← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Thirty One

Malam yang Sama

POV: Erga

Aku tidak ingat perjalanan dari apartemen ke rumah Harsono.

Aku ingat duduk di meja makan dengan laptop yang tidak kubuka, sejak pukul delapan malam, menatap ponsel yang layarnya kubiarkan menyala. Aku ingat jam di pojok layar berganti dari 21.03 ke 21.04, dan dadaku mengencang tanpa alasan, seperti tubuh yang mengingat sesuatu sebelum kepala sempat memutuskan.

Aku ingat ponsel itu berdering pukul 21.11. Namanya. Suaranya yang gemetar.

Dia bilang kalimat yang sama.

Setelah itu, yang kuingat hanya potongan. Kunci yang kuambil dari meja. Pintu yang tidak kututup. Tangga darurat, sembilan lantai, karena lift terlalu lama. Andre di lobi, karena Nala sedang di apartemenku dan Andre sedang menjemputnya, dan Andre melihat wajahku dan tidak bertanya apa-apa, hanya berlari ke mobilnya dan menyalakan mesin sebelum aku sempat masuk.

Andre menerobos dua lampu kuning dan satu lampu merah. Aku tidak memprotes. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli pada lampu merah.

Dan sekarang, aku berdiri di depan pagar hitam rumah Harsono, dengan sandal rumah dan kaus abu-abu, di bawah pohon mangga yang dibungkus ratusan lampu kecil berkelap-kelip, dan dia berdiri di depanku.

Matanya merah. Maskaranya luntur sampai ke pipi. Dia memakai jaket kanvasku. Dia tidak bergerak.

Aku juga tidak bergerak.

Aku ingin memeluknya. Aku belum pernah menginginkan sesuatu sekuat itu. Tapi di belakangnya ada rumah yang pintunya terbuka, dan dari dalam rumah itu aku mendengar suara orang menangis, dan suara ponsel yang berdering tanpa henti.

“Mas Raka di mana?” tanyaku.

“Kamar. Dikunci. Dua kali.”

“Papa kamu?”

“Ruang kerja. Lampunya mati.”

“Mama?”

Bibirnya bergetar. “Di sofa. Masih pegang pulpen.”

Aku mengangguk. Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan. Keluarkan.

“Oke,” kataku. “Satu-satu.”


Ruang keluarga Harsono terlihat seperti lokasi kecelakaan yang semua korbannya masih hidup.

Bau parfum pecah menggantung di udara, manis dan berat. Isi kotak seserahan tersusun rapi di atas meja, entah oleh siapa, sepatu putih gading di tengahnya seperti barang pajangan. Bu Ratna duduk di sofa dengan buku kecil terbuka di pangkuan dan pulpen di tangan. Dia menatap kosong ke depan.

Di sebelahnya, seorang perempuan berusia tiga puluhan dengan headset di leher sedang menangis pelan sambil memegang dua ponsel yang bergetar bersamaan. Koordinator WO, pasti. Dia melihatku masuk dan menatapku dengan wajah orang yang tidak tahu siapa aku dan tidak peduli, selama aku bisa melakukan sesuatu.

“Ponselnya dari siapa?” tanyaku.

“Katering,” katanya di sela isak. “Sama dekorasi. Mereka dengar. Nggak tahu dari mana. Akun gosip. Sheila hapus semua foto prewed dari Instagram-nya setengah jam lalu, dan ada akun yang langsung nyadar.” Dia mengangkat tablet. “Ada wartawan juga. Dua. Dari media bisnis. Nanya konfirmasi ke humas Nayara, terus humas nanya ke saya, terus saya nggak tahu harus jawab apa, Mas. Saya nggak tahu. Delapan tahun saya jadi WO, belum pernah—”

“Oke.” Aku duduk di kursi di seberangnya. “Siapa nama Mbak?”

“Rina.”

“Mbak Rina. Nggak usah angkat telepon dulu. Semuanya. Kasih saya tablet Mbak dan daftar vendornya.”

Dia menatapku. Lalu dia menyerahkan tabletnya.

Aku membuka daftar itu. Dua puluh enam vendor. Gedung. Katering. Dekorasi. Pelaminan. Busana. Rias. Fotografer. Videografer. Musik. Undangan. Suvenir. Tenda. Kursi. Genset. Dan seterusnya.

Aku sudah pernah membaca daftar seperti ini. Aku pernah menulisnya sendiri. Tab kedelapan.

“Kertas,” kataku.

Bu Ratna, tanpa bicara, menyerahkan buku kecilnya dan pulpen di tangannya padaku. Aku membalik ke halaman kosong.

Aku mulai menulis.

Urutan pertama: vendor dengan uang muka terbesar dan klausul pembatalan paling ketat. Telepon besok jam delapan, sebelum mereka dengar dari orang lain.

Urutan kedua: vendor yang sudah memproduksi barang (undangan, suvenir, seserahan). Negosiasi: barang tetap diambil, sisa pembayaran dinegosiasikan.

Urutan ketiga: vendor jasa (fotografer, musik, rias). Kebanyakan bisa diundur tanpa biaya kalau diberi tahu minimal lima hari.

Urutan terakhir: gedung. Karena gedung paling lama membalas, dan paling butuh diplomasi.

Lalu halaman berikutnya.

Keluarga besar: jangan telepon satu-satu malam ini. Satu pesan singkat dari Pak Bram atau Bu Ratna, dikirim besok pagi jam tujuh. Kalimatnya: “Dengan berat hati, kami sekeluarga menyampaikan bahwa pernikahan Raka dibatalkan. Kami mohon doa dan pengertian, dan mohon tidak menanyakan detail untuk sementara.” Jangan jelaskan alasannya. Jangan sebut nama siapa pun.

Tamu dari luar kota: telepon satu-satu besok siang. Tawarkan penggantian tiket.

Halaman ketiga.

Media: satu pernyataan dari humas Nayara, malam ini, dua kalimat. “Keluarga Harsono mengonfirmasi bahwa rencana pernikahan Bapak Raka Harsono tidak dilanjutkan. Keluarga memohon privasi dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut.” Tidak ada wawancara. Tidak ada nama pihak lain.

Aku menulis tanpa berhenti. Dua puluh menit. Tanganku tidak gemetar. Kepalaku jernih seperti di war room Twin Day, seperti di warung kopi Bu Yati, seperti setiap kali ada sesuatu yang runtuh dan aku tahu persis urutan untuk menopangnya.

Waktu aku mengangkat wajah, ruangan itu sunyi.

Mbak Rina sudah berhenti menangis. Dia menatap tiga halaman di buku kecil itu dengan mulut sedikit terbuka. Andre berdiri di ambang pintu, entah sejak kapan, dengan tangan di saku dan wajah yang tidak bercanda. Bella berdiri di dekat tangga, memeluk jaketnya sendiri.

Dan Pak Bram berdiri di pintu ruang kerjanya. Dia pasti mendengar semuanya. Dia menatapku, lalu menatap buku kecil di tanganku.

Bu Ratna mengambil buku itu dari tanganku. Pelan. Dia membacanya. Tangannya mulai gemetar lagi, tapi kali ini dia tidak menatap kosong. Dia membaca setiap baris.

“Nak Erga,” katanya. Suaranya parau. “Kamu tahu semua ini dari mana?”

Aku menatap lantai marmer. Di sana, di dekat kaki sofa, masih ada satu serpihan kaca kecil dari botol parfum yang pecah.

“Aku pernah ngerjain ini sendirian, Bu,” kataku.

Bu Ratna menutup mulutnya dengan tangan.

“Kalian nggak perlu,” tambahku.


Pak Bram yang bergerak lebih dulu.

Dia berjalan ke tengah ruangan, mengambil ponsel dari saku, dan menelepon humas Nayara di depan kami semua. Dia membacakan dua kalimat dari halaman ketiga, kata demi kata, dengan suara tegas yang dia pakai untuk memimpin rapat direksi. Lalu dia menutup telepon.

“Rina,” katanya. “Besok jam delapan, kamu mulai dari daftar ini. Urutannya jangan diubah.”

“Baik, Pak.”

“Ratna. Besok jam tujuh, kamu kirim pesan ke keluarga besar. Kalimatnya jangan diubah.”

Bu Ratna mengangguk, masih menutup mulutnya.

Lalu Pak Bram menoleh ke arah tangga. Ke lantai atas. Ke pintu yang dikunci dua kali.

Aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah laki-laki yang bisa memotong anggaran IT lima belas persen karena kalah main catur. Ketidaktahuan. Seperti orang yang bisa menyelesaikan semua masalah di dunia, kecuali yang satu ini.

Dia berjalan ke ruang kerjanya. Dia kembali dengan kotak kayu berisi papan catur.

Dia berjalan melewati kami semua, keluar ke pintu samping, ke taman belakang. Aku mendengar dia meletakkan papan catur itu di meja taman. Lalu dia kembali masuk, dan berdiri di dekat jendela yang menghadap ke taman, dengan tangan di belakang punggung.

Tidak ada yang bertanya kenapa. Aku mengerti. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk anaknya. Jadi dia melakukan satu-satunya hal yang dia tahu: meletakkan sesuatu di tempat di mana anaknya mungkin akan datang, dan menunggu.


Pukul 22.40, aku keluar ke taman belakang untuk menghirup udara.

Taman itu kecil dan rapi. Rumput yang dipangkas, pot-pot anggrek, dan meja batu dengan dua bangku di bawah pohon rambutan. Papan catur Pak Bram tergeletak di atas meja itu, bidak-bidaknya belum disusun, masih di dalam kotak.

Dan di salah satu bangku, dengan kemeja yang kusut dan wajah yang tidak bisa kulihat karena dia menunduk, duduk Raka.

Dia pasti turun lewat tangga belakang. Dia pasti sudah di sini sejak lama. Dia tidak mengangkat wajah waktu mendengar langkahku.

Aku berdiri di sana. Aku bisa kembali ke dalam. Aku seharusnya kembali ke dalam. Aku adalah orang terakhir di dunia yang seharusnya duduk di sebelahnya malam ini.

Aku duduk di bangku yang lain. Di seberangnya, dengan papan catur yang belum disusun di antara kami.

Lama, tidak ada yang bicara. Lampu-lampu kecil di pohon mangga di halaman depan terlihat dari sini, berkedip samar di balik pagar samping. Jangkrik berbunyi. Dari dalam rumah, sesekali, terdengar ponsel yang bergetar.

“Kamu dulu,” kata Raka akhirnya. Suaranya habis. “Kamu dulu gini juga?”

“Iya.”

“Selasa?”

“Selasa.”

Dia tertawa. Pendek. Hancur.

“Jam berapa?”

“Sembilan lewat empat.”

Dia mengangkat wajah. Matanya merah, bengkak, dan kosong. Dia menatapku lama, seperti orang yang baru menyadari bahwa hantu yang selama ini dia takuti ternyata juga korban dari rumah yang sama.

“Terus kamu ngapain?” tanyanya. “Malam itu?”

“Aku bikin daftar.” Aku menatap papan catur di antara kami. “Dua puluh tiga vendor. Terus Sabtunya, hari yang harusnya akad, aku duduk di balkon dari sore sampai malam. Adikku duduk di sebelahku.”

Raka menunduk lagi. Tangannya meremas lututnya.

Dan dia mengatakannya. Pelan. Tidak kepada siapa-siapa. Persis seperti aku, tiga tahun lalu, di balkon rumah orang tuaku, dengan Nala menggenggam ujung lengan bajuku.

“Aku nggak akan jatuh cinta lagi.”


Kalimat itu jatuh di antara kami, di atas papan catur yang belum disusun, dan aku mendengarnya seperti mendengar suaraku sendiri dari tiga tahun lalu, direkam, lalu diputar kembali di taman orang lain.

Aku tahu kalimat itu. Aku tahu betapa masuk akalnya kalimat itu. Aku tahu betapa amannya, betapa rapinya, seperti dinding yang dibangun bata demi bata dengan tangan yang sama yang menelepon dua puluh tiga vendor. Aku tinggal di balik dinding itu selama tiga tahun.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu database butuh lebih banyak kursi, bahwa dinding itu tidak melindungiku dari apa pun.

“Jangan,” kataku.

Raka mengangkat wajah.

“Jangan, Mas.” Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. Lebih retak. “Aku pernah bilang itu. Persis itu. Tiga tahun aku pegang kalimat itu kayak pegangan terakhir.” Aku menarik napas. “Tiga tahun aku salah.”

Raka menatapku.

“Aku pikir cinta punya tanggal kadaluarsa, Mas. Aku pikir kalau cinta dia habis, berarti semua cinta bakal habis. Jadi mending nggak usah mulai.” Aku menatap papan catur itu, bidak-bidak yang masih di dalam kotak. “Tapi malam ini aku dengar dia ngomong kalimat yang sama. Persis sama. Hari yang sama. Jam yang sama. Ke orang yang beda.”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya.

“Cinta nggak kadaluarsa, Mas. Orangnya aja yang gampang nyerah.”

Raka tidak bergerak.

Aku melihatnya terjadi di wajahnya. Pelan. Seperti program yang menerima input terakhir yang dia butuhkan untuk menyelesaikan perhitungan yang sudah berbulan-bulan tertunda. Dua gambar yang tidak pernah mau menyatu. Laki-laki yang memasang pintu cadangan tanpa diminta. Laki-laki yang memperbaiki sistem dari warung kopi. Laki-laki yang baru saja menulis tiga halaman daftar pembatalan di buku kecil ibunya, dalam dua puluh menit, dengan tangan yang tidak gemetar.

Dan laki-laki yang diceritakan kepadanya, yang katanya mengatur semuanya sampai orang lain tidak bisa bernapas.

“Dia bilang kamu kasar,” kata Raka pelan.

“Aku tahu.”

“Dia bilang kamu ngatur semuanya. Kayak tinggal di spreadsheet.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak pernah bantah.” Suaranya pecah. “Di B2. Aku pegang kerah kamu. Kamu nggak bilang apa-apa. Kamu bisa bilang semuanya. Kenapa kamu diam?”

Aku menatapnya. Aku memikirkan dapur rumah ini, berbulan-bulan lalu. Gelas air dingin. Datang lagi, ya. Serius.

“Karena aku nggak mau kamu ngerasain malam ini, Mas,” kataku.

Raka menatapku selama lima detik penuh. Lalu wajahnya runtuh. Tidak ada versi senyum. Tidak ada versi apa pun. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan bahunya bergetar, dan suara yang keluar dari balik tangannya adalah suara laki-laki dewasa yang menangis untuk pertama kalinya di depan orang yang dia pikir musuhnya.

“Maaf,” katanya di balik tangannya. “Maaf, Ga. Maaf. Maaf.”

Dia memanggilku Ga.

Aku tidak menjawab. Aku bangun dari bangku di seberangnya, berjalan memutari meja batu, dan duduk di bangku yang sama, di sebelahnya. Aku tidak memeluknya. Aku tidak menepuk bahunya. Aku hanya duduk di sana.

Seperti Nala, di balkon, tiga tahun lalu.

Di jendela yang menghadap taman, aku melihat bayangan Pak Bram. Dia masih berdiri di sana, tangan di belakang punggung. Dia tidak bergerak. Tapi aku melihatnya mengangkat satu tangan, pelan, dan menyeka sesuatu dari wajahnya.


Pukul 23.20, Raka masuk ke dalam. Pak Bram menemuinya di pintu samping, dan aku melihat ayah itu merangkul anaknya untuk pertama kalinya malam itu. Tidak ada kata. Hanya rangkulan. Lalu mereka berdua masuk ke ruang kerja, dan pintunya ditutup rapat.

Aku berdiri di taman sendirian.

Aku menyadari sesuatu yang aneh. Di kepalaku, tidak ada angka. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada tujuh, atau enam, atau pintu keluar mana pun yang harus kuhitung. Untuk pertama kalinya sejak pesta launching Nayara+, kepalaku sunyi.

Hanya satu hal yang tersisa di kepalaku. Satu nama.

Aku masuk ke rumah. Ruang keluarga sudah lebih tenang. Bu Ratna tidur di sofa dengan selimut yang entah siapa sampirkan. Mbak Rina sudah pulang. Andre duduk di tangga, mengetik sesuatu di ponselnya, dan waktu dia melihatku, dia hanya menunjuk ke satu arah dengan dagunya.

Dapur.


Dia berdiri di depan wastafel, membelakangi pintu.

Air keran tidak menyala. Dia hanya berdiri di sana, dengan kedua tangan di pinggir wastafel, kepala menunduk, bahu bergetar. Jaket kanvasku jatuh setengah dari satu bahunya.

Dia sedang menangis. Pelan. Tanpa suara. Untuk kakaknya.

Aku berdiri di ambang pintu dapur. Lampu di atas wastafel menyala kuning, satu-satunya lampu yang menyala di ruangan itu. Kulkas berdengung.

Dia mendengar langkahku. Dia tidak berbalik.

“Lima menit?” katanya ke arah wastafel. Suaranya pecah di tengah.

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan ke arahnya. Tiga langkah. Aku tidak menghitungnya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku.

Dia menegang sesaat, terkejut, lalu seluruh tubuhnya melemas. Dia berbalik di dalam pelukanku, wajahnya menempel di dadaku, di kaus abu-abu yang sudah terlalu sering dicuci, dan tangannya mencengkeram kain di punggungku seperti orang yang takut tenggelam. Dia menangis lebih keras sekarang. Aku merasakannya di dadaku, basah dan hangat.

Aku memeluknya lebih erat. Satu tangan di punggungnya. Satu tangan di belakang kepalanya, jari-jari di rambutnya. Rambut yang hampir kusentuh di dalam mobil, empat puluh menit, berbulan-bulan lalu. Tanganku tidak turun lagi kali ini.

Aku menunduk. Aku menempelkan bibirku di rambutnya, di puncak kepalanya, tidak mencium, hanya menempel, dan aku menghirup baunya. Hujan di atas kulit jeruk. Dan sedikit bau parfum pecah dari ruang keluarga.

“Aku yang mulai sekarang,” kataku ke rambutnya.

Dia berhenti menangis. Tidak sepenuhnya. Tapi napasnya berhenti di tengah isak.

Dia tidak mengangkat wajah. Dia tidak bertanya apa maksudku. Dia hanya mencengkeram kausku lebih erat, dan aku merasakannya mengangguk di dadaku. Pelan. Satu kali.

Kami berdiri di sana, di dapur yang hanya diterangi satu lampu kuning, dengan kulkas yang berdengung dan jangkrik di luar jendela. Lima menit. Lalu lebih.

Aku tidak menghitung.