Chapter Thirty Two
Klub H-7
POV: Erga
Rabu pagi, pukul 07.00, pesan dari Bu Ratna terkirim ke grup keluarga besar Harsono. Kalimatnya tidak diubah satu kata pun.
Pukul 08.00, Mbak Rina mulai menelepon vendor. Urutannya tidak diubah. Dia mengirimiku laporan setiap satu jam, meskipun aku tidak memintanya, dengan format yang dia salin dari buku kecil Bu Ratna: Vendor 1: selesai. DP kembali 40%. Vendor 2: selesai. Barang tetap diambil, sisa dinegosiasikan.
Pukul 10.15, pesan dari Mbak Rina: Mas, katering tadi nanya siapa yang nyusun daftar ini. Katanya belum pernah ada keluarga yang batalin serapi ini. Saya bilang, “Konsultan.”
Pukul 14.40: Gedung selesai, Mas. Pengelolanya awalnya galak. Terus saya bacain kalimat di halaman dua. Beliau diam, terus bilang, “Siapa pun yang nulis ini pernah ngalamin sendiri, ya?” Saya nggak jawab.
Aku membaca laporan itu di meja makan apartemenku, dengan teh yang sudah dingin, dan aku tidak tahu harus merasakan apa. Tiga tahun lalu, aku menelepon dua puluh tiga vendor sendirian, dan tidak ada satu orang pun yang tahu bagaimana rasanya. Hari ini, daftar yang lahir dari malam-malam itu sedang dipakai untuk menopang keluarga orang lain.
Rasa sakit ternyata bisa berubah bentuk. Bisa jadi runbook.
Kamis pagi, Raka meneleponku. Bukan pesan. Telepon.
“Pak Erga.” Dia berhenti. “Ga.”
“Mas.”
“Kamu masuk kantor hari ini?”
“Aku remote, Mas. Sampai setelah—” Aku berhenti. Tidak ada lagi setelah pernikahan.
“Itu sebabnya aku telepon.” Suaranya serak, seperti orang yang belum banyak tidur dan terlalu banyak bicara dengan ayahnya. “Aku minta kamu masuk. Hari ini. Aku udah bilang ke Bu Liana. Aku udah bilang ke Papa.” Jeda. “Dan kontrak kamu. Aku mau perpanjang. Enam bulan lagi. Kalau kamu mau.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Aku tahu aku nggak punya hak minta apa-apa,” lanjut Raka cepat. “Aku tahu. Tapi Nayara butuh kamu. Dan…” Dia berhenti lagi. “Dan aku mau lihat kamu di gedung itu. Setiap hari. Biar aku ingat.”
“Ingat apa, Mas?”
“Ingat bahwa aku pernah percaya sama orang yang salah, dan nggak percaya sama orang yang benar.”
Kamis pukul 09.30, aku keluar dari lift di lantai 21 Nayara Tower untuk pertama kalinya dalam dua bulan.
Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Mungkin tatapan. Mungkin bisik-bisik. Mungkin beberapa orang yang pura-pura sibuk.
Yang kudapatkan adalah dua belas orang berdiri berjajar di sepanjang lorong lift, seperti barisan penyambut tamu di pernikahan.
Pak Darmawan di paling depan, dengan kacamata tebal dan mata yang sudah basah. Pak Gunawan di sebelahnya, dengan map biru setebal kamus di tangan. Yoga dengan dua gelas kopi. Mbak Tika dengan kotak kue lapis. Cece dengan laptop terbuka dan ponsel yang merekam. Adit. Tim finance. Kepala customer service. Satpam lobi, yang entah bagaimana ikut naik ke lantai 21.
Mereka tidak bertepuk tangan. Mereka hanya berdiri.
Lalu Pak Darmawan maju dan memelukku. Keras. Lama.
“Sebentar,” katanya di bahuku, sebelum aku sempat bicara. “Saya belum selesai.”
Di belakangnya, aku melihat mejaku di pojok Zogo. Monitor, keyboard. Dan di tengah meja, sticky note kuning yang kutinggalkan dua bulan lalu. Masih di sana. Tidak ada yang mencabutnya.
Jangan lupa makan, Bu Bella.
Di sebelahnya, ada sticky note baru. Warna biru. Tulisan tangan yang miring ke kanan, dengan huruf a yang bulat.
Udah makan. Tiap hari. Delapan potong.
Aku tidak menoleh ke meja product. Aku tidak perlu. Satpam lantai baru saja menurunkan kakinya dari kursi.
Pukul 10.40, di pantry, Cece berdiri di sebelahku sambil menuang air panas. Dia tidak menatapku.
“Laporan cuaca, Pak,” katanya datar. “Hari ini. Khusus untuk pihak terkait.”
“Oke.”
“Badai sudah lewat. Pelangi terdeteksi di lantai 21 pukul 09.31, tepat saat pintu lift terbuka. Sumber pelangi: meja product, kursi ketiga dari jendela.” Dia mengaduk tehnya. “Subjek menangis di toilet selama empat menit setelah Bapak masuk. Lalu keluar dengan mata merah dan pura-pura kelilipan.”
Aku menatap cangkirku.
“Selesai laporan,” kata Cece, lalu berjalan pergi dengan tehnya.
Pintu pantry belum sempat tertutup ketika seseorang masuk.
Dia berhenti di ambang pintu. Aku berdiri di depan kulkas. Kami saling menatap. Di belakangnya, di lorong, aku mendengar langkah kaki yang sangat sengaja melambat. Mbak Tika, mungkin. Atau Yoga. Atau keduanya.
“Selamat datang kembali, Pak Erga,” katanya. Keras. Profesional. Cukup keras untuk didengar lorong.
“Terima kasih, Bu Bella.”
Dia berjalan ke kulkas. Dia berdiri di sebelahku, terlalu dekat untuk jarak dua rekan kerja, membuka pintu kulkas, dan mengambil kotak biru dari rak paling atas. Pintu kulkas yang terbuka menghalangi pandangan dari lorong.
Lalu, di balik pintu kulkas itu, dengan suara yang sangat pelan, dia bicara.
“Ga.”
Satu suku kata. Aku merasakannya di tengkukku.
“Hm.”
“Kamu wangi sabun cuci.”
“Kamu wangi jaket aku.”
Dia menoleh padaku. Pipinya merah. Matanya masih sedikit bengkak dari empat menit di toilet yang tidak seharusnya kuketahui. Dia menatapku seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu yang sangat panjang dan memutuskan menyimpannya untuk nanti.
Kulkas berbunyi bip.
Dia menutup pintunya, memeluk kotak biru ke dadanya, dan berjalan keluar tanpa menoleh. Di lorong, aku mendengar Mbak Tika berkata sangat keras, “Oh, Bu Bella! Kebetulan banget saya lewat!”
Tidak ada yang kebetulan lewat di lantai ini. Aku sudah belajar itu sejak minggu pertama.
Jumat sore, Raka menjemputku di lobi Nayara Tower. Dia menyetir sendiri. Mobilnya bersih, wangi, dan sepi, dan dia menyetir dengan kecepatan jauh di bawah batas maksimal, seperti orang yang tidak terburu-buru ke mana pun.
“Aku nggak tahu tempat ngopi yang bagus,” katanya. “Kamu yang pilih.”
Aku membawanya ke warung Bu Yati.
Bu Yati melihatku turun dari mobil mewah, lalu melihat Raka dengan kemeja mahal dan wajah yang masih bengkak, dan dia langsung mengambil dua gelas tanpa bertanya apa-apa.
“Mas Laptop bawa temen,” katanya. “Kopi hitam dua?”
“Dua, Bu.”
Kami duduk di meja plastik. Raka menatap spanduk kopi sachet yang pudar, lalu gerobak, lalu radio kecil yang memutar dangdut, dengan wajah orang yang tidak pernah duduk di warung seperti ini seumur hidupnya.
“Ini tempat kamu benerin Nayara+ minggu lalu?”
“Di meja sebelah.”
Raka menatap meja sebelah dengan sesuatu yang mirip rasa hormat.
Bu Yati meletakkan dua gelas kopi di depan kami. Raka menyesapnya, mengernyit karena panas dan pahit, lalu menyesapnya lagi.
Lama, kami tidak bicara. Motor lewat. Pedagang sayur lewat. Radio memutar lagu tentang orang yang ditinggal kekasihnya di terminal bus.
“Orang tuanya dateng ke rumah kemarin,” kata Raka akhirnya. “Minta maaf. Mamanya nangis. Papanya nggak bisa lihat mata Papa.”
Aku menunggu.
“Dia nggak ikut.”
“Dia nggak pernah ikut,” kataku.
Raka tertawa kecil. Pahit. Seperti kopi Bu Yati.
“Ga,” katanya. “Kamu juga dibatalin lewat telepon?”
“Iya.”
“Hari apa?”
“Selasa.”
Raka meletakkan gelasnya. “Aku juga.”
“Jam?”
“Sembilan lewat empat.”
Hening.
Raka menatapku. Aku menatapnya. Radio di gerobak Bu Yati sedang di bagian reff, dan penyanyinya memohon kekasihnya untuk kembali.
“…Aku juga,” kataku.
Raka mulai tertawa.
Awalnya pelan. Lalu lebih keras. Lalu dia menunduk ke meja plastik dan tertawa sampai bahunya bergetar, sampai kopi di gelasnya bergoyang, sampai Bu Yati menoleh dari gerobaknya dengan wajah khawatir. Aku tidak tahu kenapa aku ikut tertawa. Aku tidak tahu apa yang lucu. Mungkin tidak ada yang lucu. Mungkin justru itu yang lucu. Dua laki-laki dewasa, di warung kopi pinggir jalan, yang sama-sama ditinggalkan oleh perempuan yang sama, di hari yang sama, di jam yang sama, dengan kalimat yang sama.
Kami tertawa sampai mata kami basah. Lalu kami berhenti tertawa, dan mata kami masih basah, dan tidak ada yang mengusapnya.
Bu Yati datang membawa dua gelas teh manis, tanpa diminta, dan meletakkannya di sebelah kopi kami.
“Kopi itu buat yang ketawa,” katanya. “Teh manis buat yang nangis. Saya nggak tahu Mas-Mas ini yang mana, jadi saya kasih dua-duanya.”
“Pak Darmawan cerita sesuatu ke aku kemarin,” kata Raka, setelah teh manisnya habis setengah.
Aku menunggu.
“Soal screenshot itu.” Dia memutar gelas di tangannya. “Katanya kamu punya bukti. Dari awal. Log server. Sesuatu soal fitur WhatsApp yang belum ada di tanggal itu. Katanya kamu tunjukin ke dia waktu dia maksa, tapi kamu minta dia nggak kasih tahu siapa pun.”
Aku tidak menjawab. Pak Darmawan tidak pernah bisa menyimpan rahasia yang membuatnya bangga.
“Kamu bisa ngancurin dia kapan aja, Ga.” Raka menatapku. “Di depan direksi. Di depan Papa. Di depan aku. Kamu bisa buktiin semuanya dalam lima menit.”
“Aku nggak perlu.”
“Kenapa?”
Aku menatap gelas teh manis di depanku. Aku memikirkan jawabannya. Aku sudah memikirkannya berkali-kali, di meja makan, di balkon, di lantai 21 jam empat pagi. Aku tidak pernah menemukan kalimat yang lebih rapi dari ini.
“Karena kalau aku buktiin, yang hancur bukan cuma dia, Mas. Yang hancur kamu juga. Di depan semua orang.” Aku mengangkat bahu. “Dan pada akhirnya, dia bakal ngebuktiin sendiri. Orang kayak dia selalu begitu.”
Raka menatapku lama. Lalu dia menunduk dan menatap tangannya sendiri, yang dulu mencengkeram kerahku di B2.
“Aku pegang kerah kamu,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kamu diem aja.”
“Iya.”
“Aku nggak akan pernah bisa bayar itu.”
“Nggak perlu dibayar, Mas.”
Dia menggeleng. “Perlu.” Lalu dia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum. Bukan versi senyum yang dulu, lebar dan polos seperti menerima hujan. Senyum yang baru. Lebih tipis, lebih tua, tapi lebih jujur. “Dan aku tahu cara bayarnya.”
“Gimana?”
“Kejar adikku.”
Aku berhenti.
“Serius, Ga.” Raka mencondongkan tubuhnya di atas meja plastik. “Aku tahu kamu mundur gara-gara aku. Gara-gara Sheila. Gara-gara keluarga kami. Aku tahu kamu nggak mau jadi alasan rumah kami retak.” Dia menarik napas. “Tapi rumah kami udah retak, Ga. Bukan karena kamu. Karena aku percaya sama orang yang salah. Dan satu-satunya orang di rumah itu yang dari awal percaya sama orang yang benar adalah adikku.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kejar dia,” ulang Raka. “Kalau kamu nggak, aku yang malu. Seumur hidup.”
Di perjalanan pulang, di mobil Raka yang bersih dan wangi, dia menyalakan radio. Stasiun yang sama dengan radio Bu Yati. Lagu dangdut yang sama.
“Kita perlu nama,” kata Raka tiba-tiba.
“Nama apa?”
“Kita berdua. Dua orang yang dibatalin di hari yang sama, jam yang sama, sama orang yang sama.” Dia berpikir sebentar. “Klub. Klub apa ya.”
“Klub H-7,” kataku.
Raka menoleh padaku. Lalu dia tertawa lagi, lebih ringan kali ini. “Klub H-7. Anggota: dua. Syarat masuk: dibatalin seminggu sebelum akad, lewat telepon, hari Selasa, jam sembilan lewat empat.”
“Syaratnya terlalu spesifik, Mas.”
“Justru itu yang bikin eksklusif.”
Ponselku bergetar. Andre. Rupanya Raka sudah mengirim pesan ke grup kecil yang dibuat Nala kemarin, berisi Nala, Andre, Raka, Bella, dan aku, dengan nama grup Tim Pemulihan (Rahasia).
Raka: Kami resmi membentuk Klub H-7. Anggota: 2.
Andre: GUE MAU JADI ANGGOTA.
Raka: Syaratnya pernah dibatalin seminggu sebelum akad.
Andre: Gue belum pernah nikah.
Raka: Ditolak.
Nala: DITOLAK HAHAHAHA.
Andre: Oke. Kalau gitu gue umumin sesuatu. Papan taruhan Proyek Pak Architect resmi DITUTUP. Semua taruhan dinyatakan batal karena wasitnya nggak pernah mau berkomentar. Total pot: Rp 3.200.000. Diputuskan oleh panitia (gue): dibelikan telur. Setahun. Untuk kulkas pantry lantai 21. Kotak biru.
Nala: Pemenangnya siapa, Ndre?
Andre: Pemenangnya… Bella sendiri.
Tidak ada balasan dari Bella. Tapi di bawah pesan Andre, muncul tanda bahwa dia sudah membacanya. Dan tiga titik muncul, lama sekali, lalu hilang.
Malam itu, pukul 22.10, aku duduk di balkon dengan ponsel di tangan. Aku membuka percakapan dengan Bella. Pesan terakhir di sana adalah pesan Selasa malam. Aku udah di mobil Andre.
Sejak malam itu, sejak dapur dan satu lampu kuning dan lima menit yang tidak kuhitung, kami belum benar-benar bicara. Dia sibuk dengan keluarganya. Aku sibuk kembali ke lantai 21. Kami saling melihat dari balik partisi kaca, dan setiap kali, dia tersenyum dan menunduk, dan aku menjatuhkan stylus.
Cece mencatat semuanya. Garis ketujuh. Garis kedelapan.
Aku mengetik. Tidak menghapus apa pun.
Besok rooftop. Jam dua belas.
Balasannya datang dalam tiga detik.
Besok Sabtu, Ga. Kantor tutup.
Aku menatap pesan itu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku lupa hari.
Aku, yang menghitung segala hal, lupa hari.
Senin, ketikku. Rooftop. Jam dua belas.
Oke.
Aku menatap layar. Lalu aku menambahkan satu pesan lagi. Aku tidak memeriksanya sebelum menekan kirim.
Pakai lipstik yang itu.
Tiga titik. Lama.
Yang mana?
Aku tersenyum ke arah lampu kota.
Yang bikin aku nggak bisa baca slide.
Tidak ada balasan. Tapi status online di bawah namanya tidak hilang sampai jam dua pagi. Aku tahu, karena aku juga tidak tidur.
Kali ini, bukan karena hitungan mundur. Aku tidak menghitung apa pun lagi.
Aku sedang menunggu hari Senin.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7 reading
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama