Chapter Thirty Eight
Request: Seumur Hidup
POV: Erga
Masalah pertama adalah nomor tiket.
Bella membuat antrean khusus di NayaraDesk tujuh bulan lalu, antrean pribadi yang dia namai Proyek Pak Architect, dengan penomoran yang dimulai dari 001. Tiket terakhir di antrean itu adalah #031. Resumed.
Tiket berikutnya, kalau aku membuatnya, akan bernomor #032.
Tiga puluh dua bukan angka yang salah. Tapi itu bukan angka yang benar.
Aku butuh seratus.
“Ndre.”
Andre mengangkat kepala dari laptopnya. Dia melihat wajahku dan langsung menutup laptopnya, dengan ekspresi orang yang tahu dia akan diminta melakukan sesuatu yang aneh.
“Gue udah disumpah pakai runbook, Ga. Gue siap.”
“Aku butuh enam puluh delapan tiket.”
Andre menatapku. “Enam puluh delapan tiket apa?”
“Tiket apa aja. Di antrean Proyek Pak Architect. Nomor tiga puluh dua sampai sembilan puluh sembilan. Judulnya terserah. Aku butuh nomor seratus kosong.”
Andre membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
“Lo mau…” Dia berhenti. Lalu dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan matanya membesar seperti orang yang baru melihat komet. “Lo mau…”
“Jangan bilang.”
“Gue nggak bilang!” Dia berbisik, keras sekali. “Gue nggak bilang apa-apa! Tapi enam puluh delapan tiket, Ga, gue nggak bisa sendirian. Tangan gue cuma dua.”
Dia menoleh ke meja product. Dia melambaikan tangan ke satu orang.
Cece berjalan ke pojok Zogo dengan laptop di lengan dan wajah paling tenang di lantai 21.
“Ce,” kata Andre. “Butuh enam puluh delapan tiket dummy. Antrean Proyek Pak Architect. Nomor tiga dua sampai sembilan sembilan.”
Cece menatap Andre. Lalu menatapku. Lalu menatap Andre lagi.
“Tujuan?”
“Rahasia,” kataku.
Cece mengangguk pelan, seperti orang yang tidak butuh penjelasan karena dia sudah punya data yang cukup. Dia membuka laptopnya. Dia mulai mengetik.
Dua puluh menit kemudian, dia kembali ke mejaku.
“Selesai, Pak. Enam puluh delapan tiket. Semua judulnya tes.” Dia berhenti. “Kecuali satu.”
“Yang mana?”
“Nomor enam puluh tujuh,” kata Cece datar. “Judulnya semoga berhasil, Pak.”
Dia kembali ke mejanya sebelum aku sempat berterima kasih.
Syukuran migrasi diadakan hari Jumat sore di lantai 21.
Tujuh bulan sejak launching. Tiga fase migrasi selesai. Nol downtime. Pak Darmawan memesan tumpeng setinggi setengah meter, dan Mbak Tika menghiasnya dengan bendera kecil bertuliskan NAYARA+ 2.0 — TANPA AIR MATA (KECUALI PAK DARMAWAN).
Seluruh tim datang. Tim product. Tim Zogo. Tim vendor lama, dipimpin Pak Gunawan dengan map birunya. Adit. Tim finance. Kepala customer service. Raka datang dengan kemeja santai dan senyum yang baru, lebih tipis dan lebih jujur. Pak Bram datang terakhir, berdiri di dekat jendela dengan tangan di belakang punggung, seperti selalu.
Cece yang memegang laptop presentasi. Sesuai rencana, dia akan menampilkan dashboard pencapaian proyek di layar besar: grafik uptime, jumlah insiden, waktu pemulihan rata-rata. Dan di sudut kanan layar, sesuai permintaan khusus yang tidak dia tanyakan alasannya, feed langsung NayaraDesk, antrean Proyek Pak Architect.
Bella berdiri di depan, di sebelah Pak Darmawan, memegang pisau tumpeng. Dia memakai blus biru muda. Dia tidak memakai jaketku hari ini, karena ruangan terlalu penuh orang dan tidak dingin sama sekali.
Aku berdiri di belakang ruangan. Blazer gelap. Kotak beludru kecil di saku dalam, di sebelah jantungku.
Tanganku tidak gemetar. Aku sudah memeriksanya tiga kali di toilet.
Pak Darmawan memberi sambutan. Dia menangis di menit kedua. Pak Gunawan memberi sambutan, pendek, dan di akhir dia menepuk map birunya dan berkata, “Delapan tahun saya bangun sistem ini. Tujuh bulan terakhir, saya belajar lebih banyak daripada delapan tahun itu.” Yoga memberi sambutan, membaca dari buku catatan kecilnya, tiga puluh dua halaman kalimat yang dia kumpulkan. Dia menangis juga.
