← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Seventeen

Versi Sheila

POV: Erga

Senin pagi, pukul 08.50, Raka Harsono tidak membalas sapaanku.

Kami masuk lift yang sama di lobi. Hanya berdua. Aku bilang, “Pagi, Mas.” Dia menatap angka lantai di atas pintu. Lift naik dari satu ke dua puluh satu dalam empat puluh detik, dan selama empat puluh detik itu, dia tidak menoleh sekali pun.

Waktu pintu terbuka di lantai 21, dia tidak keluar. Dia menahan pintu dengan satu tangan, supaya aku bisa lewat, lalu melanjutkan ke lantai 28 tanpa berkata apa-apa.

Sebulan lalu, laki-laki yang sama menepuk bahuku di dapur rumahnya dan bilang, datang lagi, ya. Serius.

Sistem, seperti orang, jujur saat tidak ada yang melihat. Tapi orang juga bisa berubah dalam satu malam, kalau seseorang membisikkan sesuatu di telinganya.

Aku tahu siapa yang berbisik. Aku belum tahu apa yang dia bisikkan.


Aku mengetahuinya hari Selasa, pukul 10.15, dari Pak Darmawan.

Dia datang ke mejaku dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan panik seperti malam launching. Bukan bangga seperti setelah Twin Day. Wajah orang yang membawa kabar buruk dan tidak tahu harus meletakkannya di mana.

“Pak Erga. Bisa bicara sebentar? Di ruangan saya.”

Ruangannya di lantai 22, kecil, penuh tumpukan dokumen dan foto keluarga di meja. Dia menutup pintu, duduk, lalu berdiri lagi, lalu duduk lagi.

“Pak Raka kirim email ke saya tadi malam,” katanya. “Tembusan ke Bu Liana di Zogo.”

Aku menunggu.

“Beliau minta Bapak diganti.” Pak Darmawan melepas kacamatanya dan menggosok matanya. “Alasannya, saya bacakan persis: perilaku tidak profesional terhadap anggota keluarga pemilik perusahaan di lingkungan kantor.”

Pantry. Selasa siang, tujuh minggu lalu. Pintu yang ditutup dengan klik kecil. Minta diganti dari proyek ini. Kamu bisa.

Dia yang menutup pintu itu. Bukan aku.

“Pak Erga.” Pak Darmawan menatapku, dan aku melihat dia sedang berusaha keras untuk tidak percaya. “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya tidak bertanya. Tapi saya harus tanya satu hal, karena ini tugas saya. Apakah ada sesuatu yang harus saya ketahui?”

Aku bisa menjelaskan. Aku bisa bilang: Pak, tunangan Pak Raka adalah mantan calon istri saya. Dia meninggalkan saya seminggu sebelum akad. Dia yang menemui saya di pantry, dia yang menutup pintu, dan dia yang meminta saya pergi.

Semua benar. Dan semua itu akan sampai ke telinga Raka dalam waktu kurang dari satu jam, karena gedung ini punya grup WA untuk segalanya, termasuk satpam.

Aku memikirkan Raka di dapur, dengan gelas air dingin di tangan dan senyum yang tidak pernah punya versi lain.

“Nggak ada, Pak,” kataku. “Saya nggak pernah bersikap tidak profesional di kantor ini.”

Itu jawaban yang benar. Bukan jawaban yang lengkap. Tapi benar.

Pak Darmawan menatapku lama. Lalu dia memakai kacamatanya kembali.

“Saya percaya Bapak,” katanya. “Masalahnya, saya bukan yang harus percaya.”


Rabu pagi, pukul 09.00, rapat sponsor di Ruang Kenari. Dijadwalkan mendadak malam sebelumnya oleh Raka.

Aku masuk dan melihat susunan kursinya. Raka di kepala meja. Pak Darmawan di kanannya. Tim vendor lama di satu sisi, dipimpin Pak Gunawan. Tim product di sisi lain, dan Bella duduk di ujung, dengan blazer hitam dan lipstik merah tua yang belum pernah kulihat dia pakai sebelumnya. Warna yang dipakai orang untuk rapat yang dia tahu akan jadi perang.

Dan di dekat pintu, dua laki-laki berkemeja biru dengan lanyard perusahaan yang tidak kukenal. PT Sinergi Data Nusantara.

Aku duduk di kursi yang tersisa. Yang paling jauh dari Raka.

“Terima kasih sudah datang,” kata Raka. Suaranya sopan, profesional, dan sama sekali tidak hangat. “Rapat ini untuk mengevaluasi opsi keberlanjutan proyek migrasi. Saya minta Pak Gunawan dan tim Sinergi mempresentasikan alternatif, kalau-kalau proyek ini perlu dilanjutkan tanpa keterlibatan Zogo Tech.”

Ruangan itu hening. Aku melihat Yoga menatapku dengan wajah pucat. Aku melihat Mbak Tika menegakkan punggungnya. Aku tidak melihat Bella. Aku sengaja tidak melihat Bella.

“Pak Gunawan, silakan.”

Pak Gunawan tidak berdiri.

Dia duduk di kursinya dengan kedua tangan terlipat di atas map biru setebal kamus, map yang sama dengan hari pertama aku datang. Dia menatap Raka.

“Saya tidak punya alternatif, Pak Raka.”

Raka mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Maksudnya, saya tidak punya.” Pak Gunawan membuka mapnya, dan aku melihat di dalamnya ada runbook enam puluh dua langkah yang sudah dicetak dan penuh coretan pulpen merah. Coretan tangannya sendiri. “Yang saya punya cuma runbook dia. Sudah saya baca tiga kali. Saya menemukan dua hal kecil yang bisa diperbaiki, dan kami sudah membahasnya kemarin sore. Selain itu, saya tidak punya apa-apa yang lebih baik.” Dia menutup mapnya. “Delapan tahun saya di sistem ini, Pak. Saya tidak akan pura-pura.”

Raka menatapnya lama. Lalu menoleh ke dua laki-laki berkemeja biru. “Sinergi, silakan.”

Mereka mempresentasikan dua puluh slide. Rencana migrasi enam bulan. Tim sepuluh orang. Anggaran dua kali lipat. Di slide empat belas, mereka mengusulkan untuk “mematikan sementara aplikasi selama tiga hari untuk proses pemindahan data yang aman.”

Tiga hari. Nayara+ mati selama tiga hari.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku mencatat di buku kecilku.

Setelah presentasi selesai, Raka menoleh padaku untuk pertama kalinya pagi itu. “Pak Erga. Tanggapan?”

Aku menutup buku catatan.

“Fase satu sudah selesai dua minggu lalu, Mas. Tanpa downtime. Fase dua dan tiga menggunakan pola yang sama. Kalau diganti di tengah jalan, tim baru perlu waktu minimal enam minggu untuk memahami keadaan sekarang. Selama enam minggu itu, sistem ada di tengah-tengah dua arsitektur. Itu posisi paling rentan untuk sistem mana pun.” Aku menatap slide empat belas yang masih terpampang di layar. “Dan mematikan aplikasi tiga hari berarti kehilangan sekitar empat puluh miliar transaksi. Belum termasuk pelanggan yang pindah ke kompetitor dan nggak kembali.”

Hanya itu. Aku tidak membela diri. Tidak ada yang secara langsung menuduhku apa pun di rapat ini. Aku tidak akan menjawab tuduhan yang tidak diucapkan.

Raka menatapku. Aku melihat sesuatu di matanya. Bukan kebencian. Lebih seperti kebingungan, seperti orang yang mencoba mencocokkan dua gambar yang tidak mau menyatu. Laki-laki di depannya dan laki-laki yang diceritakan kepadanya.

Pak Darmawan berdeham.

“Pak Raka. Saya mau menyampaikan satu hal. Secara resmi, untuk notulen.” Dia melepas kacamatanya. Tangannya gemetar sedikit, tapi suaranya tidak. “Kalau Pak Erga keluar dari proyek ini, saya juga keluar.”

Ruangan itu membeku.

“Pak Darmawan—”

“Lima belas tahun saya di sini, Pak. Saya sudah lihat banyak konsultan. Saya belum pernah lihat yang seperti dia.” Pak Darmawan memakai kacamatanya lagi. “Kalau perusahaan ini memutuskan tidak membutuhkan orang seperti itu, maka mungkin perusahaan ini juga tidak membutuhkan saya.”

Pintu Ruang Kenari terbuka.

Pak Bram berdiri di ambang pintu. Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana, atau siapa yang memberitahunya. Mungkin Pak Darmawan. Mungkin Bella. Mungkin Paguyuban Satpam Jaksel Bersatu.

Dia tidak masuk. Dia hanya berdiri di ambang pintu dan menatap putranya.

“Tidak ada yang diganti,” katanya.

“Pa,” kata Raka, berdiri. “Ini soal keluarga.”

“Kalau soal keluarga, bicarakan di rumah.” Pak Bram menatap slide empat belas di layar, tiga hari mematikan aplikasi, lalu menatap dua laki-laki dari Sinergi dengan tatapan yang membuat mereka berdua tiba-tiba sangat tertarik pada sepatu mereka sendiri. “Di sini, soal sistem.”

Dia pergi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Raka berdiri di kepala meja selama beberapa detik. Wajahnya merah. Lalu dia duduk, menutup laptopnya, dan berkata dengan suara datar, “Rapat selesai.”


Pak Gunawan menemukanku di pantry pukul 11.30. Dia menuang kopi hitam ke gelas kertas, pelan, lalu berdiri di sebelahku tanpa langsung bicara, seperti dua laki-laki yang menunggu hujan reda di bawah kanopi yang sama.

“Pak,” kataku akhirnya. “Terima kasih. Untuk tadi.”

“Saya tidak melakukan apa-apa. Saya cuma tidak berbohong.” Dia meniup kopinya. “Umur segini, berbohong itu melelahkan. Saya sudah tidak punya tenaga.”

Kami diam sebentar.

“Saya tidak tahu apa masalah Bapak dengan Pak Raka,” katanya. “Saya tidak mau tahu. Itu bukan urusan saya.” Dia menatap gelas kopinya. “Tapi saya tahu satu hal. Orang yang mengembalikan dua juta rupiah ke tangan orang yang baru kalah taruhan, dengan dua tangan, di depan lima belas orang, supaya orang itu tidak malu…” Dia berhenti, lalu menggeleng pelan. “Orang seperti itu tidak bersikap tidak profesional di pantry.”

Dia menepuk bahuku sekali, seperti mengetuk map biru di hari presentasi audit. Lalu dia pergi dengan kopinya.

Aku berdiri sendirian di pantry itu. Pantry yang sama. Dispenser yang sama. Pintu yang sama, yang tujuh minggu lalu ditutup dengan klik kecil oleh orang yang sekarang menceritakan versi lain dari hari itu.

Aku mengisi gelas dengan air putih. Aku membiarkan pintunya terbuka lebar.


Pukul 13.00, grup Divisi Gosip, yang tampilannya lagi-lagi kulihat dari layar Cece karena Cece tidak pernah belajar memiringkan monitornya, meledak.

Mbak Tika: TEORI. Pak Raka nggak rela adiknya dideketin Pak Architect. Kakak posesif. Makanya mau diganti.

Yoga: Tapi kenapa alasannya “tidak profesional”??

Mbak Tika: Karena nggak mungkin tulis “saya cemburu kakak-adik” di email resmi, Yog.

Cece: Saya sudah buat diagram. Terlampir.

Diagram Cece berupa tiga lingkaran bertuliskan Pak Raka, Bu Bella, Pak Architect, dihubungkan dengan panah-panah, dan di tengahnya ada tanda tanya besar. Judulnya: Cinta Segitiga Direksi (Hipotesis Awal).

Mbak Tika: Bukan cinta segitiga, Ce. Kakak posesif itu bukan cinta segitiga.

Cece: Semua yang ada tiga titik dan banyak perasaan adalah segitiga, Mbak. Secara geometri.

Aku menatap diagram itu dari balik partisi kaca. Mereka salah. Tapi mereka juga tidak sepenuhnya salah. Memang ada tiga titik. Mereka hanya menggambar titik yang salah.


Pukul 14.20, aku kembali dari toilet dan menemukan sticky note kuning di tutup laptopku.

Tulisan tangan yang sudah kukenal. Miring ke kanan, huruf a yang bulat, titik di atas huruf i yang kadang berbentuk lingkaran kecil kalau dia sedang terburu-buru.

Aku percaya kamu. Nggak perlu dijelasin.

Tidak ada tanda tangan. Tidak perlu.

Aku melepas sticky note itu dari laptop, pelan, dan memasukkannya ke saku kemeja. Nanti malam dia akan masuk ke laci di apartemenku, bersama tisu segi empat dan Selamat pagi, Pak Architect. Laci itu mulai penuh. Aku belum memutuskan apa artinya.

Aku membuka ponsel. Aku mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi.

Terima kasih.

Aku menatap dua kata itu. Terlalu sedikit. Tapi semua yang lebih dari itu terlalu banyak.

Lalu aku ingat Ruang Kenari. Blazer hitam, di ujung meja. Dan lipstik merah tua yang sepanjang rapat membuatku harus mencatat di buku kecil supaya mataku punya tempat lain untuk dilihat.

Aku menambahkan satu kalimat.

Dan tolong berhenti pakai lipstik warna itu di rapat. Aku nggak bisa baca slide.

Aku menekan kirim sebelum sempat menghapusnya.

Dari balik partisi kaca, di meja product, aku melihat Bella membaca ponselnya. Dia tidak bereaksi. Dia hanya menatap layar. Lalu, pelan, dia mengambil cermin kecil dari laci mejanya, membukanya, dan melihat bibirnya sendiri.

Lalu dia menutup cermin itu dan mengetik.

Besok aku pakai yang lebih merah.


Pukul 19.00, Andre duduk di kursi di sebelah mejaku. Lantai 21 sudah hampir kosong.

“Lo nggak bela diri,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Bela diri dari apa? Nggak ada yang nuduh aku langsung.”

“Justru itu yang bahaya, Ga.” Andre menatapku. Wajahnya tidak bercanda. Aku jarang melihat Andre tidak bercanda. “Orang yang dituduh langsung bisa jawab. Orang yang dibicarain di belakang cuma bisa nunggu.”

Aku tidak menjawab.

“Lo tahu dia yang ngomong ke Raka.”

“Aku tahu.”

“Lo tahu dia ngomong apa?”

“Belum.”

Andre menghela napas panjang. Dia menatap whiteboard taruhan di pojok, yang sudah dia hapus sore tadi tanpa bilang apa-apa pada siapa pun. Sekarang whiteboard itu kosong. Putih bersih. Andre tidak pernah menghapus papan taruhan itu, bahkan waktu Bu Liana memergokinya dan menyuruhnya menghapus. Hari ini dia menghapusnya sendiri, tanpa disuruh siapa pun.

“Ga. Gue temen lo enam tahun. Gue tahu lo selalu mikirin semua orang dulu. Klien, tim, adek lo, bahkan orang yang lo nggak kenal.” Dia berdiri. “Tapi sekali-sekali, lo juga harus mikirin diri lo sendiri. Nggak ada yang bakal masang pintu cadangan buat lo kalau lo sendiri nggak mau.”

Dia pergi. Aku duduk sendirian di lantai 21 yang gelap, dengan satu lampu menyala di atas mejaku.

Di kepalaku, tanpa izin, angka itu datang lagi. Sembilan puluh hari.

Pukul 21.47, ponselku bergetar. Nomor yang kusimpan sejak hari pertama kontrak, tapi belum pernah mengirimiku pesan pribadi.

Raka Harsono: Pak Erga. Besok sore, setelah jam kantor. Parkiran B2. Saya mau bicara. Berdua.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu aku membalas: Baik, Mas.

Aku mematikan lampu meja dan duduk di gelap selama beberapa menit, mendengarkan dengung AC dan suara kota di balik kaca. Aku tidak menghitung apa pun. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidak tahu apa yang harus dihitung.