← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Six

Won’t Fix

POV: Erga

Kalau Bella Larasati adalah insiden, maka log-nya selama minggu ketiga akan terlihat seperti ini.

Senin, 08.02. Satu gelas americano tanpa gula mendarat di mejaku sebelum aku sempat menyalakan laptop. Tidak ada nama di gelasnya. Ada sticky note kuning: Selamat pagi, Pak Architect. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun di Nayara pesanan kopiku. Hanya satu orang di gedung ini yang tahu, dan orang itu sedang pura-pura sibuk di meja sebelah dengan wajah terlalu polos.

“Ndre.”

“Hm?” Andre tidak mengangkat kepala.

“Dijual berapa?”

“Dua croissant,” katanya. “Dan satu voucher parkir. Harga pasar, Ga. Gue nggak nipu.”

Selasa, 12.05. Sebuah kotak bekal biru dengan tutup bergambar kucing diletakkan di mejaku. Isinya ayam teriyaki, nasi jepang yang dibentuk bulat, dan brokoli yang tersusun terlalu rapi untuk dimasak orang yang bekerja sampai jam sepuluh malam.

“Masakan sendiri,” kata Bella dari balik bahuku.

Aku mengangkat tutupnya dan membaliknya. Di bagian bawah masih menempel stiker kecil berlogo restoran Jepang di Senopati.

Aku menatap stiker itu. Lalu menatapnya.

“Aku yang milih sendiri,” koreksinya tanpa berkedip. “Itu termasuk usaha.”

Rabu, 15.30. Bella menarik kursi dari meja kosong, meletakkannya di sebelah mejaku, lalu duduk. “Diskusi requirement,” katanya. Kami mendiskusikan requirement selama sebelas menit. Lalu dia tetap duduk di sana selama empat puluh menit berikutnya, membuka laptopnya sendiri dan bekerja di sebelahku, seolah mejaku adalah kafe favoritnya.

Rabu–Kamis. Tiket #004 (“User butuh second opinion soal warna tombol checkout. Menurutmu jingga atau jingga yang lebih jingga?”), tiket #005 (“User mau lapor: AC di pojok Zogo kayaknya lebih adem. Boleh pindah?”), tiket #006 (“Nggak ada. Cuma pengin kamu buka NayaraDesk.”).

Aku menutup tiga-tiganya. Won’t Fix. Won’t Fix. Won’t Fix.

Tiga-tiganya kubuka dulu sebelum kututup.


Di sela semua itu, aku bekerja.

Pada Selasa pagi, kepala tim finance datang ke lantai 21 dengan wajah merah dan laptop di tangan. Dashboard laporan harian mereka butuh tujuh menit untuk memuat, katanya, dan dia sudah mengeluh ke vendor lama sejak bulan Maret. Dia berbicara kepada Bella, karena Bella yang memegang produk. Tapi Bella hanya menunjuk ke mejaku.

Aku membuka dashboard itu, melihat query yang dijalankan di belakangnya, lalu menambahkan satu indeks ke tabel yang kutandai di hari audit. Sepuluh menit. Dashboard itu kini memuat dalam dua detik.

Kepala tim finance menatap layar, menatapku, lalu menatap layar lagi. Dia datang dengan wajah merah dan pergi dengan wajah merah juga, tapi dari alasan yang berbeda. Sore itu, jumlah anggota grup Fanclub Pak Architect bertambah satu.

Pada Rabu, aku memperbarui sertifikat keamanan yang tinggal tujuh hari sebelum kedaluwarsa. Bukan Kamis, apalagi Jumat. Rabu. Yoga bertanya kenapa tidak menunggu sampai benar-benar mepet. Aku bilang, karena yang benar-benar mepet biasanya jatuh di hari libur nasional.

Dia mengecek kalender. Hari ke-tujuh jatuh pada tanggal merah.

Dia menulis kalimat itu di buku catatannya juga.


Aku memakai tablet dan stylus untuk menggambar diagram arsitektur. Kebiasaan lama. Garis yang kugambar dengan tangan lebih jujur daripada kotak-kotak rapi di aplikasi diagram.

Pada Kamis sore, aku menyadari sesuatu.

Cece, QA di tim product, memiliki sticky note hijau yang ditempel di pinggir monitornya. Di atasnya tertulis satu kata, Stylus, diikuti garis-garis kecil. Senin ada satu garis. Selasa dua. Rabu tiga.

Aku tidak perlu bertanya apa yang dihitung. Aku ingat setiap kejadiannya. Senin, saat Bella membungkuk di atas bahuku untuk melihat diagram. Selasa, saat dia menaruh bekal kucing itu dan rambutnya menyentuh lenganku. Rabu, saat dia duduk di sebelahku dan tiba-tiba menyandarkan dagunya di tangan, menatapku, dan bertanya, “Kamu tahu nggak kalau kamu gigit bibir bawah kalau lagi mikir?”

Aku tidak tahu. Sekarang aku tahu. Dan sekarang aku tidak bisa berhenti menyadarinya.


Kamis, jam makan siang, Andre menyeretku ke kantin karyawan di lantai dua. Dia mengambil nasi, dua lauk, dan kerupuk. Aku mengambil sop. Kami duduk di pojok.

Andre tidak makan. Dia menatap nasinya seperti menatap surat PHK.

“Ga,” katanya. “Gue baru dapet info dari Mbak Tika.”

“Hm.”

“Bu Bella.” Dia menurunkan suara. “Itu anak bungsunya Pak Bram. Adiknya Raka. Adik kandung Raka, Ga.”

Aku meniup sop.

“Lo denger nggak? Adiknya Raka. Raka yang tunangannya itu— yang itu. Jadi lima bulan lagi, Sheila jadi kakak iparnya Bu Bella. Dan Bu Bella lagi—” Dia menggerakkan tangannya dengan panik, seperti sedang mencoba menggambar sesuatu di udara yang tidak mau jadi gambar. “Lagi ngedeketin lo.”

“Aku tahu.”

Andre berhenti. “Lo tahu dia adiknya Raka?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Kamis lalu.”

“Dan lo nggak bilang?”

“Kamu nggak nanya.”

Andre menutup wajah dengan kedua tangan. Dia tetap begitu selama beberapa detik, lalu menurunkan tangannya dan menatapku dengan wajah orang yang sudah menerima nasib.

“Oke. Gue mau nanya satu hal. Dan lo jawab jujur.”

“Oke.”

“Lo suka sama dia?”

Aku menaruh sendok.

Aku bisa menjawab dengan banyak cara. Aku memilih yang paling akurat.

“Nggak penting, Ndre.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.” Aku mengaduk sop. “Aku nggak akan mulai apa-apa. Sama siapa pun. Kamu tahu itu.”

“Gue tahu lo bilang gitu. Tiga tahun.” Andre akhirnya menyendok nasinya, lalu menunjukku dengan sendok itu. “Tapi lo ngomong kayak cinta itu susu kotak. Ada tanggal kadaluarsanya.”

“Memang.”

Andre menatapku.

“Semua ada tanggal kadaluarsanya, Ndre,” kataku. “Bedanya, susu kotak jujur. Tanggalnya dicetak di luar. Kamu bisa lihat sebelum beli. Kalau kamu tahu susunya bakal basi, kamu nggak beli. Sesederhana itu.”

“Terus lo mending nggak minum susu seumur hidup.”

“Aku minum kopi.”

“Kopi juga ada tanggal kadaluarsanya, Ga.”

“Kopi nggak nelepon hari Selasa malam.”

Andre membuka mulut, lalu menutupnya. Dia tidak bisa membalas yang itu. Kami makan dalam diam.

Setelah beberapa lama, dia menghela napas panjang.

“Gue tetep buka taruhan, ya.”

“Taruhan apa?”

“Lihat aja nanti.”


Taruhan itu muncul Kamis sore di whiteboard pojok Zogo, disamarkan sebagai dokumen kerja resmi:

ESTIMASI SPRINT — PROYEK “PAK ARCHITECT”
Pertanyaan: Minggu ke berapa sistem menyerah?
Minggu 4 — 1:20
Minggu 8 — 1:5
Minggu 12 — 1:3
Tidak pernah — 1:2 (pilihan Andre, katanya “demi objektivitas”)

Dalam satu jam, whiteboard itu penuh nama. Mbak Tika pasang minggu ke-12. Yoga pasang minggu ke-4, “karena percaya pada kekuatan cinta”. Cece menghitung probabilitasnya di kertas terpisah dan tidak memasang apa-apa, karena menurutnya datanya belum cukup. Pak Darmawan, yang kebetulan lewat, pura-pura tidak melihat, lalu kembali lima menit kemudian dan menulis namanya di baris Minggu 8 dengan huruf sangat kecil.

Pukul 16.40, Bella berhenti di depan whiteboard itu.

Seluruh pojok Zogo mendadak sibuk. Andre mengetik dengan kecepatan yang tidak mungkin menghasilkan kata-kata yang masuk akal. Yoga tiba-tiba menemukan bug yang sangat mendesak di lantai.

Bella membaca whiteboard itu dari atas ke bawah. Pelan. Lalu dia mengambil spidol biru dari tempatnya, membuka tutupnya, dan menulis namanya di baris Minggu 8. Di sebelahnya, dia menambahkan: Rp 500.000.

Lalu dia menutup spidol itu, meletakkannya kembali, dan berjalan ke mejaku seperti tidak baru saja memasang uang atas dirinya sendiri.

Aku tidak mengangkat kepala.

“Minggu delapan,” kataku.

“Odds-nya paling bagus.”

“Kamu pasang atas diri sendiri.”

“Aku selalu pasang atas diri sendiri.” Dia bersandar di pinggir mejaku. “Siapa lagi yang mau?”


Aku memutuskan sudah waktunya menetapkan batas. Dengan sopan. Dengan jelas. Seperti menulis kontrak kerja.

“Bu Bella.”

“Bella.”

“Bu Bella,” kataku. “Saya di sini enam bulan. Setelah proyek selesai, saya kembali ke Zogo. Saya lebih suka enam bulan ini berjalan profesional. Untuk kita berdua.”

Dia tidak langsung menjawab. Dia menatapku, dan untuk sesaat aku merasa dia bisa membaca log di balik wajahku sama baiknya dengan aku membaca log server.

“Oke,” katanya.

Aku mengangguk. Batas sudah ditetapkan.

“Berarti,” lanjutnya, “aku punya enam bulan.”

Aku menatapnya. Dia tersenyum. Bukan senyum yang dipakai orang untuk difoto. Senyum orang yang baru saja menghitung ulang tenggat waktunya dan memutuskan itu lebih dari cukup.

“Oh, satu lagi,” katanya. “Biar adil.”

“Apa?”

“Aku lagi deketin kamu, ya.” Nadanya sama seperti orang yang memberi tahu jadwal rapat. “Biar kamu nggak kaget.”

Aku kembali ke layar. “Sudah tercatat.”

Hening.

“Tercatat doang?!”

Di belakangnya, Yoga tersedak kopi. Mbak Tika menutupi mulut dengan map. Bella tidak peduli. Dia mencondongkan tubuh, meletakkan kedua telapak tangannya di pinggir mejaku, dan menunduk sampai wajahnya sejajar dengan wajahku, sekitar satu jengkal jaraknya. Aku bisa mencium parfumnya. Parfum yang sama dengan yang dicium Nala di kemejaku dua minggu lalu.

Aku tidak mengangkat wajah. Mataku tetap di diagram di tablet, stylus di tangan.

“Bu Bella,” kataku datar. “Segini dekatnya, aku masih bisa kerja.”

Dia tidak bergerak.

“Tolong,” tambahku, “jangan ditambah.”

Dia menambahkan.

Dua senti. Mungkin tiga. Cukup sehingga aku bisa merasakan napasnya di pelipisku.

Stylus itu jatuh dari tanganku, memantul sekali di meja, lalu berguling ke lantai.

Dari meja product terdengar bunyi pulpen menggores kertas. Aku tahu tanpa perlu melihat: Cece baru saja menambahkan garis keempat di sticky note hijaunya.

Bella menegakkan tubuh. Wajahnya tenang, puas, seperti orang yang baru membuktikan hipotesis.

“Oke,” katanya. “Sekarang aku tahu batasnya.”

Dia berjalan kembali ke mejanya. Aku memungut stylus dari lantai. Tanganku tidak gemetar. Aku memastikannya.


Pukul 17.52, saat aku mematikan laptop, NayaraDesk berbunyi.

Tiket #007
Judul: Minta ditemenin makan siang besok.
Prioritas: URGENT
Assignee: erga.mahardika@zogotech.co.id

Aku membacanya. Aku bisa menutupnya dengan Won’t Fix seperti enam tiket sebelumnya. Cukup satu klik.

Aku mengubah statusnya.

Status: NEED MORE INFO
Komentar: Di mana. Jam berapa. Kenapa urgent.

Tiga puluh detik kemudian, dia membalas di kolom komentar.

Rooftop. Jam dua belas. Urgent karena aku lapar, dan kamu masak telur dadar.

Aku tidak mengubah status tiket itu. Aku mematikan laptop, memasukkannya ke tas, dan pulang.


Jumat pagi, pukul 05.40, di dapur apartemenku yang kecil, aku memecahkan telur.

Biasanya dua butir. Pagi itu empat.

Aku tidak memikirkannya. Aku hanya mengocoknya, menambahkan daun bawang, lalu menggorengnya pelan-pelan seperti biasa. Waktu memotongnya, aku tidak memotongnya jadi empat.

Aku memotongnya jadi delapan.

Aku menatap delapan potong telur dadar di talenan selama beberapa detik, lalu memasukkan semuanya ke kotak makan dan menutupnya sebelum aku sempat mempertanyakan diriku sendiri.

Tidak ada yang berubah. Aturanku tetap sama. Aku tidak akan mulai apa-apa.

Aku hanya lapar. Itu saja.


Pukul 12.03, pintu besi rooftop berderit.

Dia sudah di sana. Duduk di bangku kayu dalam bayangan tandon air, dua botol teh dingin di sebelahnya, kakinya bersilang, seperti sudah menunggu lama dan tidak keberatan menunggu lebih lama lagi. Dia tidak tersenyum saat melihatku. Dia hanya menepuk bangku di sebelahnya dua kali.

Aku duduk. Satu meter. Tidak satu setengah seperti minggu lalu. Aku tidak memutuskannya. Bangkunya memang pendek.

Aku membuka kotak makan.

Dia melihat isinya. Lalu melihatku. Lalu melihat isinya lagi, dan aku melihat dia menghitung.

“Delapan,” katanya.

“Telurnya besar.”

“Minggu lalu empat.”

“Minggu lalu telurnya kecil.”

“Kamu masak buat aku.”

“Aku lapar.”

Dia mengambil satu potong dengan jari, seperti minggu lalu, dan memakannya pelan-pelan dengan mata terpejam, seolah itu bukan telur dadar biasa tapi sesuatu yang harus dinilai juri. Lalu dia membuka matanya.

“Katanya kamu nggak pernah deploy hari Jumat,” katanya.

“Ini bukan deploy.”

“Terus apa?”

“Makan siang.”

“Makan siang yang dimasak jam setengah enam pagi, dengan telur empat butir, buat orang yang tiketnya kamu kasih status Need More Info.” Dia mengambil potongan kedua. “Kalau itu bukan deploy, Pak Architect, aku nggak tahu lagi deploy itu apa.”

Aku tidak menjawab. Aku makan. Dia makan. Kota di bawah kami berbunyi seperti biasa, klakson, sirene jauh, suara crane dari proyek gedung di seberang.

Setelah potongan keempat, dia menyandarkan punggung ke bangku dan membuka tutup teh dinginnya.

“Tiket tujuh,” katanya. “Status sekarang apa?”

“Masih Need More Info.”

“Info apa lagi yang kamu butuhin? Tempat udah. Jam udah. Alasan udah.”

Aku menutup kotak makan. Empat potong tersisa. Aku tidak tahu kenapa aku menyisakannya, dan aku tidak tahu kenapa aku tidak menutup mulutku.

“Kenapa aku,” kataku.

Dia menoleh.

“Dari semua orang di gedung ini,” lanjutku, datar, menatap crane di seberang jalan. “Dua ribu karyawan. Tiga puluh lantai. Kenapa aku.”

Dia diam cukup lama. Cukup lama sehingga aku mulai berpikir dia tidak akan menjawab, dan aku sudah siap berdiri, kembali ke lantai 21, dan menganggap pertanyaan itu tidak pernah kuajukan.

“Karena kamu satu-satunya orang,” katanya pelan, “yang nggak nanya kenapa.”

Aku berhenti.

“Waktu aku bilang jangan,” dia menambahkan. “Kamu nggak nanya. Kamu cuma geser kotak makan kamu.”

Angin bertiup. Rambutnya bergerak menutupi separuh wajahnya, dan dia tidak merapikannya.

“Itu,” kataku setelah beberapa saat, suaraku sedikit lebih serak dari yang kumau, “belum info yang cukup.”

“Aku tahu.” Dia berdiri, mengambil empat potong telur yang tersisa dengan tutup botol tehnya sebagai piring darurat, lalu berjalan ke pintu besi. Di ambang pintu, dia menoleh.

“Nanti aku tambahin infonya, Pak Architect. Pelan-pelan.” Dia tersenyum. “Aku punya enam bulan.”

Pintu tertutup.

Aku duduk sendirian di bangku kayu, dengan kotak makan kosong di pangkuan, dan menyadari bahwa aku baru saja kalah dalam percakapan yang aku mulai sendiri.

Aturanku tetap sama. Aku tidak akan mulai apa-apa.

Aku hanya perlu berhenti memecahkan empat butir telur.