← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Thirty Five

Hari Kamis

POV: Bella

Seminggu setelah rooftop, aku sudah menjatuhkan ponselku empat kali.

Yang pertama di rapat marketing, karena satu kata di speaker. Yang kedua di pantry, karena dia berdiri di belakangku waktu aku menuang air panas dan berkata hati-hati, panas dengan suara yang terlalu dekat dengan telingaku. Yang ketiga di parkiran, karena dia mengirim pesan Aku lihat kamu dari jendela. Kamu jalan terlalu cepat. Pelan-pelan. Dan yang keempat di kamarku sendiri, jam sebelas malam, karena dia mengirim foto telur dadar yang dipotong delapan dengan satu kalimat di bawahnya: Besok. Buat kamu. Selalu buat kamu.

Mama bertanya kenapa layar ponselku retak. Aku bilang ponselnya licin.

“Ponselnya yang licin,” kata Mama, “atau laki-lakinya?”

Aku tidak menjawab. Mama tertawa sampai masker wajah hijaunya retak lagi.

Aku tidak tahu laki-laki ini ada di balik dinding itu selama ini. Laki-laki yang memasang alarm setiap tiga jam untuk bertanya aku sudah makan atau belum. Laki-laki yang mengubah statusnya jadi Away setiap kali aku rapat terlalu lama. Laki-laki yang berbisik di lift yang penuh sepuluh orang, dan di rapat direksi, dan di balik pintu kulkas pantry, dengan suara datar yang membuatku lupa cara bernapas.

Dia berbahaya. Aku sudah tahu itu sejak tangga darurat. Aku hanya tidak tahu seberapa berbahaya, kalau dia berhenti menahan diri.


Hari Selasa, dia bertanya jadwalku untuk Kamis.

“Kamis sore kosong?”

“Kenapa?”

“Kosong atau nggak?”

“Ada rapat vendor jam tiga. Selesai jam empat.”

“Jam lima setengah,” katanya. “Jangan bikin janji lain.”

“Mau ke mana?”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menulis sesuatu di buku catatan kecilnya, lalu menutupnya, dan kembali ke laptopnya seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.

Hari Rabu, dia bertanya lagi. “Kamis jam lima setengah. Masih kosong?”

“Masih.”

Hari Kamis pagi, jam delapan, dia mengirim pesan. Jam lima setengah. Lobi.

Jam dua belas, di rooftop, sambil makan telur dadar, dia bertanya lagi. “Nanti sore. Kamu nggak lupa, kan?”

“Ga. Kamu udah nanya empat kali.”

“Lima,” katanya. “Satu di pesan.”

Aku menatapnya. Dia sedang memotong telur dengan sendok, dan jarinya sedikit gemetar. Sangat sedikit. Kalau aku tidak memperhatikan, aku tidak akan melihatnya.

Laki-laki yang tidak gemetar di depan server yang terbakar sedang gemetar di depan telur dadar.

Aku tidak bertanya kenapa. Aku sudah belajar menunggu.


Pukul 16.10, dia kembali dari toilet dengan blazer gelap di atas kemejanya.

Lantai 21 berhenti bekerja.

Aku tidak melebih-lebihkan. Yoga berhenti mengetik. Mbak Tika berhenti mengunyah keripik. Seorang staf finance yang sedang lewat membawa map berhenti di tengah lorong, menatap blazer itu, lalu menatap aku, lalu berjalan lagi dengan sangat pelan.

Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.

Cece: Laporan khusus. Pak Architect pakai BLAZER. Ulangi: BLAZER. Dalam tiga bulan pengamatan, subjek tidak pernah pakai blazer. Kemungkinan penyebab: (a) sidang skripsi, (b) wawancara kerja, (c) sesuatu yang jauh lebih serius. Tim analis condong ke (c).

Mbak Tika: Tim analis itu siapa, Ce?

Cece: Saya sendiri, Mbak.

Yoga: Saya juga condong ke (c).

Andre: Gue tahu jawabannya tapi gue udah disumpah.

Mbak Tika: DISUMPAH SIAPA???

Andre: Gue nggak bisa bilang. Gue disumpah. Pakai runbook.

Aku menatap pojok Zogo. Dia sedang merapikan mejanya, dengan blazer yang sedikit kaku di bahu, seperti blazer yang jarang dipakai. Dia tidak menoleh. Tapi dia menjatuhkan stylus waktu memasukkannya ke tas.

Garis kesepuluh.


Pukul 17.30, di lobi. Dia sudah menunggu di dekat pintu putar. Dia memakai blazer gelap di atas kemeja putih. Aku belum pernah melihatnya memakai blazer ke kantor.

“Mobil kamu di mana?” tanyanya.

“Basement.”

Dia mengulurkan tangan. Telapak terbuka. Seperti malam aku menabrak pintu kaca dua kali.

Aku meletakkan kunci mobilku di sana tanpa bertanya.

Dia menyetir seperti biasa. Persis di batas kecepatan. Lampu sein menyala setiap kali pindah lajur. Berhenti penuh di setiap lampu kuning. Aku menatap profilnya dari kursi penumpang, dan aku menyadari bahwa dia tidak memasang navigasi. Dia tahu jalannya. Dia hafal jalannya.

Kami melewati Sudirman, lalu Thamrin, lalu berbelok ke jalan yang tidak kukenal. Jalan yang lebih tua, dengan pohon-pohon besar di kedua sisinya dan rumah-rumah bergaya kolonial yang sudah diubah jadi kantor.

Lalu dia melambat, dan membelokkan mobil ke halaman sebuah gedung.

Pilar-pilar putih. Tangga marmer. Pintu kaca besar dengan ukiran bunga di pegangannya. Dan di atas pintu, dengan huruf-huruf tembaga yang sudah sedikit kusam:

GRAHA SASMITA

Aku berhenti bernapas.

Aku tahu nama itu. Nala menyebutnya di kafe hijau pastel, dengan es kopi yang tumpah dan mata merah. Gedungnya di Graha Sasmita. Undangannya delapan ratus. Semua udah beres, Kak.

Aku menoleh padanya.

Dia sudah mematikan mesin. Dia duduk dengan kedua tangan di setir, menatap gedung itu melalui kaca depan. Wajahnya tenang. Tapi tangannya di setir menggenggam terlalu erat.

“Ga,” kataku pelan.

“Aku tahu,” katanya. Dia tidak menoleh. “Aku tahu ini aneh.”

“Ini tempatnya.”

“Ini tempatnya.”


Seorang satpam tua berdiri di dekat tangga marmer, dengan sapu di tangan. Dia melihat kami turun dari mobil, menyipitkan mata, lalu wajahnya berubah menjadi senyum lebar dengan gigi yang tidak lengkap.

“Mas yang kemarin!” Dia menyandarkan sapunya di pilar dan berjalan mendekat. “Jadi ambil paketnya?”

Aku menoleh ke Erga.

Erga merogoh saku dalam blazernya. Dia mengeluarkan selembar kertas yang dilipat dua. Brosur mengilap berwarna krem, dengan foto aula berlampu gantung kristal. Lipatannya sudah lembut, seperti kertas yang sering dibuka dan ditutup lagi.

Aku menatap brosur itu. Lalu menatapnya.

“Kamu bawa brosur,” kataku.

“Kamu bilang aku harus selalu punya rencana cadangan.”

“Aku nggak pernah bilang gitu.”

“Kamu bilang aku masang pintu cadangan buat semua orang kecuali diriku sendiri.” Dia melipat brosur itu lagi dan memasukkannya kembali ke saku. “Aku lagi belajar.”

Satpam tua itu menatap kami berdua bergantian. Lalu dia menatapku. Lama. Dari atas ke bawah, dengan cara yang tidak kurang ajar, lebih seperti kakek yang menilai calon cucu menantu.

“Oh,” katanya pelan. Senyumnya melunak. “Ini, ya, Mas?”

Erga tidak menjawab. Tapi telinganya menjawab untuknya.

Satpam tua itu mengangguk pelan, seolah semua pertanyaannya sudah terjawab. “Saya bilang apa, Mas. Yang kedua kali itu senyumnya lebih lebar.” Dia menoleh padaku. “Mbaknya senyum terus dari tadi. Lebar sekali.”

Aku menyentuh wajahku. Aku tidak sadar aku tersenyum.

“Aula kosong, Mas,” kata satpam itu, sambil mengambil kunci dari saku. “Acara besok pagi. Silakan lihat-lihat. Lampunya saya nyalain.”


Aula itu besar.

Lebih besar dari yang kubayangkan dari cerita Nala. Karpet merah marun. Jendela-jendela tinggi dengan tirai krem. Panggung kosong di ujung ruangan. Dan di tengah langit-langit, lampu gantung kristal yang bertingkat-tingkat, menyala terang, memecah cahaya jadi ribuan titik kecil yang menempel di dinding, di karpet, di wajahnya.

Sheila suka Graha Sasmita. Katanya lampu gantungnya kayak di film.

Aku berdiri di ambang pintu aula. Aku tidak berani masuk. Rasanya seperti memasuki ruangan milik orang lain. Ruangan yang pernah menyimpan rencana yang tidak pernah terjadi.

Dia berjalan ke tengah aula, di bawah lampu gantung, dan berhenti. Lalu dia berbalik menghadapku.

“Terakhir kali aku di sini,” katanya, suaranya memantul pelan di ruangan kosong itu, “aku berhenti.”

Aku tidak bergerak dari ambang pintu.

“Aku berhenti percaya. Aku berhenti mulai. Aku berhenti di sini, tiga tahun lalu, dan aku nggak pernah jalan lagi.” Dia menatap lampu gantung di atasnya. “Dua bulan lalu, aku ke sini sendirian. Aku berdiri di tempat ini. Aku merem. Aku bayangin hari itu. Meja kecil di depan panggung. Penghulu. Wali. Aku duduk. Terus aku noleh ke pintu, ke tempat mempelai perempuan masuk.”

Dia menatapku. Aku masih berdiri di pintu itu.

“Yang masuk bukan dia,” katanya.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Yang masuk kamu. Kamu jalan terlalu cepat. Kamu berhenti di depanku sebelum ijab kabul, terus kamu bilang kerahku miring.” Suaranya retak sedikit. “Terus kamu ngacak kerahku. Terus kamu rapiin lagi. Pelan-pelan.”

Air mataku jatuh.

“Aku berdiri di sini dua bulan lalu dan aku sadar aku udah lama nggak mikirin dia. Aku cuma mikirin kamu. Dan aku takut banget, Bel. Aku takut sampai aku pulang dan nggak ngirim foto aula ini ke kamu, padahal aku udah pasang di kolom pesan.”

Dia mengulurkan tangannya. Telapak terbuka. Ke arahku.

“Terakhir kali aku di sini, aku berhenti,” katanya. “Sekarang aku mau mulai dari sini.”


Aku berjalan ke arahnya.

Terlalu cepat. Aku selalu berjalan terlalu cepat. Aku berhenti di depannya, di bawah lampu gantung kristal, di tempat yang tiga tahun lalu seharusnya jadi tempat ijab kabul orang lain.

Aku mengangkat kedua tanganku ke kerah kemejanya. Aku mengacaknya. Kiri ke atas, kanan ke bawah.

“Kerah kamu miring,” kataku, dengan suara basah.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku.

Aku merapikannya lagi. Pelan. Jari-jariku menyusuri tepi kerah dari belakang leher ke depan. Ujung jariku menyentuh kulit lehernya, dan aku merasakan nadinya berdetak cepat, secepat malam di teras rumahku.

“Sekarang rapi,” bisikku.

Tanganku masih di kerahnya. Tangannya naik ke wajahku. Ibu jarinya mengusap air mataku, seperti di ruang tamu apartemennya. Seperti di rooftop. Telapak tangannya berhenti di sisi rahangku, hangat, sedikit kasar di pangkal jari karena stylus dan pisau dan setir mobil orang lain.

Wajahnya dekat. Sejengkal. Setengah jengkal.

Aku menatap bibirnya, lalu matanya. Aku tidak berusaha menyembunyikannya.

“Ga,” bisikku. “Kalau cium aku, jangan kayak deploy hari Jumat.”

Dia berhenti. Setengah jengkal.

“Ragu-ragu,” tambahku.

Aku melihat sudut bibir kirinya bergerak. Lalu kanan. Lalu dia tersenyum, senyum yang penuh, yang berbahaya, di bawah lampu gantung kristal yang memecah cahaya jadi ribuan titik kecil di wajahnya.

“Aku nggak pernah deploy hari Jumat,” katanya pelan.

“Terus?”

Tangannya di rahangku menekan sedikit. Mengangkat wajahku. Napasnya di bibirku.

“Hari ini Kamis.”


Dia menciumku.

Tidak ragu-ragu. Tidak seperti deploy hari Jumat. Seperti sesuatu yang sudah direncanakan dengan sangat teliti, diuji berkali-kali di kepala, lalu dijalankan dengan tangan yang tidak gemetar sama sekali.

Bibirnya hangat. Pelan. Dia menciumku seperti dia menggambar diagram, setiap garis dengan alasan, setiap gerakan dengan urutan. Tangannya di rahangku. Tanganku mencengkeram kerah kemejanya, kerah yang baru saja kurapikan, dan sekarang kuacak lagi tanpa sengaja.

Aku lupa di mana aku berada. Aku lupa lampu gantung itu. Aku lupa satpam tua di pintu. Aku lupa tiga tahun dan dua puluh tiga vendor dan delapan ratus undangan. Aku hanya tahu bibirnya, dan tangannya, dan jantungnya yang berdetak di bawah kepalan tanganku di dadanya, cepat, sangat cepat, jauh lebih cepat dari seharusnya untuk laki-laki yang bisa menyelamatkan sistem pembayaran satu negara dalam dua puluh sembilan detik.

Dia menarik diri. Pelan. Dahinya menempel di dahiku.

Napasku berantakan. Napasnya juga.

“Itu tadi,” kataku, terengah, “versi beta?”

Aku merasakan dia tersenyum, dengan dahinya masih di dahiku.

“Versi beta,” katanya.

“Rilis penuhnya kapan?”

Dia menarik kepalanya sedikit, cukup untuk menatap mataku. Tangannya masih di rahangku. Ibu jarinya mengusap sudut bibirku, tempat lipstikku pasti sudah berantakan.

“Setelah akad,” katanya.

Aku berhenti bernapas lagi.

“Ga—”

“Tahap satu belum, Bel.” Dia menggeleng pelan. “Aku belum nanya. Aku mau nanya dengan benar. Nggak di sini. Nggak sekarang.”

“Terus kapan?”

“Nanti.” Sudut bibir kirinya bergerak. “Kamu yang ngajarin aku. Tanya dulu. Jadi aku lagi nyusun pertanyaannya.”

“Kamu nyusun pertanyaan?”

“Dengan runbook.”

Aku tertawa. Di tengah napas yang masih berantakan dan air mata yang belum kering, aku tertawa sampai harus bersandar di dadanya. Dia memelukku. Dia menempelkan bibirnya di puncak kepalaku, dan aku merasakan dia tertawa juga.


Dari pintu aula, terdengar suara batuk yang sangat disengaja.

Satpam tua itu berdiri di ambang pintu, dengan kunci di tangan dan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Dia mengangkat jempolnya.

“Mas,” katanya. “Promonya saya perpanjang lagi, ya. Buat Mas, sampai kapan pun.”


Di mobil, dalam perjalanan pulang, dia menyetir dengan satu tangan. Tangan yang lain menggenggam tanganku di atas konsol tengah. Lampu sein tetap menyala setiap kali pindah lajur. Dia hanya perlu melepaskan tanganku sebentar untuk menyalakannya, lalu menggenggamnya lagi.

Di lampu merah pertama, aku mengambil ponsel dan mengetik ke Nala.

Nal.

Apa, Kak?

Kamis.

Tiga detik.

KAMIS APA KAK???

Pokoknya Kamis.

KAK. KAK BELLA. JAWAB. KAMIS APA. ABANG NGAPAIN. KAK. AKU TELEPON YA.

Aku mematikan ponsel sebelum Nala benar-benar menelepon. Aku menyandarkan kepalaku di jendela mobil dan menatap laki-laki di kursi pengemudi, yang menyetir persis di batas kecepatan dengan satu tangan dan menggenggam tanganku dengan tangan yang lain, dan tersenyum ke jalan di depannya seperti orang yang baru saja menang sesuatu.

Di lampu merah kedua, dia menoleh padaku.

“Kamu ngetik apa ke Nala?”

“Kamis.”

Dia tidak bertanya lagi. Dia hanya tersenyum lebih lebar, dan menggenggam tanganku lebih erat, dan melajukan mobil begitu lampu berubah hijau.

Tanpa ragu-ragu sama sekali.