← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Eleven

Jangan Bilang Mas Raka

POV: Erga

Nala meneleponku Sabtu malam pukul delapan lewat dua belas, dan kalimat pertamanya adalah, “Bang, jangan marah dulu.”

Dua puluh empat tahun menjadi kakaknya, aku tahu kalimat itu selalu diikuti sesuatu yang membuatku ingin marah.

“Aku nggak marah.”

“Abang belum dengar.”

“Aku nggak akan marah.”

Dia diam lima detik. Lalu dia menceritakan semuanya dengan kecepatan orang yang ingin cepat selesai sebelum keberaniannya habis. Kafe di Kemang. Croissant berbentuk kucing. Foto prewedding di layar ponsel Bella. Es kopi yang tumpah. Teriakan yang sekarang sudah ditonton empat ratus ribu orang di TikTok. Dan semua yang dia ceritakan sesudahnya, di meja paling pojok, sambil menangis.

“Aku keceplosan, Bang. Aku lihat mukanya, terus aku— aku nggak bisa diem.”

“Aku tahu.”

“Abang beneran nggak marah?”

Aku berdiri di balkon apartemen, menatap lampu Sudirman. Aku mencari rasa marah di dalam diriku, dan yang kutemukan justru sesuatu yang lain. Semacam kelegaan yang aneh dan tidak nyaman, seperti melepas sepatu yang sudah tiga tahun terlalu sempit.

“Nggak, Nal.”

“Terus satu lagi.” Suaranya berubah. Lebih pelan. “Kak Bella nggak bilang ke Mas Raka. Dia udah ngetik pesannya, Bang. Aku lihat. Tinggal pencet kirim. Terus dia hapus.”

Aku tidak menjawab.

“Katanya, dia harus nanya Abang dulu.” Nala menarik napas. “Katanya, kalau dia mutusin sesuatu buat Abang tanpa nanya Abang, dia nggak beda sama orang yang selama ini gitu ke Abang.”

Aku memegang pagar balkon.

Tiga tahun. Semua orang di sekitarku memutuskan sesuatu untukku. Om-om yang bilang aku harus segera move on. Tante-tante yang langsung menyodorkan nomor anak teman mereka. Mama yang mengatur makan malam dengan “anak kenalan” tanpa bilang dulu. Teman-teman yang berhenti menyebut nama Sheila tanpa bertanya apakah aku ingin mereka berhenti. Semua dengan niat baik. Semua tanpa bertanya.

Dan seseorang yang baru kukenal lima minggu, yang punya alasan paling kuat untuk langsung bicara karena ini tentang kakaknya sendiri, memilih berhenti di depan tombol kirim.

“Bang?”

“Makasih, Nal.”

“Buat apa?”

“Buat nangis di kafe.”

Dia tertawa, lalu menangis lagi, lalu menutup telepon sambil bilang aku menyebalkan.


Senin pagi, pukul 07.58, Bella berdiri di depan mejaku.

Tidak ada kopi. Tidak ada sticky note. Tidak ada bekal berstiker restoran. Hanya dia, dengan kedua tangan terlipat di depan tubuh seperti anak sekolah yang dipanggil ke ruang guru, dan jaket kanvasku di bahunya.

Jaket itu sudah tiga minggu tidak pulang.

Dia menunggu sampai aku mengangkat wajah.

Aku bilang di tiket bahwa aku ingin melihat wajahnya waktu dia minta maaf. Aku tidak memikirkan apa yang akan kulakukan setelah benar-benar melihatnya. Matanya sedikit bengkak, seperti orang yang menangis terlalu lama di tempat yang tidak nyaman, dan tidur terlalu sebentar. Rambutnya diikat asal. Ada sisa maskara di bawah mata kirinya yang lupa dia hapus.

Aku tidak akan mendeskripsikan lebih dari itu. Aku hanya akan bilang: ternyata aku salah. Aku tidak ingin melihat wajahnya waktu dia minta maaf. Aku ingin wajah itu tidak perlu minta maaf sama sekali.

“Maaf,” katanya.

Suaranya pelan tapi jelas. Beberapa orang yang datang pagi menoleh dari meja masing-masing, lalu pura-pura sibuk dengan intensitas yang mencurigakan.

“Maaf atas nama keluargaku. Atas nama Mas Raka, yang nggak tahu apa-apa. Dan atas nama aku sendiri, yang lima minggu ini ngetuk-ngetuk pintu kamu kayak orang bodoh, tanpa tahu apa yang ada di balik pintunya.”

“Kamu nggak bodoh.”

“Aku ngirim tiket soal domba pakai kemeja putih, Erga.”

Itu pertama kalinya dia memanggilku dengan nama. Bukan Pak Erga. Bukan Pak Architect. Hanya nama, dua suku kata, diucapkan pelan seperti sesuatu yang rapuh.

Aku menutup laptop.

“Rooftop,” kataku. “Jam dua belas.”

Dia mengerjap. Selama lima minggu, dia yang selalu mengajak. Dia yang membuat tiket, dia yang memilih tempat, dia yang menentukan jam.

“Kamu yang ngajak?”

“Aku yang ngajak.”


Empat jam antara pukul delapan dan dua belas adalah empat jam terpanjang di minggu itu.

Bukan karena pekerjaan. Pekerjaan berjalan seperti biasa. Pukul 08.30, Yoga mengirim perubahan konfigurasi pertamanya sejak Twin Day, dan untuk pertama kalinya perubahan itu melewati proses review dua orang yang kutulis di postmortem. Aku membaca kodenya baris demi baris. Rapi. Terlalu hati-hati, seperti tulisan anak yang baru dimarahi guru. Di baris ketujuh belas, ada batas waktu yang disetel terlalu pendek. Aku meninggalkan satu komentar: Ini bagus. Satu hal: batas waktunya coba dinaikkan jadi tiga puluh detik, karena gateway kadang lambat di jam makan siang. Sisanya siap naik. Lalu aku menyetujuinya.

Lima menit kemudian, Yoga muncul di samping mejaku dengan wajah seperti baru menerima rapor.

“Pak. Sisanya siap naik?”

“Siap naik.”

“Nggak ada yang salah lagi?”

“Nggak ada, Yog.”

Dia kembali ke mejanya. Dari sudut mataku, aku melihatnya memotret layar komentar itu dengan ponselnya.

Yang membuat empat jam itu panjang adalah hal lain. Permintaan maaf Bella pukul 07.58 ternyata disaksikan sembilan orang, dan dalam satu jam, sembilan orang itu sudah menghasilkan empat versi cerita yang saling bertentangan.

Versi Mbak Tika, yang kudengar dari pantry: “Mereka putus. Belum jadian, udah putus. Tragis.”

Versi Yoga: “Bu Bella minta maaf karena Pak Erga kerja terlalu keras dan Bu Bella merasa bersalah sebagai perwakilan perusahaan.” Tidak ada yang percaya versi ini.

Versi Cece, yang dilengkapi tabel probabilitas: “Terlalu sedikit data. Tapi jaketnya masih dipakai. Hipotesis putus ditolak.”

Versi Andre, yang tidak dia ucapkan, tapi dia tulis di whiteboard taruhan dengan spidol merah: UPDATE: ODDS MINGGU 8 TURUN JADI 1:3. ADA PERKEMBANGAN.

Pukul 11.15, Pak Darmawan berpapasan denganku di koridor. Dia berhenti, menatapku dari atas ke bawah, lalu menurunkan suaranya seperti agen rahasia.

“Pak Erga. Saya dengar tadi pagi anak Pak Bram minta maaf di depan meja Bapak.”

“Iya, Pak.”

“Bapak apakan dia?”

“Saya nggak ngapa-ngapain, Pak.”

Pak Darmawan menatapku lama, dengan ekspresi campuran antara curiga dan kagum. Lalu dia menepuk bahuku dua kali, keras.

“Justru itu yang bahaya,” katanya, dan berjalan pergi.


Pukul 12.00, rooftop. Bayangan tandon air. Dua botol teh dingin yang kali ini aku yang beli. Kotak makan dengan telur dadar dipotong delapan, yang aku sudah berhenti pura-pura tidak kusiapkan untuk dua orang.

Dia duduk. Satu meter. Dia tidak menyentuh telurnya.

“Kenapa kamu diam?” tanyanya langsung. “Mas Raka harus tahu.”

Aku sudah menduga pertanyaan itu. Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak Sabtu malam, di balkon, setelah Nala menutup telepon. Aku menyusunnya seperti menyusun dokumen arsitektur, dengan alasan pertama, kedua, ketiga, semuanya logis dan bisa dipertanggungjawabkan.

Waktu membuka mulut, yang keluar bukan dokumen itu.

“Karena aku tahu rasanya dibatalin seminggu sebelum akad.”

Dia diam.

“Aku tahu rasanya nelepon dua puluh tiga vendor satu-satu. Aku tahu rasanya ditanya Om-om di telepon, terus kenapa dia pergi, dan nggak punya jawaban. Aku tahu rasanya duduk di balkon hari Sabtu dan ngelihatin jam, tahu persis di detik mana harusnya aku ngucapin ijab kabul.” Aku menatap crane di seberang jalan. “Aku nggak mau jadi orang yang bikin orang lain ngerasain itu. Siapa pun orangnya. Apalagi kakak kamu.”

“Tapi kalau dia orang yang sama—”

“Mungkin kali ini nggak.” Aku menoleh padanya. “Mungkin kali ini cintanya nggak habis. Orang bisa berubah, Bella. Dan kalau dia berubah, Mas Raka berhak dapat kesempatan itu tanpa bayangan aku di belakangnya.”

“Dan kalau dia nggak berubah?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Kalau aku ngomong sekarang,” kataku akhirnya, “Mas Raka nggak akan dengar kebenaran. Dia akan dengar mantan tunangan yang masih sakit hati, yang kebetulan kerja di kantornya, yang tiba-tiba muncul lima bulan sebelum dia nikah. Aku yang akan kelihatan jahat. Dan dia akan makin yakin sama pilihannya.” Aku menggeser kotak makan sedikit ke arahnya. “Aku nggak bisa kasih log ke dia, Bella. Nggak ada bukti untuk hal kayak gini.”

Dia menatap kotak itu. Lalu menatapku.

“Mas Raka berhak tahu siapa yang dia nikahin,” katanya pelan.

“Mungkin.” Aku mengangguk. “Tapi aku nggak berhak jadi orang yang ngasih tahu.”

Kami duduk dalam diam. Bukan diam yang nyaman seperti biasanya. Diam dua orang yang sama-sama tahu mereka benar, dan tahu bahwa kebenaran mereka tidak bisa berdiri di tempat yang sama.

“Oke,” katanya akhirnya. “Aku nggak akan bilang.”

Aku menghela napas. Aku tidak sadar aku menahannya.

“Tapi,” lanjutnya. “Kalau dia nyakitin kamu lagi, aku nggak janji bisa diam.”

“Aku minta kamu janji.”

Dia menatapku lama. Aku melihat perang kecil di matanya. Buldoser di dalam dirinya yang ingin maju, dan sesuatu yang lain yang menahannya.

“Aku janji…” Dia berhenti. Menggigit bibir. “Nyoba.”

“Itu bukan janji.”

“Itu janji yang jujur.” Dia akhirnya mengambil satu potong telur. “Kamu mau yang bohong?”

Aku tidak menjawab. Dia benar, dan kami sama-sama tahu.


Dia makan tiga potong telur dalam diam. Lalu, dengan wajah yang tiba-tiba berubah, seperti orang yang baru ingat punya kabar gembira, dia menoleh padaku.

“Aku mau lapor sesuatu. Bukan tiket. Laporan lisan.”

“Oke.”

“Undangan digital Mas Raka. Yang aku bikin.” Dia menatap lurus ke depan dengan wajah sangat serius. “Kemarin aku kirim draft pertama ke grup keluarga. Nama mempelai perempuannya ada typo.”

“Typo apa?”

“Shela. Tanpa i.”

Aku menatapnya.

“Nggak sengaja,” tambahnya, masih dengan wajah serius. “Keyboard aku rusak. Huruf i-nya. Cuma di kata itu.”

“Cuma di kata itu.”

“Keyboard kan misterius.” Dia mengambil potongan telur keempat. “Terus, kemarin malam ada rapat keluarga soal seserahan. Aku yang atur kursinya, soalnya aku panitia. Kursi Kak Sheila, kebetulan, pas di bawah AC. Dan AC ruang keluarga kami, kebetulan, lagi disetel enam belas derajat. Terus dia pakai dress tanpa lengan. Terus Mama harus minjemin selendang. Selendang batik Mama yang motif ayam jago.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Dia kelihatan kayak lemper,” kata Bella. “Lemper yang kedinginan.”

Aku tidak bisa menahannya. Sesuatu keluar dari dadaku, pendek, tiba-tiba, lewat hidung, seperti batuk yang salah jalan.

Bella berhenti mengunyah. Dia menoleh padaku, pelan, dengan mata membesar.

“Kamu ketawa.”

“Nggak.”

“Kamu ketawa, Erga.”

“Aku batuk.”

“Batuk kamu bunyinya hehe?”

Aku berdiri, membelakanginya, dan menatap gedung-gedung di seberang sampai wajahku kembali normal. Di belakangku, aku mendengarnya tertawa. Tawa yang lepas, keras, tanpa sedikit pun ditahan, sampai seekor burung gereja di pot bugenvil terbang ketakutan.

Lalu tawa itu berhenti, dan suaranya berubah pelan.

“Kalau kamu nggak mau mulai,” katanya ke punggungku, “biar aku yang mulai. Kamu cukup nggak kabur.”

Aku tidak berbalik.

“Aku nggak pernah kabur,” kataku, “dari server yang kebakaran.”

“Aku bukan server.”

Angin bertiup. Aku menatap crane di seberang jalan, lengan besinya berputar pelan membawa beban yang terlalu berat untuk dilihat dari sini.

“Makanya,” kataku, “aku nggak tahu harus ngapain.”

Di belakangku, dia tidak menjawab. Tapi aku mendengar dia menarik napas, tajam, seperti orang yang baru saja mendapat jawaban yang lebih banyak daripada yang dia tanyakan.


Senin malam, pukul 21.14, aku masih di kantor. Lantai 21 sudah hampir gelap. Hanya lampu di pojok Zogo yang menyala, dan satpam lantai yang sudah dua kali lewat untuk memastikan aku bukan pencuri.

Ponselku bergetar.

Lima menit?

Aku menatap pesan itu. Aku tahu dari mana dia datang. Nala sudah memberitahuku bahwa keluarga Harsono mengadakan rapat seserahan jilid dua malam ini, dan bahwa Bella, sebagai panitia, tidak bisa kabur.

Aku di kantor, balasku.

Aku tahu. Lampu pojok kamu kelihatan dari parkiran.

Tujuh menit kemudian, pintu lift terbuka dan dia keluar. Masih memakai baju rapat keluarga, blus sutra dan rok panjang, dengan jaket kanvasku di atasnya. Rambutnya sudah lepas dari ikatan. Dia tidak bicara. Dia berjalan ke pantry yang gelap, dan aku mengikutinya.

Kami duduk di dua kursi tinggi di depan meja pantry, dalam gelap, hanya diterangi lampu kulkas minuman yang berdengung pelan. Dia tidak bercerita apa yang terjadi di rapat keluarga. Aku tidak bertanya.

Aku menggeser gelas teh hangat yang tadi kubuat untuk diriku sendiri ke arahnya. Dia memegangnya dengan dua tangan dan tidak meminumnya. Hanya memegangnya, seperti memegang sesuatu yang hangat di malam yang dingin. Aku melihat jari-jarinya, yang tadi sedikit gemetar waktu keluar dari lift, pelan-pelan berhenti gemetar.

Lima menit berlalu. Lalu sepuluh.

“Aku nggak akan nanya kenapa lagi,” katanya akhirnya, pelan, menatap gelas teh. “Soal kamu. Soal dulu. Kalau kamu mau cerita, cerita. Kalau nggak, nggak apa-apa.”

“Oke.”

“Tapi aku juga nggak akan pergi.”

Aku menatap profilnya dalam cahaya kulkas. Aku tidak mengatakan apa-apa, karena tidak ada yang bisa kukatakan yang tidak akan melanggar aturanku sendiri.

Jadi aku hanya duduk di sana, di pantry yang gelap, sampai tehnya dingin, dan dia pulang.

Waktu pintu lift menutup di depannya, aku sadar sesuatu. Tiga tahun, semua orang memutuskan sesuatu untukku. Malam ini, untuk pertama kalinya, seseorang bertanya lebih dulu.

Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan itu.