Chapter Twenty Four
Runbook
POV: Erga
Kamis pagi, pukul 07.40, Bu Liana meneleponku dan bilang jangan ke Nayara Tower.
“Ke kantor Zogo, Ga. Sekarang. Ruanganku.”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada pagi. Bu Liana hanya bicara seperti itu kalau ada yang terbakar.
Kantor Zogo Tech ada di lantai 12 sebuah gedung tua di Kuningan, dengan karpet abu-abu yang sudah pudar dan mesin kopi yang hanya bisa membuat satu jenis kopi. Aku jarang ke sana sejak kontrak Nayara dimulai. Resepsionisnya menatapku seperti menatap orang yang pulang dari perang.
Bu Liana menutup pintu ruangannya, duduk, dan memutar laptopnya ke arahku tanpa berkata apa-apa.
Di layar ada email. Dari Raka Harsono. Kepada Bu Liana, tembusan ke direksi Nayara. Subjek: Keluhan Resmi: Pelecehan terhadap Anggota Keluarga Pemilik oleh Konsultan Zogo Tech.
Di bawahnya, lima lampiran gambar.
Aku membukanya satu per satu.
Tangkapan layar WhatsApp. Percakapan antara nomor yang tersimpan sebagai Erga dan seseorang yang tidak terlihat namanya, karena tangkapan layar diambil dari sisi penerima. Foto profilnya fotoku. Foto yang sama dengan yang kupakai tiga tahun terakhir.
Aku masih nunggu kamu.
Kamu pikir dia bakal bikin kamu bahagia? Dia nggak kenal kamu kayak aku kenal kamu.
Aku lihat kamu tiap hari di gedung itu. Kamu tahu aku di sana.
Jangan pura-pura lupa delapan tahun kita.
Dan yang terakhir, bertanggal dua minggu lalu, pukul 02.14:
Kalau kamu tetap nikah sama dia, aku bongkar semuanya di depan keluarganya.
Aku membacanya dua kali. Lalu tiga kali.
Yang aneh, aku tidak merasakan apa-apa pada awalnya. Tidak marah. Tidak kaget. Hanya semacam kekaguman dingin, seperti membaca kode orang lain yang ditulis dengan sangat hati-hati untuk menipu. Setiap kalimat dipilih supaya terdengar seperti laki-laki yang terobsesi. Setiap kalimat juga, kalau dibaca terbalik, adalah ketakutan Sheila sendiri.
Aku bongkar semuanya di depan keluarganya. Itu bukan ancamanku. Itu mimpi buruknya.
“Ini kamu?” tanya Bu Liana.
“Bukan, Bu.”
Dia menatapku lama. Enam tahun. Dia yang merekrutku dari kampus. Dia yang menandatangani promosiku tiga kali. Dia yang meneleponku tiga tahun lalu, seminggu setelah pernikahanku batal, dan bilang ambil cuti sebulan, jangan balik sebelum kamu bisa tidur.
“Aku percaya kamu,” katanya. “Tapi aku bukan yang harus percaya.”
Aku mendengar kalimat itu untuk kedua kalinya dari orang yang berbeda. Pak Darmawan. Sekarang Bu Liana.
“Nayara klien terbesar kita tahun ini, Ga. Pak Raka minta kamu nggak ada di gedung mereka sampai ada investigasi. Pak Bram lagi di Singapura, seminggu, urusan investor. Pak Darmawan sudah telepon aku empat kali, dan dua kali dia pakai kata yang nggak bisa aku ulang di kantor.” Bu Liana menghela napas. “Tapi Pak Darmawan bukan pemilik. Pak Raka anak pemilik, dan dia sponsor proyek.”
“Remote,” kataku.
“Remote. Sementara. Kamu tetap pegang proyek. Kamu tetap arsiteknya. Tapi kamu nggak masuk Nayara Tower sampai Pak Bram pulang dan semuanya diluruskan.” Dia mencondongkan badan. “Kamu mau bikin klarifikasi? Pernyataan tertulis? Aku bisa kirim hari ini ke direksi mereka. Aku bisa minta forensik digital.”
Aku menatap lima tangkapan layar itu di layar laptopnya.
Aku memikirkan Raka di dapur rumahnya, dengan gelas air dingin di tangan. Aku memikirkan Raka di B2, dengan tangan gemetar di kerahku. Laki-laki yang memercayai setiap kata dari orang yang dia cintai, karena itulah yang dilakukan orang yang mencintai.
Kalau aku membuktikan tangkapan layar ini palsu, aku tidak hanya membersihkan namaku. Aku membuktikan kepada Raka, di depan direksi, di depan ayahnya, bahwa perempuan yang akan dia nikahi dalam lima puluh hari memalsukan bukti untuk menghancurkan orang lain.
Aku tahu rasanya mengetahui sesuatu tentang orang yang kamu cintai, seminggu sebelum akad.
“Nggak, Bu,” kataku.
Bu Liana menatapku seperti menatap laporan yang angkanya tidak masuk akal.
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
Di taksi pulang, ponselku bergetar. Grup WhatsApp resmi Zogo Tech, empat puluh tiga anggota, termasuk semua direktur.
Pesan dari Andre. Panjang. Dengan huruf kapital di setiap kata ketiga.
GUE NGGAK TERIMA. PAK RAKA ITU HARUSNYA DIKASIH DUA PULUH TIGA VENDOR SEKALIGUS BIAR TAHU RASANYA NELEPON SATU-SATU. GA LO HARUS LAWAN. KALAU LO NGGAK LAWAN GUE YANG LAWAN. GUE UDAH SIAPIN SPANDUK.
Tiga detik kemudian, pesan kedua dari Andre.
MAAF SALAH GRUP.
Tiga puluh detik kemudian, pesan dari Bu Liana.
Andre, ke ruangan saya.
Satu menit kemudian, pesan lagi dari Bu Liana.
Tapi soal spanduknya, saya setuju.
Empat puluh satu anggota grup lainnya mengirim emoji jempol. Aku menatap layar itu sampai taksi berhenti di depan apartemenku, dan untuk sesaat, dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Siang itu, di meja makan apartemenku, aku membuka lima tangkapan layar itu lagi.
Kali ini bukan sebagai orang yang dituduh. Kali ini sebagai arsitek sistem yang sedang membaca log.
Aku memperbesar gambar keempat. Jangan pura-pura lupa delapan tahun kita. Di bagian bawah layar, di kolom ketik pesan, ada ikon kecil di sebelah tombol kamera. Ikon berbentuk gelombang suara dengan tanda bintang. Aku mengenalinya. Fitur transkripsi pesan suara otomatis. WhatsApp baru merilisnya di Indonesia tiga minggu lalu. Aku ingat, karena Nala mengirimiku lima belas pesan suara di hari pertama fitur itu muncul, hanya untuk mengetesnya.
Tangkapan layar itu bertanggal dua bulan lalu.
Aku memperbesar gambar kelima. Kalau kamu tetap nikah sama dia, aku bongkar semuanya. Pukul 02.14, dua minggu lalu, hari Rabu.
Aku membuka VPN Nayara. Aksesku masih aktif; remote bukan berarti diblokir. Aku membuka log audit server produksi untuk malam itu.
Rabu dini hari, dua minggu lalu, adalah malam perbaikan darurat modul refund. Aku ada di war room lantai 21 bersama tujuh orang. Log audit mencatat setiap perintah yang kujalankan, dengan nama penggunaku, dengan detik yang tepat.
02.13.08. 02.13.47. 02.14.02. 02.14.39. 02.15.11.
Lima perintah dalam tiga menit. Tanganku di keyboard laptop kantor, di depan tujuh saksi, di bawah kamera CCTV ruang rapat, di menit yang sama saat seseorang mengklaim aku sedang mengetik ancaman di WhatsApp.
Aku duduk bersandar di kursi.
Dua bukti. Masing-masing cukup untuk membuat tangkapan layar itu kehilangan nilainya. Dua-duanya bersama-sama cukup untuk membuat seseorang di direksi Nayara bertanya siapa yang membuatnya, dan kenapa.
Aku membuat folder baru di laptop. Aku menyalin lima tangkapan layar itu, potongan log audit, dan catatan rilis resmi fitur transkripsi WhatsApp. Aku memberinya nama.
Bukti — jangan dibuka.
Aku menyimpannya di dua tempat. Laptop dan flashdisk kecil yang kumasukkan ke laci, di sebelah tisu segi empat dan sticky note kuning.
Lalu aku menutup laptop, dan tidak membukanya lagi.
Pukul 20.00, aku kembali ke Nayara Tower untuk terakhir kalinya sebelum masa remote dimulai. Pak Darmawan yang mengizinkan, dengan syarat aku didampingi. Dia mendampingiku sendiri.
Dia berjalan di sebelahku di lobi dengan wajah seperti pengiring jenazah. Satpam lobi berdiri tegak waktu kami lewat dan memberi hormat. Bukan hormat bercanda seperti satpam kompleks Harsono. Hormat sungguhan.
“Pak,” kata satpam itu pelan. “Paguyuban sudah dengar. Kami semua nggak percaya.”
Aku mengangguk. Aku tidak tahu harus menjawab apa pada satu paguyuban satpam se-Jakarta Selatan.
Lantai 21 sudah hampir kosong. Hanya satu lampu yang masih menyala. Di pojok Zogo, di sebelah mejaku, Yoga duduk dengan laptop terbuka dan dua gelas kopi.
“Kamu ngapain di sini, Yog?”
“Nungguin Bapak.” Dia menyodorkan salah satu gelas. “Pak Darmawan bilang Bapak mau beres-beres meja. Saya bantu.”
“Nggak perlu.”
“Saya nggak nanya perlu atau nggak, Pak.”
Aku menatapnya. Anak dua puluh empat tahun yang tiga bulan lalu membeku di depan layar merah Twin Day. Sekarang dia duduk di sini jam delapan malam, dengan kalimat yang dia pelajari dari orang-orang di sekitarku.
Aku duduk. Sebelum membuka laptop, aku berjalan ke pantry dengan kotak makan biru yang kubawa dari rumah. Di dalamnya ada telur dadar. Empat butir, dipotong delapan, digoreng jam enam sore tadi sambil berdiri di dapur dan tidak menghitung apa pun dengan suara keras. Aku menempelkan selotip kertas di tutupnya, menulis Zogo dengan spidol, dan meletakkannya di rak paling atas kulkas pantry, di belakang botol-botol air mineral.
Waktu aku kembali, Yoga menatap tanganku yang kosong, lalu menatap arah pantry, lalu tidak bertanya apa-apa. Dia sudah belajar banyak dalam tiga bulan.
“Aku nggak cuma beres-beres, Yog,” kataku. “Aku mau nulis sesuatu dulu. Buat kalian.”
Aku menulis runbook.
Bukan runbook cutover. Runbook untuk seandainya aku tidak ada. Setiap sistem Nayara+ yang pernah kusentuh. Setiap alarm yang mungkin berbunyi. Setiap gejala dan penyebabnya yang paling mungkin. Siapa yang harus dihubungi. Perintah apa yang harus dijalankan, dalam urutan apa. Kapan harus rollback, dan kapan jangan panik.
Yoga duduk di sebelahku, membaca setiap halaman begitu selesai, mengajukan pertanyaan, dan aku menambahkan jawaban langsung ke dokumen. Pukul sebelas malam, Pak Darmawan pulang setelah memelukku sekali lagi dan tidak berkata apa-apa. Pukul dua belas, Adit datang dengan martabak. Pukul satu, Pak Gunawan muncul di lorong lift dengan jaket tebal dan map biru setebal kamus.
“Saya dengar dari Yoga,” katanya, menarik kursi. “Bagian yang sistem lama, biar saya yang tulis. Saya lebih hafal kesalahan saya sendiri.”
Kami menulis sampai pukul empat pagi. Empat orang, satu meja, di lantai 21 yang gelap. Enam puluh halaman.
Pukul 02.40, Yoga berhenti membaca dan menatapku.
“Pak. Kenapa Bapak nggak bela diri?”
Aku tidak langsung menjawab. Pak Gunawan berhenti menulis. Adit berhenti mengunyah.
“Karena kalau aku bela diri sekarang, Yog,” kataku akhirnya, “ada orang lain yang bakal jatuh. Orang yang nggak salah apa-apa.”
Yoga menatapku lama. Lalu dia menunduk ke laptopnya, dan aku melihat bahunya bergetar sedikit. Dia tidak bertanya lagi.
Setengah jam kemudian, waktu Pak Gunawan pergi ke toilet dan Adit tertidur di kursinya, Yoga mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. Buku yang sama yang selalu dia bawa ke setiap rapat. Dia menyodorkannya padaku.
Aku membukanya. Halaman demi halaman, dengan tulisan tangan yang rapi seperti tulisan anak SD yang baru belajar menulis tegak bersambung.
Kita nggak deploy hari Jumat.
Yang benar-benar mepet biasanya jatuh di tanggal merah.
Sistem, kayak orang, jujur waktu nggak ada yang lihat.
Yang salah prosesnya, Yog.
Aku nggak suka satu pintu.
Tiga puluh dua halaman. Semua kalimat yang pernah kuucapkan di depannya, dengan tanggal di pojok kanan atas setiap halaman.
“Ini buat apa, Yog?”
Yoga menatap buku itu, tidak menatapku.
“Buat nanti, Pak,” katanya pelan. “Kalau saya jadi arsitek. Biar saya ingat, arsitek yang benar itu kayak gimana.”
Aku menutup buku itu dan mengembalikannya ke tangannya. Aku tidak bisa bicara selama beberapa menit, jadi aku menulis halaman empat puluh dua runbook tanpa berhenti.
Pukul 04.05, halaman terakhir.
Aku menulis bagian penutup. Kontak darurat. Nomor ponselku, yang tetap aktif dua puluh empat jam. Kalau ragu, telepon. Aku remote, bukan hilang.
Lalu, di bawahnya, aku menambahkan satu lampiran.
Lampiran F: Prosedur Khusus.
F.1. Jika PIC Product lupa makan siang: eskalasi ke rooftop.
F.2. Telur dadar di kulkas pantry. Kotak biru. Label “Zogo”. Diganti tiap Senin.
F.3. Jika PIC Product kedinginan di ruang rapat: jaket cadangan ada di laci meja product, paling bawah. (Jangan dikembalikan ke pemiliknya. Pemiliknya sudah tahu. Sumber: laporan cuaca Cece, hari ke-3.)
Aku membaca tiga baris itu, lalu hampir menghapusnya. Aku tidak menghapusnya.
Yoga, yang membaca dari sebelahku, tidak berkomentar. Dia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu menyimpan dokumen itu ke folder tim dengan nama Runbook — Kalau Pak Architect Nggak Ada (v1.0).
Aku membereskan mejaku. Tablet. Stylus. Charger. Buku catatan kecil yang sudah penuh. Aku memasukkan semuanya ke tas. Yang tersisa di meja hanya monitor, keyboard, dan satu sticky note kuning yang kutemukan di laci. Sticky note yang kutulis bulan lalu, di hari Bella lupa makan siang karena rapat dengan tim marketing, dan tidak pernah kuberikan padanya.
Jangan lupa makan, Bu Bella.
Aku menempelkannya di tengah meja yang kosong. Aku bilang pada diriku sendiri itu untuk siapa pun yang akan duduk di sini selanjutnya.
Aku tahu itu bohong.
Pukul 05.10, aku berjalan keluar lewat lobi. Langit Jakarta masih biru gelap. Satpam pagi baru mulai bertugas.
Di trotoar, di depan pintu putar yang sama tempat Bella pura-pura lupa payung dua bulan lalu, aku berhenti dan menoleh ke atas. Lantai 21. Satu lampu masih menyala di pojok, di atas meja kosong dengan sticky note kuning.
Di kepalaku, angka itu datang tanpa izin. Lima puluh hari.
Aku tidak tahu kapan aku akan masuk ke gedung ini lagi. Aku tidak tahu apakah Raka akan pernah tahu. Aku tidak tahu apakah perempuan yang memalsukan lima tangkapan layar itu akan berhenti di sini.
Aku hanya tahu satu hal. Di laci meja product, paling bawah, di atas dokumen pengadaan tahun lalu, ada jaket kanvas gelap yang sudah terlipat rapi. Dan aku baru saja menulis di runbook resmi perusahaan bahwa pemiliknya tidak mau jaket itu dikembalikan.
Itu satu-satunya hal dalam enam puluh halaman yang bukan soal sistem.
Dan itu satu-satunya yang benar-benar kumaksudkan.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook reading
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama