← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Nineteen

Hampir

POV: Erga

Jumat, Bu Liana meneleponku pukul tujuh pagi dan menyarankan aku bekerja dari rumah.

“Bukan hukuman, Ga,” katanya, dengan suara yang terlalu hati-hati untuk bukan hukuman. “Pak Darmawan sudah jelaskan semuanya ke saya. Pak Bram juga sudah kirim pesan pribadi. Kamu aman. Tapi Pak Raka masih… yah. Biar suasananya dingin dulu. Satu hari.”

“Oke, Bu.”

“Kamu nggak mau cerita apa yang sebenarnya terjadi?”

“Nggak ada yang perlu diceritakan, Bu.”

Dia diam sebentar. Bu Liana sudah enam tahun menjadi atasanku. Dia tahu nada suaraku seperti aku tahu log server.

“Ga,” katanya. “Kamu tahu apa yang paling aku khawatirkan dari kamu? Bukan kerjaan kamu. Kerjaan kamu nggak pernah salah.” Dia menarik napas. “Yang aku khawatirkan, kamu terlalu jago nahan sesuatu. Sampai suatu hari kamu lupa kamu lagi nahan.”

Dia menutup telepon sebelum aku bisa menjawab.


Aku bekerja dari meja makan apartemenku. Empat belas jam. Aku menulis dokumen desain untuk fase dua, merapikan runbook yang sudah dicoret-coret Pak Gunawan dengan pulpen merah, dan membalas enam belas pertanyaan dari Yoga yang semuanya diawali dengan Pak, maaf ganggu, tapi.

Aku tidak membuka NayaraDesk. Tidak ada tiket baru yang masuk. Aku mengeceknya tiga kali untuk memastikan.

Di sela-sela pekerjaan, kalimat Raka kembali. Bukan yang soal pantry. Yang itu jelas bohong, dan aku bisa hidup dengan kebohongan yang jelas. Yang kembali adalah kalimat lain.

Kamu ngatur semuanya. Semua keputusan. Semua jadwal. Semua vendor. Dia nggak pernah boleh milih apa-apa.

Tinggal sama kamu rasanya kayak tinggal di dalam spreadsheet.

Aku membuka laptop lama di laci. Laptop yang sudah tiga tahun tidak kunyalakan. Aku mencari file itu. Spreadsheet tujuh tab, ditambah tab kedelapan: Pembatalan.

Aku membuka tab pertama. Venue. Tiga opsi, dengan harga, kapasitas, jarak dari rumah dua keluarga. Di kolom paling kanan ada catatan. Sheila suka Graha Sasmita. Katanya lampu gantungnya kayak di film. Tab kedua. Katering. Lima vendor. Sheila nggak suka yang pakai santan. Coret dua. Tab ketiga. Undangan. Sheila mau krem, bukan putih. Huruf emas timbul.

Setiap tab. Setiap keputusan. Setiap catatan di kolom paling kanan dimulai dengan nama yang sama.

Aku menatap layar itu lama.

Aku tidak mengatur semuanya. Aku mengurus semuanya. Berdasarkan apa yang dia minta. Dan waktu dia bilang capek, aku bilang biar aku saja. Waktu dia bilang tidak sanggup memilih antara dua katering, aku bilang biar aku yang hubungi keduanya. Waktu dia bilang pusing dengan daftar tamu, aku bilang biar aku yang susun.

Tapi mungkin itu sama saja. Mungkin biar aku saja yang diulang terlalu sering berubah jadi sesuatu yang lain. Mungkin dari sisi seberang meja, orang yang terus-terusan mengurus semuanya terlihat seperti orang yang tidak memberi ruang. Mungkin dia benar. Mungkin aku memang—

Aku menutup laptop itu. Aku memasukkannya kembali ke laci. Aku tidak mau menyelesaikan kalimat itu.

Aku kembali ke dokumen fase dua dan menulis empat halaman tanpa berhenti. Sistem tidak pernah bertanya apakah aku orang yang terlalu banyak mengurus. Sistem hanya bertanya apakah jawabanku benar, dan kalau benar, sistem berjalan. Kalau salah, sistem memberi tahu di mana salahnya. Sistem tidak pernah pergi hari Selasa tanpa memberi tahu di mana salahnya.


Pukul 21.07, bel apartemenku berbunyi.

Aku tidak menunggu siapa pun. Nala sedang di Bogor, katanya ada liputan kuliner. Andre tidak pernah datang tanpa mengirim empat belas stiker lebih dulu. Aku membuka pintu dengan sandal rumah dan kaus abu-abu yang sudah terlalu sering dicuci.

Bella berdiri di lorong.

Dia masih memakai baju kantor. Rambutnya berantakan, seperti sudah berkali-kali disisir dengan jari. Maskaranya sedikit luntur di bawah mata kiri. Dia memegang ponselnya di satu tangan, dan tangan itu gemetar.

“Aku minta alamat kamu ke Nala,” katanya, sebelum aku sempat bertanya. “Dia kasih. Terus dia bilang, Kak, kalau Abang nggak bukain, pencet belnya tujuh kali, nanti dia buka karena nggak tahan sama bunyinya.”

Aku berdiri di ambang pintu. Aku tahu aku harus bilang sesuatu yang masuk akal. Ini sudah malam. Kamu nggak seharusnya di sini. Mas Raka—

“Masuk,” kataku.


Dia tidak duduk. Dia berdiri di tengah ruang tamuku yang kecil, di antara sofa abu-abu dan meja makan yang penuh kertas desain, dan menatapku dengan mata merah.

“Kenapa kamu biarin dia bohong?”

Aku menutup pintu.

“Kemarin. Di B2. Mas Raka ngomong semua itu, dan kamu diam. Kamu diam, Erga.” Suaranya pecah. “Kamu biarin dia bilang kamu kasar. Kamu biarin dia bilang kamu nutup pintu pantry. Kamu biarin dia pegang kerah kamu. Dan kamu nggak bilang satu kata pun.”

“Kalau Mas Raka tahu sekarang,” kataku pelan, “yang hancur dia, bukan Sheila.”

“Terus kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Siapa yang jagain kamu?” Dia melangkah maju. “Kamu masang pintu cadangan buat gateway pembayaran. Kamu nulis postmortem biar Yoga nggak dipecat. Kamu nungguin aku di B2 sampai aku jalan. Kamu jagain semua orang. Semua sistem. Semua pelanggan yang nggak tahu nama kamu.” Air mata jatuh di pipinya, dan dia tidak mengusapnya. “Siapa yang jagain kamu?”

Aku menatapnya. Aku tidak punya jawaban untuk itu. Aku tidak pernah memikirkan pertanyaan itu, karena selama tiga tahun, tidak ada yang pernah menanyakannya.

“Dia bilang aku ngatur semuanya,” kataku.

Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. Lebih retak.

Bella berhenti.

“Mungkin dia benar.” Aku menatap meja makan, kertas-kertas desain yang tersusun rapi. “Aku buka spreadsheet-nya tadi. Tujuh tab. Setiap keputusan. Aku yang pegang semuanya, Bel. Mungkin dari sisi dia, itu kelihatan kayak—”

“Nggak.”

Satu kata. Tegas. Seperti pintu yang dibanting.

Dia melangkah lagi. Sekarang dia berdiri tepat di depanku.

“Kamu nggak ngatur aku,” katanya. “Kamu nanya. Kamu selalu nanya.” Dia menghitung dengan jari, dan jarinya gemetar. “Di rooftop, aku bilang jangan tanya kenapa, dan kamu nggak nanya. Di ruang makan, waktu kamu pegang tangan aku, kamu nggak bilang apa-apa ke Kak Sheila atas nama aku. Kamu biarin aku yang milih mau ngomong atau nggak. Dan kemarin, waktu Mas Raka tanya soal aku, kamu bilang itu keputusan Bella.”

Dia menarik napas yang gemetar.

“Orang yang ngatur semuanya nggak bilang itu keputusan Bella, Erga. Orang yang ngatur semuanya nggak nunggu di balik kaca dua puluh meter jauhnya karena takut kehadirannya bikin aku susah.” Suaranya turun, hampir berbisik. “Kamu nggak ngatur. Kamu ngurus. Itu beda. Dan orang yang nggak bisa bedain dua hal itu nggak pantas dapat spreadsheet tujuh tab dari kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

Ruangan itu sangat sunyi. Aku bisa mendengar kulkas berdengung di dapur. Aku bisa mendengar napasnya, cepat dan tidak teratur. Aku bisa mendengar jantungku sendiri, dan itu yang paling keras.

Tanganku bergerak sebelum aku memutuskan. Seperti di bawah meja makan. Seperti di zebra cross. Refleks.

Aku mengangkat tangan kananku dan menyentuh wajahnya. Ibu jariku mengusap air mata di bawah mata kirinya, yang bercampur maskara, dan telapak tanganku berhenti di sisi rahangnya.

Dia berhenti bernapas.

Kulitnya hangat. Basah. Aku merasakan detak nadinya di bawah jariku, di dekat telinga, cepat seperti burung.

Aku tahu aku harus menarik tanganku. Aku tahu semua alasannya. Aku sudah menyusunnya berkali-kali, seperti dokumen arsitektur. Raka. Sheila. Keluarga Harsono. Seratus lima puluh hari yang sekarang tinggal delapan puluh delapan. Tanggal kadaluarsa yang selalu ada, tercetak di balik kemasan, bahkan kalau aku belum membacanya.

Tanganku tidak mau pergi.

“Bel,” kataku. Suaraku serak. “Kalau kamu nggak mundur sekarang, aku nggak yakin aku yang bakal mundur.”

Dia menatapku. Matanya masih basah. Tapi dia tidak mundur. Dia mengangkat tangannya sendiri, pelan, dan meletakkannya di atas punggung tanganku yang menempel di wajahnya. Seperti mengunci sesuatu di tempatnya.

“Siapa bilang,” bisiknya, “aku mau kamu mundur?”

Aku menunduk.

Jaraknya menyempit. Sejengkal. Setengah jengkal. Aku bisa merasakan napasnya di bibirku, gemetar, beraroma teh melati yang dia minum entah kapan. Matanya setengah terpejam. Bulu matanya basah. Jarak antara kami tinggal sesuatu yang lebih tipis dari selembar kertas undangan.

Klik.

Kunci pintu apartemenku berputar.


Pintu terbuka lebar.

“BANG, AKU BAWA MARTABAK! Andre bilang Abang pasti belum ma—”

Nala berhenti di ambang pintu.

Dia memegang kotak martabak di tangan kiri. Tangan kanannya menggandeng tangan seseorang. Seseorang yang juga berhenti di ambang pintu, dengan kantong plastik berisi dua botol teh dingin, dan wajah yang perlahan-lahan berubah dari santai menjadi syok menjadi horor menjadi sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan.

Andre.

Andre, menggandeng tangan adikku.

Aku masih berdiri dengan tangan di wajah Bella. Bella masih berdiri dengan tangan di atas tanganku. Kami berempat membeku, seperti empat tab yang crash di detik yang sama.

Tiga detik. Tidak ada yang bergerak.

Lalu dua suara keluar bersamaan, dari dua arah yang berbeda, dengan nada yang persis sama.

“KALIAN?!”

Aku, menatap tangan Nala di tangan Andre.

Nala dan Andre, menatap tanganku di wajah Bella.

Bella menarik diri. Aku menarik tanganku. Nala menarik tangannya dari genggaman Andre dengan kecepatan orang yang memegang kompor panas. Andre menjatuhkan kantong plastik berisi teh dingin, dan satu botolnya menggelinding pelan melintasi lantai sampai berhenti di kaki sofa.

“Bang,” kata Nala, suaranya naik satu oktaf. “Bang, ini—aku bisa jelasin.”

“Kamu bilang kamu di Bogor.”

“Aku memang di Bogor. Tadi siang. Terus Andre jemput.”

“Andre jemput?”

“Ga,” kata Andre, mengangkat kedua tangannya seperti orang yang ditodong pistol. “Ga, dengerin gue dulu—”

“Sejak kapan?”

Nala dan Andre saling pandang.

“Sejak karaoke,” kata Nala pelan.

“Sejak karaoke?”

“Abang juga!” Nala menunjukku dengan kotak martabak. “Abang juga pegang-pegang muka Kak Bella! Di apartemen! Jam sembilan malam! Abang nggak berhak nanya-nanya!”

“Itu—”

“Itu apa, Bang? Itu refleks?”

Di sebelahku, Bella mengeluarkan suara aneh. Seperti orang yang tersedak tawa di tengah tangisan. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan bahunya mulai bergetar.

Andre memungut botol teh yang menggelinding. Dia berdiri, menatapku, lalu menatap Bella, lalu kembali menatapku. Wajahnya berubah lagi, pelan-pelan, dari takut menjadi sesuatu yang sangat mirip rasa puas.

“Ga,” katanya pelan. “Lo tahu gue udah hapus papan taruhan, kan.”

“Ndre.”

“Gue nyesel banget udah hapus papan taruhan.”


Mereka duduk di sofa. Aku berdiri di dapur, memotong martabak dengan pisau, karena aku butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tanganku yang tidak melibatkan wajah siapa pun.

Nala menjelaskan dengan cepat, seperti biasa kalau dia gugup. Malam karaoke. Andre mengantarnya pulang. Mereka mengobrol di mobil sampai jam tiga pagi. Lalu makan siang Minggu. Lalu Selasa. Lalu hampir setiap hari.

“Aku mau bilang, Bang,” katanya. “Tapi Abang lagi ribet sama Mas Raka. Aku nggak mau nambahin.”

Aku meletakkan pisau.

Di sofa, Andre duduk dengan punggung sangat tegak, seperti anak yang menunggu dipanggil kepala sekolah. Aku menatapnya. Laki-laki yang sudah enam tahun menjadi temanku. Yang menjebakku ke pesta itu. Yang mengirim tujuh gelas kopi. Yang menghapus papan taruhan tanpa disuruh siapa pun.

“Ndre,” kataku.

Dia menelan ludah. “Ya, Ga.”

“Kalau kamu bikin dia nangis—”

“Gue tahu.”

“Aku belum selesai.”

“Maaf.”

“Kalau kamu bikin dia nangis,” ulangku, datar, “aku yang nulis postmortem-nya. Dan nama kamu ada di bagian akar masalah.”

Andre mengangguk sangat cepat. Nala menutup wajahnya dengan bantal sofa. Bella, yang sejak tadi duduk di kursi makan dengan mata yang masih merah, tertawa sampai air matanya keluar lagi. Kali ini bukan karena sedih.

Setelah tawanya reda, Bella mengambil sepotong martabak dari piring, lalu menoleh ke Andre dengan wajah serius seorang investor.

“Mas Andre. Taruhanku gimana?”

Andre berkedip. “Taruhan Ibu… minggu delapan, Bu.”

“Terus?”

“Minggu delapan udah lewat dua minggu, Bu. Secara teknis, hangus.”

“Tapi tadi hampir.”

“Hampir nggak dihitung, Bu. Aturannya jelas.”

Bella menggigit martabaknya pelan-pelan, mengunyah, lalu menelan. “Tergantung siapa wasitnya,” katanya.

Andre menoleh padaku. Nala menoleh padaku. Bella tidak menoleh padaku, tapi aku melihat telinganya memerah, dan aku tahu dia sedang menunggu.

Aku mengambil sepotong martabak dan tidak berkata apa-apa. Wasit tidak boleh berkomentar. Itu juga aturan.


Bella pulang pukul sepuluh lewat. Aku mengantarnya sampai lift. Nala dan Andre tetap di apartemen, dan aku bisa mendengar mereka berbisik-bisik panik di balik pintu yang tidak ditutup rapat.

Di depan lift, Bella berbalik menghadapku. Wajahnya sudah lebih tenang. Maskaranya sudah dihapus dengan tisu dapurku. Dia terlihat lelah, dan sangat muda, dan sangat berbahaya.

“Tadi,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kalau Nala nggak masuk.”

Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang tidak melanggar semua aturanku.

Lift berdenting. Pintunya terbuka. Dia masuk, lalu berbalik, dan menahan pintu dengan satu tangan.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “Nala punya kunci apartemen kamu.”

“Tahu.”

“Besok ganti kuncinya.”

Pintu lift menutup sebelum aku bisa menjawab.

Aku berdiri di lorong yang sepi, menatap pintu lift yang tertutup, dan mengangkat tangan kananku. Tangan yang tadi di wajahnya. Masih ada sedikit bekas maskara di ibu jariku, hitam, pudar.

Aku tidak mencucinya sampai pagi.