← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Eight

Tanggal di Undangan

POV: Erga

Makan malam Jumat di rumah orang tuaku selalu dimulai dengan pertanyaan yang sama dari Mama. Malam itu, pertanyaannya berbeda.

“Siapa namanya?”

Aku belum sempat duduk. Belum sempat melepas jaket yang dipinjamkan Nala dari jok belakang mobil, karena kemejaku masih lembap dan celanaku masih berbau genangan Sudirman. Mama berdiri di depan meja makan dengan sendok sayur di tangan, seperti hakim yang memegang palu.

“Nama siapa, Ma?”

“Rekan kerja.” Mama menekankan kata itu dengan nada yang biasanya dia pakai untuk mengucapkan tukang kredit. “Yang dipayungin sampai kamu basah kuyup begitu.”

Aku menoleh ke Nala. Nala sedang sibuk menata sendok di meja dengan konsentrasi seorang ahli bedah.

“Nal.”

“Aku cuma laporan, Bang. Mama kan kepala keluarga bagian intelijen.”

“Kamu laporan dari mana? Kita baru turun dari mobil tiga menit lalu.”

“Aku WA dari parkiran mal.” Dia meletakkan sendok terakhir. “Waktu Abang lagi ngeringin rambut pakai tisu toilet.”

Mama masih menunggu. Sendok sayurnya belum turun.

“Bella,” kataku akhirnya, karena aku tahu Mama tidak akan menyajikan sayur asem sebelum mendapat jawaban. “Product lead di klien. Kami satu proyek.”

“Bella.” Mama mengulang nama itu pelan-pelan, seperti mencicipi bumbu. “Bella apa?”

“Larasati.”

“Cantik?”

“Ma.”

“Nala bilang cantik banget. Nala bilang satpam mal sampai nabrak tiang.”

“Itu nggak terjadi.”

“Hampir,” kata Nala. “Dia hampir nabrak tiang. Itu masih data yang valid.”

Papa, yang sejak tadi duduk di ujung meja dan belum bicara sepatah kata pun, mengambil teko dan menuangkan teh ke cangkirku. Penuh sampai hampir tumpah. Dia tidak berkata apa-apa, tidak menatapku, hanya meletakkan teko itu kembali dan melanjutkan membaca koran yang sudah dia baca sejak pagi.

Tiga tahun lalu, setiap malam, dia menuangkan teh untukku dengan cara yang persis sama.

Malam itu, cangkirnya lebih penuh dari biasanya.


Senin pagi, pukul 08.05, Andre meletakkan segelas americano di mejaku.

Pukul 09.10, gelas kedua.

Pukul 10.20, gelas ketiga, disertai croissant.

“Ndre,” kataku waktu gelas keempat mendarat pukul 11.30. “Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.” Dia menghindari mataku. “Gue cuma dengar dari Mbak Tika, calon istrinya Raka lagi sering ke kantor. Ngurus undangan sama Bu Bella. Terus gue mikir, ya ampun, gue yang nyeret lo ke pesta itu, gue yang bikin lo nongol di radar dia, gue—” Dia berhenti dan menyodorkan gelas keempat lebih dekat. “Minum.”

“Aku nggak butuh kopi.”

“Ini bukan kopi. Ini permintaan maaf dalam bentuk cair.”

Gelas kelima datang pukul 13.15. Keenam pukul 14.40. Pukul 16.00, gelas ketujuh mendarat di sebelah enam gelas lain yang sudah berbaris di mejaku seperti pasukan kecil yang siap berperang, dan Cece, dari meja product, memotret barisan itu untuk grup Divisi Gosip.

Aku meminum empat. Sisanya aku bagikan ke tim Yoga. Malam itu aku tidak bisa tidur sampai jam tiga. Selasa pagi Andre datang dengan gelas pertama, dan aku menatapnya dengan mata yang sudah tidak sepenuhnya manusia.

“Ndre. Kalau kamu bawa gelas kedelapan, aku yang minta diganti dari proyek. Supaya jauh dari kamu.”

Andre menarik gelasnya kembali. Pelan. Seperti menarik tangan dari kandang singa.


Selasa, pukul 12.40, aku ke pantry lantai 21 untuk mengambil air putih. Hanya air putih. Tubuhku sedang menolak semua minuman yang mengandung kafein.

Pantry itu kosong. Semua orang sedang makan siang. Aku mengisi gelas di dispenser, mendengar pintu terbuka di belakangku, dan tahu siapa yang masuk sebelum dia bicara.

Parfumnya tidak pernah berganti dalam delapan tahun. Manis, berat, seperti bunga yang terlalu lama di vas. Bukan parfum yang tercium di kemejaku dua minggu lalu. Yang itu lebih ringan, seperti hujan yang jatuh di atas kulit jeruk. Aku tidak tahu kenapa aku bisa membedakannya dengan begitu jelas.

“Aku nyari Bella,” kata Sheila. “Mejanya kosong.”

“Makan siang.”

Aku tidak berbalik. Aku menunggu gelasku penuh, lalu mematikan dispenser.

Dia tidak pergi. Aku mendengarnya menutup pintu pantry di belakangnya. Pelan. Hati-hati. Klik kecil yang terdengar terlalu keras di ruangan yang sepi.

“Ga.”

Aku berbalik.

Sheila berdiri di dekat pintu, map undangan di tangannya, dan tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pesta itu, dia tidak memakai versi senyum mana pun.

“Aku mau minta satu hal,” katanya.

Aku menunggu.

“Minta diganti. Dari proyek ini.” Suaranya rendah dan cepat, kalimat yang jelas sudah dia siapkan. “Kamu bisa. Kamu selalu bisa ngatur semuanya, kan? Semua vendor. Semua jadwal. Semua orang. Atur ini juga. Bilang ke Zogo kamu butuh proyek lain. Bilang apa aja.”

“Kenapa?”

“Kamu tahu kenapa.”

“Aku nggak ngapa-ngapain, Sheila.”

“Justru itu.” Dia melangkah maju satu langkah. “Kamu di sini. Setiap hari. Di gedung ini. Di lantai yang sama dengan adiknya. Mas Raka ngomongin kamu di rumah. Pak Erga yang nemuin tiga miliar. Pak Erga yang nyelametin launching. Papanya sampai nelepon CTO buat muji kamu.” Napasnya sedikit lebih cepat. “Aku nggak bisa terus-terusan dengar nama kamu di meja makan calon mertuaku, Ga.”

Aku memegang gelas air putih itu dengan dua tangan. Airnya dingin. Aku merasakan dinginnya sampai ke telapak tangan.

“Aku kerja di sini,” kataku pelan. “Bukan buat kamu.”

Dia menatapku. Lama.

“Kamu masih marah.”

“Nggak.”

“Terus kenapa masih di sini?”

“Karena sistemnya belum beres.”

Sesuatu berubah di wajahnya. Tidak retak seperti di lobi minggu lalu. Lebih seperti mengeras.

“Iya,” katanya. “Kamu selalu lebih peduli sama sistem.”

Kalimat itu dia ucapkan dengan cara yang sangat spesifik. Seperti dia menarik sebilah pisau dari laci, pisau yang sudah lama dia asah dan simpan untuk hari ini. Seolah semua yang terjadi tiga tahun lalu bisa diringkas jadi satu fakta sederhana: aku lebih mencintai pekerjaanku daripada dirinya. Seolah dia pergi karena itu.

Aku tahu itu tidak benar. Aku yang menyusun spreadsheet tujuh tab, karena dia bilang capek. Aku yang menelepon dua puluh tiga vendor, karena dia bilang tidak sanggup. Aku yang mengurus semuanya, karena dia minta. Dan waktu dia pergi, aku juga yang mengurus kepergiannya.

Tapi aku tidak mengatakannya. Tidak ada gunanya. Tidak ada log yang bisa kuberikan padanya untuk membuktikan apa pun.

“Kalau cuma itu,” kataku, “aku balik kerja.”

Aku berjalan melewatinya ke pintu. Dia tidak menahanku. Waktu tanganku sudah di gagang, dia bicara lagi, lebih pelan.

“Seratus empat puluh hari lagi, Ga. Aku cuma minta jangan ada di sini waktu itu.”

Aku membuka pintu dan keluar.

Di kepalaku, tanpa izin, angka itu mengoreksi dirinya sendiri. Bukan seratus empat puluh. Seratus empat puluh satu. Dia selalu salah menghitung hari.


Yoga sedang berdiri di dekat printer saat aku melewatinya. Dia melihat pintu pantry, melihatku, lalu melihat pintu pantry lagi. Sheila keluar setengah menit kemudian, berjalan cepat ke arah lift tanpa menoleh.

“Pak,” kata Yoga ragu. “Itu calon istrinya Pak Raka, kan? Bapak kenal?”

“Dia nyari meja Bella.”

Itu jawaban yang benar. Bukan jawaban yang lengkap, tapi benar.

Yoga mengangguk, puas, dan kembali ke printer. Aku kembali ke mejaku, meletakkan gelas air putih yang masih penuh, dan menatap diagram di tablet selama dua puluh menit tanpa menambahkan satu garis pun.

Pukul 15.10, sesuatu rusak. Aku hampir bersyukur.

Alert masuk ke semua ponsel tim teknis sekaligus: antrean refund Nayara+ macet. Dalam dua puluh menit, kepala customer service sudah berdiri di lantai 21 dengan wajah pucat dan tablet berisi tiga ratus keluhan pelanggan yang uangnya belum kembali. Tim vendor lama bilang mereka butuh waktu untuk investigasi. Yoga membuka log dengan tangan yang mulai gemetar, seperti malam launching.

“Yog,” kataku. “Buka antrean yang gagal. Bukan yang utama. Yang gagal.”

Dia membukanya. Penuh. Ribuan pesan refund yang pernah gagal diproses, menumpuk di antrean cadangan yang tidak pernah dikosongkan, sampai antrean itu penuh dan mulai menolak semua pesan baru, termasuk yang sehat.

“Kayak tempat sampah yang nggak pernah diangkut,” kataku. “Lama-lama, sampah baru nggak bisa masuk, dan orang mulai buang di depan pintu.”

Enam menit. Aku memindahkan pesan-pesan lama ke penyimpanan terpisah untuk diperiksa satu per satu nanti, mengosongkan antrean itu, dan menambahkan batas supaya kejadian yang sama tidak terulang. Antrean refund kembali berjalan. Tiga ratus pelanggan menerima uang mereka sebelum jam empat.

Kepala customer service kembali pukul lima dengan sekotak kue lapis dan mata berkaca-kaca. Aku memberikan kotak itu pada tim Yoga. Dia bilang aku harus makan setidaknya satu. Aku makan satu, supaya dia berhenti menatapku seperti itu.

Pekerjaan selalu begitu untukku. Sistem yang rusak memberi sesuatu untuk dipegang. Masalahnya jelas, penyebabnya bisa dicari, dan solusinya bisa diuji. Tidak ada sistem yang tiba-tiba bilang cintanya sudah habis.


Selasa malam, aku tidak bisa tidur lagi. Bukan karena kopi. Kopinya sudah lama hilang dari tubuhku.

Pukul 22.30, aku berlutut di samping tempat tidur dan menarik sebuah kardus dari kolong. Kardus cokelat bekas kemasan printer, dilakban rapat, di sisinya tertulis dengan spidol hitam dan tulisan tanganku sendiri:

UNDANGAN — SISA

Lima ratus undangan yang tidak pernah terkirim. Tiga tahun di kolong tempat tidur, pindah bersamaku dari rumah orang tua ke apartemen ini. Aku sudah berkali-kali hampir membuangnya. Setiap kali, aku berhenti di pintu ruang sampah lantai ini, berdiri di sana selama beberapa menit, lalu membawanya kembali.

Aku membuka lakbannya. Dua puluh detik. Suara robekannya terdengar seperti sesuatu yang lebih besar dari lakban.

Di dalam, undangan berjajar rapi dalam ikatan karet, lima puluh per ikat. Kertas krem. Huruf emas timbul. Hampir sama dengan kartu yang tergelincir dari tas Bella Jumat lalu. Sheila memang tidak pernah mengganti selera.

Aku mengambil satu dari ikatan paling atas.

Erga & Sheila

Di bawahnya tertulis tanggal, jam, dan alamat Graha Sasmita. Hari Sabtu. Jam sembilan pagi. Aku menatapnya dan menunggu sesuatu datang. Rasa sakit. Rasa marah. Rasa rindu, meskipun aku tahu yang itu sudah lama mati.

Yang datang hanya satu hal, dan itu bukan tentang Sheila.

Aku memikirkan Mama yang menangis tiga hari. Papa yang menuangkan teh tanpa bicara. Nala di balkon, menggenggam ujung lengan bajuku. Dua puluh tiga vendor. Delapan ratus nama. Dan sekarang, di gedung yang sama tempatku bekerja setiap hari, ada seorang laki-laki yang sedang menyusun daftar yang sama. Menyewa gedung. Mencetak undangan. Memercayai orang yang sama.

Seratus empat puluh satu hari.

Aku mengembalikan undangan itu ke ikatannya, menutup kardus, dan menempelkan lakban baru di atas yang lama. Lalu aku mendorongnya kembali ke kolong tempat tidur, lebih dalam dari sebelumnya.

Aku tidak membuangnya. Aku juga tidak tahu kenapa.


Pukul 23.02, laptopku di meja berbunyi.

Aku lupa menutup NayaraDesk.

Tiket #012
Judul: User susah tidur.
Prioritas: Rendah (soalnya udah biasa)
Deskripsi: Udah coba hitung domba. Dombanya malah pakai kemeja putih dan bawa payung. Mohon bantuan teknis.
Assignee: erga.mahardika@zogotech.co.id

Aku membaca deskripsinya dua kali. Lalu satu kali lagi, karena bagian domba pakai kemeja putih.

Dua belas tiket. Aku sudah menutup semuanya dengan satu klik. Won’t Fix. Duplicate. Need More Info. Status adalah tempat bersembunyi yang nyaman. Status tidak punya nada suara.

Malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak memilih status. Aku mengetik di kolom komentar.

Coba matikan HP.

Balasannya datang dalam delapan detik.

Nggak mau. Nanti kamu nggak bisa chat.

Aku nggak chat.

Tapi kamu masih online jam segini. Di NayaraDesk. Jam sebelas malam. Kamu lagi ngapain, Pak Architect?

Aku menatap kardus yang ujungnya masih terlihat dari kolong tempat tidur. Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

Aku menatap layar selama tiga menit. Lalu aku mengetik sesuatu yang tidak kurencanakan.

Selamat tidur, Bella. Pakai selimut. AC kamarmu pasti terlalu dingin.

Kali ini balasannya datang lebih lambat. Tiga puluh detik.

Kok tahu?

Kamu selalu kedinginan. Di server room. Di ruang rapat. Di lobi waktu hujan. Kamu selalu meluk lengan sendiri.

Tidak ada balasan selama satu menit penuh.

Lalu:

ASDFGHJKLASDFGHJKL

Lima detik kemudian:

Maaf. Itu kucing.

Aku menatap layar.

Kamu punya kucing?

…Nggak.

Aku menutup laptop.

Laci meja kerja itu terbuka sedikit. Aku menariknya sampai terbuka penuh. Di bawah charger yang tidak pernah kupakai, ada tisu yang dilipat segi empat kecil, kaku dan merah muda di satu sudut. Di sebelahnya, satu sticky note kuning yang entah sejak kapan ikut pindah dari kantor ke sini: Selamat pagi, Pak Architect.

Aku tidak ingat memutuskan untuk menyimpannya. Aku hanya ingat memasukkannya ke saku kemeja Senin lalu, dan malamnya sticky note itu sudah ada di sini.

Dua benda. Dua minggu.

Aku menutup laci itu pelan-pelan, seperti menutup pintu kamar orang yang sedang tidur.

Aku tidak tertawa. Aku memastikannya. Tapi saat berbaring dan menatap langit-langit kamar yang gelap, aku sadar sesuatu yang aneh: selama tiga menit terakhir, aku tidak menghitung apa pun. Tidak ada angka seratus empat puluh satu. Tidak ada tanggal di atas kertas krem.

Yang ada hanya satu kalimat bodoh tentang kucing yang tidak ada. Dan kali ini, aku tertidur sebelum jam dua belas.