya. Cece mengetik laporan cuaca dengan satu tangan dan mengusap air mata dengan tangan lainnya.
Erga berdiri di ambang pintu dengan tas laptop di bahu. Dia menatap adiknya, yang sekarang memeluk Andre sambil menangis di lantai ruang karaoke, di antara balon-balon hati.
Aku berjalan ke sebelahnya. Aku menggenggam tangannya.
“Kamu restu?” bisikku.
Dia diam lama. Lalu dia menarik napas, berjalan ke tengah ruangan, dan berdiri di depan Andre yang masih berlutut.
Andre menatapnya dari bawah, dengan wajah orang yang menunggu vonis.
“Ndre,” kata Erga.
“Ya, Ga.”
“Restu.”
Andre mengembuskan napas lega.
“Tapi,” tambah Erga, datar. “Nama kamu udah aku tulis di bagian akar masalah. Tinggal nunggu insidennya.”
Andre tertawa sambil menangis. Nala memukul lengan kakaknya. Kedua ibu menyanyikan lagu dangdut lagi, kali ini lagu pernikahan, dengan harmoni yang lebih buruk dari sebelumnya.
Aku menatap laki-laki di sebelahku. Laki-laki yang setahun lalu dijebak ke sebuah pesta dengan alasan server yang kebakaran, dan malam ini dijebak lagi dengan alasan yang sama, dan datang lagi, karena dia tidak pernah bisa berdiri diam melihat sesuatu yang katanya sekarat.
Besok, di gedung dengan lampu gantung kristal, dia akan duduk di depan meja kecil dan mengucapkan satu kalimat panjang dalam satu tarikan napas.
Malam ini, dia berdiri di tengah ruang karaoke dengan balon hati di kakinya, dan tersenyum. Senyum penuh. Tanpa dinding.
Aku mengangkat tangan.
“Absen,” bisikku, untuk yang terakhir kali sebelum hari itu. “Masih di sini.”
Dia menoleh padaku, dan menggenggam tanganku yang terangkat, dan menurunkannya pelan-pelan, dan tidak melepaskannya lagi.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi reading
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama