Chapter Thirteen
Serbet
POV: Erga
Undangan itu datang Jumat sore, lewat Pak Darmawan, dengan cara yang membuatnya terdengar seperti panggilan sidang.
“Pak Erga.” Dia berdiri di depan mejaku, merapikan kacamatanya dua kali. “Pak Bram mengundang Bapak makan malam. Besok. Di rumah beliau. Jam setengah tujuh.”
Aku mengangkat wajah dari laptop.
“Sebagai terima kasih,” lanjut Pak Darmawan. “Untuk launching. Untuk Twin Day. Untuk tiga koma dua miliar.”
“Pak, itu kerja tim. Saya nggak perlu—”
“Pak Erga.” Pak Darmawan membungkuk sedikit, suaranya turun jadi bisikan penuh kekaguman dan sedikit rasa iri. “Saya sudah lima belas tahun di Nayara. Lima belas tahun. Pak Bram belum pernah mengundang saya makan malam. Belum pernah mengundang vendor mana pun makan malam. Belum pernah mengundang siapa pun makan malam, kecuali menteri dan satu kali duta besar Jepang.”
Di meja sebelah, Andre berhenti mengetik.
“Ga,” katanya pelan. “Lo nggak bisa nolak ini.”
Aku tahu aku tidak bisa. Aku juga tahu siapa yang akan duduk di meja itu. Keluarga Harsono. Pak Bram, Bu Ratna, Raka.
Dan tunangan Raka.
Ponselku bergetar. Pesan dari Bella, yang duduk tidak sampai lima belas meter dari mejaku, di balik partisi kaca.
Aku baru tahu dari Mama. Maaf. Kak Sheila ikut. Aku udah bilang ke Mama ini acara kerja, bukan acara keluarga. Mama bilang “justru”.
Satu pesan lagi masuk sebelum aku sempat membalas.
Kamu boleh nggak dateng. Aku ngerti. Aku yang bilang ke Papa kamu sakit perut. Aku jago bohong soal sakit perut.
Aku menatap pesan itu lama.
Dia memberiku pintu keluar. Dia bahkan sudah menyiapkan alasannya. Dia tidak memaksaku datang, meskipun aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa dia ingin aku datang.
Aku mengetik: Aku dateng.
Kamu yakin?
Kamu udah nanya. Itu cukup.
Satu jam kemudian, seluruh lantai 21 tahu.
Aku tidak tahu siapa yang membocorkannya. Mungkin Pak Darmawan, yang tidak bisa menyimpan rahasia yang membuatnya bangga. Mungkin Andre, yang tidak bisa menyimpan rahasia apa pun. Tapi pukul lima sore, whiteboard taruhan di pojok Zogo sudah punya baris baru, ditulis besar-besar dengan spidol merah:
BREAKING: MAKAN MALAM KELUARGA. SABTU. ODDS MINGGU 8 → 1:2.
Pak Darmawan sendiri mampir ke mejaku sebelum pulang, dengan secarik kertas berisi daftar yang dia tulis tangan.
“Protokol,” katanya, meletakkan kertas itu di depanku dengan khidmat. “Dari pengalaman saya dua kali makan siang dengan beliau di kantin direksi.”
Aku membacanya.
1. Jangan duduk sebelum beliau duduk.
2. Jangan bicara politik.
3. Jangan bicara sepak bola kalau Persija kalah minggu itu.
4. Kalau beliau menawarkan cerutu, tolak dengan sopan.
5. Kalau beliau menawarkan main catur: YA ALLAH, JANGAN MENANG.
Nomor lima digarisbawahi tiga kali.
“Kenapa, Pak?”
Pak Darmawan menatapku dengan wajah orang yang menyimpan trauma. “Tahun 2016. Saya menang satu kali. Anggaran IT tahun berikutnya dipotong lima belas persen.” Dia menepuk bahuku. “Saya tidak bilang itu berhubungan. Saya cuma bilang itu terjadi.”
“Batik,” kata Nala. “Bukan kemeja.”
Sabtu sore, pukul lima, adikku berdiri di tengah kamar apartemenku seperti penata gaya di belakang panggung Fashion Week. Tiga kemeja dan dua batik terbentang di atas tempat tidur. Dia datang tanpa diundang, setelah Andre, lagi-lagi, memberitahunya.
“Kemeja putih lebih rapi.”
“Abang tiap hari pakai kemeja putih. Pak Bram lihat Abang tiap hari pakai kemeja putih. Kalau Abang dateng ke rumahnya pakai kemeja putih, dia bakal mikir Abang nggak punya baju lain.” Dia mengangkat batik cokelat tua bermotif parang pemberian Mama untuk Lebaran dua tahun lalu, yang belum pernah kupakai. “Ini. Ini baju orang yang serius.”
“Serius soal apa?”
“Soal segala-galanya, Bang.” Dia melemparkan batik itu ke dadaku. “Pakai. Terus parfum. Yang kayu-kayu, bukan yang olahraga. Terus sisiran ke samping, jangan ke belakang, nanti kayak debt collector.”
Aku memakai batik itu. Nala memandangku dari atas ke bawah seperti menilai lukisan, lalu mengangguk sekali.
“Oke. Sekarang latihan.”
“Latihan apa?”
Dia menegakkan badan, menurunkan suaranya dua oktaf, dan mengulurkan tangan. “Selamat malam, Om. Saya Erga.”
“Nal.”
“Ulangi. Jabatannya jangan kayak jabat tangan klien. Kayak jabat tangan calon mer—” Dia berhenti. Aku menatapnya. Dia berdeham. “Kayak jabat tangan orang tua teman.”
“Dia orang tua klien.”
“Terus satu lagi.” Nala mengabaikanku sepenuhnya. “Orang tua kaya biasanya punya tes. Main catur, main golf, atau nanya soal politik. Kalau main catur, Abang harus menang. Tapi jangan menang semua. Menang dua, kalah satu. Biar dia merasa dihormati tapi juga merasa ada lawan.”
“Kamu dapat teori itu dari mana?”
“Drama Korea.” Dia merapikan kerah batikku. “Seratus episode riset, Bang. Jangan remehkan.”
Rumah keluarga Harsono berdiri di balik pagar hitam dan pohon mangga yang sama dengan yang kulihat Kamis malam. Tapi kali ini, lampu teras menyala terang, dan satpam kompleks yang sama berdiri di pos jaga.
Dia melihatku turun dari taksi online. Dia menatapku. Lalu, pelan-pelan, dia memberi hormat. Tangan di pelipis, seperti tentara.
“Selamat malam, Mas,” katanya dengan sangat khidmat. “Mas Supir Kantor Mahal.”
“Selamat malam, Pak.”
“Hari ini bukan supir, ya, Mas?”
“Bukan, Pak.”
“Batiknya bagus,” katanya, masih memberi hormat. “Saya awasin tetap, ya.”
Pintu depan terbuka sebelum aku sempat menekan bel.
Bella berdiri di ambang pintu. Aku tidak akan mendeskripsikan apa yang dia pakai, atau bagaimana lampu teras jatuh di wajahnya. Aku hanya akan bilang bahwa satpam di belakangku, yang tadi memberi hormat dengan sangat khidmat, tiba-tiba menurunkan tangannya dan pura-pura sibuk memeriksa pos jaganya yang kosong.
Dia menatapku dari atas ke bawah. Batik cokelat tua. Rambut disisir ke samping. Parfum yang kayu-kayu. Lalu matanya berhenti di leherku.
“Kerah kamu miring,” katanya.
“Nggak miring.”
Nala sudah merapikannya tiga kali sebelum aku berangkat. Aku yakin kerah ini tidak miring.
Bella melangkah maju. Dia mengangkat kedua tangannya ke kerahku, dan dengan gerakan cepat dan sangat sengaja, dia mengacaknya. Kiri ke atas, kanan ke bawah.
“Sekarang miring,” katanya.
Lalu dia merapikannya lagi.
Pelan. Jauh lebih pelan daripada waktu mengacaknya. Jari-jarinya menyusuri tepi kerah dari belakang leher ke depan, melipatnya, menekannya supaya rata. Ujung jarinya menyentuh kulit leherku, sekali di belakang, sekali di samping, di tempat yang aku yakin bisa dia rasakan nadiku berdetak terlalu cepat.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bernapas.
Dia menepuk kerah itu dua kali, ringan, seperti menandai pekerjaan yang sudah selesai.
“Nah,” katanya. “Sekarang rapi.”
Dia berbalik dan berjalan masuk ke rumah. Aku berdiri di teras selama tiga detik sebelum kakiku ingat cara mengikutinya.
Di foyer, sebelum aku sempat melepas sepatu, seorang perempuan paruh baya bergaun batik sutra muncul dari arah dapur dengan kedua tangan terentang, seperti menyambut anak yang pulang merantau.
“Ini dia! Nak Erga!”
Bu Ratna. Aku mengenalinya dari foto keluarga di lobi Nayara Tower, tapi foto itu tidak menangkap energinya. Dia memegang kedua lenganku, menatapku dari atas ke bawah, lalu menoleh ke Bella dengan mata berbinar.
“Bel, ini yang Kamis malam itu, kan? Yang supir?”
“Ma.”
“Mama cuma memastikan.” Dia kembali menatapku, lalu menepuk pipiku dua kali, seperti menepuk adonan kue yang sudah pas. “Ganteng. Pantesan satpam ngawal. Nak Erga suka rendang? Tante masak rendang. Dari kemarin. Enam jam. Nak Erga harus makan banyak, ya. Kurus sekali. Kerja terus, ya? Bella bilang kamu kerja terus.”
“Aku nggak bilang gitu, Ma.”
“Kamu bilang, ‘Dia lembur terus, Ma, kasihan.’ Minggu lalu. Di meja makan. Sambil ngaduk teh sampai dingin.”
Bella berdiri di sebelahku dengan wajah seperti orang yang ingin menghilang ke dalam lantai marmer. Aku tidak menoleh padanya. Aku tidak berani.
“Suka, Tante,” kataku. “Rendang.”
Bu Ratna tersenyum lebar, seperti baru memenangkan lotere. “Bel, lihat. Dia bilang Tante. Sopan sekali.” Dia melepaskan lenganku dan menunjuk koridor. “Papa nunggu di ruang kerja. Pasti mau ngajak main catur. Hati-hati, ya, Nak. Papa kalau kalah suka ngambek.”
Pak Bram menungguku di ruang kerjanya. Bukan di ruang tamu. Ruang kerja, dengan rak buku dari lantai ke langit-langit, meja kayu jati yang terlalu besar untuk satu orang, dan papan catur di atas meja kecil di dekat jendela. Bidak-bidaknya sudah tersusun rapi.
“Duduk,” katanya, tanpa basa-basi. “Kamu main?”
Aku menatap papan catur itu. Lalu menatap Pak Bram. Aku memikirkan Nala dan seratus episode drama Korea.
“Sedikit, Pak.”
“Bagus. Putih.”
Kami bermain. Pak Bram bermain seperti dia berbicara di panggung launching: tegas, agresif, dan tidak pernah mundur. Dia membuka dengan serangan cepat di sisi raja, mengorbankan dua bidak di sepuluh langkah pertama untuk membuka jalur.
Aku membaca polanya di langkah keenam. Di langkah kesembilan belas, aku menang.
Pak Bram menatap papan. Diam. Lalu menyusun ulang bidaknya.
“Lagi.”
Aku berpikir tentang saran Nala. Menang dua, kalah satu. Tapi Pak Bram bermain lebih keras di permainan kedua, dan setiap kali aku mempertimbangkan untuk sengaja membuat kesalahan, dia menatapku dengan mata yang jelas bisa membedakan kesalahan sungguhan dan kesalahan pura-pura.
Aku menang lagi di langkah dua puluh tiga.
Aku teringat daftar di saku batikku. Nomor lima, digarisbawahi tiga kali. Aku membayangkan anggaran IT Nayara tahun depan dipotong lima belas persen, lalu membayangkan wajah Pak Darmawan saat mendengarnya, lalu membayangkan Nala yang akan bilang Abang nggak pernah dengerin aku. Aku memutuskan untuk tidak membayangkan apa-apa lagi.
“Lagi,” kata Pak Bram, lebih keras.
Di tengah permainan ketiga, dia mulai bicara. Bukan tentang catur.
“Gudang distribusi kami di Cikarang,” katanya, memindahkan kuda. “Truk antre empat jam setiap pagi. Empat jam. Direktur logistik bilang butuh gudang baru. Tiga ratus miliar. Saya tidak percaya dia.”
Aku memindahkan gajah. “Truknya datang jam berapa, Pak?”
“Pagi.”
“Jam berapa persisnya?”
Pak Bram berhenti. Dia mengerutkan kening. “Semua jam enam, kalau tidak salah. Kontrak dengan pemasok menulis ‘pengiriman pagi hari’.”
“Bongkarnya di berapa dok?”
“Dua belas.”
“Barang beku di dok yang mana?”
Pak Bram mengangkat wajah dari papan catur. Dia menatapku lama.
“Satu,” katanya pelan. “Hanya satu dok berpendingin.”
Tiga pertanyaan. Cukup.
Aku meraih serbet kain dari nampan teh di sebelah papan catur, membentangkannya di meja, lalu mengeluarkan pulpen dari saku batik. Aku menggambar dua belas kotak kecil untuk dok. Lalu antrean truk, semuanya menumpuk di jam enam. Lalu satu kotak dok berpendingin dengan antrean paling panjang di depannya, karena truk barang beku tidak boleh menunggu di bawah matahari, jadi semua truk lain harus minggir setiap kali truk berpendingin datang.
“Masalahnya bukan gudangnya kurang besar, Pak,” kataku. “Masalahnya semua orang datang di jam yang sama, dan satu pintu dipakai untuk barang yang paling nggak bisa nunggu.”
Aku menggambar ulang. Jadwal kedatangan dibagi per jam, dari jam empat pagi sampai jam sepuluh. Satu dok biasa di sebelah dok berpendingin diubah sementara menjadi dok berpendingin kedua, cukup dengan tirai plastik dan pendingin portabel.
“Gudang baru tiga ratus miliar,” kataku. “Ini mungkin tiga ratus juta. Dan jadwal yang lebih jujur.”
Pak Bram menatap serbet itu. Lama sekali. Aku bisa mendengar jam dinding berdetak di ruang kerja itu, dan dari arah ruang makan, suara piring yang ditata.
Lalu dia melipat serbet itu, dengan sangat hati-hati, dan memasukkannya ke saku kemejanya.
Dia menatap papan catur. Aku menatap papan catur. Aku sadar posisiku menang dalam empat langkah.
Aku bisa sengaja membuat kesalahan. Nala pasti akan menyuruhku begitu.
Aku memindahkan menteri. Skakmat.
Pak Bram menatap papan itu, lalu menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk, sudut bibirnya bergerak.
“Tiga kali,” katanya.
“Maaf, Pak.”
“Jangan minta maaf karena menang. Saya benci orang yang sengaja kalah.” Dia bersandar ke kursinya. “Rematch. Lain kali.”
“Siap, Pak.”
Dia diam sebentar. Lalu dia bicara dengan nada yang sama persis seperti saat dia membahas truk di Cikarang. Datar, faktual, tanpa emosi.
“Anak saya pakai jaket kamu ke rapat direksi.”
Aku membeku.
Pak Bram tidak menatapku. Dia sedang memasukkan bidak catur ke dalam kotak kayu, satu per satu.
“Saya tidak bertanya,” katanya. “Saya hanya memberi tahu bahwa saya tahu.”
Dia menutup kotak catur itu. Klik.
“Makan malam sudah siap. Ayo.”
Ponselku bergetar dua kali saat kami berjalan melewati koridor menuju ruang makan.
Yang pertama dari Nala: BANG. TESNYA APA? CATUR? MENANG BERAPA?
Aku membalas: Tiga.
ABANG. AKU BILANG DUA. DUA, BANG. SERATUS EPISODE RISET SIA-SIA.
Yang kedua dari Bella, dikirim dari ruangan yang jaraknya tidak sampai dua puluh langkah dari tempatku berdiri. Aku melihatnya sekilas.
Kalau dia macam-macam, lihat aku aja.
Dari ujung koridor, aku mendengar suara tawa. Tawa perempuan, lembut, dengan nada yang sudah kuhafal selama delapan tahun. Lalu suara Raka yang tertawa bersamanya.
Di kepalaku, tanpa izin, angka itu muncul lagi. Seratus dua puluh tiga hari.
Aku memasukkan ponsel ke saku, menyentuh kerah yang tadi dirapikan jari-jari yang sama yang mengetik pesan itu, dan berjalan masuk ke ruang makan.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet reading
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama