← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Forty

Tanpa Tanggal Kadaluarsa

POV: Erga

Kamis. Pukul 06.10.

Aku berdiri di depan cermin di ruang tunggu mempelai laki-laki di Graha Sasmita, dengan beskap putih gading dan peci hitam, dan menatap laki-laki di dalam cermin itu.

Dua puluh sembilan tahun. Hampir tiga puluh. Wajah yang tenang dan rapi seperti biasa.

Tangan yang gemetar.

Aku mengangkat tangan kananku di depan cermin dan menatapnya. Gemetar. Sedikit, tapi jelas. Aku tidak ingat kapan terakhir kali tanganku gemetar seperti ini. Tidak di malam launching, di depan empat puluh satu ribu orang. Tidak di war room Twin Day. Tidak di warung Bu Yati dengan dua bar sinyal. Tidak di bawah lampu gantung kristal, lima bulan lalu, waktu aku bilang hari ini Kamis.

Hari ini juga Kamis.

Aku mengepalkan tangan, lalu membukanya. Masih gemetar.

Pintu ruang tunggu terbuka. Andre masuk dengan beskap abu-abu yang kebesaran di bahu dan wajah yang lebih pucat dariku.

“Ga. Lo udah siap?”

“Tanganku gemetar, Ndre.”

Andre menatap tanganku. Lalu dia menatap wajahku. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum lebar.

“Bagus,” katanya. “Akhirnya lo manusia.”


Delapan ratus undangan.

Bella yang memutuskan jumlahnya. Tiga bulan lalu, waktu Mbak Rina bertanya berapa tamu yang akan diundang, dan Mama bilang seribu, dan Bu Ratna bilang seribu dua ratus, Bella mengangkat tangan dan bilang satu angka.

“Delapan ratus.”

Semua orang menatapnya. Aku menatapnya.

Dia tidak menjelaskan. Dia hanya menatapku, dan aku tahu dia tahu. Nala pasti menceritakannya di kafe hijau pastel, dengan es kopi yang tumpah. Undangannya delapan ratus. Semua udah beres, Kak.

Delapan ratus undangan, kertas putih, bukan krem. Huruf biru tua, bukan emas. Desainnya dibuat Bella sendiri, dalam satu malam, tanpa satu revisi pun.

Erga & Bella.

Kali ini, semuanya terkirim.


Pukul 07.30, aula mulai penuh.

Aku melihatnya dari balik tirai samping. Lampu gantung kristal menyala terang, memecah cahaya pagi dari jendela-jendela tinggi. Karpet merah marun. Kursi-kursi yang ditata Mbak Rina dengan presisi seorang arsitek. Di depan panggung, meja kecil berkain putih untuk ijab kabul, dengan dua kursi di satu sisi dan tiga di sisi lain.

Dan tamu-tamu itu.

Pak Darmawan di barisan ketiga, sudah memegang tisu. Pak Gunawan di sebelahnya, dengan batik rapi dan map biru setebal kamus di pangkuan, karena dia tidak bisa pergi ke mana pun tanpa map itu. Yoga, dengan buku catatan kecil di saku kemeja, siap mencatat. Mbak Tika. Cece, dengan laptop yang dilarang Mbak Rina dibawa masuk dan tetap dia bawa masuk. Adit. Tim finance. Kepala customer service. Bu Liana dan setengah kantor Zogo. Tante Vivi, dengan kacamata merah muda dan kebaya yang lebih mencolok dari mempelai.

Di barisan belakang, Bu Yati. Aku mengundangnya sendiri, dengan undangan yang kuantar ke warungnya. Dia memakai kebaya ungu dan duduk sangat tegak, seperti orang yang takut salah tempat. Di sebelahnya, satpam kompleks rumah Harsono, dengan seragam dinas lengkap, dan Pak Dudung, satpam lobi apartemenku, yang membawa buku tamu kecil miliknya sendiri, entah untuk apa.

Di dekat pintu masuk, satpam tua Graha Sasmita berdiri dengan seragam yang disetrika sangat rapi. Dia tidak duduk. Dia bilang dia mau berdiri. Dia bilang dia sudah tiga puluh tahun menjaga gedung ini, dan dia mau melihat yang satu ini dari tempat dia biasa berdiri.

Di barisan paling depan, keluarga. Papa dengan beskap cokelat, sangat tegak, sangat pucat. Mama dengan kebaya hijau, sudah menangis. Nala dengan kebaya merah muda, dan cincin baru di jari manisnya, duduk di sebelah Andre, yang sudah meninggalkan ruang tunggu dan duduk dengan kedua tangan di lutut seperti murid SD.

Dan di seberang mereka, keluarga Harsono. Bu Ratna dengan kebaya biru, dan kaki yang sudah sembuh total, dan buku kecil di tangan yang entah berisi apa. Raka dengan beskap abu-abu dan senyum yang baru. Dan Pak Bram, di kursi wali, di depan meja kecil berkain putih, dengan tangan terlipat dan wajah yang tidak membaca laporan keuangan apa pun hari ini.

Aku menarik tirai kembali. Tanganku masih gemetar.


Pukul 07.50, sepuluh menit sebelum aku harus keluar, pintu ruang tunggu terbuka pelan.

Aku berbalik, mengira Andre lagi.

Bukan Andre.

Dia berdiri di ambang pintu dengan kebaya putih dan kain batik yang disiapkan Tante Vivi selama tiga bulan. Rambutnya disanggul. Riasannya lembut. Di belakangnya, di lorong, aku mendengar suara Mbak Rina yang panik berbisik, Mbak Bella, Mbak nggak boleh keluar, belum waktunya, Mbak—

Aku tidak akan mendeskripsikan wajahnya. Aku sudah memutuskan itu sejak lorong ballroom setahun lalu. Aku tidak akan mendeskripsikan wajahnya, bahkan di kepalaku sendiri, karena tidak ada satu pun kata yang kukenal yang cukup rapi untuk itu.

Aku hanya akan bilang: tanganku berhenti gemetar.

Dia berjalan ke arahku. Terlalu cepat. Kain batiknya membatasi langkahnya, jadi dia berjalan dengan langkah-langkah kecil yang terburu-buru, dan itu lebih lucu dari apa pun yang pernah kulihat.

Dia berhenti di depanku. Dia mengangkat kedua tangannya ke leherku. Ke kerah beskap yang sudah dirapikan tiga orang sejak jam lima pagi.

“Kerah kamu miring,” katanya.

Aku tidak bisa bicara.

Dia mengacaknya. Kiri ke atas. Kanan ke bawah.

“Sekarang miring,” katanya.

Lalu dia merapikannya lagi. Pelan. Jari-jarinya menyusuri tepi kerah dari belakang leher ke depan. Ujung jarinya menyentuh kulit leherku, dan aku yakin dia bisa merasakan nadiku, yang berdetak lebih cepat daripada di malam mana pun dalam setahun terakhir.

Lima bulan lalu, aku berdiri di tengah aula ini dengan mata terpejam dan membayangkan persis ini.

“Sekarang rapi,” bisiknya.

Dia menepuk kerahku dua kali. Lalu dia berbalik dan berjalan keluar, dengan langkah-langkah kecil yang terburu-buru, melewati Mbak Rina yang berdiri di lorong dengan headset dan wajah orang yang menyerah pada nasib.

Aku menatap tanganku. Tidak gemetar lagi.


Pukul 08.00, aku duduk di depan meja kecil berkain putih.

Pak Bram di seberangku. Penghulu di sebelahnya. Dua saksi: Raka di sisi keluarga Harsono, dan Papa di sisi keluargaku. Di sebelah kananku, dengan jarak satu kursi kosong dan tirai tipis berenda yang dipasang Mbak Rina, Bella duduk bersama Bu Ratna dan Mama, menunggu.

Aula yang tadi ramai perlahan menjadi sunyi. Delapan ratus orang. Aku bisa mendengar kipas angin di atas panggung. Aku bisa mendengar seseorang di barisan tengah menahan bersin.

Penghulu membuka acara. Pembacaan ayat. Nasihat pernikahan. Lalu dia menoleh ke Pak Bram dan mengangguk.

Pak Bram mengambil mikrofon dari meja.

Dia mengetuk mikrofon itu sekali. Tidak ada suara.

Dia mengetuknya lagi. Tidak ada.

Di ujung aula, di belakang meja sound system, aku melihat operator panik. Dia menekan tombol-tombol, mencabut kabel, menancapkannya lagi. Tidak ada.

Mic mati.

Delapan ratus orang mulai berbisik.

Dari barisan depan, Andre berdiri. Wajahnya berubah dari pucat menjadi putih. Dia berlari ke arah meja sound system, dengan beskap kebesaran yang berkibar, dan mulai memeriksa kabel dengan tangan yang gemetar lebih parah dari tanganku tadi pagi.

Dan aku, laki-laki yang bisa menemukan penyebab sistem mati dalam tiga pertanyaan, yang menghidupkan demo Nayara+ dalam empat menit, yang mengembalikan pembayaran jutaan orang dalam tujuh belas menit, duduk di depan meja kecil berkain putih dan tidak bisa berpikir.

Aku tahu penyebabnya pasti sederhana. Baterai mic nirkabel habis. Receiver-nya mati. Salah kanal. Tiga pertanyaan, dan aku akan tahu.

Tapi aku tidak bisa mengajukan satu pun.

Tanganku gemetar lagi. Napasku terlalu cepat. Delapan ratus orang menatap ke arah meja ini. Pak Bram menatapku. Penghulu menatapku. Papa menatapku dengan wajah pucat.

Tiga tahun lalu, di gedung ini, aku seharusnya duduk di kursi ini. Aku sudah membayangkannya ratusan kali. Dan di setiap bayangan itu, ada satu hal yang selalu terjadi: sesuatu rusak. Sesuatu batal. Sesuatu habis.

Sistem di kepalaku, yang kupikir sudah kumatikan, menyala sendiri. Jangan dimatikan.

Lalu, dari balik tirai tipis berenda di sebelah kananku, satu suara. Pelan. Hanya cukup keras untuk sampai ke telingaku.

“Oke.”

Aku menoleh. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas di balik tirai. Hanya bayangan. Kebaya putih. Sanggul.

“Satu-satu,” bisiknya. “Mas.”


Satu suku kata.

Dia tidak pernah memanggilku begitu. Tujuh bulan, dia memanggilku Pak Architect, lalu Erga, lalu Ga, lalu Sayang. Sebulan terakhir dia mencoba Mas beberapa kali, di pesan, dan setiap kali dia mengetiknya, dia menghapusnya lagi dan menulis Ga, karena katanya Mas terdengar seperti orang yang sudah menikah.

Hari ini dia tidak menghapusnya.

Napasku berhenti. Lalu kembali. Satu. Dua. Tiga. Empat. Tahan. Keluarkan.

Tanganku berhenti gemetar.

Aku menoleh ke Pak Bram. Dia masih memegang mic yang mati. Aku menggeleng pelan.

“Nggak usah mic, Pak,” kataku. Suaraku tenang. Jernih. Cukup keras untuk didengar barisan depan. “Mereka bakal dengar.”

Pak Bram menatapku lama. Lalu dia meletakkan mic itu di meja.

Dia menoleh ke delapan ratus orang di aula. Dia tidak perlu mengatakan apa-apa. Aula itu, yang tadi berbisik, perlahan-lahan menjadi sunyi. Lebih sunyi dari sebelumnya. Sunyi seperti war room Twin Day waktu satu orang memutuskan untuk bicara lebih pelan dari semua orang.

Delapan ratus orang berhenti bernapas untuk mendengar.

Andre berhenti memeriksa kabel. Dia berdiri di belakang meja sound system dengan tangan di atas kepala.

Pak Bram mengulurkan tangan kanannya melintasi meja kecil berkain putih. Aku menjabatnya. Tangannya hangat, kering, dan menggenggam lebih erat dari yang pernah dia lakukan di papan catur.

Dia menarik napas. Suaranya, tanpa mikrofon, memantul pelan di aula yang sunyi, di bawah lampu gantung kristal.

“Saudara Erga Mahardika bin Suryo Mahardika.”

Suaranya bergetar. Pak Bram, yang tidak pernah bergetar di depan investor atau direksi atau menteri, bergetar di kalimat pertama.

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Bella Larasati binti Bram Harsono, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat seratus gram, dibayar tunai.”

Dia menekan tanganku, sedikit. Tanda.

Aku tidak menghitung. Aku tidak menarik napas dulu. Aku tidak memeriksa apa pun.

“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Larasati binti Bram Harsono dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Satu tarikan napas.

Aula itu sunyi selama satu detik yang sangat panjang.

Penghulu menoleh ke Raka. Lalu ke Papa.

“Sah?”

Raka mengangguk. Suaranya pecah. “Sah.”

Papa mengangguk. Suaranya tidak pecah. Suaranya tegas dan dalam, suara yang jarang dia pakai, suara yang dulu dia pakai untuk memanggilku pulang dari lapangan waktu aku kecil.

“Sah.”

Aula meledak.

Bukan tepuk tangan biasa. Delapan ratus orang yang berdiri bersamaan. Pak Darmawan menangis keras, dan Pak Gunawan memeluknya. Mbak Tika berteriak ALHAMDULILLAH dengan nada dangdut paling tinggi yang pernah kudengar. Yoga menulis sesuatu di buku catatannya sambil menangis. Cece mengetik di laptop yang dilarang dibawa masuk. Bu Yati di barisan belakang memukul-mukul dadanya sendiri dan berteriak menang, menang, dan satpam kompleks di sebelahnya memberi hormat ke arah panggung, dan Pak Dudung menulis sesuatu di buku tamunya.

Di dekat pintu masuk, satpam tua Graha Sasmita, yang sudah tiga puluh tahun berdiri di sana, mengangkat kedua tangannya ke udara dan tersenyum dengan gigi yang tidak lengkap.

Aku tidak mendengar semua itu dengan jelas. Aku hanya melihat Pak Bram, di seberang meja, yang masih menggenggam tanganku, dan yang untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, menangis tanpa menyekanya.


Tirai tipis berenda itu dibuka.

Dia berdiri. Bu Ratna di satu sisi, Mama di sisi lain, keduanya menangis. Dia berjalan ke arahku, pelan kali ini, karena kain batiknya, dan karena Mbak Rina sudah memperingatkannya empat kali.

Dia duduk di kursi di sebelahku. Dia mencium tanganku, sesuai adat. Lalu dia mengangkat wajah.

Aku menunduk dan mencium keningnya. Di depan delapan ratus orang. Lama.

Waktu aku menarik diri, dia menatapku dengan mata basah dan senyum yang lebih lebar dari yang pernah kulihat. Satpam tua itu benar. Yang kedua kali, senyumnya lebih lebar.

Aku mencondongkan tubuh, sedikit, sampai bibirku di dekat telinganya.

“Versi beta udah selesai,” bisikku.

Dia menahan napas.

“Rilis penuhnya malam ini.”

Dia mencubit pinggangku. Keras. Di depan delapan ratus orang dan penghulu. Aku tidak berhenti tersenyum.


Sambutan keluarga dimulai setelah sesi foto.

Pak Bram bicara pendek. Tiga kalimat. Kalimat terakhirnya adalah, “Saya kalah catur di hari lamaran. Itu kekalahan terbaik dalam hidup saya.” Seisi aula tertawa, dan Pak Darmawan menangis lagi.

Raka bicara sebagai kakak. Dia tidak membaca kertas. Dia hanya menatapku dan bilang, “Anggota Klub H-7 berkurang satu. Aku nggak keberatan.” Dan orang-orang yang tidak mengerti tertawa, dan orang-orang yang mengerti menangis.

Lalu Nala berdiri.

Dia memegang mikrofon, yang ternyata sudah berfungsi lagi sejak Andre menemukan bahwa baterainya habis dan menggantinya dengan baterai dari remote AC gedung. Dia memegang ponselnya di tangan yang lain. Dia menatapku dari panggung dengan senyum yang sangat, sangat berbahaya.

Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu sejak tiga tahun lalu.

“Selamat pagi, semuanya,” kata Nala. “Saya Nala. Adik mempelai laki-laki. Satu-satunya.”

Dia mengangkat ponselnya.

“Tiga tahun lalu, abang saya ngirim satu pesan ke saya. Malam hari. Saya simpan screenshot-nya. Saya bilang ke dia, ini barang bukti. Saya bilang suatu hari saya bakal bacain ini di depan umum.” Dia tersenyum lebih lebar. “Hari ini, saya tepatin janji.”

Aku menutup wajahku dengan satu tangan. Di sebelahku, Bella mulai tertawa.

Nala membaca layar ponselnya dengan suara yang jelas, keras, dan sangat dramatis.

“Aku tidak akan jatuh cinta lagi, Nal. Tidur.”

Aula meledak dalam tawa.

Delapan ratus orang. Rekan kerja, keluarga, satpam, pemilik warung kopi. Mereka tertawa sampai kursi-kursi berderit. Pak Gunawan memukul map birunya. Tante Vivi tertawa sampai kacamata merah mudanya melorot. Andre tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.

Aku tidak mengangkat tanganku dari wajah.

Lalu, di tengah tawa itu, Nala berhenti. Dia menurunkan ponselnya. Suaranya berubah. Tidak dramatis lagi. Pelan, dan pecah di tengah.

“Saya duduk di sebelahnya malam itu,” katanya. “Di balkon. Dari sore sampai malam. Hari yang harusnya jadi hari pernikahannya.” Dia menarik napas. “Tiga tahun saya simpan screenshot ini. Bukan buat malu-maluin dia. Buat hari ini. Biar saya bisa bilang ke dia, di depan semua orang…”

Air matanya jatuh. Dia tidak menyekanya.

“Abang bohong. Dan aku seneng banget Abang bohong.”

Aula yang tadi tertawa sekarang sunyi.

Lalu terdengar suara tangis. Satu. Lalu banyak. Mama. Bu Ratna. Pak Darmawan, tentu saja. Mbak Tika. Bu Yati di barisan belakang. Bahkan satpam kompleks, yang masih berdiri tegak memberi hormat, dengan air mata di pipinya.

Nala menghapus screenshot itu. Di depan semua orang. Satu ketukan. Lalu dia menurunkan mikrofon, turun dari panggung, dan memelukku sampai beskapku basah.

“Makasih, Nal,” bisikku di rambutnya.

“Buat apa?”

“Buat duduk di sebelahku.”


Waktu Nala kembali ke kursinya, Bella menggenggam tanganku di bawah meja pelaminan. Ibu jarinya bergerak di punggung tanganku. Lingkaran kecil.

Dia mencondongkan tubuh ke arahku. Bibirnya di dekat telingaku. Suaranya sangat pelan, lebih pelan dari bisikan mana pun yang pernah dia berikan padaku, di lift, di pantry, di balik pintu kulkas, di balik tirai.

“Mas.”

“Hm.”

“Cintaku nggak akan habis.”

Aku berhenti bernapas.

“Nggak ada tanggal kadaluarsanya,” bisiknya.

Aku menoleh padanya. Dia menatapku, dengan kebaya putih dan mata basah dan cincin emas putih polos di jari manisnya, dan senyum yang lebih lebar dari lampu gantung kristal di atas kami.

Aku tidak bisa bicara. Aku tidak punya kalimat yang lebih jujur dari yang dia ucapkan. Jadi aku hanya menggenggam tangannya lebih erat, di bawah meja pelaminan, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.


Di sesi foto terakhir, Raka dan aku berdiri berdampingan untuk satu foto khusus. Raka yang memintanya. Foto resmi Klub H-7, katanya.

Fotografer bertanya pose apa yang kami mau.

Raka mengangkat tangan kanannya, dengan lima jari terbuka, lalu tangan kirinya, dengan dua jari. Tujuh.

Aku mengangkat tangan kananku, dengan dua jari. Lalu tangan kiriku, dengan lima jari.

Tujuh juga. Tapi terbalik.

Fotografer menatap kami. “Mas, posenya beda. Satu lima-dua, satu dua-lima.”

“Nggak apa-apa,” kata Raka. “Itu intinya.”

Fotografer tidak mengerti. Dia mengambil fotonya. Bella, yang berdiri di sebelah fotografer, menatap foto itu di layar kamera dan tertawa sampai harus bersandar di bahu Mbak Rina.


Waktu tamu terakhir pulang, sudah lewat jam dua siang.

Aula itu kosong lagi. Kursi-kursi mulai dirapikan. Bunga-bunga mulai diangkat. Lampu gantung kristal masih menyala, memecah cahaya siang jadi ribuan titik kecil di karpet merah marun.

Bella berdiri di sebelahku di tengah aula, di bawah lampu gantung itu, di tempat yang sama di mana lima bulan lalu dia merapikan kerahku dan aku menciumnya untuk pertama kalinya.

Seorang pelayan katering lewat di dekat kami dengan nampan berisi gelas-gelas jus stroberi yang tersisa. Bella mengambil satu gelas. Dia menatapku. Dia menatap beskap putih gadingku.

“Bel,” kataku. “Jangan.”

“Biar kamu punya alasan keluar bareng aku lagi,” katanya, dengan senyum yang sangat berbahaya.

“Kita udah keluar bareng. Kita udah nikah.”

Dia berpikir sebentar. Lalu dia meminum jus stroberi itu sampai habis dan meletakkan gelasnya di nampan.

“Oke,” katanya. “Kali ini aku kasih kamu keringanan.”

Aku menatapnya. Istriku. Kata itu masih terasa seperti bahasa asing di kepalaku. Aku tahu aku akan butuh waktu untuk terbiasa dengannya.

Aku punya waktu.

Aku berdiri di tengah aula Graha Sasmita, di bawah lampu gantung kristal, dengan tangan istriku di tanganku, dan aku menyadari sesuatu.

Di kepalaku, tidak ada angka. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada pintu keluar yang harus dihitung, tidak ada hari yang harus ditunggu, tidak ada tugas terjadwal di server abu-abu yang lupa dimatikan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung apa pun.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak perlu.