Lalu Cece menampilkan dashboard.
Uptime: 99,98 persen. Insiden kritis: tiga, semua pulih di bawah dua puluh menit. Satu grafik yang menunjukkan hari gajian, dengan garis hijau yang menjulang di hari semua gateway lain tumbang. Ruangan bertepuk tangan.
Di sudut kanan layar, feed NayaraDesk bergulir pelan. Enam puluh delapan tiket berjudul tes. Satu tiket berjudul semoga berhasil, Pak. Beberapa orang yang melihatnya mulai berbisik.
Aku mengeluarkan ponselku. Aku membuka NayaraDesk. Aku sudah menulis tiketnya semalam, di draft, jam dua pagi, dan menghapusnya empat kali, dan menulisnya lagi.
Aku menekan Kirim.
Di layar besar, di sudut kanan, di bagian paling atas feed, muncul satu baris baru.
Tiket #100
Dibuat oleh: erga.mahardika
Judul: Request: seumur hidup.
Prioritas: CRITICAL
Assignee: bella.larasati
Ruangan itu tidak langsung sadar. Beberapa orang masih bertepuk tangan untuk grafik hari gajian.
Lalu Cece berhenti menggulir. Dia memperbesar sudut kanan layar. Satu klik. Tiket itu memenuhi seluruh layar besar di dinding lantai 21.
Tepuk tangan berhenti.
Satu per satu, kepala menoleh. Dari layar. Ke Bella.
Bella berdiri di depan tumpeng dengan pisau di tangan, menatap layar. Aku melihat wajahnya dari belakang ruangan. Aku melihatnya membaca judul itu sekali. Dua kali. Aku melihat pisau tumpeng di tangannya turun, pelan-pelan, sampai Pak Darmawan dengan hati-hati mengambilnya dari tangannya.
Aku berjalan ke depan.
Orang-orang minggir tanpa disuruh. Seperti di war room Twin Day, waktu ruangan ikut memelan. Hanya saja kali ini, tidak ada yang panik. Ruangan itu hanya menahan napas.
Aku berhenti di depannya. Satu meter.
Dia berbalik dari layar dan menatapku. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Ga,” katanya. Suaranya hampir tidak ada.
Aku mengeluarkan kotak beludru dari saku dalam blazer. Biru tua. Kecil. Aku membukanya.
Cincin emas putih. Polos. Tanpa batu. Karena yang polos tidak pernah ketinggalan zaman.
Ruangan itu mengeluarkan suara yang bukan satu suara. Empat puluh orang yang menarik napas bersamaan.
“Bel,” kataku. “Aku udah nyusun pertanyaan ini pakai runbook. Enam puluh langkah. Ada rencana mundur di setiap langkah. Aku hafalin semuanya seminggu.”
Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Terus aku sadar,” lanjutku, “aku nggak butuh rencana mundur. Kamu yang bilang. Nggak ada rollback.”
Aku menarik napas. Empat hitungan. Aku tidak menahannya.
“Jadi sekarang aku cuma ingat satu pertanyaan.”
Aku menatapnya. Tidak ada dinding. Tidak ada permukaan danau yang rata. Hanya aku, dengan kotak beludru di tangan, di depan empat puluh orang dan satu tumpeng setinggi setengah meter.
“Kamu mau?”
Dia tidak menjawab.
Dia berbalik. Dia berjalan ke meja Cece, yang masih memegang laptop presentasi. Cece menyerahkan laptop itu tanpa berkata apa-apa, seperti asisten bedah yang menyerahkan pisau.
Bella membuka tiket #100. Di layar besar, seluruh ruangan melihatnya menggerakkan kursor ke menu status.
Won’t Fix. Dia melewatinya.
Need More Info. Dia melewatinya.
Dia berhenti di satu kata yang tidak ada di menu bawaan NayaraDesk. Kata yang dia tambahkan sendiri, entah kapan, sebagai admin yang merancang ulang alurnya dua tahun lalu.
Status diubah oleh bella.larasati: ACCEPTED
Lalu dia mengetik di kolom komentar. Di layar besar, huruf demi huruf, di depan empat puluh orang.
Sudah tercatat.
Dia menekan Enter. Lalu dia mengetik satu baris lagi.
Di tempat yang nggak bisa dihapus.
Ruangan meledak.
Aku tidak mendengar apa pun. Aku tahu ada sorakan, karena aku melihat mulut orang-orang terbuka. Aku tahu Pak Darmawan menangis keras, karena aku melihat Pak Gunawan menepuk-nepuk punggungnya. Aku tahu Mbak Tika berteriak ALHAMDULILLAH dengan nada dangdut, karena aku melihat Yoga menutup telinganya. Aku tahu Andre bersiul, dan Raka bertepuk tangan dengan mata merah, dan Pak Bram, di dekat jendela, menurunkan tangannya dari belakang punggung untuk pertama kalinya.
Tapi aku tidak mendengar apa pun. Aku hanya melihat dia berjalan kembali ke arahku. Terlalu cepat. Seperti biasa.
Dia berhenti di depanku. Dia mengulurkan tangan kirinya.
Tanganku tidak gemetar waktu memasangkan cincin itu. Aku sudah memastikannya.
Pas. Tidak terlalu longgar. Tidak terlalu sempit.
“Kok pas?” bisiknya.
“Aku ukur,” kataku. “Waktu kamu tidur. Di sofa. Pakai benang.”
Dia menatapku. Lalu dia tertawa sambil menangis, dan memelukku, di depan empat puluh orang dan satu tumpeng, dan aku memeluknya kembali.
Di layar besar, Cece menambahkan satu baris di feed NayaraDesk, di bawah tiket #100, dari akunnya sendiri.
Laporan cuaca: Pelangi permanen. Laporan ditutup. Selamanya.
Lamaran resmi dilaksanakan tiga minggu kemudian, hari Minggu, di rumah dengan pohon mangga berlampu kecil.
Keluarga Mahardika datang dengan dua mobil. Papa, dengan batik yang disetrika Mama tiga kali. Mama, dengan panci besar yang dibungkus kain batik dan dipeluk seperti bayi. Nala, dengan kebaya dan sandal jepit di dalam tas, buat jaga-jaga. Andre, yang bukan keluarga tapi datang karena Nala bilang dia harus datang, dan karena dia sekarang punya status baru yang tidak pernah diumumkan secara resmi tapi sudah diketahui oleh seluruh Paguyuban Satpam Jaksel Bersatu.
Keluarga Harsono menyambut di teras. Pak Bram. Bu Ratna. Raka, dengan batik cokelat dan senyum barunya.
Satpam kompleks memberi hormat pada setiap orang yang turun dari mobil. Waktu aku turun, dia memberi hormat dua kali.
Masalah pertama adalah rendang.
Mama membuka panci besarnya di meja makan keluarga Harsono. Rendang. Hitam, berkilau, beraroma kelapa sangrai dan daun jeruk. Enam jam.
Bu Ratna menatap panci itu. Lalu dia berjalan ke dapur dan kembali dengan panci miliknya sendiri. Rendang. Cokelat tua, berkilau, beraroma rempah yang lebih manis. Enam jam juga.
Kedua panci itu diletakkan berdampingan di tengah meja.
Kedua ibu itu saling tersenyum. Dengan sangat sopan. Dengan sangat berbahaya.
“Silakan dicoba, Bu Ratna,” kata Mama. “Resep turun-temurun.”
“Silakan juga, Bu,” kata Bu Ratna. “Resep nenek saya. Dari Bukittinggi.”
“Nenek saya dari Payakumbuh,” kata Mama, sama sopannya.
Seluruh ruangan diam. Papa menatap koran yang tidak dia bawa. Pak Bram menatap langit-langit. Raka menatap Bella. Bella menatapku.
Lalu kedua ibu itu menoleh ke satu orang yang sama.
“Nala,” kata Mama. “Kamu kan food reviewer.”
Nala membeku dengan sendok di tangan.
Dia mencicipi rendang Mama. Mengunyah. Lalu rendang Bu Ratna. Mengunyah lagi. Dia menatap kedua panci itu, lalu kedua ibu itu, lalu kakaknya, dengan wajah orang yang sedang menjinakkan bom.
“Rendang Mama lebih pedes,” katanya pelan. “Rendang Tante lebih empuk.” Dia menarik napas. “Dua-duanya juara. Juara satu bersama. Nggak ada juara dua.”
Kedua ibu itu menatapnya. Lama.
“Diplomatis,” kata Bu Ratna.
“Diplomatis,” setuju Mama.
Mereka berdua mengambil rendang dari panci satu sama lain, mencicipinya, dan mengangguk dengan hormat, seperti dua jenderal yang baru menandatangani gencatan senjata.
Masalah kedua adalah listrik.
Di tengah acara, tepat setelah Papa selesai menyampaikan maksud kedatangan keluarga kami dengan kalimat pendek yang dia latih di mobil, lampu mati.
Seluruh kompleks. PLN.
Genset di belakang rumah Harsono berbunyi, mencoba menyala, lalu mati. Mencoba lagi. Mati lagi. Di ruang tamu yang gelap, Bu Ratna menjerit kecil. Mama menjerit juga, karena Bu Ratna menjerit. Mbak Rina, yang ternyata diundang lagi sebagai koordinator lamaran, menyalakan senter ponselnya dengan wajah orang yang sudah terlalu banyak mengalami malam buruk di rumah ini.
“Saklar pemindahnya macet,” kataku, sebelum sempat berpikir. “Kayak di gedung Nayara.”
Aku berdiri. Aku melepas blazer batikku dan meletakkannya di kursi. Aku mengambil senter dari tangan Mbak Rina dan berjalan ke belakang rumah, ke ruang panel kecil di dekat garasi.
Di belakangku, aku mendengar langkah kaki. Berat. Tegas. Aku tahu langkah siapa itu tanpa menoleh.
Aku membuka panel. Aku menemukan saklarnya. Aku mereset tuas yang macet, mengecek sambungan, lalu menyalakan genset secara manual. Genset itu mengaum. Lampu menyala. Dari ruang tamu, terdengar tepuk tangan dan suara Mama yang berteriak ALHAMDULILLAH dengan nada yang sangat mirip Mbak Tika.
Aku menutup panel dan berbalik.
Pak Bram berdiri di ambang pintu ruang panel. Dengan kotak kayu di tangannya.
“Rematch,” katanya.
“Pak. Sekarang?”
“Sekarang.” Dia berbalik dan berjalan ke ruang kerjanya. “Keluarga kamu bisa menunggu lima menit. Keluarga saya sudah biasa.”
Kami bermain di ruang kerja, dengan pintu terbuka, dan dua keluarga yang berkerumun di ambang pintu untuk menonton.
Aku putih. Pak Bram membuka dengan serangan cepat di sisi raja, seperti biasa. Aku membaca polanya di langkah keenam, seperti biasa.
Di langkah kedua puluh, aku punya jalan menuju skakmat dalam tiga langkah. Aku melihatnya. Pak Bram juga melihatnya. Aku melihat dia melihatnya.
Aku menggerakkan bentengku ke tempat yang salah.
Pak Bram menatap papan itu. Lalu menatapku. Lama sekali.
Tiga langkah kemudian, dia menang.
Di ambang pintu, Nala berbisik keras ke Andre. “Abang kalah? Abang kalah?”
Pak Bram menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatapku dengan mata yang bisa membaca laporan keuangan tiga ratus halaman dan menemukan satu angka yang salah.
“Kamu sengaja,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Saya sudah bilang saya benci orang yang sengaja kalah.”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
Aku menatap papan catur itu. Lalu aku menoleh ke ambang pintu, ke kerumunan dua keluarga. Ke satu orang di tengahnya, dengan kebaya biru dan cincin emas putih polos di tangan kirinya.
“Karena hari ini,” kataku, “saya nggak mau menang apa pun, Pak. Kecuali satu.”
Ruang kerja itu sunyi.
Lalu Pak Bram tertawa. Keras. Lepas. Tawa yang belum pernah kudengar darinya, dan dari wajah Bu Ratna, Raka, dan Bella di ambang pintu, belum pernah mereka dengar juga.
Dia berdiri. Dia mengulurkan tangannya melintasi papan catur.
“Nah,” katanya. “Sekarang kamu boleh ambil anak saya.”
Setelah itu, semuanya kabur.
Raka berdiri di depan dua keluarga sebagai kakak. Dia memegang secarik kertas yang tidak dia baca. “Saya pernah pegang kerah calon adik ipar saya,” katanya, dan suaranya pecah. “Di parkiran B2. Saya berutang sama dia. Hari ini saya bayar.” Dia menatapku. “Saya serahkan adik saya, Ga. Jaga dia. Kayak kamu jagain semua sistem yang bukan punya kamu.”
Papa, yang sepanjang acara hanya bicara satu paragraf, berdiri setelah Raka. Dia menatap Pak Bram, lalu Bu Ratna, lalu Bella. Lalu dia menatapku.
“Anak saya,” katanya pelan, “tiga tahun nggak senyum kayak gini.”
Dia duduk lagi. Mama menangis. Bu Ratna menangis. Nala menangis ke bahu Andre. Andre menangis juga, tanpa tahu kenapa.
Di tengah semua itu, waktu semua orang sibuk menangis dan berpelukan, aku mencondongkan tubuh ke arah Bella yang duduk di sebelahku.
“Kamu cantik banget hari ini,” bisikku.
Dia menoleh padaku. Matanya basah.
“Aku lupa urutan kalimat yang aku hafalin seminggu,” tambahku.
Dia tertawa, pelan, di tengah tangis. Dia menggenggam tanganku di bawah meja. Sama seperti malam pertama aku duduk di meja ini, dengan rendang empat kali dan sindiran di seberang meja.
Kali ini, tidak ada yang perlu ditenangkan.
Ibu jarinya bergerak di punggung tanganku. Lingkaran kecil. Lalu lagi.
Aku tidak menghitungnya.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup reading
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama